Tunggu Tanggal Mainnya: Puisi Hidup Uki Bayu Sedjati

ilustrasi: bowo wijoyo Ada banyak ragam upaya untuk mengenang kepergian seseorang yang amat sangat kita cintai dan sayangi. Andaikan saya anggota ormas, akan saya bikin acara untuk mengenang ketua ormas. Andaikan saya seorang jamaah suatu pengajian, akan saya gelar shalawatan untuk menakzimi sang guru. Andaikan saya pemain bola, akan saya buat laga persahabatan untuk menghormati […]

Rutum Gaya Hidup

foto: handhyka permana Sampah masih menjadi persoalan domestik di Rutum. Keinginan untuk membersihkan sampah tak kunjung bergayung sambut dengan konsep daur ulang. Pengelolaan sampah tampaknya belum cukup eye catching buat hidup orang-orang yang sehari-harinya habis untuk gembar-gembor tentang mega-praktik kerja sustainability, back to basic, dan jaga alam demi menyelamatkan bumi. Sebelumnya sampah bukanlah soal utama, […]

Jika Pancasila Digagas oleh Tan Malaka

Siapa yang tidak mengenal bapak revolusi yang ditembak mati oleh tentara negerinya sendiri? Tentu kita  pasti sudah tidak asing jika mendengar kalimat, “Aku tidak akan berkompromi dengan maling yang sudah menjarah rumahku sendiri”. Ungkapan tersebut keluar dari pikiran seorang revolusioner yang dalam kiprahnya menjalani banyak masa pengasingan. Semua bermula pada 1 Juni 1945, ketika Soekarno […]

Cara Terbaik Membuat Puisi

Lois Mailou Jones 1905 – 1998 “Saya buat di ChatGPT, Pak.” Jawaban jujur seorang siswa SMP ketika ditanya terkait tugas puisinya. Saya kecewa, lemas, dan mencoba mengingat: Dalam sebuah forum diskusi guru, terjadi pembahasan yang seru terkait akal imitasi (AI) dan pembelajaran. Sebagian guru percaya bahwa AI adalah ancaman fundamental terhadap kemampuan literasi siswa. Sebagian […]

1970, Boom!

#sastrakertastua1 Beberapa arsip kita kuak dalam kegiatan (“medusa”) membaca dokumentasi sastra. Amsalnya, selalu berurusan dengan tahun 1970 tanpa janji akan mengerti sepenuhnya. Apa ampuhnya tahun itu? Mengapa kerja-kerja pengarsipan awal kita mesti berdiri di sana? Kenapa kerja kita hari ini untuk kenyataan 70-an di sekitar permasalahan dan polemik sastra yang belum sudah? Sebelum ke sana, […]

Chairil Anwar: Tubuh yang Rapuh, Ingatan yang Kaku

Ada penyair yang hidupnya terasa seperti sebuah kalimat pendek, tetapi kalimat itu terus bergema setelah titiknya jatuh. Chairil Anwar adalah salah satunya. Ia lahir pada 26 Juli 1922 di Medan, Sumatera Utara, dan meninggal di Jakarta pada 28 April 1949 dalam usia yang baru menginjak dua puluh enam tahun.[1] Ia lahir bukan sebagai monumen, melainkan sebagai […]

Ketika Layar Menggantikan Langit Sore: Sebuah Esai tentang Masa Kecil yang Hilang

Edwin Austin Abbey (1852 – 1911) Konon, kita memang selalu merasa kehilangan, salah satunya adalah masa kecil. Bagaimana pun, waktu takkan pernah bisa terulang. Masa lalu takkan pernah memiliki mesin waktu untuk menyambangi kita hari ini. Secara harfiah, itu benar-benar realitas atau kenyataan yang tak bisa ditolak. Kadang, pada suatu malam, ketika sunyi menyerang, hanya […]

Ruang Itu Spiritual

Penampilan Rumah Tumbuh Muthmainah (selanjutnya Rutum) tetap tampak biasa saja. Tak ada yang menonjol dan menarik sebagai kontrakan pada umumnya. Halaman kecil yang tak muat bila dimasuki mobil itu dikelilingi berbagai tanaman rambat hias seperti Morning Glory, Bougenville, Wijaya Kusuma, Mandevilla dan Melati Belanda. Demikian kesan beberapa orang yang pernah singgah untuk istirah sejenak, bercengkrama […]

Sisa-sisa Keyakinan yang Belum Habis Dibakar Waktu: Catatan Pinggir dari Diskusi “Setiap Api Butuh Sedikit Bantuan”

Minggu sore, 5 April 2026, angin datang lebih dulu daripada orang-orang. Ia berputar di halaman Dieu Geura. Menggesek daun. Menyusup ke celah-celah yang tak tertata, seolah bertanya, hari ini, apa api benar-benar akan menyala?  Tema diskusi terdengar seperti judul dari zine fotokopian. Ringkas. Dingin. Nyaris seperti kalimat yang diucap Aan Mansyur dengan tanpa nada: Setiap […]

Memunguti Kunci yang Berserakan

Robert Frederick Blum (1857-1903) Hari ini 14 Februari, kaki menginjak kembali tanah air Indonesia raya. Setelah sekian lama pergi ke tanah rantau mencari penghasilan. Kami, saya dan beberapa teman kembali dengan rencana dan tujuan masing-masing, hanya sisa satu orang yang masih tinggal bersama, bernama Budi Bodong. Ia mengaku tangannya sering tidak membawa keberuntungan, hal ini […]