Aku datang sendiri hari Minggu itu. Tukang cukur itu melihat ke arahku begitu aku masuk.
“Anakmu ke mana? Apa dia pergi?”
Ada sesuatu di cara dia bertanya yang membuatku berhenti sebentar di ambang pintu. Seolah dia sudah menyusun sendiri ceritanya sebelum aku sempat bicara. Dia mungkin berpikir anakku yang mulai malas ikut ayahnya, atau aku yang malas mengajaknya. Lebih buruk lagi, barangkali dia pikir aku dan anakku benar-benar berpisah karena perceraianku dengan istriku.
“Sebenarnya bukan urusanmu di mana anakku,” kataku. ”Tapi biar kuberitahu. Hari ini dia wajib ikut kegiatan sekolah yang sudah dibayar dari awal semester, dan kalau tidak ikut, sia-sia saja uangnya. Sekolah swasta itu tidak murah. Aku tidak akan buang-buang uang supaya dia bisa menemaniku duduk di sini hanya untuk sekadar menunggu giliran cukur.”
Dia diam sebentar, lalu mengangguk, seperti orang yang baru sadar sudah salah menaksir sesuatu di kepala.
“Aku cuma tanya,” katanya. “Bukan menuduh.”
“Kedengarannya seperti menuduh.”
Dia tidak membalas perkataanku lagi. Dia mempersilakanku duduk di kursi tunggu, dan aku duduk. Meski sudah mengenalnya sejak lama, tapi aku merasakan hatiku tidak enak karena percakapan tadi. Apa aku terlalu keras menjawab pertanyaannya, pikirku.
Di kursi cukur ada seorang kakek yang kulihat hampir selesai. Kepalanya pelontos, kumisnya dicukur habis, dan jenggotnya sudah tak tersisa. Si tukang cukur itu sedang memijit-mijit kepala si kakek.
“Apa kau merasa sangat percaya diri sekarang?” tanya si tukang cukur.
“Aku tak pernah merasa sekeren ini seumur hidup.”
”Tapi aku belum paham. Kau adalah pelangganku di sini, baru kali ini minta digunduli. Itu seperti terkesan aneh dan memaksa.”
”Karena aku capek,” katanya, “dilihat sebagai orang tua yang rapuh.”
Dia bilang dia tukang angkut barang di pasar sudah puluhan tahun. Tapi akhir-akhir ini, karena rambutnya putih, orang-orang mulai memandangnya dengan cara yang berbeda, dan dia benci itu. Ada yang memberi lebih dari tarif karena kasihan, ada juga yang malah tidak mau pakai jasanya sama sekali, karena takut dia tak mampu. Orang-orang itu mengira dia sudah tidak kuat bekerja.
“Padahal aku masih bisa angkut barang sampai lima puluh kilo tanpa istirahat,” katanya. “Tapi orang sudah keburu memutuskan aku lemah, sebelum aku buktikan apa-apa.”
“Jadi digunduli supaya apa?”
“Supaya rambut itu berhenti bicara duluan sebelum aku sempat menawarkan jasa,” katanya. “Biar mereka lihat kerja aku, bukan warna rambut aku.”
Kakek memandangi dirinya di cermin lama sekali. Dia beberapa kali memutar kepala ke kiri, ke kanan, seperti orang yang baru pertama kali benar-benar melihat wajahnya sendiri.
“Nah,” katanya. “Sekarang aku cuma kelihatan botak. Bukan lagi kelihatan sekarat.”
Belum sempat dia turun dari kursi, seorang anak kecil masuk, kaki telanjang, baju kusam, mengaku yatim piatu. Tanpa pengantar apa pun anak kecil itu langsung menjelaskan bahwa dia harus mengurus adiknya yang masih kecil. Maksudnya, dia minta sedikit uang untuk makan.
“Kemarin sudah aku kasih sepuluh ribu,” kata tukang cukur, tanpa menoleh.
“Aku belum pernah ke sini,” kata anak itu ngotot.
Mereka berdua berdebat tentang siapa yang benar. Aku dan kakek itu pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tak ada siapa pun di antara kami yang bisa memastikan siapa yang benar. Tukang cukur menyuruhnya pergi dengan sopan. Anak itu tidak langsung pergi. Dia menggerutu, lalu mendoakan tukang cukur celaka hari itu juga.
Kakek yang sudah gundul tertawa kecil sambil mengelap kepalanya dengan handuk. “Doa anak yatim piatu itu makbul, lho, katanya.”
“Kemarin dia doakan aku sukses,” kata tukang cukur. “Hari ini celaka. Aneh juga kalau hal baik cuma seharga sepuluh ribu.”
Aku mengangguk, dan si kakek itu tertawa cukup keras.
“Kau tidak percaya dia anak yatim piatu, kan?” kata kakek. Kakek itu merogoh kantongnya. “Memang mungkin terjadi. Tapi bagaimana kalau dia jujur, dan doa-doanya akan terkabul.”
”Kalau begitu, doanya impas. Kemarin dia berdoa baik, dan sekarang berdoa buruk. Seri, kan?” kata si tukang cukur.
“Jangan mengakali Tuhan!” kata si kakek tegas.
“Tidak, sama sekali tidak,” kata tukang cukur. “Aku tidak tahu, dan aku sudah berhenti coba menebak. Intinya, kalau ada rezeki lebih, aku kasih. Kalau tidak, ya tidak. Aku tidak mau jadi orang yang menghakimi anak kecil cuma karena aku tidak bisa membuktikan dia bohong atau jujur.”
