Egon Schiele (Austria, 1890-1918)
Kertas tergeletak 1.
Tahun lalu meja makan sepi, seperti jalanan di waktu malam. Hanya ada tumpahan minyak bekas ikan goreng, juga beberapa nasi tercecer mengeras. Aku akan bercerita tentang hidupku, yang berubah, yang lalu, yang tiba-tiba. Semua berubah sedemikian cepat, buru-buru, dadakan, dan kilat. Semua mengenalku akhirnya. Tapi, perkenalanku ke khalayak luas bukan sebagai penulis seperti yang aku bilang pada almarhum ibuku.
Aku dikenal sebagai anjing, dan hanya itu. Tapi, aku tetap menulis hari demi hari. Meski orang mengenalku sebagai anjing.
Akhir-akhir ini ayahku bergaul dengan pak kades. Aku tidak ingat kapan mereka mulai berkawan seperti sekarang. Padahal pak kades adalah salah satu orang yang sangat ayahku benci, hampir-hampir setiap hari ia mengutuk pak kades menjadi beruk dan kodok kurap. Tapi, itu dahulu. Sebelum mereka mesra bak burung jalak di tubuh kerbau yang setia menyingkirkan kutu. Ayahku bisa jadi kerbau, bisa jadi jalak, tergantung situasi dan kondisi.
“Itulah perkawanan,” katanya yang membuatku diare dan ingin cepat-cepat berak.
“Kau tidak akan mengerti, nanti kalau kau merasakan punya meja makan dan tanggung jawab atas meja makan itu.” Timpahnya lagi, aku tak menepis buru-buru, mencoba menghayati tapi tidak ketemu makna.
Aku merasa ada yang aneh setiap kematian yang terjadi, kulit dan bulu-bulu ayahku memutih. Sudah selusin peristiwa kematian, kulit dan bulunya sudah seputih lilin dan sifatnya sedingin salju. Tapi meja makan di rumah kami, menjadi penuh, menjadi putih bersih. Tidak ada bercak minyak, apa lagi nasi yang berkerak di sekitar meja itu. Saat itulah, aku mulai menyadari bahwa bapak adalah anjing, ia berburu tulang-belulang. Teringat sekeluarga yang mati menjadi arang, tulangnya abu, apakah bapak tega? Anjing gila, mungkin jadi.
Rumah kami, yang entah seperti kilat menyambar bumi; tiba-tiba menjadi gedung putih dengan mobil putih. Aku pun ketiban menjadi putih, meski hanya rambut di kepala—tetapi itu sangat mengangguku.
Pada malam hari, ayahku keluar untuk berburu tulang menggunakan baju serba hitam untuk menutupi dirinya yang putih. Tapi ia tidak sadar, bahwa sangking putih tubuhnya dan bulu-bulunya. Pakaian hitam yang ia gunakan seolah transparan, tubuhnya terekspos jelas. Sudah barang tentu orang-orang akan mengetahui bahwa itu adalah ayahku. Setelah ia membuka pintu, aku sontak bertanya.
“Mau kemana, sudah malam begini ayah, apakah kamu ingin jadi anjing lagi?”
“Jaga mulutmu! Kita sudah susah, tidak perlu kau merasa lebih tahu dariku.”
“Aku tidak mau kita menjadi anjing ayah!” Aku lantas menunjukkan bulu pada hijab yang menutupi rambutku, ia sedikit pun tidak merespon. Ia melanjutkan langkahnya, tak melihatku sebagai anaknya lagi. Tangannya dipenuhi barang penuh sesak, aku tak melihat jelas, semuanya berbalut karung bekas.
“Ayah anjing! Anjing berkawan dengan anjing! Jangan ajak aku ke kehidupanmu anjing!”
Ia melanjutkan langkahnya, dengan cepat aku menaiki kasur di rumah serba putih dan bertingkat ini, tiang-tiang depan rumah kami seperti istana di Bogor.
Kertas tersusun rapi di mading kamar, dengan tanda seru 2.
Seminggu yang lalu, ada kematian di kampungku. Kematian memang kerap terjadi beberapa tahun ini, tetapi itu terjadi saat ayahku mulai dekat dengan pak kades. Semuanya terjadi saat jam 12 pas.
