ilustrasi: bowo wijoyo
Samar-samar saya mengenal Pakde Uki. Mungkin sebatas bayang-bayang kalau bukan hanya kabut menyerupai. Namanya tidak asing bagi orang yang suntuk baca buku teater dan sastra. Begitupun perjumpaan saya dengannya paling pol tegur sapa ungkap kabar, belum cukup intens berinteraksi lebih jauh. Jadi tidak ada kepantasan sedikitpun pada saya untuk mengakui diri bahwa saya adalah teman, sahabat, apalagi muridnya. Tetapi kalau di Maiyah dalam rasa Al Mutahabbina Fillah (yang saling mencintai semata-mata karena Allah), dalam ikatan paseduluran tanpa tepi, yang kenal jauh pun amat terasa dekat, sedemikian akrab.
Apalagi Pakde Uki sahabatnya simbah saya Cak Nun, maka sudah sewajarnya saya mengantarkan 100 Hari kepulangan beliau ke “Rumah Sejati” pakai kendaraan drama puisi “Tunggu Tanggal Mainnya”—yang insyallah akan pentas di akhir Juli mendatang. Sudah selayaknya kalau orang yang menurut simbah saya “juara kesetiaan dan maestro pelayanan” seperti beliau ini saya wajib mengenangkan kembali lewat pertunjukan. Dan sudah sepatutnya pula kalau hal-hal yang menyangkut sastra, teater dan puisi, maupun nilai-nilai laku hidupnya beliau tak mati-mati diteladani, misalnya sebagai proses pembelajaran “jalan hidup” di kehidupan puisi yang mendorong kita menemukan kedalaman makna hidup.
Bagi orang maiyah, kalau sudah ke “PadhangmBulan” itu ibarat “naik haji”, sedangkan kalau pernah ke “Mocopat Syafaat” berarti sudah “umroh”. Dan alhamdulillah, paket lengkap perjalanan spiritual plus ziarah telah tunai saya tempuh.
Kali pertama saya memasuki Jombang (tepatnya di desa Menturo, Jawa Timur) pada 27 Mei 2016 ketika saya seakan-akan “diperjalankan oleh Allah” untuk menghadiri “Ihtifal Maiyah” syukuran hari lahir Cak Nun. Saya tidak ingat persis seperti apa peristiwanya dan bagaimana saya bisa sampai ke sana. Tetapi saya ingat betul perjalanan itu sangat melelahkan karena sekian belas jam naik kereta api, hanya duduk sambil menahan dingin yang merepotkan sekali. Keesokan harinya capek ini sembuh seketika bubaran jumatan saya sempat mencium tangan Cak Nun dan malamnya dilengkapi pertemuan kesekian dengan Pakde Uki yang saya ingat.
Waktu menghirup udara Yogyakarta rasanya saya menghirup kebudayaan dan nilai-nilai berkat kesempatan datang maiyahan di “Mocopat Syafaat”. Usai saya membeli beberapa buletin maiyah, lho kok, ternyata saya kembali dipertemukan dengan Pakde Uki. Pun pada kesempatan lain di mana saya menghadiri maiyahan, misalnya “Gambang Syafaat” di Semarang, atau pada saat kegiatan sastra dan teater di beberapa daerah, masih juga saya ketemu Pakde Uki. Muncul penasaran saya kenapa seorang lelaki yang gaek ini bisa ujug-ujug ada di suatu tempat, di suatu daerah tertentu. Ajaib betul beliau ini, mobilitasnya aneh bin ril. Seolah-olah di mana-mana selalu ada Pakde Uki. Pokoknya, di mana ada Cak Nun, di situ ada Pakde Uki.
Kalau Cak Nun sedang sinau bareng di atas panggung, Pakde Uki justru diam-diam merenung di belakang panggung. Rasanya jarang sekali atau justru belum pernah sekalipun saya melihat Pakde Uki naik ke atas panggung lalu membicarakan sesuatu, kecuali ada hal yang memang beliau harus ke panggung karena diminta Cak Nun. Lantas, untuk apa Pakde Uki senantiasa tak jemu-jemu menemani Cak Nun ke mana-mana dan di mana saja? Pelan-pelan, dari kota ke kota, saya menemukan dan menyadari bahwa Pakde Uki sungguh tiada duanya di dunia kesetiaan dalam persahabatan dan pelayanan. “Pocap-patrap” hidupnya teruji tangguh tahan menjalani sepasang nilai—yang baru sekarang saya alami dan selami dalam-dalam artinya.
