ilustrasi: bowo wijoyo
Ada banyak ragam upaya untuk mengenang kepergian seseorang yang amat sangat kita cintai dan sayangi. Andaikan saya anggota ormas, akan saya bikin acara untuk mengenang ketua ormas. Andaikan saya seorang jamaah suatu pengajian, akan saya gelar shalawatan untuk menakzimi sang guru. Andaikan saya pemain bola, akan saya buat laga persahabatan untuk menghormati sang legenda. Andaikan saya bermusik, akan saya siapkan konser istimewa untuk sang maestro. Tetapi saya bukan semua ini, saya cuma semut. Kalau diminta ambil barang saya jadi tukang loak. Kalau dibutuhkan kerja bangunan saya menjadi kuli.
Syukurlah sejauh yang saya alami dan jalani pergaulan hidup saya dengan kesenian saya bisa memasuki puisi hidup Uki Bayu Sedjati (alm)—seorang yang sudah saya anggap seperti Pakde sendiri (mungkin lebih sunyinya saya adalah murid)—yang puisi-puisinya saya alih wahanakan menjadi drama puisi “Tunggu Tanggal Mainnya” untuk mengenang 100 Hari kepulangannya akan dipentaskan pada tanggal 31 Juli dan 1 Agustus 2026 mendatang, di Amphitheater, Taman Kota 2 BSD, Tanggerang Selatan.
***
Kelar tahlilan tujuh hari di rumah mendiang Pakde Uki, beberapa kerabat dan orang-orang terdekatnya saling bertukar pandang, lalu sekelebat timbul ikhtiar bersama untuk membicarakan kemungkinan pagelaran tribute to beliau. Maunya mereka bikin ini-itu, tetapi saya angkat tangan. Kemudian mereka menyodorkan sunyi pula kepada saya. Mengingat seluruh aktivitas Pakde semasa hidupnya, seperti diungkapkan oleh sahabat sejatinya Cak Nun, “hanya sunyi mengajari kita untuk tak mendua.” Di sinilah saya mengenal Pakde, kalau tidak lewat puisi, lewat teater. Seketika ide untuk memanggungkan puisi-puisi Pakde Uki kian bermekaran di hati saya. Permintaan ini terus merayu-rayu saya dalam manja dan bujukan. Meskipun saya masih bingung juga harus saya apakan nanti puisi-puisinya itu.
Tak mau asyik dalam kebingungan. Segera saya kumpulkan puisi-puisinya yang sebagian bisa saya dapat dari buku maupun yang tersebar di mesin pencari google. Saya baca dengan segala kemungkinan pembayangannya hingga tuntas. Dan lalu terdiam. Tapi kata “Tunggu Tanggal Mainnya” yang beliau sematkan sebagai judul buku itu terus menggugah saya. Sunyi itu membangkitkan gairah saya menjelajahi puisi-puisi beliau, mengembarai belantara kata-kata yang dikelilingi oleh tanggungan-tanggungan kompleksitas suatu keadaan tertentu, yang tak jemu-jemu menagihnya untuk bersikap artikulatif dan berkepribadian released.
Ajaib, belasan lembar halaman yang saya tulis ulang dari puisi-puisi beliau ternyata rampung kurang dari tiga jam saja. Bahkan, seluruh eksperimen pemanggungan, proyeksi adegan demi adegan, dan hal-hal lain yang menyangkut pertunjukan dapat terbayangkan dengan terang. Saya merasa bukan saya yang membayangkan itu. Bukan saya yang menulis naskah itu. Mungkin saya mengalami semacam keadaan trans dan stone secara bergiliran dengan penuh kenikmatan. Entahlah, apa tabiat puisi memang begitu memberi magi dan pesona. Saya tak tahu pasti akan hal itu. Tetapi saya yakin, itu suatu tanda bahwa beliau seolah-olah merestui, dan saya ridho untuk mengemban amanah pertunjukannya.
