Honoré Daumier 1808-1879
Seusai sarapan pagi ini, lalu bergegas mencari bakul kopi yang ready.
“Mas, pesen kopi gayo jangan dikasih gula ya. Matur nuwun.”
Setelahnya, saya ambil bagian daripada pengunjung bakul kopi yang cukup terkenal di Kota Kretek ini. Saya duduk di sudut. Sialnya saya sendiri, tanpa seorang kawan apalagi perempuan.
Sembari menunggu pesanan datang, saya keluarkan buku dari Sang Kawindra Rendra dengan judul “Memberi Makna pada Hidup yang Fana”, sebuah buku telaah di atas telaah. Tepat jarum jam menunjuk pukul 10.00, saya menyelesaikan satu dari sekian sub-judul yaitu, “Alis Mata Ki Dalang Timbul”. Simpulannya kira-kira begini:
Ki Dalang Timbul yang terkenal itu tidak serta merta mendapatkan kepopularitasannya dengan mudah, tidak juga atas dasar trah turun-temurun daripada Ayah dan Kakek-Buyutnya, akan tetapi semua berawal dari pelajaran hidup atau laku prihatin yang—tentu saja—dibimbing oleh Ayahnya.
Dari lelakon itulah ia menjadi seseorang dengan pribadi yang tenang, mengenali nukleus lingkungannya, serta memiliki kedalaman batin yang tidak semua orang miliki. Kedalaman batin itu berupa kesadaran bahwa “Manusia tidak boleh pongah. Karena setiap manusia tidak luput dari lupa, keserakahan, kesialan, dan kematian. Oleh karena itu, kita perlu selalu waspada.”
Lagi-lagi, kewaspadaan Ki Dalang Timbul diwujudkan dengan antusiasme dan gairah yang terus menerus untuk belajar terhadap ilmu, salah satunya dengan sowan ke dalang-dalang senior, membantu mempersiapkan dan menata wayang untuk pertunjukan sang dalang senior, sampai dengan kembali membereskan dan merapikan semua wayang ke dalam kotak. Namun, setelahnya beliau pergi tanpa pamit kepada sang dalang senior atau bahkan pemilik acara. Beliau ikhlas membantu dan tidak mau dibayar sekecil apa pun. Keikhlasan itulah yang membantu beliau sampai pada titik semua orang mengenali beliau sebagai maestro dalam seni pedalangan di negeri ini.
Beliau juga menyampaikan pelajaran berikutnya, bahwa “kepribadian itu bukan pamrih diri. Kepribadian adalah pancaran yang spontan dari penghayatan kita akan kehidupan.” Sebagai dalang tidak boleh menonjol-nonjolkan diri. Karena nafsu semacam itu bisa menyebabkan rusaknya gambaran watak para pelaku (tokoh wayang) dalam lakon, atau bahkan merusak isi lakon itu sendiri.
Sebagai dalang, Ki Timbul menganggap dirinya justru sebagai alatnya wayang-wayang agar bisa hidup (sesuai watak dan karakter wayang) dalam lakon. Konon katanya, kalau ia sudah mendalang, ia lupa pada wataknya sendiri. Ia mengabdikan suara dan tenaganya untuk menghidupkan watak setiap tokoh wayang yang dimainkannya. Watak yang ia gambarkan dalam gerak permainan wayang harus benar-benar hidup dan punya kesejatiannya sendiri-sendiri.
Kepada pembaca sekalian, apalah guna menonton wayang jika tidak dijadikan contoh dan pedoman dalam hidup dan berkehidupan? Apa gunanya membaca sebidang keilmuan, jika tidak bisa kita tarik dan terapkan ke dalam ranah bidang yang kita jalani sekarang?
“Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu, aku bertanya!” —Rendra.
***
Dari semua itu, ada tiga pelajaran inti yang saya tangkap dari Ki Dalang Timbul: pertama, keikhlasan tanpa pamrih adalah jalan menuju pengakuan sejati; kedua, kerendahan hati untuk terus belajar kepada siapa pun, di mana pun; ketiga, bahwa seorang dalang tidak memperalat wayang untuk menonjolkan dirinya, melainkan menghidupkan watak wayang itu sendiri. Tiga hal ini, saya yakin, bukan hanya milik seni pedalangan.
Dari pelajaran Ki Dalang Timbul di atas, saya terdiam sejenak. Saya bertanya pada diri sendiri: “Apa gunanya membaca sebidang keilmuan, jika tidak bisa kita tarik dan terapkan ke dalam ranah bidang yang kita jalani sekarang?” Sebagaimana Rendra juga bertanya tentang makna kesenian yang terpisah dari derita lingkungan.
