Sejauh pemahaman kami, bahasa tubuh merupakan bahasa purba yang pada perjalanannya mampu beradaptasi dengan berbagai ruang dalam lajur waktu. Bahasa tubuh dalam metode kesenian yang paling sulit diamati tanpa pemahaman terlebih dahulu plus pengamatan yang intens, salah satunya bagi kami adalah seni tari. Di dalam seni tari, segala gerakan tubuh penari menyimpan makna, segala raut-mimik wajah penari menyimpan bahasa, dan segala tarian yang ditampilkan para penari sangat mungkin akan mengais citra kebudayaan; yang di dalamnya tersimpan sistem ilmu pengetahuan, kisah maupun berbagai peristiwa.
Misalnya, kami membaca persoalan konsepsi tentang wiraga, wirama, wirasa, wirupa, yang dalam kerja kesenian tari sering dijadikan pilar sebagai latihan dasar melakukan plus memahami segala bentuk yang termaknai maupun yang tak terpahami; ia berupa suatu gerakan, berupa dimensi ekspresi perasaan-pikiran, berupa esensi penghayatan alam-lingkungan, berupa harmoni-keselarasan antara tubuh, ruang, dan waktu yang saling berkait-kelindan, tak terpisahkan.
Omong-omong mengenai seni tari, sudah seharusnya kita menghadirkan seseorang yang memang bergelut di bidangnya. Maka, pada edisi persona kali ini, kami akan menghadirkan seorang yang secara tekun-intens menggeluti dunia tari bernama; Putri Annisa Hendrik. Putri merupakan seorang praktisi sekaligus akademisi di bidang seni tari (umumnya pertunjukan), ia penari sekaligus koreografer yang lahir di Bogor—7 Agustus 2000. Studi yang ditempuhnya adalah Pendidikan Tari di Universitas Negeri Jakarta (2018-2023) dan Penciptaan Seni di Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta (2023-2025). Karya-karya pertunjukan yang dihasilkan Putri antara lain; Sadrah (2022), Rundung Saleh (2023), Tuturains (2024), Qoutesaleh (2024), dan Tutur Saleh (2025).
Putri juga banyak mendapatkan penghargaan, salah satunya; Puteri Tari Indonesia Terfavorit (2019), Juara 3 Gebyar Kreativitas Ilmiah (2020), Juara 2 Lomba Tari Kontemporer—Karya Tari Sadrah (2021), Fornas Line Dance Palembang (2022), Juara 1 Kategori Perorangan, Kategori Grup, Kategori Intermeditte Langkah Dansa ILDI (2022), dan Delegasi Jawa Barat Langkah Dansa Indonesia (2022).
Selain itu, ia aktif terlibat dalam kegiatan pertunjukan seperti; Penari UNJ 10 Jam (2017), Peserta Tari Tradisional: Tith The National Folklore Festival (2017), Penari Kongres Kebudayaan Indonesia (2018), Performer: Urban Green Festival (2018), Teater Keliling Indonesia (2019), Talent Tari Kontemporer: UI Art (2021), Pengisi Acara (Karya Tari Sadrah): Apresiasi Karya Seni Shanti Werdhi Gita (2021), Ketua Pelaksana Lomba Tari Kreasi Se-Bogor Raya (2022), Noni At Banyuwangi Desa Osing (2022), Penari Tari Kolosal Imlek Nasional (2023), Penata Tari Drama Teater Rawamangun Concept (2022-2025), Asisten Sutradara “Dewa Ruci” By Wasi Banto (2024), Gemadah Company Tour Jawa-Bali-Sumbawa (2024), dan “Srikandi Bhuana” by ISBI Bandung X Getar Pakuan (2025).
Secara detail dan mendalam mengenai awal mula bagaimana ia terjun ke dunia tari, seperti apa proses kreatifnya, dan bahkan tinjauan pandangannya terhadap dunia tari akan kami sajikan transkripsi hasil wawancara (via Google-Meet) dengan Putri Annisa Hendrik. Selamat menikmati perjalanannya!
Semesta Tubuh di Alam Pertunjukan Hidup Putri Annisa Hendrik
Redaktur Halimun Salaka: Kita akan mulai dari bagaimana awal-mula Teh Putri bisa masuk ke dunia pertunjukan, dalam hal ini seni tari. Sila ceritakan bagaimana berkenalan dengan seni tari dan mengapa akhirnya memilih tari itu sendiri!
Putri Annisa Hendrik: Sebelumnya aku tuh biasanya dipanggil Putricau, Kang, dan nama asliku Putri Annisa Hendrik. Nama Putricau itu mungkin bisa dibilang sebagai nama panggung. Oke, kembali ke pertanyaan. Secara historis sebenarnya awal mula aku masuk ke dunia tari itu justru karena unsur ketidaksengajaan. Nah, dari unsur ketidaksengajaan ini maksudnya dulu aku memang terbiasa di lingkup seni, khususnya dari orang tua dan juga termasuk dari kakakku. Beliau inilah yang pada akhirnya membawa aku sewaktu kecil sekitar umur 4-5 tahun yang sering mengikuti kegiatannya, ngintilin ke salah satu sanggar di Bogor tempat pertama kali dia belajar. Awalnya aku sama sekali gak terlalu memperhatikan dan belum tertarik mengikuti bagaimana dunia tari itu. Aku malah menyukai dan bahkan terjun di dunia fotogenik atau model cilik mulanya.
