Karl Isakson (1878 – 1922)

Semilir Angin

aku hanya ingin terbang
melintas luka meditasi waktu
mencari titik temu
wajah bumi dan kaki langit

aku juga harus merdeka
meluncur dari kumpulan sejarah
melukis kisah pertemuan
wajahmu yang muram

aku sudah bersedih
menemukanmu dalam sepi
menyimpan cerita kita rapat-rapat
wajah dunia yang terasingkan.

Tubuh

di tubuhku, hanya ada
sebelah sayap dari pisau
berkarat. la tersembunyi
di sebaris tulang iga

di tubuhku, ada jaring
laba-laba bekas para
pelacur bermain

di tubuhku, ada pelontar
api, yang semakin ditekan
ia akan terbang jauh

di tubuhku, ada seribu
alasan untuk memelihara
sebuah kebencian

tapi di tubuhku, Kekasih,
ada sebuah pena yang liar
melukis namamu di ujung
semesta.

Rumah Kenangan

1)
ingatkah kau
ketika menghabiskan
senja denganku

kau tak pernah ingin
memejamkan mata lagi

katamu, sebaris puisi yang
kupelihara itu penakut

nyatanya puisi tak pernah
mundur di hadapan waktu

aku tertawa, hidup ini lucu
seperti membaca sebuah kisah cinta

kau kagum pada peristiwa itu,
tapi lupa mengeja kalimatnya.

2)
bagaimana aku
menyebutnya rumah
sedang jiwaku tak pernah singgah

dan di sana, halaman itu
penuh dengan biru
yang hari ini masih
mengintai ingatanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *