ilustrasi: indonesiakaya
Ruang Tak Terlihat yang Menata Perilaku
Di banyak wilayah, khususnya di Pulau Jawa, nama Nyai Roro Kidul muncul bukan sebagai kisah pinggir jalan. Ia muncul bersama suara ombak, bersama cara orang tua melarang anak bermain terlalu dekat dengan air, bersama upacara kecil untuk menata hubungan antara manusia dan laut. Sosok ini hidup bukan karena tubuhnya hadir, tetapi karena masyarakat memberi tempat bagi keberadaannya. Kepercayaan seperti ini bekerja sebagai jaring halus yang menghubungkan manusia dengan lingkungan. Ia menata tindakan sebelum bencana terjadi, membentuk rasa hormat terhadap wilayah yang dianggap berbahaya, dan dengan caranya sendiri menciptakan etika.
Konsep realitas yang tidak kasat mata ini menemukan pijakannya pada pandangan Harari tentang kemampuan manusia membangun dunia melalui kesepakatan. Negara, agama, pasar, dan uang digital berdiri karena orang percaya bahwa semua itu nyata, meskipun tidak bisa disentuh. Nilai mereka lahir dari keyakinan kolektif. Sesuatu menjadi kuat bukan karena bentuk fisiknya, tetapi karena jutaan kepala sepakat untuk mengakuinya. Kesepakatan itu seperti fondasi yang tidak terlihat. Ia menopang seluruh bangunan sosial.
Dalam ruang yang sama, Nyai Roro Kidul hidup sebagai bentuk kesepakatan yang diwariskan turun-temurun. Ia bukan sosok yang menuntut pembuktian ilmiah. Ia bekerja pada ranah psikologis dan ekologis. Pada masa ketika pengetahuan tentang tektonik masih terbatas, mitos menyediakan bahasa untuk memahami ancaman dan menjaganya tetap berada dalam batas yang aman. Gunung Merapi dan Laut Selatan dianggap sebagai kekuatan yang saling menyeimbangkan. Jika satu bergolak, yang lain akan memberi tanda. Kepercayaan semacam ini membangun pola baca terhadap alam. Bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengatur hidup.
Masyarakat memanfaatkan cerita ini sebagai alat kendali diri. Ombak besar bukan sekadar fenomena. Ia diperlakukan sebagai pesan. Sikap hati-hati muncul sebagai reaksi langsung. Ada tanggung jawab moral terhadap lingkungan yang dianggap berjiwa. Hubungan manusia dengan alam berlangsung sebagai dialog metaforis. Satu pihak memberi tanda, pihak lain menyesuaikan langkah. Pola seperti ini menunjukkan betapa realitas tidak hanya hadir dalam senyawa kimia dan data ilmiah. Ia juga hadir dalam cerita yang dibagikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di kota-kota besar, kepercayaan itu dianggap irasional. Dunia yang dipenuhi algoritma dan grafik keuangan merasa dirinya sudah jauh dari mitos. Namun, uang digital beredar tanpa bentuk, hanya angka di layar. Orang percaya pada nilainya. Orang bekerja dan membayar hutang dengan titik-titik data yang sebenarnya tidak memiliki wujud. Jika kepercayaan kolektif dicabut, angka itu kehilangan daya. Di sini batas antara logis dan takhayul berubah menjadi tipis. Rasionalitas modern berdiri di atas struktur keyakinan yang tidak berbeda jauh dari cara masyarakat tradisional memaknai laut dan gunung. Perbedaannya hanya pada bahasa yang dipakai untuk menjelaskan dunia.
Ruang tak terlihat itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berganti pakaian. Mekanismenya tetap sama. Manusia membutuhkan tempat untuk meletakkan rasa takut, rasa hormat, dan rasa ingin mengerti. Ketika masyarakat menggambarkan penguasa laut, mereka sebenarnya sedang menyusun etika. Etika itu menahan tangan manusia agar tidak merusak. Pesan tersembunyi di balik cerita menegaskan bahwa alam tidak boleh ditantang dengan kesombongan. Sikap semacam ini telah membentuk pola kelangsungan hidup. Ia mungkin tidak ilmiah. Namun, ia menjaga manusia tetap waspada.