Dari situlah aku malah masuk ke dunia catwalk, fashion show, terus fotogenik, terjun ke dunia semacam entertain kali ya berasa kerennya. Singkatnya, dimulai dari mengikuti orang tua dan kakak ke sanggar, lalu masuk dunia fashion, unsur ketidaksengajaan dan pengaruh dari orang tua yang sangat suport yang membentuk aku ke dunia seni pada akhirnya. Sebab sejauh ini alhamdulilah orang tua sangat support, termasuk bapak sama ibu. Ibu sendiri juga memang sudah menghantarkan kakakku sebelumnya kan ke dunia tari. Setelah itu, barulah aku. Nah, dari situlah awal mulanya, karena aku sering melihat dia latihan, yang menjadi salah satu faktornya.
Redaktur Halimun Salaka: Baik, Teh. Sekarang coba jelaskan bagaimana awal mula Tari bisa memengaruhi kehidupan Teh Putri?
Putri Annisa Hendrik: Ya, aku sendiri memang pada akhirnya mulai penasaran ke dunia tari itu. Karena rasa penasaran, akhirnya aku coba terjun secara serius. Dulu justru aku gak langsung berkecimpung di kontemporer, malahan dimulai dari tari-tari klasik. Salah satu tarian yang pertama kali aku pelajari adalah Tari Kandagan. Jadi, dari kandagan itu sendiri kan sebenarnya di mana kita akan belajar tari-tari basic dari Tari Sunda atau tari-tarian klasik umumnya. Tari Sunda itu kan sebenarnya banyak jenis dan genrenya ya. Nah, keberangkatanku belajar di genre klasik Tari Kandagan itu sekitar usia 6 tahun terjun ke sanggar di Bogor sampai ke proses naik tingkatan. Contohnya, ada yang namanya Sekar Putri, yang memang itu basic-nya dari Sunda banget, klasiknya-lah bisa dibilang kayak gitu.
Lalu di sanggar kan mereka punya metode kurikulumnya sendiri untuk naik level-levelnya. Seusai mengalami proses tarian, aku juga mulai berkenalan dengan jenis tari-tarian Nusantara. Menariknya, ketika masa transisi SMA menuju kuliah, aku tuh sempat berhenti, maksudnya sempat berhenti untuk nggak nari, tapi prosesnya perlahan dan nggak langsung tiba-tiba berhenti. Lebih kayak membatasi. Kalau dulu tuh pada saat belajar di sanggar itu semua tari aku pelajari. Tari Sunda, Tari Jaipong, Tari Nusantara, Tari termasuk Bali, kayak gitu. Terus Modern Dance, juga itu aku belajar.
Dari pengalaman di sanggar itu, akhirnya aku mencoba untuk keluar dengan memberanikan diri mengikuti beberapa event atau perlombaan-perlombaan. Alhamdulilahnya, sejak tingkat SMP sampai hari ini, aku beberapa kali mendapatkan juara dan bahkan penghargaan, salah-satunya ketika masa SMP, aku lupa nama lombanya, pokoknya menjadi pemenang tari se-Kota Bogor. Maka, melalui tari atau katakanlah tari sangat mempengaruhi kehidupan dan cara pandangku.
Redaktur Halimun Salaka: Lalu, bagaimana transisi dari masa kecil ke proses kreatif Teh Putri ketika mulai masuk ke jenjang universitas?
Putri Annisa Hendrik: Awalnya, ketika tahun 2017, aku ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Tahun 2017 itu, aku belum masuk kuliah. Tapi waktu tahun 2017 itu aku hanya menghadiri event di sana. Akhirnya, aku tertarik dengan kampusnya. Itu kalau nggak salah event pertama juga yang tingkatannya universitas. Di sana aku mengikuti 12 jam menari dan menjadi partisipan. Lewat event UNJ itulah, setahun kemudian tahun 2018 baru aku mulai masuk kuliah di UNJ. Sebenarnya selain UNJ, ada beberapa opsi pilihan, seperti ISBI misalnya. Setelah aku pikir-pikir, karena yang terdekat dari Bogor adalah Jakarta, akhirnya yang kupilih adalah UNJ.
Dari tahun 2018 sampai 2023, aku mulai melahirkan karya-karya. Salah satunya tugas akhirku kemarin, skripsinya aku beri judul, Rundung Saleh. Tepatnya sekitar tahun 2022, yang lalu mengantarkan aku lulus jenjang S1. Selain tugas akhir, aku juga mulai berkecimpung di dunia dance film. Sebagaimana kita tahu dan kita alami bersama, angkatan gen-z-milenial sekarang ini kan pasti kita pernah mengalami masa-masa covid yang cukup mematikan. Kenapa aku bilang mematikan? Karena kita sebagai pelaku seni, ruang kita cukup terbatas. Akhirnya, metode itu melahirkan media video sebagai wahana karyanya. Hal itu yang membuatku berpikir bagaimana membuat karya meskipun sedang atau tertahan di rumah, namun semua orang masih bisa menikmatinya. Karena aku masuk Gen Z, sebab aku kelahiran tahun 2000, jadi aku mencoba memanfaatkan sosial media semisal Instagram dan Youtube, tapi aku lebih aktif di Instagram. Sekitar tahun 2021-an, aku melahirkan program Instagram Live, judulnya itu Noni. Noni itu panjangnya ngobrol seni. Dan sekarang masih ada, cuma program ini adalah program non-profit, sifatnya pribadi.
Redaktur Halimun Salaka: Punten, Teh. Sebelum kita membahas Rundung Saleh secara detail, coba jelaskan program Noni itu seperti apa dan bagaimana capaiannya?
Putri Annisa Hendrik: Programnya itu aku mengundang beberapa teman-teman, termasuk seniman-seniman, untuk berdiskusi secara online pada saat COVID-19 waktu itu. Noni ini akhirnya jadi semacam narahubung atau istilahnya untuk kita tetap silaturahmi, tetap fokus tetap berkarya. Dari program instagram live noni itulah, aku membuat karya berjudul, Sadrah. Prosesnya nama Sadra ini aku ambil dari bahasa Sunda yang secara luas artinya pasrah atau berserah. Nah, si Sadra berfokus ke hal bagaimana sikap, mental, batin dari seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental akibat COVID-19. Jadi COVID-19 juga menjadi inspirasi aku juga membuat karya dalam bentuk video. Akhirnya, mungkin kalau orang lihatnya COVID-19 ini karena ekonomi, karena kesehatan, aku menyinggung isu menyoal kesehatan mental. Nah, karya itu pada akhirnya jadi pertanyaan, misalnya apakah semua ini terjadi karena keserakahan manusia, blablabla, yang pada akhirnya pertanyaan itu akan mengarah ke rasa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Maka dari itu, ada salah satu lirik yang kubuat juga, begini: Eling-eling mantak eling ka nu maha suci. Jadi ada beberapa kalimat yang apakah ini menjadi intropeksi kita sebagai manusia untuk menjaga alam semesta, kayak gitu.
Akhirnya, barulah ke soal Rundung Saleh itu. Rundung Saleh (kajian tugas S1) sendiri terinspirasi dari cerita dalam tulisan bunuh diri Raden Saleh oleh Catherine Ahmad. Jadi aku tuh baca salah satu buku dari Catherine Ahmad judulnya Raden Saleh perlawanan Inlander, kayak gitu-gitu. Nah salah satu bukunya ini menjadi inspirasi aku untuk menciptakan karya si Rundung Saleh itu. Kenapa Rundung Saleh? Karena yang aku lihat secara isu banyaknya sekarang atau bahkan hari ini masih hype ya, soal bullying. Bullying dalam arti perundungan. Aku berkaca, dulu itu sebenarnya bullying tuh apa sih, gitu. Maksudnya, kenapa sampai sekarang—sampai detik ini tuh masih ada gitu. Dulu ada nggak sih hal-hal kayak gitu.
Dari proses itu, kebetulan aku juga pernah menjadi salah satu pengajar di salah satu SD Srikandi di Bondongan. Aku sering lewat Makam Raden Saleh itu. Dulu aku justru nggak tahu Raden Saleh itu siapa gitu. Akhirnya secara proses itu, aku membaca jurnal, membaca buku, segala macam. Akhirnya, barulah memperkuat gagasan tentang cerita lisannya. Lalu aku menemukan ada kesamaan di mana masa kini yang punya bullying, bisa juga dilihat ketika dulu Raden Saleh ternyata pernah mengalami yang namanya intimidasi serupa itu oleh orang-orang bangsawan kolonial dulu. Persoalan itu menjadi inspirasi bahwasannya, oh, ternyata memang sudah tabiatnya tuh seperti ini, gitu. Sejak dulu tuh memang udah ada, gitu. Kita kan jadi nggak heran. Lalu apa yang bisa kita lakukan di kehidupan sekarang ini mengenai bullying itu? Apa solusinya? Menurutku solusinya mungkin, memang pada diri sendiri, atau balik lagi kepada bagaimana alam semesta bekerja.
Refleksi itu akan mengantarkan kita kepada renungan, apakah kita mau tetap di situ, terkurung, diperangkap, atau kita mau keluar dari persoalan demikian. Akhirnya melalui Rundung Saleh itu aku mencoba membahas tentang cerita dan persoalan tadi. Nah, si cerita lisan ini aku mengambil dari kutipan Catherine Ahmad. Di dalam bukunya itu ada sebuah anekdot yang isinya gini; lukisan kalian hanya mampu mengelabui kumbang dan kupu-kupu, tetapi gambar saya mampu menipu manusia berpikir. Lewat kutipan tersebut, dari narasi tadi itu jadi inspirasiku, menjadi ide gagasan, terus juga diinterpretasikan menjadi bentuk visual. Nah, visualnya itu dibentuk medianya adalah dance film. Makanya dalam skripsiku kemarin itu namanya Rundung Saleh: Visualisasi Cerita Lisan Lukisan Bunuh Diri Raden Saleh.
Redaktur Halimun Salaka: Baik cukup, Teh. Kami lalu jadi penasaran, setelah menempuh studi S1 dan melahirkan Rundung Saleh itu, apa yang dilakukan Teh Putri sebelum melanjutkan studi S2-nya. Sila ceritakan, Teh!
Putri Annisa Hendrik: Setelah lulus, bahkan sebelum lulus tuh sebenarnya aku sudah jadi pengajar di salah satu sekolah swasta di Bogor dan juga di Jakarta. Tepatnya pengajar ekstrakurikuler. Lalu di salah satu sanggar di Bogor juga pernah. Dan memang aku senang untuk belajar, untuk sharing pembelajaran dengan teman-teman di atasku atau adik-adik di bawahku. Sebab, itu akan mengasah motivasi belajarku.
