Demokrasi yang Tersesat di Jalan Retorika: Ketika Red Herring Menjadi Bahasa Kekuasaan

James C.Kulhanek (1908 – 1990) Istilah red herring telah dipopulerkan oleh William Cobbett pada awal abad ke-19. Ia menceritakan bagaimana ikan haring asap berwarna merah yang berbau sangat menyengat dapat mengalihkan jejak anjing pemburu. Lambat laun, kisah tersebut berkembang menjadi gaya bahasa bagi strategi mengalihkan perhatian dari persoalan utama menuju isu lain yang lebih emosional atau … Baca Selengkapnya

Pemanggungan Puisi: Mengungkap yang Tak Terucapkan

Nicolaes Muys (1740 – 1808) Satu di antara alat yang dipergunakan oleh umat manusia untuk kembali menghubungkan dirinya kepada Tuhan seru sekalian alam kehidupan dan untuk saling menyambungkan dirinya satu sama lain adalah kata. Tatkala sejumlah kata dirangkai, disusun, dan dikomposisikan untuk mewakili dan menyampaikan suatu makna, kita menyebutnya kalimat. Kemudian di antara sekian banyak … Baca Selengkapnya

Ketika Negara Menunjuk Musuh: Kambing Hitam dan Sejarah yang Berulang

William Henry Walker (1871-1938) Saya tidak pernah berhenti mengatakan bahwa sejarah selalu berulang. Ia tidak selalu kembali dalam bentuk yang sama persis seperti yang pernah terjadi di masa lalu. Namun sering datang dengan wajah baru, tetapi tetap membawa pola yang cenderung serupa. Terus terang, sejak lama saya tak jarang bertemu dengan orang yang sering mengurusi urusan … Baca Selengkapnya

Panggung Kebebasan Puisi

reimajinasi karya Adolph Tidemand (1814-1876) “…Maaf, mengindah-indahkan kalimat aku tak mampukerna negara belum sejahtera seperti yang kita mau.Tetapi kutulis puisi kerna berbudaya bukan buaya.Kau tahu, Ibu pertiwi tak butuh anak-anak durhaka.Ini negara nuswantara Daulat rakyat semboyannyadi darat laut udara pernah mengayomi dua benua…”(Uki Bayu Sedjati) Saya percaya akan satu hal, bahwa sebuah (teks) puisi ketika diwujudkan … Baca Selengkapnya

Berkunjung pada Perayaan Puisi

Saya selalu mengira sebuah yayasan yang menyematkan kata puisi pada namanya akan menjadi ruang yang paling terbuka bagi perkembangan puisi Indonesia. Bukan sekadar ruang seremonial untuk mengenang-agungkan penyair-penyair besar, melainkan tempat di mana berbagai generasi saling berjumpa, berbagi kecenderungan estetika, dan berbagi berbagai kemungkinan-kemungkinan dalam perpuisian indonesia. Menurut hemat saya, ketika sebuah lembaga memilih menggunakan … Baca Selengkapnya

Puisi dan Pemanggungan

Ilustrasi: ariants aditya Setelah Dana Indonesia/raya, apa yang berubah pada ekosistem seni pertunjukan? Setelah miliaran rupiah dana publik mengalir ke seni pertunjukan selama beberapa tahun terakhir, apa sebenarnya yang berubah? Pertanyaan-pertanyaan berikut mengajak kita untuk membaca ulang ekosistem seni pertunjukan Indonesia setelah aliran Dana Indonesia/raya. Apakah sekarang lebih banyak pertunjukan atau lebih banyak proposal? Apakah … Baca Selengkapnya

Mengajarkan Kritik Sastra sebagai Pembelajaran Transformatif

Sebastian Stoskopff (1597-1657) Mengajarkan kritik sastra bukan perkara memperkenalkan sebanyak mungkin teori kepada mahasiswa. Ruang kuliah bukan arena untuk menghafal nama tokoh, aliran, atau konsep-konsep yang kerap terdengar asing di telinga. Kritik sastra justru menemukan denyutnya ketika mahasiswa mulai menyadari bahwa setiap karya sastra menyimpan cara tertentu dalam memandang manusia dan kehidupan. Sebuah cerpen, puisi, atau … Baca Selengkapnya

Tunggu Puisi Memainkannya

..…jika ada tanya “siapa kamu?”menunduklah karena malu, dan bersabarlahsebaik-baiknya jawaban, “maaf aku belum menjadi aku! belum menjadi…(Uki Bayu Sedjati) Syahruljud Maulana melalui alih-wahana atas puisi-puisi Uki Bayu Sedjati, bagi saya, sedang mencoba mempertemukan dimensi kedirian berbagai puisi dalam satu pertunjukan dengan memberikan mereka (puisi-puisi itu) sebuah tubuh; memberi mereka lawan bicara; memberi mereka topeng; memberi … Baca Selengkapnya

Pelajaran dari Seorang Dalang untuk Dunia Kepelatihan

Honoré Daumier 1808-1879 Seusai sarapan pagi ini, lalu bergegas mencari bakul kopi yang ready. “Mas, pesen kopi gayo jangan dikasih gula ya. Matur nuwun.” Setelahnya, saya ambil bagian daripada pengunjung bakul kopi yang cukup terkenal di Kota Kretek ini. Saya duduk di sudut. Sialnya saya sendiri, tanpa seorang kawan apalagi perempuan. Sembari menunggu pesanan datang, … Baca Selengkapnya

Digulirkan oleh Kata-Kata

Karena telat, saya tidak menonton pentas studi—seperti yang sudah-sudah—perpanjangan pertunjukannya adalah diskusi, namun terkadang lebih mirip evaluasi celaan, kritik hinaan, komentar rendahan, dan segala puja-puji langitan maupun yang membumi tanpa memahami bargaining position satu sama lain. Ujug-ujug sekali sebagai orang yang tidak jelas ini, saya diminta hadir untuk membersamai lingkaran tersebut, padahal sedikitpun saya tidak … Baca Selengkapnya