Ketika Bahasa Berganti, Tujuan Tetap Sama
Ilmu pengetahuan modern masuk dengan bahasa baru. Bahaya tsunami dibahas dengan model numerik. Lereng gunung dipetakan melalui citra satelit. Sistem peringatan dini dipasang untuk membaca pergeseran kerak bumi. Semua ini membentuk cara baru memahami dunia. Namun, pembacaan ilmiah tidak menghapus struktur lama. Ia hanya menawarkan penjelasan berbeda. Tujuan utamanya sama. Memberi arah tindakan agar manusia bisa bertahan.
Mitos pernah menjadi perangkat mitigasi. Ia memberikan batasan sosial. Ia mengatur kapan seseorang boleh pergi ke laut dan kapan harus menepi. Cerita bekerja sebagai tanda. Jika Merapi mengeluarkan asap, masyarakat pesisir menjaga diri. Mereka memahami harmoni antara dua kekuatan geologis itu melalui narasi, bukan grafik. Ilmu modern membaca hubungan itu melalui data. Polanya serupa. Keduanya membuka peta untuk bertindak.
Ketika bahasa berubah, hubungan manusia dengan alam mengalami pergeseran. Namun, struktur mental yang mengikatnya tetap. Kesadaran tentang sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri terus muncul. Dalam dunia modern, hal “lebih besar” itu bisa berupa negara, pasar global, atau perubahan iklim. Manusia merespons dengan strategi kolektif. Aturan dibuat. Sistem ekonomi dibangun. Masyarakat bergerak mengikuti pola yang telah disepakati bersama.
Di sisi lain, muncul jarak antara masyarakat dengan warisan mitologisnya. Jarak ini menyebabkan miskonsepsi. Mitos dianggap penghambat kemajuan. Padahal mitos memiliki fungsi struktural. Ia memberi landasan moral. Ia mengarahkan praktik ekologis. Ia menciptakan harmoni simbolik yang membantu masyarakat membaca ritme alam. Ketika fungsi itu hilang, yang tersisa hanya bentuk kosong. Bentuk itu lalu disalahpahami sebagai takhayul yang membutakan akal.
Kota-kota tumbuh dengan cepat. Beton menutupi tanah. Sungai diubah menjadi saluran. Hubungan manusia dengan alam melemah. Tanpa narasi yang menahan kerakusan, kerusakan ekologis meningkat. Hutan ditebang tanpa pertimbangan. Pesisir dijadikan proyek reklamasi. Dalam ruang seperti ini, konsep realitas intersubjektif justru menjadi relevan. Bukan untuk menghidupkan kembali sosok-sosok gaib. Melainkan untuk memahami bahwa masyarakat membutuhkan cerita kuat yang mampu mengikat perilaku. Tanpa cerita, aturan hanya menjadi teks. Teks tanpa rasa tidak menghasilkan perubahan.
Ketika ilmu pengetahuan dan narasi tradisional ditempatkan sebagai dua hal yang saling bertentangan, masyarakat kehilangan alat baca ganda. Padahal keduanya dapat saling menguatkan. Ilmu memberi data. Mitos memberi etika. Ilmu menawarkan penjelasan mekanis. Mitos menyediakan orientasi moral. Dalam ketegangan keduanya, ada ruang kosong yang perlu diisi oleh pendidikan kritis. Pendidikan yang mampu membedakan fungsi mitos dan bentuknya. Pendidikan yang mampu memanfaatkan nilai ekologis tanpa terjebak pada praktik destruktif.
Di ruang itu, masyarakat dapat membaca ulang warisannya. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk melihat bahwa setiap generasi membutuhkan alasan untuk menjaga sesuatu. Ketika alasan itu hilang, hubungan dengan alam berubah menjadi hubungan transaksional. Laut dianggap sebagai ruang eksploitasi. Gunung dianggap sebagai cadangan materi. Kehilangan narasi berarti kehilangan kendali atas batas-batas yang menentukan keberlanjutan hidup.
Kebijaksanaan yang Menyempit dan Jalan Keluar yang Terbuka
Kehilangan kemampuan berpikir kritis membuat masyarakat sulit memilah. Mitos disamaratakan. Praktik yang berbahaya disatukan dengan nilai yang bermanfaat. Ketika kemampuan membedakan melemah, ruang publik dipenuhi kebingungan. Masyarakat tidak lagi mengetahui mana cerita yang seharusnya dijaga dan mana yang seharusnya ditinggalkan. Dalam kondisi seperti ini, mitos dapat berubah menjadi beban. Ia tidak lagi menuntun. Ia menjadi kendaraan bagi ketakutan yang tidak dipahami.
