Georges de Feure (1868-1943)
Ketiadaannya Ada di Mana-mana
ketiadaannya ada di mana-mana
terbaca pada sesumbar siur para leluhur
& segulung wajah kusut yang menyingkapkan patahnya dunia
juga pada langit bersih dengan sedikit awan
atau sepasang bola mata yang menatap ngarai mendung cakrawala
gelap-pekat doa terpancar dalam murka keinginan
terang sulur-sulur jiwa menyembul dalam iman yang pasang-surut
terpancar pula pada kematian hasrat sepasang kekasih setelah bercinta—
tersipu malu seperti dunia menyembunyikan ketakbermaknaannya
dan ketiadaannya bersenyawa dengan seikat pengetahuan subtil para seniman
melingkari kekosongan hati para pendengar dream pop & doom metal
atau para ekseget yang menentang semua tafsir kecuali tafsirannya sendiri
tenggelam dalam perasaan diilhami & sukma yang merdu
lalu di mana-mana ada ketiadaan
sebagaimana ketiadaannya ada di mana-mana
ketiadaan yang terikat pada kata-kata yang terpilin
dalam enam ribu enam ratus enam puluh enam ayat
dalam seratus tiga puluh enam baris lagu cinta Alfred Prufrock
dalam seluruh sajak & puisi di bumi & langit—
merangkum segala susah payah yang bermuara pada satu kata: hidup.
Kiamat
di tanah itu
para tetua membangun rumah
berfasad gunung-gemunung amarah
beratap langit bergulung mendung
berdinding murka dan kesumat dari perang yang panjang
di dalamnya seorang bocah perempuan dicengkram
masa depan yang liyan
membeliak oleh bau anyir nanah
tumpah ruah menjadi arwah & marwah
menyeret dadanya ke iman dan amin paling sekarat
didengarnya ngilu sakaratul maut
berkecamuk dengan suara derit pintu surga
kecut-peluh keraguan saling susul-menyusul
sebab iman tak pernah sungguh-sungguh singgah
seperti birahi yang timbul-tenggelam
lalu dibekukan oleh absennya kepenuhan
sesekali kau membatin:
dunia nyaris kiamat
hanyut oleh derasnya aliran waktu
lalu mereka telanjang dari segala fiksi dan nafsi
merangkak menerjang menuju inti sunyi
dan sinar tolol bulan merangkul sembarang siapa
yang gagal melerai kematian.