Setelah mengajar, aku juga giat traveling, karena memang aku suka banget traveling. Walaupun aku perempuan, aku senang jalan sendiri. Misalnya di 2023 kemarin, akhirnya aku mencoba untuk ketemu sama seniman-seniman yang waktu COVID-19 di program Noni itu aku wawancarai di Instagram. Aku traveling sampai ke Bali, Kang. Sebelum sampai Bali itu aku ke Banyuwangi. Salah satunya ketemu Cak Samsul. Beliau ini, apa ya, bisa dibilang seniman yang menginspirasi aku juga untuk terus berproses dalam dunia seni dengan ikhlas. Karena apa? Dari situ aku menemukan bagaimana seniman ini bisa memanfaatkan alam, memanfaatkan semesta, memanfaatkan semuanya. Beliau itu seniman dari Banyuwangi, dekat ke kampung adat Osing. Dan setahuku memang beliau ini juga bagian dari masyarakat adat asli Osing itu.
Di tahun 2023, traveling itu prosesnya aku tidak memungut biaya apapun kepada orang-orang atau misalnya ada sponsor. Perjalanan ke Banyuwangi itu atas ongkos sendiri, aku naik bus ngeteng. Dari situ, aku ketemu sama Cak Samsul dan akhirnya membuat satu kegiatan workshop di sana, yang menariknya pesertanya kurang lebih 60 orang. Dengan bekal sarjana aku cukup percaya diri dalam dunia pertunjukan. Bahkan plot-twist-nya adalah di Banyuwangi aku diundang oleh dua sanggar. Jadi, prosesnya ketika aku ketemu Cak Samsul, dan ketemu teman-temannya di sana, aku dapat undangan untuk berkunjung ke dua sanggar itu. Posisinya pada waktu itu, di tahun 2023 umurku 22 tahun.
Bayangkan saja, Kang, perempuan umur 22 tahun dengan kepercayaannya selain karena bekal sarjananya, adalah dengan mengais identitas Sunda yang mungkin menjadi daya tarik bagi mereka. Itu kemungkinan loh ya, dan memang waktu itu aku ngobrol juga. Ya, mereka tentu sudah jago narinya. Apalagi soal tarian dari Jawa Timuran atau daerah Bali, itu kan mereka dekat ya, antara Banyuwangi dan Bali. Sedangkan aku datang dengan identitas Sundanya. Akhirnya sewaktu ke sana itu memang materi workshopnya adalah Tari Kandagan. Tari Sunda yang tadi aku bahas sebelumnya. Dari identitas Sunda tidak ada maksud lain, hal itu sebagai bentuk identitas saja sebenarnya. Ketika aku mau kemana-kemana misalnya, dengan kesundaan yang aku bawa selalu dengan tarian, melalui gerak tubuh. Mulai dari situ, ketika event dan workshop di Banyuwangi selesai cuma sekitar kurang lebih seminggu, aku langsung pindah ke Bali.
Modal 10 ribu nyeberang ke Girimanuk. Niat ke Bali itu awalnya cuma ketemu teman saja dan belum ada keinginan mengikuti kegiatan apapun. Dari ketidaksengajaan itu alhamdulilahnya aku ketemu Prof. Dibia, beliau ini juga menjadi salah satu tokoh yang menjadi inspirasiku ketika aku masih S1. Jadi, Putri selalu mencoba untuk mengimplementasikan pandangan Prof. Dibia itu. Dan waktu ke Bali akhirnya ketemu langsung sama orangnya. Dalam hati aku bergurau dan bahagia bisa mendapat SKS khusus hehehhe, “wah akhirnya ketemu langsung juga sama orangnya.” Pertemuan itu sangat berkesan, bahkan aku merasa seperti ngobrol sama orang tua dan aku sebagai cucunya gitu. Bahkan ada salah satu hal yang selalu terngiang. Jadi, Prof. Dibio ini punya buku yang memang dia mentranskripsikan terjemahan dari buku Alma M. Hawkins, seorang peneliti atau koreografer dari luar, berjudul, “Bergerak Menurut Kata Hati.”
Buku itu mengais salah satu kalimatnya yang selalu menjadi motivasiku buat kalau mau memulai bergerak dan berjalan, bergerak menurut kata hati. Lalu akhirnya kemarin aku ketemu sama beliau, ngebahas sedikit apa sih yang prof maksud dari kalimat itu. Bahkan cukup panjang dan itu dijelasin sampai akhirnya tuh yang menjadi motivasi aku untuk melanjutkan studi pendidikan S2 di Institut Seni Indonesia Surakarta.
Redaktur Halimun Salaka: Sebelum memperdalam perjalanan sampai ke Bali itu, coba jelaskan bagaimana proses kreatif pengkaryaan semasa menempuh studi S2 di ISI Surakarta.
Putri Annisa Hendrik: Singkat cerita, melalui beasiswa pelaku budaya, aku masuk ke ISI Surakarta dengan riwayat pengkaryaanku yang tadi diceritakan. Di ISI Surakarta itu aku melahirkan karya tesisku berjudul, Tutur Saleh Semesta Tubuh Suara Rupa. Karyaku itu masih melanjuti karya dari S1, berangkat dari ketokohan Raden Saleh. Tapi di karya S2 itu aku sudah bukan lagi ngebahas ketokohan Raden Saleh, sebab Saleh dalam judul Tutur Saleh bukan dimaksudkan sebagai tuturan dari Raden Saleh, melainkan dunia tutur atau tradisi lisan yang aku kerucutkan pada tuturan budaya Sunda.