Pendidikan yang kuat dapat membuka kembali fungsi awal mitos. Ia dapat menjelaskan bahwa narasi tradisional bekerja sebagai struktur moral dan ekologis. Beberapa nilai dapat dipertahankan. Nilai penghormatan pada laut. Nilai kesadaran bahwa gunung tidak boleh diperlakukan sebagai mesin. Nilai kewaspadaan terhadap ruang-ruang berbahaya. Semua ini dapat diterjemahkan ke bahasa modern. Jika diterjemahkan dengan tepat, mitos tidak perlu dilenyapkan. Ia dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Di sisi lain, praktik destruktif dapat ditinggalkan. Pengorbanan manusia, misalnya, bukan bagian dari etika. Ia lahir dari distorsi. Distorsi terjadi ketika bentuk mitos lepas dari fungsinya. Ketika narasi dibaca tanpa konteks, batas moral pecah. Di sinilah pentingnya interpretasi. Tanpa interpretasi, cerita menjadi liar. Pendidikan memberikan alat untuk menjaga agar cerita tetap berada di jalurnya.
Dalam lanskap sosial hari ini, realitas intersubjektif muncul dalam bentuk baru. Media sosial menciptakan cerita global yang bergerak cepat. Opini kolektif dibangun dalam hitungan jam. Nilai tiba-tiba berubah tanpa proses panjang. Dalam arus deras ini, masyarakat yang tidak memiliki fondasi naratif mudah terbawa. Sensasi mengalahkan nalar. Informasi palsu menyamar sebagai kebenaran. Narasi yang tidak berfungsi lagi dihidupkan sebagai alat manipulasi.
Konteks seperti ini membuat warisan lokal memiliki peluang baru. Ia dapat menjadi jangkar. Jangkar yang tidak melarang pikiran bergerak, tetapi menjaga agar manusia tidak kehilangan orientasi. Cerita lama dapat diposisikan sebagai ruang refleksi. Ruang untuk mengingat bahwa manusia pernah membaca alam dengan perhatian. Ruang untuk menyadari bahwa kehidupan tidak dapat dipisahkan dari batas-batas ekologis. Ruang untuk melihat bahwa kesepakatan kolektif dapat menjadi alat menjaga kelangsungan hidup, bukan hanya alat mempertahankan kekuasaan.
Realitas intersubjektif modern membutuhkan landasan etis. Teknologi menciptakan kemampuan besar tanpa pedoman yang sepadan. Kepercayaan pada angka dan layar tidak cukup menjaga keberlanjutan. Manusia membutuhkan cerita yang membentuk perilaku. Cerita yang tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga menata sikap terhadapnya. Mitos lokal, ketika dibaca dengan cermat, memiliki potensi itu. Ia menyimpan narasi ekologis yang halus. Ia menanamkan rasa hormat pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Masyarakat yang mampu membaca ulang warisan lokal akan menemukan bahwa cerita tidak pernah mati. Cerita hanya menunggu bahasa baru. Dalam bahasa itu, fungsi lama dapat muncul kembali. Ia mengingatkan bahwa dunia tidak hanya dibangun oleh data. Dunia juga dibangun oleh keyakinan bersama yang menentukan bagaimana manusia bertindak. Ketika keyakinan itu diarahkan pada penghormatan terhadap alam, keberlanjutan menjadi mungkin.
Nyai Roro Kidul, dalam posisi ini, bukan tokoh gaib. Ia menjadi simbol. Simbol tentang hubungan manusia dengan alam. Simbol tentang batas yang tidak boleh dilanggar. Simbol tentang perlunya membaca tanda. Selama simbol itu dibaca dengan akal jernih, ia dapat berfungsi sebagai alat untuk melihat kembali bagaimana manusia seharusnya hidup.
Cerita semacam ini memberi kemungkinan bagi masyarakat untuk menemukan kembali keseimbangan. Bukan keseimbangan mistis, tetapi keseimbangan etis. Keseimbangan yang menempatkan manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan, bukan sebagai penguasa tunggal. Ketika keseimbangan itu dicapai, realitas intersubjektif bekerja sebagai jembatan antara pengetahuan modern dan kebijaksanaan yang diwariskan. Dalam jembatan itu, ada peluang untuk membangun masa depan yang tidak kehilangan arah.