Lalu saya teringat ungkapan Guru Candra Malik dalam sebuah diskusi kebudayaan: “Kiai boleh menyampaikan satu-dua kalimat ilmu, tetapi santri harus mendapatkan lebih dari dua ilmu yang disampaikan.” Silahkan dibaca berulang kali, agar dapat memahami dan mendapatkan maknanya. Maka, agar bacaan tentang Ki Dalang Timbul tidak hanya menjadi bangkai loakan ilmu tanpa makna, saya berusaha mengonversikannya ke dalam ranah yang saya geluti sebagai pelatih bulutangkis. Sebisa-bisanya!
***
Sebagai praktisi olahraga, sebagai pelatih bulutangkis yang tak lupa akan usia yang masih muda, pengalaman yang belum seberapa, maka dari bacaan di atas saya ambil simpulan sebagai bahan pelajaran bagaimana saya harus mengembangkan keilmuan, keterampilan, dan kemampuan diri sesuai bidang yang saya geluti, yang dijembatani keilmuan dari ranah seni pedalangan tersebut.
Saya jadi mengingat kembali wejangan dari Eyang Umbu: Jangan pernah ngomong dan mengingat tentang jasa. Persis seperti halnya ketika kita melatih, dibutuhkan keikhlasan dalam melakoninya, tanpa pamrih. Sejak itu saya menaruh segala nafsu eksistensial dengan mengingat bahwa: menjadi akar tak mungkin diingat, penggembala tak mungkin tercatat. Karena di sisi lain, melatih adalah “kerja sunyi”.
Namun, perlu saya luruskan agar tidak disalahpahami: keikhlasan tanpa pamrih bukan berarti pelatih hidup dari udara kosong. Saya bukanlah seorang sufi, oleh karena itu saya tida bermain di ranah sufistik yang sudah selesai dengan dirinya dan mentalak tiga dunia. Saya masih muda, masih belajar, dan tentu saja, masih membutuhkan penghidupan yang layak. Maka, tepo seliro tetap menjadi prinsip: jika dalang mengabdikan suara dan tenaganya, pemilik acara menggantinya dengan nominal yang pantas. Jika pelatih mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, dan ilmunya, maka orang tua atlet atau manajemen klub pun demikian. Bukan pamrih, tapi penghormatan dan saling menghargai.
Kedua, sepandainya kita dalam melahirkan atau membentuk seorang atlet dengan kualitas teknik, fisik, serta mentalitas yang bagus, tak patut kiranya mendongakkan kepala dan membusungkan dada. Perlu ditanamkan dalam diri kita bahwa di atas langit masih ada langit. Maka perlu kiranya kita untuk terus menerus belajar kepada siapa pun, di mana pun, tentang apa pun. Syukur alhamdulillah, selain dapat menambah wawasan pengetahuan, kita bisa menarik simpulan untuk kita konversi dan modifikasi ke ranah ilmu kepelatihan guna meningkatkan kualitas diri, yang kemudian dapat kita bagikan kepada setiap atlet yang kita tangani agar dapat menaikkan kualitas dirinya.
Maka, dari Ki Dalang Timbul saya mendapatkan pelajaran serta bisa saya tarik ke ranah ilmu kepelatihan yaitu, bahwa kita sebagai pelatih tidak boleh memperalat atlet layaknya robot untuk mengikuti sesuai apa kemauan dan keinginan kita (tipe permainan seperti saat kita berkarier sebagai atlet dulu), sebagaimana dalang yang bagus tidak boleh memperalat wayang sebagai pengungkapan eksistensi nafsu dan watak ki dalang sendiri. Namun, sebagai pelatih mesti punya kepekaan dari analisa, pertimbangan, dan perhitungan-perhitungan nilai potensi yang dimiliki dari per-individu atlet itu sendiri. Ada yang dianugerahi kelebihan dalam segi power dan kecepatan, maka pelatih harus mengolahnya dengan memanfaatkan kelebihan dan potensinya sebagai pemain yang memiliki gaya atau tipe bermain cenderung menyerang. Meski gaya atau tipe permainan yang lain tetap diajar dan dilatihkan, namun ada spesifikasi pemantapan gaya atau tipe bermain yang diolah secara spesial sebagai ciri khas, dan sebagainya.
Misalnya, seorang atlet memiliki keunggulan di pukulan drop shot yang halus dan akurasi tinggi, tetapi kurang dalam smash keras. Sebagai pelatih, saya tidak boleh memaksanya menjadi power player seperti gaya saya dulu. Tugas saya adalah mengenali potensi itu, lalu mengasahnya menjadi ciri khas yang membedakannya dari pemain lain. Saya mendampingi, bukan membentuk ulang sesuai bayangan saya. Saya seperti dalang yang memberi hidup pada wayang, bukan memaksakan wayang menjadi cerminan dirinya.
