Jacob Appel (1680-1751)
Sebuah foto rumah rakit dengan aku memegang dua bilah kayu.
Papan kayu melayang dari satu tangan ke tangan lainnya. Berakhir di perbatasan antar sungai dan darat, disusun rapi menopang pondasi yang telah menancap di dasar sungai musi. Aku sebagai titik akhir untuk menyusun papan kayu tersebut, sebelum sebuah rumah dipindahkan di atas papan ini.
Rumah rakit memenuhi pinggir sungai, hampir semua rumah itu, aku yang buatkan pondasi dan menyusun papan-papan kayunya. Sejak periode pertama presiden Soeharto, aku telah ikut bersama bapak bekerja untuk sesama masyarakat pinggir musi. Mereka kenal luar dalam dengan bapakku, juga diriku.
Kala itu, sebelum perpecahan meletus, jembatan ampera yang beberapa tahun diresmikan. Aku tengah duduk di teras masjid selepas menunaikan ibadah.
“Bik, rumah kamu nak pindah ke darat[1] nian apo?[2]” sahut aku menegur tetangga.
Bibi Cindai sedang menjemur pakaiannya di belakang rumah, aku mendengar kabar bahwa kerabatnya masuk partai politik lokal yang mendukung kemerdekaan Indonesia, keluarga bibi Cindai mendapat uang segar dan memutuskan untuk pindah ke rumah yang lebih baik dari rumah rakit.
“Oo iyo, kami pindah ke darat. Ilir[3] situ, deket kantor ledeng itu![4]” bibi Cindai menunjuk gedung tinggi di sebrang.
Beberapa bulan selepas percakapan itu, bibi Cindai menggegerkan satu kampung karena kepindahannya. Merubuhkan rumah rakit yang telah lama mereka tempati, seakan meludah untuk menandai bahwa satu keluarga tidak akan pernah kembali lagi ke pinggir sungai Musi.
Kejadian itu tertancap dalam memoriku, sebagai sejarah pemberontakan dan penghinaan pertama kali, selama tinggal di rumah rakit. Aku tidak menginginkan revolusi, saat tau meja makan keluarga sendiri menyajikan emas dan minyak bumi. Hasil menghabisi kampungku.
Sekarang, bilikku hanya 3×4, tersekat besi pada setiap kubik, hanya tertutup atap dan dinding baja. Ruangan tengah di sana terdapat meja makan, berhamburan kertas-kertas usang. Kalau budak, atau tahanan, seperti kami ingin bertukar kabar dengan sanak familie.
Terdengar merpati selama beberapa waktu kebelakang mengirimkan kode bahwa negaraku ini sudah kembali membaik, pemilihan presiden akan segara dilakukan. Aku harus bergegas mengirim tanda.
Hanya sebatas, “Aku masih hidup!” surat itu kuterbangkan dengan merpati putih. Totalnya tiga surat dan merpati.
Satu, untuk orang tuaku yang jauh di tanah kelahiran, pulau Sumatra.
Surat yang satunya, untuk kekasih hatiku yang terjerumus di Boven Digul, sebab kesalahpahaman tentara.
Surat terakhir untuk sahabat karibku yang berbeda blok tahanan dari diriku.
Merpati putih kuselundupkan melalui celah jendela tahanan. Berharap sampai kepada tertuju. Sebelum terbang merpati itu kubisikkan sesuatu, bukan lafaz doa melainkan strategi agar tidak tertembak sesama kaumnya.
Setidaknya dalam waktu 10 tahun, kabar burung mengatakan bahwa surat yang kukirim telah tiba, dan dua dari tiga surat yang kukirim balasannya pun telah sampai pada sipir.
Pertama adalah kekasihku di Boven Digul, dia menerima dengan sukacita surat yang kutulis itu. Meskipun kumal dan banyak bercak air mata balasan suratku, tidak mengapa. Aku tetap cinta.
Kedua surat balasan datang dari sahabat karib berbeda blokku, kami tidak saling mengenal karena berbeda gedung tahanan. Sering bertemu ketika matahari terlihat. Dan disini matahari dapat dilihat hanya 15 menit. Aku lupa berapa kali tidak melihatnya, karena aku tidak bisa melihat.
Sepertinya dia senang ketika mendapatkan surat dariku. Karena tidak ada bekas air mata, tidak ada tulisan yang melencong. Sahabatku itu memang tidak berperasaan.
Pada tahun ke sebelas, orang tuaku tak kunjung membalas, aku bertanya kepada sipir, “Apakah ada surat untukku saat ini?”
Sipir diam.
Beberapa hari setelahnya atau mungkin beberapa jam setelah itu, aku tidak tahu pasti. Aku bertanya, “Adakah merpati yang ditembak hari ini?”
Sipir masih diam.
Aku kesal, kenapa mereka semua diam?
Padahal di sini boleh bertanya apa saja, asal tidak membunuh. Lantas hanya pertanyaan yang aku berikan tidak semata-mata akan membunuh mereka bukan?
Tidak mengapa, aku menahan untuk tidak bertanya sampai beberapa waktu selanjutnya.
Sudah waktunya makan, aku tidak mengetahui ini siang, pagi ataukah malam. Kalau sipir membuka pintu tahanan dengan suara keras, sudah pasti ini jam makan.
