Satu Jam Saja

Paul Gauguin (1848-1903) Aku sudah memutuskan untuk berhenti berjudi, mabuk-mabukan, dan tentu juga cimeng. Tidak mudah memang. Kupikir, ini akan membutuhkan waktu yang panjang bahkan sampai ujung hayatku. Aku bukan pengecut yang bisa berhenti dari segalanya sekaligus dalam satu malam seperti orang-orang di film yang tiba-tiba melihat cahaya dan menangis di kamar mandi. Waktu awal-awal menjauh … Baca Selengkapnya

Jibun Sebuah Kisah

Jibun melangkah pelan di ruang panjang dan licin, ingatan terakhir yang dimilikinya adalah tertidur di kapal setelah memakan pil ajaib yang ditemukannya di pesisir. Pil yang jumlahnya ribuan itu disimpannya di tempat rahasia, tak ada yang tahu. Tangannya memegang sisi ruang karet ini, ruang yang dapat memasukkan ribuan ikan sarden. Tetapi ruang ini habis disemprot … Baca Selengkapnya

Pangkas Rambut di Hari Minggu

Aku datang sendiri hari Minggu itu. Tukang cukur itu melihat ke arahku begitu aku masuk. “Anakmu ke mana? Apa dia pergi?” Ada sesuatu di cara dia bertanya yang membuatku berhenti sebentar di ambang pintu. Seolah dia sudah menyusun sendiri ceritanya sebelum aku sempat bicara. Dia mungkin berpikir anakku yang mulai malas ikut ayahnya, atau aku … Baca Selengkapnya

Mata Kosong

Jacob Appel (1680-1751) Sebuah foto rumah rakit dengan aku memegang dua bilah kayu. Papan kayu melayang dari satu tangan ke tangan lainnya. Berakhir di perbatasan antar sungai dan darat, disusun rapi menopang pondasi yang telah menancap di dasar sungai musi. Aku sebagai titik akhir untuk menyusun papan kayu tersebut, sebelum sebuah rumah dipindahkan di atas … Baca Selengkapnya

Jam Saku Thomas Karsten

Eduard Majsch (Austria, 1841 – 1904) Laras detik jam saku perak itu tidak pernah berbohong. Bagiku, denting satu-dua, satu-dua yang beresonansi di dalam cangkang logamnya adalah debar jantung Thomas Karsten yang tertinggal di Semarang. Di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang di langit-langit berjamur, aku menatap rancangan penataan Oudstadt—Kota Lama. Lembar-lembar kalkir itu sudah menguning, … Baca Selengkapnya

Kertas dan Utas Kematian

Egon Schiele (Austria, 1890-1918) Kertas tergeletak 1. Tahun lalu meja makan sepi, seperti jalanan di waktu malam. Hanya ada tumpahan minyak bekas ikan goreng, juga beberapa nasi tercecer mengeras. Aku akan bercerita tentang hidupku, yang berubah, yang lalu, yang tiba-tiba. Semua berubah sedemikian cepat, buru-buru, dadakan, dan kilat. Semua mengenalku akhirnya. Tapi, perkenalanku ke khalayak … Baca Selengkapnya

Menyunting Tuhan di Atas Meja Pualam

Di hadapanku, layar berpendar biru fajar─warna yang hakikatnya sudah lama punah dari cakrawala kota ini, terkubur di bawah jelaga industri dan iklan holografik yang meneriakkan keabadian. Aku duduk di depan konsol Adicitra, sebuah mesin yang lebih menyerupai altar ketimbang alat medis. Di dalam perut mesin itu, dalam tabung kaca berisi cairan amnion sintesis beraroma melati, … Baca Selengkapnya

Manabaya dan Puisi Lainnya

Manabaya 0jika leluhurku bukan siwadan ayahandaku bukan rawanamungkin aku tak akan lahirke duniadalam rahimkematian bunda 00patih sombali! kematian bunda Manondariadalah dendam seumur hidupkukepada para dewa dengarlah, patih sombali! atas nama bunda: akan kutanggungseluruh deritanya: akan kutantang seluruh para dewa di kayangan. 000akulah Manabayaakulah manusiayang lahir dari kematianyang lahir dari luka di sini; di palasari;di bukit … Baca Selengkapnya

Senandung Rindu di Pematang Maya

Vincent van Gogh (Dutch, 1853-1890) Sepi. Bukan sepi yang hampa tanpa bunyi, melainkan sepi yang riuh di dalam dada. Seolah seribu gamelan dimainkan tanpa irama, hanya menyisakan bising yang tak kunjung jua menemukan harmoni. Begitulah kiranya suasana batin Rengganis tiap senja tiba, tatkala langit Bandung, kota yang menjulang bak mercusuar ambisi, mulai diselimuti jingga yang … Baca Selengkapnya

Di Tempat Tuhan Memalingkan Wajah

Joaquín Sorolla (1863 – 1923) Muin mematung di ujung anjungan papan. Anjungan itu menjulur ke tengah lautan yang telah kehilangan denyutnya. Tidak tampak gelombang yang berkejaran, apalagi desau yang memecah sunyi; hanya ada hamparan cairan kental yang diam, serupa endapan air cucian piring yang telah lama dibiarkan di dalam ember. Di atasnya, matahari menyerupai bulatan … Baca Selengkapnya