Nah, dari situlah yang menjadi perkuat kenapa cerita lisan ini menjadi spirit untuk membuat karya itu kalau dalam bentuk alih wahana dari tradisi lisan atau tuturan ke gerak tubuh dalam tari. Sebenarnya cukup kompleks, soalnya apa yang coba dikaji itu pada akhirnya ngebahas tentang logat, ngebahas tentang kebiasaan, ngebahas tentang kebudayaan Sunda yang terbiasa dengan tutur-tutur khususnya dalam hal ini Bogor. Misalnya, kita tahu bahwa Raden Saleh ini kan orang keturunan Jawa, tapi dia dimakamkan di Bogor. Persoalan Raden Saleh itu bagiku juga punya pengaruh dalam konteks cerita lisan Sunda di Bogor khususnya, termasuk menyinggung soal Naskah-naskah Sunda Kuno, termasuk naskah Sanghyang Siksakandang yang juga berawal dari pengumpulan arsip-arsipnya itu. Aku bahkan terpikir untuk membikin sebuah pertunjukan tari mengenai hubungan Raden Saleh dan pengumpulan naskah, dalam hal ini tentang hubungannya dengan naskah Sunda Kuno.
Persoalan sekaligus jawaban itu mulai kutemukan ketika sudah proses S2. Tugas akhir S2 kemarin jadi menarik, dan aku membayangkan bagaimana semesta menghubungkan Bogor dengan kehidupan Raden Saleh. Kata semesta itulah yang menjadi kunci kenapa judul tugasku Semesta Tubuh Suara Rupa. Ditambah, pakai kalimat semesta itu, karena sebelum ke tempat ujian aku sudah melewati beberapa tempat yang pada akhirnya semesta menemukan ku dengan saung eling. Akhirnya, ketika aku menemukan dan berkunjung ke Saung Eling, rasanya kalau ke Saung Eling itu kayak berasa pulang. Di Saung Eling itulah aku simpulkan bahwa semua ini adalah proses semesta yang menyatukan aku dengan tubuh, dengan suara, dengan rupa. Pada akhirnya, judul karyanya Tutur Saleh. Bukannya Tuturnya Raden Saleh lagi, tapi tentang tutur kesalehan dan kebaikan semesta baik itu tubuh secara fisik maupun secara suara dan makna. Sederhananya di karya tesis kemarin, aku tuh menyimpulkan dengan adanya tutur atau tradisi lisan ini, sejatinya menghasilkan sebuah bentuk interaksi dan kedekatan antara manusia dengan alam.
Sejalan dengan itu, menariknya aku pernah ke Kepulauan Riau, ke Anambas. Di sana aku menemukan nama Raden Saleh. Hal tersebut lalu membuatku merasa bertanya, mengapa aku selalu dipertemukan dengan Raden Saleh, dan mengapa pula aku merasa dekat dan nyaman dengan Raden Saleh. Begitu. Dari prosesi itulah, dalam hal ini sosok Raden Saleh, yang menjadikan spiritku dalam menempuh dunia kesenian ini, dengan semesta hidup ini.
Oh iya, hampir lupa. Selama proses S2, melanjutkan yang noni itu, akhirnya aku membentuk satu kolektif namanya Gemadah. Gemadah ini sebenarnya terdiri dari cuma dua orang aja. Itu ada aku dan temanku Dare. Beliau ini rekan dari ISI Surakarta. Dan memang senior dari UNJ sampai S2. Ternyata kita ketemu lagi. Dan pada akhirnya sebenarnya tujuannya hanya wadah buat bisa jalan-jalan aja, buat refreshing waktu itu. Karena kan S2, sambil mengisi kegiatan itu, kita tuh nyari-nyari kegiatan lain. Akhirnya bikin si Gemadah itu. Gemadah itu membawa perjalananku ke Surabaya, ke Banyuwangi, ke Denpasar, ke Sumbawa. Dan itu semua non-profit, sifatnya pribadi, hanya mengandalkan relasi. Alhamdulillahnya, kemarin itu kami sudah berlayar, sudah mengembangkan kesenian, baik itu bidang pendidikan dan kesenian, sampai ke Sumbawa itu, dengan identitas masing-masing, Dare dengan Melayunya, aku dengan Sundanya.
Redaktur Halimun Salaka: Sangat ajaib dan menarik. Baik, kita perdalam lagi. Waktu perjalanan sampai ke Bali itu kan sekitar umur 22 ya?
Putri Annisa Hendrik: Ya betul, kurang lebih umur segitu aku, Kang.
Redaktur Halimun Salaka: Apa yang memotivasi Teh Putri melakukan perjalanan itu? Kami penasaran, kenapa tiba-tiba melakukan perjalanan yang lumayan cukup jauh itu? Adakah tujuan khusus atau capain seperti apa ketika melakukan perjalanan itu?
