Mengolah Cara Berpikir Kesenimanan: Mencari Masa Depan Seni di Bogor yang Eksploitatif

Vicious circle (1897) – Jacek Malczewski (Polish, 1854–1929) Bogor adalah kota dengan intensitas hujan yang tinggi, dan ironinya: hujan itu jarang menetes ke kepala seniman. Ia membasahi rambut, tapi tidak pikiran. Di sini, seni lebih sering tumbuh sebagai taman yang dipoles sedemikian indah, aman, terukur. Tapi bukan hutan. Padahal seni, kalau ingin hidup, harus tumbuh […]

Dewan Kesenian Bogor Sebagai Medan Laga & Medan Makna

Croesus showing Solon his Riches – Frans Francken the Younger (1581 – 1642) I Dalam tulisan Orasi Dewan Kesenian 2025, di zine vol.1, saya menutupnya dengan serangkaian persoalan bahwa, masyarakat seniman di Bogor tidak punya waktu lagi, sebab inilah saatnya dan sudah waktunya untuk mengolah daya reflektif-evaluatifnya hari ini: baik di kalangan persona seniman sendiri […]

Meninjau Penolakan Warga Gunung Gede–Pangrango Terhadap Geothermal dalam Kosmologi Kesundaan

Kami tiba ketika bulan menggantung tepat di tengah malam. Angin dingin dari arah gunung menyelinap lewat celah-jaket, menjadi teman perjalanan kami yang menerjang puncak pass, lalu terus ke terminal pendakian. Karena ini pertama kami datang, maka sel-sel komunikasi kami aktifkan, koordinat dibagikan, dan tak lama yang menjemput pun datang.  Maka kami bertujuh pun kemudian dibawa […]

Ranjang Baru Kesenimanan di Dewan Kesenian

Hanya ada dua proses sekaligus pilihan yang dapat kita tentukan jalannya, pertama, Dewan Kesenian Bogor tidak perlu diaktivasi-direposisi, sebab tidak ada guna keberadaannya-jika Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor dalam sub-bidang kebudayaan/kesenian mampu menampung persoalan karya, kritik, arsip, publikasi, dan dapat menampung serangkaian dialektika, medan laga (atau pengkajian seni) dan makna (atau ekosistem seni) […]

Dialek Sunda di Kota Hujan: Siapa yang Masih Bicara?

Thou Art Weighed in the Balances, and Art Found Wanting (1788) Jika kamu berjalan di pasar tradisional Ciawi, atau duduk ngopi di trotoar Sempur, sesekali akan terdengar percakapan dalam bahasa Sunda. Tapi di sekolah-sekolah, kafe-kafe modern, dan lingkungan perumahan urban di Bogor, bahasa yang dominan justru Bahasa Indonesia dengan aksen Jaksel, bahkan logat Betawi. Dan […]

Filsafat Sudah Mati Sebelum Hidup Di Jurusan — Di Kampus-kampus Bogor

Dead Mother (Tote Mutter) (1898) Dalam diskursus pendidikan tinggi Indonesia yang kian pragmatis, sebuah pernyataan kontroversial kembali mengemuka: jurusan filsafat mending dibubarkan saja. Begitu kira-kira simpul kalimat Ferry Irwandi, melalui sosial media dan forum-forum publik jagat digital. Sekilas, ini terdengar seperti nada anti-intelektual yang murahan. Maka sontak, riuh. Ruang publik bergejolak. Bergemuruh. Sebagian mencibir, sebagian […]

Gunung Tak Lagi Sunyi, Maka Aku Tak Lagi Mendaki

Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) Aku pernah mencintai gunung seperti orang jatuh cinta: datang dengan rasa haru, membawa doa, dan pulang dengan sepotong damai di dalam dada. Tapi kini aku tak lagi mendaki. Bukan karena kakiku lelah, tapi karena aku lelah melihat gunung hanya dijadikan latar untuk berfoto, untuk berwisata, untuk energi yang katanya hijau tapi […]

ORASI DEWAN KESENIAN 2025

Trompe L’oeil With Studio Wall And Vanitas Still Life (1668) Ekosistem kesenian, jika dimetaforakan sebagai ekosistem hutan, maka seniman adalah raja hutan: yang bisa saja kita sebut serupa dengan harimau. Seniman harimau itu, betapapun kuat dan menakutkan, jika ia terlepas dari kawanannya, selain akan mati kesepian—ia hanya gagah di atas penderitaannya sendiri. Lebih jauh lagi, […]

KETAKUTAN MENGHADAPI MASA DEPAN KESENIAN BOGOR

A Eurasian eagle-owl with other birds in a landscape 1675 – 1721 Sungguh, saya takut menghadapi masa depan kesenian Bogor! Ketakutan itu bukan pada kuantitas produksi kesenian–juga kebudayaan–masyarakat yang selama ini meletup-letup kecil di antara pembangunan sosial masyarakat. Asalnya, jelas, dari berita-berita dan asupan informasi yang kian hari santar menakutkan, khususnya yang berkaitan dengan kesenian […]

BANGKIT, WARGA! KESENIAN INI TAK AKAN HIDUP TANPA KITA!

The Fall of the Rebel Angels 1562 Coba jawab pertanyaan ini dengan jujur: Kapan terakhir kali kamu benar benar merasa didengar? Bukan sekadar dibalas chat. Tapi didengar. Dipahami. Direngkuh. Kami tidak bicara tentang negara. Kami sadar ia tuli dan tebal muka. Kami juga tidak bicara tentang birokrat budaya. Mereka cuma sibuk bikin agenda, mengisi laporan, […]