Hermann Max Pechstein (1881 – 1955)
Menelan Hari
Kutelan semua hari
gelap berlapis gelap—
ẓulumātun ba‘ḍuhā fawqa ba‘d
Di dalam perut waktu
aku mendengar satu kalimat perlahan:
lā ilāha illā anta, subḥānaka
Hausku jadi laut tanpa pantai
tubuhku tenggelam,
nafsu yang kehabisan udara,
dan aku tak menemukan apa pun
kecuali napas yang tersengal-sengal
Bukankah Yunus diselamatkan
ketika ia lenyap dalam pengakuan?
Hari ini aku tidak lapar—
aku sedang dicerna cahaya
daging-daging keinginanku hancur,
tulang kesombonganku larut,
namaku mengendap
di relung-palung Tuhan
Dan ketika senja datang
kubuka tubuh-lukaku
yang kembali ke permukaan
setelah jiwa belajar tentang arti tenggelam
2026
Kota Tanpa Perlawanan
: Jalalabad 2021
Ada sebuah kota dalam dadaku
yang dulu dipenuhi dendam,
ingatan, dan keinginan membalas
Hari ini aku memasukinya tanpa senjata
gerbangnya terbuka sendiri
Temboknya runtuh tanpa disentuh
pengampunan mengalir seperti sungai-sungai darah
yang menemukan jalan pulang kesucian
Aku tidak tahu lagi siapa yang memaafkan
aku tidak tahu lagi siapa yang dimaafkan
Semua nama-nama terbakar
dalam keluasan yang enggan membutuhkan sejarah
2026
Antara Petang dan Pantang
Di antara putih dan hitam
bulan sabit dipisahkan temaram
kini yang kubedah tinggalah
petang dan pantang
Di hari-hari yang kian telanjang,
tubuhku alang-melintang
menarik satu kata cabar
Berjingkat aku ke sidratul muntaha
pohon-pohon bidara bersembunyi
dari segala bunyi yang dilucuti makna
Di antara petang dan pantang
mengguguku bermimpi di rimba
gegar kata-kata.
2026

