Mata Kosong

Jacob Appel (1680-1751) Sebuah foto rumah rakit dengan aku memegang dua bilah kayu. Papan kayu melayang dari satu tangan ke tangan lainnya. Berakhir di perbatasan antar sungai dan darat, disusun rapi menopang pondasi yang telah menancap di dasar sungai musi. Aku sebagai titik akhir untuk menyusun papan kayu tersebut, sebelum sebuah rumah dipindahkan di atas … Baca Selengkapnya

Jam Saku Thomas Karsten

Eduard Majsch (Austria, 1841 – 1904) Laras detik jam saku perak itu tidak pernah berbohong. Bagiku, denting satu-dua, satu-dua yang beresonansi di dalam cangkang logamnya adalah debar jantung Thomas Karsten yang tertinggal di Semarang. Di bawah temaram lampu minyak yang bergoyang di langit-langit berjamur, aku menatap rancangan penataan Oudstadt—Kota Lama. Lembar-lembar kalkir itu sudah menguning, … Baca Selengkapnya

Kertas dan Utas Kematian

Egon Schiele (Austria, 1890-1918) Kertas tergeletak 1. Tahun lalu meja makan sepi, seperti jalanan di waktu malam. Hanya ada tumpahan minyak bekas ikan goreng, juga beberapa nasi tercecer mengeras. Aku akan bercerita tentang hidupku, yang berubah, yang lalu, yang tiba-tiba. Semua berubah sedemikian cepat, buru-buru, dadakan, dan kilat. Semua mengenalku akhirnya. Tapi, perkenalanku ke khalayak … Baca Selengkapnya

Menyunting Tuhan di Atas Meja Pualam

Di hadapanku, layar berpendar biru fajar─warna yang hakikatnya sudah lama punah dari cakrawala kota ini, terkubur di bawah jelaga industri dan iklan holografik yang meneriakkan keabadian. Aku duduk di depan konsol Adicitra, sebuah mesin yang lebih menyerupai altar ketimbang alat medis. Di dalam perut mesin itu, dalam tabung kaca berisi cairan amnion sintesis beraroma melati, … Baca Selengkapnya

Manabaya dan Puisi Lainnya

Manabaya 0jika leluhurku bukan siwadan ayahandaku bukan rawanamungkin aku tak akan lahirke duniadalam rahimkematian bunda 00patih sombali! kematian bunda Manondariadalah dendam seumur hidupkukepada para dewa dengarlah, patih sombali! atas nama bunda: akan kutanggungseluruh deritanya: akan kutantang seluruh para dewa di kayangan. 000akulah Manabayaakulah manusiayang lahir dari kematianyang lahir dari luka di sini; di palasari;di bukit … Baca Selengkapnya

Senandung Rindu di Pematang Maya

Vincent van Gogh (Dutch, 1853-1890) Sepi. Bukan sepi yang hampa tanpa bunyi, melainkan sepi yang riuh di dalam dada. Seolah seribu gamelan dimainkan tanpa irama, hanya menyisakan bising yang tak kunjung jua menemukan harmoni. Begitulah kiranya suasana batin Rengganis tiap senja tiba, tatkala langit Bandung, kota yang menjulang bak mercusuar ambisi, mulai diselimuti jingga yang … Baca Selengkapnya

Di Tempat Tuhan Memalingkan Wajah

Joaquín Sorolla (1863 – 1923) Muin mematung di ujung anjungan papan. Anjungan itu menjulur ke tengah lautan yang telah kehilangan denyutnya. Tidak tampak gelombang yang berkejaran, apalagi desau yang memecah sunyi; hanya ada hamparan cairan kental yang diam, serupa endapan air cucian piring yang telah lama dibiarkan di dalam ember. Di atasnya, matahari menyerupai bulatan … Baca Selengkapnya

Dua Musim dan Keranjang Nikah

Edvard Munch (1863-1944) Keranjang Nikah pundi terisi, harga cincin naikrestu orang tua mahalundangan terasa seperti kredit aku menghitung lagi:bukan takut terikat,aku cuma tak mau berutangpada bahagia yang tergesa kalau jadi rumahbiarlah fondasinya jujur:bukan dari gengsi,tapi dari keringat yang tak mengemis. (2026) Dua Musim ibu ayah: dua musimyang menghangatkandan mendinginkan beranda aku baru sadar:musim pun punya jam … Baca Selengkapnya

Lima Menit yang Riuh

Frida Kahlo (1907 – 1954) Lampu kamar sudah padam, namun lampu minyak di kepala seolah enggan padam, justru sumbunya semakin menyala saat kelopak mata kututup rapat. Aku mencoba membujuk kesadaran untuk menyerah, namun di balik gelap itu, sebuah panggung sandiwara justru menaikkan tirainya dengan angkuh. Memejamkan mata dan memaksa diri untuk tidur adalah sebuah kepayahan … Baca Selengkapnya

Bahasa Waktu dan Puisi Lainnya

Maurice Lalau (1881-1961) Bahasa Waktu Usia terus menggali lubang di pemukiman padat nasibHendak mengubur masa kanak-kanak di samping pohon-pohon harapanApa yang sesungguhnya terjadi pada hidup? Waktu seperti mengendarai mobil masa depandan kau hanya berjalan di trotoar penuh pertanyaanHingga tahun berganti pakaian tergesa-gesa;menampilkan tubuh derita penuh bekas sayatan pisaumimpi yang tinggal karatan Betapa jauh kau hilang … Baca Selengkapnya