Dan ketika saya mengulang baca naskah itu, hati saya tadinya bingung mau menulis drama puisi apa kemudian ragu bagaimana mementaskannya. Puisi Pakde Uki agaknya sukar dipentaskan lantaran kebersahajaannya itu tak terukur dalam representasi pemanggungan apapun, kecuali kalau segala konsep estetika dan religiusitasnya dipanggungkan di kedalaman jiwa dan kehidupan konkret tiap pribadi—mungkin baru akan bisa merasuk. Untunglah puisinya sedemikian menyatu dengan masyarakat. Rill. Tidak seperti janji-janji pejabat yang telah kehilangan nurani. Tidak seperti para penentu kebijakan yang tidak pernah sekalipun berpihak pada rakyat. Wajarlah apabila saya dan drama puisi yang akan dimainkan itu sama-sama ingin mengatakan bahwa selamanya tidak pernah percaya pada yang namanya penguasa. Kudu menjaga jarak dengan penguasa plus kritis, dan siapapun kalau sempat, silakan datang menonton demi memelihara kewarasan.
Hanya dua bulan tenggat untuk menyiapkan pertunjukan itu. Tidak ada waktu untuk tidak latihan. Tidak ada disiplin tanpa memperlakukan waktu dengan jadwal ketat. Saban malam saya baca berulang-ulang sampai menguatkan keyakinan saya bagaimana kata-kata itu melahirkan pemanggungan, karena puisi-puisinya telah lebih dulu menyelami seluk-beluk keadaan sosial.
Dalam masa yang menurut saya hampir mendidih, beberapa hari lalu ramai di media sosial ada seniman ditangkap saat sedang performance art. Ini artinya di hadapan penguasa yang lalim plus ahmaq, seluruh aktivitas seniman tak ubahnya mirip tukang copet yang harus diamankan segera. Puisi bisa dicurigai. Kata-kata bisa dianggap mengganggu jalannya kekuasaan. Kita berteater, disangka menyindir. Kita gerak tubuh dianggap mengejek. Kita menyanyi dituduh makar.
Sejak peristiwa itu, langsung saya teringat pesan Cak Nun bahwa “tidak semua hal bisa diungkapkan di semua tempat. Tidak semua tema bisa didiskusikan dengan semua orang. Tidak semua masalah bisa dipertanyakan kepada semua pihak. Setiap hal selalu ada konteksnya, ketepatan kontennya, proporsi ruang waktunya.” Sehingga tak perlulah saya menjelaskan panjang kali lebar mengenai pertunjukan tribute yang akan pentas mendatang. Paling pol akan saya bilang itu pertunjukan rasa syukur sekaligus sembah nuwun kepada Pakde Uki atas segala dedikasi dan kesetiaan hidupnya tangguh tahan di kehidupan puisi.
Lain daripada itu mungkin bisa disebut sebagai pertunjukan kemesraan atau semacam temu kangen para sahabat, teman-teman, dan murid-muridnya beliau. Walau sebatas drama puisi atau deklamasi sajak panjang, mudah-mudahan dapat terbangun silaturahmi. Tugas pertunjukan itu, barangkali, cuma untuk menyambungkan kembali ikatan pergaulan hidup antar persahabatan, persaudaraan, kebersamaan, pertukaran kabar dan nilai—yang terkadang memang lebih berharga dan bermanfaat ketimbang pertunjukan itu sendiri.
Jangan tanya mengapa bentuknya drama puisi? Saya pun tak tahu kenapa puisi-puisi beliau seolah-olah seperti menyusun bentuknya sendiri. Padahal ikhtiar bersama ini tidak sedang mengejar sesuatu yang “wow”. Tidak berlari kencang menjangkau sesuatu yang belum pasti. Tidak kebelet memburu capaian estetika tertentu. Hanya berlaku sebatas penyucian terhadap segala hal di dalam maupun di luar diri. Penyucian dari segala perjumpaan dengan kenyataan. Penyucian untuk meneguhkan keberanian dalam mengatasi apa yang sedang terjadi. Penyucian dalam mengalami pemuaian bentuk yang senantiasa berkembang dari pencarian repot sendiri. Pencarian untuk mendekati dan mengenali kembali hal-hal dekat di sekitar kita. Terus mencoba berkenalan dengan tanah tempat di mana kita berpijak. Sampai kita menjadi diri yang seharusnya dan ketemu dengan yang namanya kejujuran artistik itu.
25 Juni 2026