Tak heran bila simbah saya Cak Nun pun merasa mustahil, bahkan tidak akan pernah cukup buat melunasi segala tumpukan hutang hidupnya kepada Pakde Uki. Sampai-sampai ia bikin pernyataan bahwa “kalau tidak ada Mas Uki Bayu Sedjati (UBS) di Jakarta, yang dikenali orang pada saya pasti bukan sebagaimana saya sekarang. Tanpa UBS, pasti banyak cacat pada kelengkapan hidup dan sejarah saya. Tanpa UBS, banyak keadaan yang tidak bisa saya adakan, banyak kondisi yang tidak bisa saya kondisikan, banyak perolehan yang saya tidak bisa peroleh, dan banyak pencapaian yang saya tidak bisa saya capai.”
Sekaliber Cak Nun saja bisa sampai dibuat mengungkapkan begitu, apalah saya yang cuma balungan kere diliputi debu. Alangkah indahnya pergaulan hidup simbah saya dengan Pakde Uki, penuh kenikmatan dan ketakjuban yang asyik. Sedangkan saya cuma bertukar tangkap dengan memesona duga dan kira perjalanan hidup Pakde Uki. Beliau dikenal sebagai dedengkot teater, konseptor, sastrawan, wartawan, dan label-label lain yang disematkan padanya. Padahal ini semua hanya sepotong dunia dari keutuhan hidup beliau sendiri.
Pakde Uki sungguh-sungguh “pejalan sunyi” kanthi laku persahabatan dan persaudaraan sejati. Ini suatu hubungan yang kita rindukan, kita impikan di tengah dunia yang terlampau memuja identitas sambil diam-diam menafikan personalitas yang sesungguhnya jati diri sendiri.
Dalam drama puisi “Tunggu Tanggal Mainnya”, ada tiga tokoh antara lain Si Waras Diri, Si Mata Sosial, dan Si Hati Hamba—yang saya dasarkan dari investigasi dan interpretasi atas puisi-puisinya tak lain merupakan personalitas jati diri sejati Pakde Uki itu sendiri. Penelusuran ini upaya membongkar trinitas tema: spiritualitas, kritik sosial, dan penjelajahan diri yang banyak bermukim di dalam puisi-puisinya. Beliau seperti ”amoeba” tergantung pada ruang dan waktu yang dibutuhkan. Beliau berada pada denyut di antara keduanya. Sehingga pertunjukan tribute to “nguri-uri” beliau yang akan digelar nanti adalah gairah menjelajahi kemungkinan agar bisa menemukan di mana wilayahnya beliau itu: pegang apinya, lalu terangi hidup di sekitar kita dengan memberi makna.
Pakde Uki adalah pelajaran tak tepermanai dari lalu lintas kebersamaan, pergaulan, persahabatan, dan persaudaraan sejati. Beliau seolah-olah sengaja menjadi masokis dengan kesediaan waktu dan kerelaan hati yang jembar agar senantiasa setia membersamai dan menemani Cak Nun. Sedangkan kalau saya sengaja mencontoh masokis seperti dirinya paling-paling jalan kaki hanya untuk menyakiti hati sendiri. Intinya kalau harus ditabrak ya saya tabrak. Kalau harus dedel duwel ya saya dedel duwel. Apalagi ini soal pertunjukan “mikul dhuwur” kualitas nilai yang dikandung oleh puisi-puisinya maupun hidup beliau itu sendiri.
Andaikan ada orang yang menyatakan tidak sependapat dengan pernyataan kreativitas di atas, bukanlah soal karena saya pernah dilatih merdeka berekspresi di Rumah Tumbuh Muthmainah. Tetapi kalau ada yang melecehkan saya dengan hanya menanggapi proses persiapan pertunjukan yang baru akan digelar nanti sudah dijamin rendah mutunya, inipun bukan masalah besar lantaran saya menolak untuk meremehkan siapapun saja, apalagi diremehkan. Kalau tidak percaya, tanyakan langsung saja ke Pakde Uki di sorga.
28 Mei 2026