Ada hal yang janggal, kenapa hari ini tidak berisik? Aku tidak tuli, hanya tidak bisa melihat, aku bisa merasakan belum sepenuhnya lumpuh, aku juga masih bisa berjalan. Kenapa hari ini sepi sekali, aku merasa ada kerumunan tapi mereka hanya diam.
Aneh.
Kuraba tempatku, ini sama seperti meja makan, dan ini memang meja makan tempatku biasanya makan bersama teman-temanku yang lain. Tapi kenapa sepi?
Aku gelisah, sangat gelisah. Bahkan meja makan ini pun tidak ada yang bersuara.
Apa yang terjadi selama aku membaca kedua surat balasan dari sahabat dan kekasihku itu?
Kita kan sudah merdeka, kenapa mereka masih diam bahkan sunyi?
Setelah itu hangat menghampiri kulit dan kepala ku. “Ah… ini matahari, sudah lama tidak bertemu langit biru.” Pikirku.
Kepakkan merpati menutup rasa hangat itu, “Ini dia surat dari orang tuaku, lama sekali merpati itu. Apakah dia berkhianat di tengah jalan, sampai suratnya baru sampai?” Aku bertanya dalam hati.
Merpati itu sampai di hadapanku, dia menangis, tidak membawa surat balasan. Bukan karena berkhianat sebab pesanku, tapi tanah kelahiranku jauh disana telah sama rata dengan tanah.
“Kenapa?”
“Mereka telah mengkhianatimu.” Lugas sang merpati.
“Aku bisa merasakan itu, namun menapa kau menangis?”
Merpati mengibaskan sayap, ia panik dan ketakutan.
Kenapa orang buta ini tidak mencekikku? Kenapa dia tidak menunjukkan wajah kecewa, setelah bertahun-tahun aku datang terlambat ke hadapannya?
“Aku telah terbiasa. Jangan kau takut, aku bukan lah seorang cenayan ataupun seorang yang bisa klenik. Darahku Sumatra, sukuku melayu kuno, dan orang tuaku tinggal dalam balutan adat.”
Merpati itu mendekat, dia tidak setuju, kalimat terakhir adalah dusta.
“Hei orang buta. Kau memang buta, masih membela orang yang melahirkan dan membesarkan mu itu? Apakah kau tidak tahu fakta setelah kau mendekam di sini?”
“Kau bersusah payah menulis dengan mata kosong itu, namun orang tuamu di sana memakan emas dan minyak hasil menjualmu kepada pemerintah!” Merpati mematuk badanku.
Ini tidak benar, aku membela mereka disaat orang ‘revolusioner’ itu bertamu. Memberi pengetahuan dan penglihatan untuk ditukar nyawa orang tuaku, agar balutan adat di sana tidak direnggut oleh rezim.
Merpati kembali mematuk kepalaku, tajam dan runcing moncongnya membuat badan ringkih ini mudah sekali mengeluarkan darah segar. Ini tidak sakit, fakta yang diberikan oleh merpati itu pun tidak sakit.
Kugenggam merpati itu dan mengarahkannya tepat berada di depan wajahku, “Mereka disana memakan emas dan minyak, pasti ada alasannya. Sebutkan alasan itu.”
“Bibi yang meludahi tanah kelahiranmu dulu, menembak seluruh keluarganya dan menandai tubuhku dengan darah mereka, bola matamu yang orang tuamu simpan. Telah dimakan oleh bibimu sendiri.” Pungkas sang merpati.
Revolusi itu terjadi, dalam kurun waktu satu dekade. Tanpa bersisa.
Air mata bercampur darah menetes sedikit lalu deras, mencuat melalui tanah retak, pepohonan, bebatuan purba, bercampur dengan api amarah mendengar pengkhianatan terbesar itu.
Aku memberikan seluruh jiwa, menukar mata, untuk dirawat dan dijaga. Merpati itu telah terbang menjauh, semakin ketakutan melihat semburat abu yang muncul dari kepala dan mulutku.
Tanah warisan yang lapang aku percayakan kepada orang yang salah, matahari pertama urung untuk bersinar seperti biasanya. Ia juga takut akan api yang muncrat dari mulutku.
Mata kosong ini kembali bertumbuh. Aku mengambil jiwa-jiwa sipir untuk menjahit saraf-saraf, membuat pahatan, mengisi warna agar dapat melihat.
Getaran untuk mengakhiri hidup ini semakin kuat, berpuluh kilometer dapat terasa. Tanah kelahiranku, akan menyatu dengan bola mataku, emas dan minyak yang mereka makan.
[1] Pindah ke darat: dalam bahasa Palembang yang berarti ketika Masyarakat yang tinggal di pinggir perairan sungai musi memutuskan untuk pindah ke daratan yang jauh dari pinggir sungai.
[2] “Bi, rumah kalian jadi mau pindah ke daratan?”
[3] Ilir: sebutan arah di Palembang, terdapat Ilir untuk daerah perkotaan dan Ulu untuk daerah yang mayoritas tempat tinggal Masyarakat asli suku Palembang.
[4] “Oo iya, kami jadi pindah ke darat. Arah ilir, dekat kantor PDAM sana!”

