L. Crusius (1897)

Kalender Pekerja

Kau jumat sore,
Semringah menunggu berbuka dengan sepiring Sabtu dan segelas Minggu
di rumah sewaan tempat lapar biasa mengintip di celah malam
kau duduk, menghitung lembar demi lembar waktu untuk pulang
Di hadapan tanggal, bakwan itu pun tanggal
dengan nasi yang tak sempat matang
karena magrib keburu datang
Kau teguk saja sepi itu, sendirian
Sampai kau bimbang antara lapar dan kenyang

Mengapa tanggal tak pernah cukup?
Sedang angka-angkanya penuh dan pasti,
terpampang rapi, berjajar
Seperti menanti amplop-amplop yang belum kau rekatkan besarannya

Apa sebulan cukup dibagi sembilan?
Berapa sisa tanggal yang tak usang?
Apa cukup untuk kau kembali berperang?

Maret, 2026

Kalender Duduk

Kapan?
Iya benar, ini tentang kalender duduk di meja tamu,
yang biasa hening lalu ramai,
dan mereka bertanya-tanya
Apa ada tamu yang lebih istimewa? Setara manisan atau kue khong guan?
Sedang hatiku bubuk bak rengginang di paling dasar
yang terhimpit, terhuyung-huyung di ruang yang kusebut trauma

Oh kasih, adakah angka di kalendermu yang setiap harinya adalah rindu?
Sedang hari raya semua libur merindu
mereka saling bertemu, dan bertamu

Maukah kau datang ke rumahku?
Biar kau duduk
di samping kalender itu

Maret, 2026

  • lahir di Bogor 19 Juli. Kata Ibu, saya lahir awal subuh di hari Minggu. Karena itu, setiap weekend saya lebih sering tidur. Sedang senang berjualan, padahal hobi main sepak bola. Lupa dari kapan menyukai puisi. Mungkin, sejak subuh tadi.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *