..…jika ada tanya “siapa kamu?”
menunduklah karena malu, dan bersabarlah
sebaik-baiknya jawaban, “maaf aku belum menjadi aku! belum menjadi…
(Uki Bayu Sedjati)
Syahruljud Maulana melalui alih-wahana atas puisi-puisi Uki Bayu Sedjati, bagi saya, sedang mencoba mempertemukan dimensi kedirian berbagai puisi dalam satu pertunjukan dengan memberikan mereka (puisi-puisi itu) sebuah tubuh; memberi mereka lawan bicara; memberi mereka topeng; memberi mereka cermin yang memantulkan sisi gelap dan sisi cahaya atas serangkaian harapan-impian dan realitas persoalan hidup, yang kesemuanya itu kelak akan disajikan secara telanjang ke mata pikiran-hati para penonton.
Ketika saya membaca naskah drama puisi “Tunggu Tanggal Mainnya” yang diolah secara apik oleh Syahruljud Maulana, sebagai pembaca yang merespons nuansa teks ke refleksi ruang imaji pribadi, secara tak terduga saya menyadari satu hal. Hal tersebut mengarah pada sesuatu yang menunggu tanggal mainnya itu agaknya bukan hanya pertunjukan ini, tetapi kitalah sendiri yang kelak akan menunggu kapan tiba waktunya puisi akan memainkan kita; akan membolak-balik kita; dan akan memaksa kita berhadapan dengan segala cermin. Sebab, ketika kita sampai pada momentum puisi memainkannya (memainkan kita), sejak kata pertama (adegan pertama) berlangsung-terucap, secara tak terduga-kira segala persoalan akan menimbun diri kita (para penonton) sendiri, dan membuka segala kedok rahasia hidup ini.
Mengapa Puisi Memainkan Kita?
Sejak mendengar istilah Tunggu Tanggal Mainnya, saya kira kita akan sampai pada perasaan curiga, tentang adanya nuansa sindiran yang bersembunyi di balik apa dan bagaimana nanti pertunjukan itu akan dimainkan. Syahruljud Maulana kiranya sudah merumuskan mengapa rangkaian judul itu dipilih berikut apa dan bagaimana capaian yang hendak ditujunya. Sebab, memaknai judul pertunjukan drama puisi Tunggu Tanggal Mainnya, secara sembarang memang bisa kita artikan sebagai pernyataan terbuka bahwa penonton tak usah banyak bertanya, sebab ketika waktunya tiba pertunjukan ini akan siap dipentaskan, jadi tunggu saja. Namun, jika kita meluaskan pandangan, sangat mungkin Tunggu Tanggal Mainnya bisa jadi adalah suatu tawaran kewaspadaan atas apa yang kelak akan menimpa diri kita sendiri.
Misalnya, jika nasib dan takdir yang berbicara kepada kita: Tunggu Tanggal Mainnya, kiranya kita akan langsung ketar-ketir, karena mungkin nasib dan takdir akan menyajikan kisah-kisah lama yang terjadi pada diri kita dan kisah-kisah baru yang telah menanti diri kita. Kekhawatiran akan kisah lama dan kisah baru itu tentu saja mengarah kepada kemungkinan terburuk dari hidup kita sendiri. Dari kekhawatiran itu lalu menimbulkan kegelisahan tak bertepi. Itulah mengapa saya merespons drama puisinya menjadi: tunggu puisi memainkannya. Karena puisi, jika diwujudkan dalam adegan visual-dramatik, lebih khusus dalam drama puisi yang akan disajikan Paseduluran Lidah Daun, adalah sesuatu yang dekat, pernah, dan mungkin akan kita alami: kita menatap cermin dan bertanya, siapa kamu? siapa? kamu siapa?, yang berulang-ulang tak pernah usai menemui jawaban.
Cermin, kalau boleh saya renungkan lebih jauh, memang selalu jadi benda yang paling ajaib sekaligus paling telanjang dalam kerja kesusastraan mana pun. Misalnya, jika kita membaca kisah Narcissus (dalam mitologi Yunani kuno), yang mana ia sangat tergila-gila pada bayangannya sendiri, hingga pada akhirnya terkunci di ambang kebahagiaan dan penderitaannya yang tak kunjung usai. Atau, puisi-puisi aliran sufi yang menjadikan dimensi cermin sebagai kalbu yang harus terus dipoles agar cahaya Ilahi bisa memantul dengan jernih ke dalam diri, menyatu. Keduanya itu, saya rasa, adalah ulah dari cermin itu sendiri dalam menyajikan persoalan baik dan buruk, terang dan gelap, dan seterusnya—dan sebagainya.
Tetapi yang menarik dari naskah Tunggu Tanggal Mainnya ini, model cerminnya tidak berhenti sebagai properti kedirian personal semata. Kelak, penonton akan bertemu seorang yang mendapat predikat Si Waras Diri, yang ketika ia selesai bergulat dengan bayangannya, datang-masuklah Si Mata Sosial dari jiwa para penonton dengan membawa cermin dan memantulkan cahayanya (berikut berbagai persoalan yang terjadi kemarin, hari ini, esok, dan bahkan yang akan datang) ke mata hati-pikiran penonton yang duduk menyaksikannya.
