Fritz Lach 1868-1933
Di Ambang Pertaruhan
pada hutan yang menggema suara pohon-pohon
Aku adalah berbatuan lumut penyembah hujan
adakalanya seperti patahan kayu hanyut ke alir laut sepi
sebagai kawan sunyi
sendang hati meramu doa-doa
berharap menginang datang di dermaga
entah perahu-perahu pembawa jantung debar
entah kapal kecil pembawa segudang kupu-kupu
namun pada ladang gersang itu
engkau menghias langit haru biru
menjelma merpati putih bersayap api
lalu kepalaku seperti kandang kembang abadi
saban hari, dipenuhi hantu-hantu
bahwa engkau mawar berduri di tangan petani
dan akhirnya, aku mengkuntum mimpi sengketa
hingga diriku selalu bertaruh tubuh
dalam permainan kartu
kartu tarot terlempar di meja waktu
tapi takdir menoleh saja tidak
Aku menawarkan jiwa sebagai imbalan
hendak cahaya yang diperam malam
menetas menjadi nubuat matahari
apakah kemenangan itu hanyalah angan-angan?
atau sekadar kematian berdarah yang berulang ledakan
Padang, 2025
Perjuangan Ayah
pagi kembali mengembara cahaya
ayah berangkat bekerja dengan sepotong hati
sepotong lagi, ia tinggalkan di meja makan
ibu tahu, Ayah menyusuri peta doa darinya
di mata Ayah yang banyak menyimpan perca-perca harapan
tubuh Ayah setiap hari digerus usia
seperti benang rapi dan berwarna merah cinta
lalu kusut di mesin jahit angan
jiwa Ayah telah diserahkan kepada waktu
bahwa sebelum senja tiba, Ayah mulai menakar nasib
menenteng mimpi jatuh dari pohon lelah berbuah delima asam
demikianlah Ayah menjelma kelambu bagi senyuman
ibu Menjaga tetap indah terhindar oleh nyamuk sedih
kadang laksana alir sungai bagi kami
membasuh lumpur-lumpur getir hidup
pulang kerja, jantung Ayah senantiasa membawa
dahan-dahan berdaun
sesekali kering kemarau;
tempat kami dan Ibu menggantung bulan rindu
berdenyut juang menaklukkan kutukan kekurangan
Padang, 2025