Seperti halnya pada waktu yang lain ketika mendiskusikan perihal ini, Syah memberikan sedikit tambahan bahwa, menurutnya kepribadian memang bukan pamrih diri. Kepribadian adalah pancaran yang spontan dari penghayatan kita akan kehidupan. Dan kepribadian baru akan menjadi berarti ketika seluruh identitas diri kita tak memaksa diri untuk ditonjolkan. Sebagai pelatih yang baik, semestinya tidak menonjolkan diri dalam pencarian gaya atau tipe bermain atletnya. Dalam proses kepelatihan, biarkan atlet mengeluarkan seluruh potensi terbaiknya. Yang bisa kita lakukan adalah memantapkan pengolahan gaya atau tipe bermain sang atlet setelah mengetahuinya atau menemukannya. Sebagai pelatih, tak jauh beda seperti halnya dalang—atau gampangnya lagi seperti sutradara dalam dunia pertunjukan—yang tak menonjolkan diri dalam peran, meski dia pemilik ide-gagasan alur ceritanya. Mereka adalah pendamping sang aktor untuk berperan sesuai karakter yang diperankannya. Yang kami (pelatih) latih dan perankan bukan diri kami, tetapi sesuatu yang lebih hidup dari hidup kami sendiri.
Dengan demikian, hemat kami, kepribadian adalah pancaran personalitas yang dengan sungguh-sungguh dihayati sepenuh kepekaan pada hidup. Maka dengan begitu, kami mulai berproses melayani segala permintaan dan pemenuhan segala hal dalam kehidupan.
Inilah beberapa ilmu dan pelajaran yang bisa saya tarik dan dapatkan benang merahnya, serta dapat saya bagi kepada kawan-kawan, terutama kepada kawan-kawan yang bergelut dalam bidang kepelatihan khususnya bulutangkis. Untuk kawan-kawan dalam bidang yang lain, silakan anda selami dan arungi sendiri samudranya, lalu dapatkan serta tarik mutiaranya sebagai hiasan dalam ranah bidang anda masing-masing.
***
Dari pengalaman menarik benang merah antara dunia pedalangan dan dunia kepelatihan ini, saya jadi tersadar akan satu hal yang lebih besar: kita sendiri yang sering memisahkan ilmu satu dari yang lain.
Beberapa kali kita semua mengalami perasaan bahwa dunia pada abad ini membuat orang-orang semakin modern, lalu orang-orang modern tersebut membuat pagar-pagar keilmuan yang sangat kentara. Mereka seolah membawa alam berpikir kita dalam membaca ilmu menjadi terkotak-kotak: ilmu kedokteran hanya tentang penyakit, ilmu kepelatihan olahraga hanya tentang melatih agar juara, ilmu bahasa dan sastra hanya tentang kata-kata. Di masa ini, kita benar-benar menjadi lebih gagap dalam membaca keilmuan, karena telah terkotak-kotak bahwa ilmu A tidak ada kaitannya dengan ilmu B atau C.
Jika kita memiliki kesadaran menjadi manusia yang pada hakikatnya adalah makhluk fakir, salah satunya fakir ilmu, maka semestinya kita punya semangat dalam mencari ilmu. Yang saya ketahui, syarat pertama untuk mendapatkannya adalah menjadi kosong. Kedua, kita benar-benar tidak boleh bersifat skeptis terlebih dahulu. Ketiga, serap dan endapkan, serta yakinilah bahwa seluruh unsur urat-syaraf dalam diri kita memiliki metabolismenya dalam menyaring ilmu yang memiliki kemanfaatan atau tidak untuk diri kita. Keempat, jika bisa, teruslah menggali impresi dalam setiap ilmu yang anda dapatkan, lalu tarik sebagai pemaknaan dan kebermanfaatan kepada sesama. Hematnya, tidak ada bidang ilmu yang bisa berdiri sendiri tanpa ada bantuan dari bidang ilmu lainnya—atau semua bidang ilmu saling berkaitan dengan bidang ilmu lainnya. Sebagai salah satu contoh dari ribuan contoh lainnya adalah impresi pengalaman di atas.
***
Sebagai penutup, ijinkanlah setiap diri kita menjadi sebagai manusia yang selalu kosong dalam setiap memulai harinya. Sebab, orang yang merasa sudah penuh tidak akan pernah bisa menampung ilmu baru. Maka, ijinkanlah setiap diri kita menjadi manusia yang selalu kosong dalam setiap memulai harinya. Kosong bukan berarti hampa, melainkan isi itu sendiri.
Salam, Saudaraku.
Kudus-Dongguan, 2023–2026