Putri Annisa Hendrik: Waktu itu perjalananku naik bus. Bogor sampai Jawa Timur dan nyebrang ke Bali pokoknya gitu ya. Perjalanan itu benar-benar ngecer, Kang. Dan cuma punya… aduh, ini sedih banget pokoknya, cuma punya uang 500 ribu. Kenapa pada akhirnya aku memutuskan untuk berjalan atau menempuh perjalanan sejauh itu sendiri. Yang pertama, waktu itu kebetulan di bulan-bulan kelahiranku, dan aku tuh ingin ulang tahun sendiri. Keinginan itu sesimpel ingin merasakan, entah itu akan ada, kue ulang tahun atau nggak, tapi yang pasti aku coba ingin sendiri. Dengan jarak sejauh itu, tanpa bantuan siapapun, pada akhirnya menjadikan pelajaran dan mengasah mental. Menariknya, rata-rata yang di Bali itu sangat menghargai kita yang keturunan Sunda. Entah karena mungkin secara histori kita Sunda besar atau mereka Sunda kecil, aku belum tahu jawabannya, tapi memang perasaanku juga terasa pulang ketika ke Bali. Sebab, ketika di Bali itu aku banyak ketemu orang baik.
Kalau tujuan atau capaian, mungkin tepatnya untuk mengimajinasikan kembali nilai-nilai tradisi, dalam hal ini tari Sunda. Karena dengan tradisi itulah yang akan mengantarkan kita ke tradisi-tradisi di wilayah atau suku lainnya. Melalui tradisi juga kita akan bertemu dengan berbagai genre, penari modern dance misalnya, kan banyak genrenya, ada hip-hop, klasik, jazz, dan lain sebagainya. Dan mungkin itu tujuanku untuk membawa dan menggabungkan format kontemporer namun masih ada unsur tradisinya. Itu sih yang menjadi motivasi mungkin, yang jadi pemantik aku untuk tidak tidak mau menghilangkan identitas atau entitas ya.
Redaktur Halimun Salaka: Baik, Teh Putri. Sejauh ini kan Teh Putri bergerak di tari tradisional dan juga modern, jika disuruh memilih salah satu tari di Nusantara yang disukai, tapi selain tari Sunda ya, tari apa yang akan Teh Putri pilih?
Putri Annisa hendrik: Apa ya, hmmm, ini cukup susah jawabnya. Tapi kalau suruh memilih selain Sunda dan kalau mau mengambil sinonimnya, mungkin aku akan mengambil genre Jawa dan Bali, sebab keduanya itu kurang lebih sama dengan Sunda secara gerak tubuhnya yang keras dll. Di sisi lain, aku cukup senang dengan karya atau Tari Melayu. Aku senang sama si tari-tarian Melayu, termasuk Kalimantan. Kebetulan di Solo, temen-temenku dan abang-abangan di ISI banyak orang Melayu. Walaupun cukup sulit mempelajari tariannya, karena tari Melayu punya prinsip, bayangkan; bergerak seperti mengembang di atas air, katanya. Jadi benar-benar ngalir, nggak kelihatan lengkukan geraknya atau mungkin sulit untuk terlihat secara detailnya. Kalau Sunda kan adeg-adegnya atau kuda-kudanya jelas ya. Bali dan Jawa juga keras gitu kan, udah pasti kuda-kuda utama dan lebih ajek gerakannya.
Redaktur Halimun Salaka: Kalau suruh memilih tokoh, baik tokoh tari nasional maupun internasional, siapa yang mungkin mempengaruhi atau yang menjadi inspirasi Teh Putri, entah soal genre, atau soal hal -hal kreatif lainnya.
Putri Annisa Hendrik: Ini sulit dijawab, hehe. Sebab, pada akhirnya aku menyadari bahwasannya seni ini berkembang. Kalau kita ngomongin tradisi kan lampau dan tidak mungkin tidak akan bisa pakem ya. Tapi setelah aku sadari mungkin ini bisa menjadi salah satu alasan aku aja. Biar nggak terkesan memaksa untuk siapa tokoh-tokoh yang aku pilih gitu. Karena pada dasarnya akan berubah-berubah, Kang. Kita balik lagi ke masa mungkin dulu zaman aku SD, Didi Ninik Towok menjadi inspirasi aku sebagai tokoh senior. Tapi setelah aku naik SMP, SMA, misalnya. Tiba-tiba aku melihat misalnya ada yang namanya Eko Peace, yang alhamdulillah aku ketemu dia di S2 kemarin, salah satu yang akhirnya jadi dosenku. Aku senang karena dia membuat karya-karyanya yang gokil, dia kan punya buku tentang kontemporer, pelopor kontemporer Indonesia itu beliau. Dan seterusnya ketemu lagi dengan seniman tari lainnya. Itulah mengapa aku bilang berkembang bagaimana tokoh-tokoh itu menjadi spirit-motivasi proses kreatifku sampai saat ini.
Misal di era sekarang, seniman Indonesia namanya, Batara. Dia masih muda, cowok, dia narinya keren, drama musikal juga. Atau ada salah satu seniman performing art itu namanya ada yang aku suka adalah Mbak Mel, ada namanya Mbak Melati, dia orang, karena aku di Solo kemarin ya, jadi beberapa karyanya Aku memang belum pernah melihat dia secara langsung pertunjukannya, karena memang jarang ya momentumnya. Tapi, beberapa anak di beliau ini karirnya itu out of the box, karena ada genre-nya performing art yang kayak di luar-luar negeri gitu. Jadi, pilihan ketokohan itu susah, tapi pada akhirnya tetap ada tokoh-tokoh setiap genre-nya yang aku jadikan motivator dan menginspirasi dalam karyaku gitu. Ada lagi teman sekaligus seniorku yang aku kenal, namanya Mas Otmil Tasman. Dia sekarang lagi di Malaysia, anak muda yang dibiayai sama pemerintah Indonesia, tepatnya sama Kemenbud untuk melanjutkan S3. Dia karyanya mengusung lengger dan tradisi yang kini sudah sampai kancah internasional.