Kakek itu pergi tanpa sepatah kata pun. Sejumlah uang lusuh dan kusut disimpannya di meja rias itu seperti sedang melampiaskan kesalnya. Si tukang cukur tidak mempedulikannya. Dia masukkan uang itu ke laci dan membersihkan guntingnya, juga mempertajamnya.
***
Kini giliranku. Aku duduk, kemudian kain penutup dipasang di leherku. Gunting mulai berbunyi dekat telingaku, dan suasana di antara kami masih agak canggung.
“Harga masih lima belas ribu?” tanyaku, mencoba mencairkan suasana.
“Masih. Pangkas sebelah sudah naik jadi tujuh belas ribu. Katanya diskon kemerdekaan. Aneh, diskon kok malah naik harga.”
“Permainan marketing. Harganya di naikkan dulu jadi dua puluh ribu, kemudian ketika jadi tujuh belas ribu terlihat seperti diskon. Padahal harga aslinya siapa pun sudah tahu.” Aku melihat mukanya yang hanya fokus ke rambutku dari cermin. ”Kenapa kamu tidak ikut naik saja?”
“Karena semua sudah naik itulah aku tidak mau ikut naik,” katanya. “Listrik naik, beras naik, bensin naik, semua kena getahnya sampai ke tukang cukur segala. Aku tidak mau pelanggan aku kesal, padahal yang bikin harga naik bukan aku.”
“Siapa yang bikin naik, menurutmu?”
“Ya jelas pemerintah. Naikkan pajak, tapi hasilnya entah ke mana. Katanya buat rakyat, ujung-ujungnya dikorupsi.”
“Kamu tahu pasti dikorupsi, atau cuma dengar-dengar?”
Dia berhenti menggunting sebentar. “Kau tak lihat berita akhir-akhir ini?”
“Itu oknum, kan? Tidak semuanya.”
”Bukankah oknum itu yang menggambarkan bagaimana pemerintahan hari ini? Semua orang bilang begitu.”
”Semua orang bilang begitu bukan berarti itu benar,” kataku. “Kamu sendiri belum tentu tahu ke mana uangnya. Kamu cuma dengar dari orang yang juga dengar dari orang lain.”
“Gampang buat kau bicara begitu,” katanya, suaranya berubah, lebih tajam dari sebelumnya. “Kau pegawai negara. Kau tidak kena dampaknya langsung kalau harga-harga naik. Gajimu stabil. Aku bergantung pada lima belas ribu. Aku bergantung pada pelangganku yang penghasilannya juga pas-pasan. Aku membayangkan pelangganku kecewa kalau aku naikkan harga jasaku tapi kualitas cukurku tetap seadanya. Itu seperti aku kecewa pada pemerintah.”
“Aku tidak bilang kau salah kalau kau kesal,” kataku. “Aku cuma bilang, jangan langsung percaya semua yang dikorupsi itu pasti benar-benar dikorupsi, kalau kau sendiri tidak pernah cek datanya. Itu sama saja seperti kau menuduh anakku pergi tadi, cuma karena dia tidak ada di sampingku.”
Kalimat itu keluar lebih kasar dari yang aku rencanakan. Itu begitu saja terucap. Aku tahu aku sudah salah bicara. Kemudian, gunting berhenti total. Di cermin aku bisa lihat wajahnya cuma diam, tapi rahangnya mengeras.
“Aku cuma tanya soal anakmu,” katanya, pelan, “karena dia biasa datang bersamamu. Bukan menuduh apa-apa. Tapi kalau kau mau samakan itu dengan omongan aku soal pajak, ya terserah kau saja.”
Dia melanjutkan menggunting. Tangannya lebih cepat sekarang, kurang hati-hati, dan aku tidak berani menegurnya. Kami tidak bicara lagi sampai selesai. Aku bayar lima belas ribu, dia terima tanpa basa-basi. Aku pulang dengan perasaan yang mengganjal.
***
Dua bulan kemudian, di hari Minggu kedua seperti biasa, aku datang lagi bersama anakku. Kulihat pintu pangkas rambut itu tertutup. Gembok berkarat tergantung di pegangan pintu, seperti sudah lama tidak dibuka. Kaca etalase penuh debu, dan poster harga potong rambut yang dulu tertempel di sana sudah setengah terkelupas di ujungnya.
Aku berdiri di depannya cukup lama.
Mungkin dia bangkrut, pikirku. Dua bulan bukan waktu yang lama untuk sebuah usaha kecil tumbang, apalagi kalau harga-harga terus naik sementara dia keras kepala tidak mau menaikkan tarifnya.
Jangan-jangan dia pulang ke Garut. Dia pernah bilang, entah kapan, kalau dia berasal dari Garut dan orang-orang seperti dia biasanya punya alasan untuk pulang, cepat atau lambat. Mungkin orang tua sakit, tanah warisan, atau entahlah.
Apa dia memang sengaja tutup hari ini? Sepertinya dia masih ingat kalimat terakhirku, tentang pajak dan tentang anakku. Sepertinya, dia memilih tidak mau bertemu aku lagi di setiap minggu kedua bulan genap atau seterusnya.
Aku tidak tahu yang mana yang benar. Tidak ada satu pun dari ketiganya yang bisa kubuktikan. Sama seperti aku tidak pernah benar-benar tahu apakah anak pengemis itu jujur, apakah kakek itu benar-benar dipandang rendah karena rambut putihnya, atau apakah uang pajak itu benar-benar dikorupsi seperti kata orang-orang?
Aku hanya bisa mengarang alasan demi alasan di kepalaku, juga terpikir doa anak kecil pengemis itu.