Sekeluarga itu mati, malang sekali. Aku terasa, saat teringat wajah mereka, saat itu menghadang excavator dan lusinan polisi membawa laras panjang juga anjing berbulu—sama seperti seragam mereka. Sewaktu mereka menghadang, terlihat getir namun tidak bergerak sedikit pun. Mereka baru tidak menghadang excavator dan lusinan polisi saat rumahnya dibakar, satu keluarga itu tak keluar rumah sejangkalpun. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan mereka, sebab mereka tidak mau bernegosiasi. Tidak mau berpindah, meski sudah dijanjikan rumah mewah di Bogor. Mereka tidak peduli, lagi pula bos-bos sawit itu tidak dapat merayu mereka dengan tawaran yang fantastis untuk sebuah tanah.
Sebuah alasan yang membuatku geleng-geleng kepala, tak percaya mereka masih bertahan di rumah itu. Ketimbang pergi saja dan hidup tenang di kota, pikirku. Tapi, kematian mereka akhirnya mendapat banyak sorot mata. Puluhan ribu orang menonton video rumah mereka yang terbakar, makin histeris ketika seorang yang memvideokan teriak kelabakan mengabarkan sekeluarga itu bertahan di rumahnya.
Sejak minggu itu, orang-orang mulai mencurigai kades dan ayahku. Beritanya tersebar di seluruh sosial media, komentar berdatangan baik yang belasungkawa maupun menghujami dengan cacian kepada orang-orang yang terlibat membunuh sekeluarga itu.
Aku tak berkomentar sepatah kata di akun asliku, tetapi aku membuat seccond account. Di dalam video itu, aku mengarang cerita dengan komentar yang aku rasai tentang perubahan ayahku. Komentarku mendapat banyak like, juga tanggapan agar aku membuat utas lebih panjang lagi.
Mungkin cara agar aku dapat membuat ayahku berubah, setidaknya terbongkar. Aku membuat utas panjang yang aku tulis, ternyata mendapat banyak komentar dan dibagikan berulang-ulang kali. Meski aku cerita orang yang melakukannya seperti anjing dan punya bulu putih—dianggap halu. Aku tak menghiraukan, aku terus-terusan membuat utas itu agar orang makin mengenal ciri-ciri orang yang selama ini menjadi kaki-tangan bos sawit untuk menjual tanah masyarakat.
Kertas tergeletak di depan pintu kamar, remuk 3.
Selang berapa jam, suara terikan terdengar. Aku menuju suara itu, keluar dari kamarku yang sudah penuh sesak akan kertas-kertas yang setahun ini aku tulis. Sejak rumah kami menjadi istana, aku kian kesepian. Tidak ada teman bercerita, semua orang yang aku kenal tak mau berteman denganku. Semuanya sejak rumahku tiba-tiba menjadi istana.
Aku menyempatkan diri menulis bagian cerita ini, sebelum ke arah kerumunan.
Dari video di Threads 4.
Orang-orang berkerumun ke ujung desa tepat di salah satu rumah yang masih setia dengan keputusannya untuk tidak menjual tanahnya demi perkebunan kelapa sawit dan pertambangan emas. Meski sudah ada contoh, sekeluarga yang mati hangus terbakar juga. Semuanya terjadi pada jam 12 pas.
“Anjing, anjing!” Teriakan orang-orang histeris, berkerumun.
“Tadi, aku melihat seorang mengenakan baju serba hitam tapi punya bulu putih seperti anjing! Ia berlarian melewati mayat-mayat di depan yang bergeletakan.”
“Nah itu,” seseorang menunjuk ke arah tokoh kita.
“Bukan, bukan aku.” Tokoh kita berteriak, sementara orang-orang tak peduli lagi.
Utas terakhir yang viral 5.
Setelah itu, tubuhnya ditendang, rambutnya terbakar setelah obor dilemparkan. Ia benar-benar merasakan kematian, semuanya gelap, putih dan berkabut. Hidup dan mati menjadi anjing, sesuatu yang tak diinginkan tokoh kita sejak awal.
Setelah semuanya terbongkar lewat utas fotoku yang aku bagikan. Cerita-cerita tentang tokoh kita, termasuk yang belum aku bagikan. Orang-orang menuju rumah yang tiangnya mirip istana Bogor. Tidak lagi ada kehidupan di sana, semua berubah menjadi gelap.