Singkatnya, di setiap genre aku memiliki tokoh yang menjadikanku inspirasi dalam melangsungkan kerja pengkaryaan.
Redaktur Halimun Salaka: Kita lanjut ke persoalan teknis sekaligus ke hal-hal yang masih berkaitan dengan proses kreatif. Ketika ditanya apa yang sulit ketika belajar seni tari? Sila dijawab, Teh!
Putri Annisa Hendrik: Menurutku konsisten yang paling sulit. Konsisten itu cukup susah. Karena kalau sedang belajar, dan kalau kita nggak konsisten, mungkin kita nggak akan jadi penari gitu. Sama seperti ketika kita sudah berlayar atau jalan-jalan kemanapun, misalnya, kalau kita nggak konsisten aku rasa kita nggak akan jadi apa-apa. Kita nggak akan jadi atau bisa jadi apa yang kita mau. Kayaknya aku rasa itu jawaban yang sangat basic sih itu.
Kemudian, prinsip sih menurutku. Prinsip itu pada akhirnya yang akan membentuk olah pikir kita menjadi seniman, sebab yang aku alami kayak gitu. Karena aku melihat sepengalaman ini, melihat orang A, B, C, dia konsisten akan karya musikalnya, dia akan konsisten dengan karya performing art, dia akan konsisten dengan karya kontemporernya, dengan karya jaipongnya. Menurutku yang pada akhirnya, mindset pola pikir itu yang menjadi sebuah idealis-realitas yang bisa dan harus bisa diterima oleh siapapun. Dan pada akhirnya, kalau kita sudah mendapatkannya prinsip tadi, kita sudah yakin dengan apa yang kita tempuh, kita akan sampai pada tahap pertanggungjawaban karya. Jadi kalau kita sudah siap mempertanggungjawabkan karya kita, kayaknya mau orang gimana pun, kita akan tetap berjalan atau tetap melaksanakan karya yang kita buat.
Lalu yang cukup penting juga adalah memperkuat argumen dari diri kita, sebab hal itu yang pada akhirnya nanti menghasilkan jalan penempuhan yang berangkat dari gagasan, prinsip, fokus. Sistem itu akan menghasilkan sebuah integritas yang pada akhirnya jadi nilai jual sekaligus pengantar kita untuk konsisten di dunia seni, begitu. Dan kadang, apa ya, menjadi seniman juga hal yang menakutkan. Karena banyak kekhawatiran yang nggak pernah tahu isinya, nggak pernah tahu kapan senangnya. Sebab di dunia seni menurutku sulit menerka apakah menempuh studi seni akan menghasilkan sesuatu, sedangkan apakah yang tidak menempuh studi seni tidak akan bisa menghasilkan sesuatu? Kenyataannya kadang terbalik, banyak yang sudah menempuh studi seni tapi gagal dalam membagikan karyanya, dan ada yang tidak menempuh studi seni secara formal tapi berhasil membagikan karyanya secara otodidak dan tekun. Dualisme semacam itulah yang menjadi jembatan kekhawatiran ketika menempuh dunia seni. Salah satu prinsipku KOMITMEN apa yang akan dipilih, KONSISTEN apa yang dipilih, KONSEKUEN apa yang sudah dipilih.
Selain itu, tentu saja seni tari memiliki banyak teori, pilar sekaligus dasar mengenai teknis pembelajarannya. Misalnya Wiraga, yang merupakan pencapaian pemahaman soal ketubuhan seorang penari yang sudah paham akan kepekaan raga atau tubuhnya ketika ia menari. Lalu ada Wirama, di mana pencapaian seorang penari terhadap kepekaan tubuh dengan musikalitasnya. Dan ada juga Wirasa, pencapaian seorang penari terhadap kepekaan wiraga dan wirama, yang bisa diolah ketika sudah mampu memahami makna apa yang terjadi pada tubuhnya, biasanya dikaitkan dengan kualitas tubuh yang baik.
Walaupun masih banyak prosesinya, setidaknya hal-hal tersebut menurutku perlu dipahami sekaligus dipelajari ketika kita hendak terjun ke dunia tari itu sendiri. Atau dengan kata lain, teori dan praktik dalam seni tari merupakan dua hal yang tak bisa dipisahkan ketika kita hendak terjun mempelajari seni tari.
Redaktur Halimun Salaka: Selanjutnya kita bahas persoalan kritik, dalam hal ini kritik seni tari, atau lebih tepatnya kritik semacam apa yang sering terjadi di ekosistem seni tari. Sila bercerita, Teh!
Putri Annisa Hendrik: Berdasarkan pengalaman aku saja mungkin, ya. Pertama, aku tidak akan menyamaratakan soal pandangan ini, anggap saja ini hanya terjadi di proses kreatifku. Sebab secara pengalamanku, sebenarnya yang menjadi ketakutan secara fisik atau kontak langsung semacam itu alhamdulillah aku belum pernah mengalaminya, misal dicaci-maki dan lain sebagainya. Kedua, seniman menurutku sangat membutuhkan kritik dalam bentuk apapun. Karena akhirnya itu kita akan menjadi bahan evaluasi kita untuk karya-karya berikutnya, tepatnya memperbaiki karya yang sudah diciptakan.
