Dua Musim dan Keranjang Nikah

Edvard Munch (1863-1944) Keranjang Nikah pundi terisi, harga cincin naikrestu orang tua mahalundangan terasa seperti kredit aku menghitung lagi:bukan takut terikat,aku cuma tak mau berutangpada bahagia yang tergesa kalau jadi rumahbiarlah fondasinya jujur:bukan dari gengsi,tapi dari keringat yang tak mengemis. (2026) Dua Musim ibu ayah: dua musimyang menghangatkandan mendinginkan beranda aku baru sadar:musim pun punya jam […]
Lima Menit yang Riuh

Frida Kahlo (1907 – 1954) Lampu kamar sudah padam, namun lampu minyak di kepala seolah enggan padam, justru sumbunya semakin menyala saat kelopak mata kututup rapat. Aku mencoba membujuk kesadaran untuk menyerah, namun di balik gelap itu, sebuah panggung sandiwara justru menaikkan tirainya dengan angkuh. Memejamkan mata dan memaksa diri untuk tidur adalah sebuah kepayahan […]
Bahasa Waktu dan Puisi Lainnya

Maurice Lalau (1881-1961) Bahasa Waktu Usia terus menggali lubang di pemukiman padat nasibHendak mengubur masa kanak-kanak di samping pohon-pohon harapanApa yang sesungguhnya terjadi pada hidup? Waktu seperti mengendarai mobil masa depandan kau hanya berjalan di trotoar penuh pertanyaanHingga tahun berganti pakaian tergesa-gesa;menampilkan tubuh derita penuh bekas sayatan pisaumimpi yang tinggal karatan Betapa jauh kau hilang […]
Burung Gereja dan Puisi Lainnya

Johann Baptist Drechsler (1756-1811) Burung Gereja aku membangun sarangdi atap rumah Tuhandari jerami dewi sriyang terhampardi tanah surgawi : sehelai kasih, segumpal kisahkun! jadilah rumah setiap kali aku pulang ke rumah Tuhanorang-orang memandang tajam ke arahkuseakan melempariku batu pertanyaantentang bagaimana caraku sembahyang padahal sembahyangku hanya puisi:membelai angin setiap harimengibas waktu hidup ini. Dengan Puisi Kutantang […]
Jumat dan Puisi Lainnya

Eleanor Fortescue-Brickdale (1871-1945) Izinkan :untuk Andiani Jika ada kilau permata yang lebihterang dari sinar mentari pagibarangkali itu adalahsenyum pada lesung pipimu. Kembang-kembang bersemidalam hangatnya lembayungpagi yang membasuh wajahmudengan keindahan. Izinkan aku memetik setangkaipuisi pada lesung pipimu.Puisi itu akan tumbuh suburdi ladang hatiku, sayang. Purbalingga, 2025 Jumat Seorang bocah kecilyang bersarung lugu itutidak mau mendapatkanimbalan untapada […]
RETAK

Vincent van Gogh, First Steps, after Millet. 1890 Di pasar pagi, para nenek masih memanggil perempuan muda yang berkeringat dengan sebutan “anak manis”─seolah itu tugas resmi dari adat. Aku, namaku Rima, berdiri di antara tumpukan kain songket yang baunya bercampur kopra dan minyak wangi lama, merasa seperti benda antik yang diberi label harga tapi tak […]
Dengan Puisi Kutantang Waktu dan Puisi Lainnya

Kurz & Allison 1892 Dengan Puisi Kutantang Waktu sebelum kuhunuskan dan kutikam puisi ke jantung waktu, telah kuasah larik-larik ini di medan makna, saat fenomena hidup berperang sebagai kesatria o, makaya: bunuhlah mantra, bunuhlah mantra! dan ketika mulai kutikam puisi ke jantung waktu, bait-bait menjelma jeritan nenek moyangku, di mana darah waktu memuncratkan serpihan sejarah, […]
Jalan Pulang

Jean-Baptiste-Camille Corot 1796-1875 Kemarau masih mengulur waktu. Ambang bayang harapan telah berguguran detik demi detik. Hari demi hari pun telah merekah. Minggu telah berganti menjadi bulan kemudian menjelma masa lalu. Tak sadar sudah tahunan, waktu telah berlalu begitu cepat. Saya adalah seorang yang suka menerka-nerka pikiran saya sendiri. Tidak jarang saya menerka-nerka diri saya di […]
Soekamti & Sampan Kayu

Hudson River, Logging (1891-1892) Sudah berapa lama Soekamti tak tahu pasti. Ia telah menyasarkan diri ke lautan ketika terseret ombak sejak entah kapan, Soekamti tak pernah tahu pasti. Ia sendirian. Mengarungi lautan yang luas dan barangkali tak berujung. Tanpa arah kesimpulan yang jelas dan tak terbatas. Kendati demikian, Soekamti tak pernah hilang harapan. Asa selalu […]
Kebun Gersang di Matamu dan Puisi Lainnya

Childe Hassam (1859-1935) Sebuah Surat telah sampai kepadakusebuah surat yang beralamatkannamamu kekasih, kekasihku ketika kubaca satu per satuhuruf-huruf itukebun gersang di matamu telah selesai kubacasebuah surat yang diperuntukankepadamu kekasih, kekasihku walau seribu masa silamkian memburudengan puisi kutantang waktu Kebun Gersang di Matamu menangislah dan jadilah hujanbagi bunga-bunga yang layudahaga di relung hatimu menangislah dan jadilah […]