Di momentum itulah, sebagai pembaca bayangan saya sendiri ikut tersergap bersama di kursi para penonton. Sebab, cahaya dan cermin itu tidak peduli siapa aktor, siapa penonton, siapa miskin, siapa kaya, siapa pemerintah, siapa rakyat. Ia (cahaya dan cermin itu) tetap menyorot, tetap memantul, tetap memaksa kita bertanya: apakah benar Tuhan orang kaya dan Tuhan orang miskin berbeda? Apakah pemerintah orang kaya dan pemerintah orang miskin berbeda? Lalu kita sebagai hamba dan rakyat ada di pihak yang mana dan ada di posisi yang mana?
Puisi Memainkan Tiga Takdir
Pertanyaan-pertanyaan sebelumnya biarlah menjadi obat bagi segala macam penyakit yang menjangkit diri kita. Sekarang saya menemukan bahwa naskah Tunggu Tanggal Mainnya ini sesungguhnya sedang menata sebuah benang trinitas, atau dalam hal ini akan saya pakai istilah Tritangtu (Tritantu). Tritangtu (tiga benang merah) yang berkait-kelindan dalam hal ini ialah, sosok aku Si Hati Hamba, aku Si Mata Sosial, aku Si Waras Diri. Gerbang untuk memasuki Tritangtu dalam Tunggu Tanggal Mainnya, pertama penonton boleh pilih yang mana-suka dari salah satu “aku” di ketiga benang itu; kedua ambillah “aku” yang kalian mau maknai itu; ketiga karena “aku” berada di antara, maka temukan wilayahku dalam keterhubungan sekian antara “aku” itu.
Ketika kita sudah sampai pada keputusan memilih ke-aku-an dari Tritangtu yang ada dalam Tunggu Tanggal Mainnya, dan jika yang dipilih aku Si Hati Hamba dengan dimensi spiritual Tuhan mana yang baik bagi orang-orang miskin dan orang-orang kaya, atau aku Si Mata Sosial dengan amarah atas pemerintah mana yang baik bagi orang-orang miskin dan orang-orang kaya, atau bahkan aku Si Waras Diri dengan segala kewarasannya, kegelisahannya, selalu menyodok; menagih; mempertanyakan segala hal yang jauh melampaui Si Hati Hamba dan Si Mata Sosial. Apapun yang kita pilih dari ketiga benang itu, saya rasa dan saya pikir, memang begitulah semestinya jiwa manusia bekerja; bekerja sebagai tiga suara yang terus-menerus berdialog, saling menyela-menyanggah, saling menagih, menyadarkan, melampaui, dan tak satupun dari mereka diberi hak untuk menang telak atas yang lain. Karena napas tak boleh mengungguli ucapan, ucapan tak boleh mengungguli pikiran-perasaan, pikiran-perasaan tak boleh juga mengungguli napas dan ucapan. Kesemuanya itu haruslah selaras dengan apa peran mereka, apa peran dia, apa peran aku, dan apa peran kita semua. Di situlah segala renungan pertunjukan puisi bekerja memainkan perannya.
Atau kalau mau kita renungkan lebih jauh lagi, sejak awal sesungguhnya penontonlah aktor-aktor yang kelak berada di atas panggung. Siapa saja nanti penonton yang hadir di pertunjukan Tunggu Tanggal Mainnya, merekalah aktor-aktor sekaligus puisi-puisi yang akan menjawab segala pertanyaan dan mengajukan kembali pertanyaan. Sebab, yang sesungguhnya sedang menunggu tanggal mainnya adalah diri kita sendiri, yang cepat atau lambat akan digiring juga untuk berdiri di depan cermin yang sama, ditanyai pertanyaan yang sama, apakah aku belum menjadi aku? Atau aku masih sibuk berpura-pura menjadi siapa? Lalu, siapa yang kelak akan menjadi aku?
Dan barangkali, pada momentum itulah letak kekuatan sesungguhnya dari drama puisi Tunggu Tanggal Mainnya yang diolah oleh Syahruljud Maulana atas puisi-puisi Uki Bayu Sedjati. Karena bermula dari gelisah kehidupan manusia yang menunggu giliran untuk dimainkan plus menyadari kembali wilayah permainan segenap hidup kita sendiri. Dan sisanya kita harus menunggu dengan sabar; dengan waspada; dengan gelisah; dan mungkin sedikit penuh harap, bahwa ketika kelak giliran puisi ini memainkan kita satu per satu, setidaknya kita sudah siap berdiri tepat di depan cermin hidup kita masing-masing.
Mari kita saksikan bagaimana puisi memainkan kita sendiri, tanggal 31 Juli dan 1 Agustus 2026: di Amphitheater, Taman Kota 2 BSD, Tangerang Selatan.
…..ketika menyebut tuhan
begitu banyak saingan
yang dipertuhankan
yang mempertuhankan
yang tak bertuhan
yang menuhankan diri…
(Uki Bayu Sedjati)
Villa Mutiara-Serpong, Juli 2026