Lalu, menurutku, karena kita di Indonesia atau Nusantara, tentu punya dan dekat dengan tradisi-budaya. Nah, ketika kita berbasis pada tradisi, pada akhirnya kepakeman-kepakeman seperti itulah yang menjadi kekhawatiran, ya gak? Kenapa aku bilang kayak gitu? Karena ketika kita pakai metode tradisi, itu mesti sesuai dengan paketnya. Kalau misalnya nggak, berarti kita perlu siasat untuk membuat narasi kuatnya, misalnya tradisi yang dikreasikan, atau memasuki metode kontemporer kemasan pertunjukannya.
Semisal gini, karyaku yang Rundung Saleh itu basicnya kan aku ngambil dari Tari Keurseus. Kenapa Tari Keurseus? Sedangkan era sekarang mungkin tahunya Tari Jaipongan, mungkin beberapa juga pasti ada yang tahu tentang Tari Keurseus. Kenapa pada akhirnya aku pakai Tari Keurseus? Karena aku mau mencoba mengenalkan hal itu agar orang tahu, atau agar yang lupa bisa ingat kembali.
Kalau ngomongin berbagai kritik yang ditujukan ke karyaku misalnya, kayaknya aku nggak akan peduli orang mengkritik apapun, maksudnya nggak peduli dalam hal apakah kritik kejam atau normal. Yang penting, aku mau menghadirkan pesan dalam karyaku. Sebab aku akan sibuk untuk selalu membuat dan mempersiapkan pertanggungjawaban karya-karyaku sebagai jawabannya.
Redaktur Halimun Salaka: Dalam pandangan Teh Putri, bagaimana ekosistem kesenian tari di Bogor? Boleh dijawab sesuai pengalaman atau pengamatan Teh Putri!
Putri Annisa Hendrik: Kesadaran ekosistem itu baru aku sadari setelah kemarin menuntaskan proses studi di Solo. Karena apa, di Solo ini kan keseniannya banyak. Jadi yang aku alami di sana itu seni kayak virus, karena di sana itu setiap hari ada saja kegiatan seni. Proses itu yang lalu mengantarkanku untuk membandingkan dengan ekosistem di Bogor.
Nah, akhirnya aku sadar kenapa pada akhirnya kemarin mau berkarya di Begor, sebab aku ingin mencoba untuk menciptakan ekosistem baru. Karena yang aku rasa adalah aku telah banyak kehilangan beberapa kejadian kesenian yang pernah aku alami dulu, entah itu soal kemasan, soal festival kesenian budayanya, atau apapun. Aku rasa itu pada akhirnya membawa kenyataan tentang hal-hal yang hilang di Bogor, dan dengan begitu aku ingin hadir lagi untuk menciptakan sesuatu ekosistem yang semoga harapannya itu bisa menciptakan ekosistem baru.
Misalnya salah satu garapanku kemarin yang mengaktivasi seni pertunjukan di Kedai Kopi Rumaja, salah satu kedai kopi di Bogor. Mereka punya space, dan aku punya ide dan konsep pertunjukan. Kolaborasi semacam itu menurutku yang perlu ditingkatkan di Bogor, dalam hal ini tentu kesenian tari.
Sisanya aku belum bisa membahas detail mengenai ekosistem di Bogor. Sebab aku sadar aku harus terjun langsung dan sekarang itu kayaknya yang perlu kita lakukan adalah memperbanyak produksi karya, memperbanyak ruang aktivasi, inovasi dan memperbanyak jaringan ekosistem seni. Rencananya Putri akan melaksanakan tour Karya yang akan dimulai pada awal tahun 2026! Semoga banyak orang dan kolektif yang mau bekerja sama dan support saya untuk membuat dan melakukan kolaborasi karya.
Redaktur Halimun Salaka: Terima kasih atas waktu, ilmu, dan kisah pembelajarannya, Teh! Sebagai penutup, sila jelaskan pandangan versi Teh Putri mengenai apa dan bagaimana kesenian tari itu sendiri!
Putri Annisa Hendrik: Aku memandang kesenian tari merupakan wahana/media untuk mengekspresikan diri dengan jujur. Karena aku lagi suka kata semesta, bagiku dalam memandang kesenian tari definisiku serupa tubuh dan perjalanan aku sendiri dalam melintasi lautan. Karena, walaupun belum seberapa, aku sudah belajar melintasi lautan, melewati kesekian ombak yang menghantam batu karang dalam perjalanan diri sendiri sampai sejauh ini. Kenapa aku bilang melintasi lautan—menghantam ombak?
Jadi, aku mendefinisikan tubuh dan diri ini sebagai perahu dalam perjalanan dan pelayaran. Misalnya aku sudah pernah ke Sumbawa, sudah pernah ke Denpasar, sudah pernah ke Anambas, gitu kan, aku berharap bisa keliling jauh lagi. Pengalaman mengenai lautan itu, melewati cacian ombak dan menghantam batu karang itulah yang menurutku hidup harus melewati serangkaian kritikan, cacian-cacian, dan lalu kita mesti menghantam berbagai masalah yang ada di hidup kita sendiri, baik ataupun buruk sejatinya tetap memberikan pembelajaran.
Bagiku, mungkin itulah kesan dan pandanganku terhadap seni tari, ia merupakan perjalananku atau kita semua sebagai bagian terkecil dari semesta ini.

