Puasa Puisi di Pikiran
Hari ini aku puasa sepenuh jiwa
tak lupa sahur agar kuat sampai buka
tak lupa aku sekolah dan beribadah
kepada Tuhan Yang Maha Esa
hingga menunggu waktu yang tiba
Puasa bukan tentang menahan rindu
melainkan menahan nafsu
menahan lapar dan amarah
ialah ibadah menuju Istiqomah
di bulan suci ramadhan
Jangan lupa mengaji
agar tak kehilangan percaya diri
kulantunkan ayat suci
dan aku berserah diri
kepada yang kuasa dan kucintai.
Puasa Mengingat Luka dan Lara
Di waktu senja aku berbuka
di saat-saat menikmati indahnya dunia
dunia bercerita saat kala kita berpuasa
Sahur dengan penuh perasan
membuat luka merasa terkesan
Mengingat rasa di hari itu
membuat puasa menjadi renjana dan sendu
berbuka menjadi gundah gulana di hari sabtu
Tak istirahat, tak tidur
dengan niat membangun sahur
memukul bedug dengan semangat
hati menjadi kegirangan tersengat.
Catatan Apresiasi Redaksi:
Puisi-puisi ini ditulis oleh Akhmal Mylan Putra Priatna, siswa SMPN 4 Gunung Putri – Kabupaten Bogor. Kami menerbitkan puisi Akhmal sebagai suatu usaha menunjukkan dan merayakan bahwa dari sekian tak terhingganya anak-anak yang terbius oleh dunia “game-online-hangphone,” Akhmal menjadi sebagian anak yang bertolak dari keramaian-kenormalan zaman itu, dengan memilih sastra (puisi) sebagai salah-satu wahana bermainnya.
Dua puisi berjudul, “Puasa Puisi di Pikiran” dan “Puasa Mengingat Luka dan Lara”, menunjukkan bahwa anak-anak, khususnya Akhmal, juga memiliki pemahaman yang cukup menarik tentang bagaimana menawarkan jalan puasa dan dapat mengungkapkannya dalam bentuk: teks puisi. Dua puisi ini autentik secara larik, bait, maupun kata dan gaya bahasanya. Maksudnya, di sini kami tak mengeditori dan bahkan tak kami tambah-kurangi isi-bentuknya. Dalam bentuk autentiknya, kami bisa melihat dan menangkap pesan-kesannya bahwa, Akhmal dengan sadar menawarkan sekelumit perasaan, pikiran, pengalaman, dan pandangannya selama menjalani puasa.
Yang menarik dari puisi-puisinya adalah kemampuan Akhmal dalam mengungkapkan ekspresi dan imajinya dengan cara yang kreatif-eksploratif plus reflektif-imajinatif. Dalam “Puasa Puisi di Pikiran”, Akhmal mengungkap tawaran perasaan-pikirannya tentang puasa sebagai sebuah ibadah yang membutuhkan kesabaran dan ketabahan. Ia juga mengungkapkan pentingnya mengaji dan berserah diri kepada Tuhan selama menjalani bulan suci ini: tawaran refleksi-ekspresi yang tegas-lugas tentang, “Puasa bukan tentang menahan rindu/ melainkan menahan nafsu/ menahan lapar dan amarah/ ialah ibadah menuju Istiqomah/ di bulan suci ramadhan.
Sementara dalam “Puasa Mengingat Luka dan Lara”, Akhmal mengungkapkan perasaan-pikirannya tentang puasa sebagai sebuah pengalaman yang bisa saja dapat membuat kita merasa sedih dan sendu, misalnya tentang bagaimana puasa dapat membuat kita merasa lapar dan lelah, tetapi juga dapat membuat kita merasa lebih dekat dalam membersamai Tuhan: tawaran refleksi-imaji yang cukup menarik sebagaimana, “dunia bercerita saat kala kita berpuasa…// mengingat rasa di hari itu/ membuat puasa menjadi renjana dan sendu…// hati menjadi kegirangan tersengat.
Dua puisi Akhmal ini menunjukkan bahwa anak-anak juga memiliki kemampuan dalam mengungkapkan perasaan-pikiran dan pengalamannya tentang puasa dalam kerja puisi. Ketika anak-anak diselimuti dimensi keliaran berpikirnya plus perasaannya, di sinilah kerja puisi dapat menjadi alat yang efektif sekaligus menarik untuk membantu anak-anak mengelaborasi-mewahanai perasaan dan pengalaman mereka. Dan Akhmal, setidaknya berani mengambil sikap itu dalam memasuki plus merambah rimba puisi, mengembangkan kepekaannya dalam mengungkapkan perasaan-pikiran dan pengalamannya menjadi sebuah karya: puisi.