Bunyi yang mengais nyanyian tumbuh sebagai bagian keseharian masyarakat agraris Sunda, hadir di halaman rumah, sawah sehabis panen, dan malam-malam ritus. Kini, bunyinya diperjuangkan lewat sebuah festival: Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) Bogor 2026 bertajuk “Sangitaloka”, akan digelar pada Sabtu, 3 Oktober 2026, pukul 07.00-24.00 WIB, di Cibinong-Kabupaten Bogor. Temanya adalah “Bambu dan Bunyi Ritus”.
Walau cukup ganjil sekaligus menggetarkan ketika sebuah masyarakat harus menyelenggarakan pertemuannya kembali dengan bunyi-bunyian yang dulu tumbuh menjadi bagian dari kehidupannya sendiri: bunyi angklung, calung, karinding, suling, dan celempung kenyataannya lahir bukan hanya untuk dipertunjukkan, melainkan untuk berbicara: kepada leluhur, kepada alam, kepada sesama, kepada laku waktu itu sendiri.
Sebuah Ruang, Bukan Museum
Nama Sangitaloka berpadu dari dua kata: sangita, nyanyian atau bunyi yang bermakna, dan loka, dunia atau ruang. Maka ia berarti “ruang bunyi”. Penyelenggara, Yayasan Halimun Salaka Indonesia bersama Kementerian Kebudayaan RI dan Lembaga Setyo Langgen Budoyo, memaknainya sebagai tempat musik tradisi tak lagi diperlakukan sebagai artefak yang dipajang, melainkan dihidupkan sebagai pengalaman bersama. Yang bertemu di sana adalah generasi pewaris tradisi dan anak-anak muda yang sedang mencari jalan pulang.
Festival ini tidak berpretensi membawa musik bambu kembali ke masa ketika ia belum “dipertanyakan”. Masa itu telah lewat, dan sejarah tidak berjalan mundur. Yang ditawarkan lebih jujur: ruang baru, tempat bunyi lama boleh hidup dalam bentuk dan konteks yang baru pula.
Mengapa Bogor?
Pertanyaan ini layak diajukan. Bogor adalah satu dari sepuluh titik FMTI 2026, bersama Wonosobo, Sikka, Makassar, Kuningan, Lombok, Aceh, Padang Panjang, Pontianak, dan Bengkulu. Namun Bogor punya kedalaman naratif tersendiri. Wilayah ini selain pernah menjadi Ibu kota kerajaan Sunda, juga erat-berkaitan dengan pengembaraan Bujangga Manik, tokoh dalam naskah kuno Sunda yang menjelajahi tatar Sunda sembari mencatat lanskap spiritual dan geografisnya. Di sisi lain, komunitas pewaris musik bambu masih hidup di sini hingga hari ini.
Dalam narasi festival, Bogor menjadi simpul ingatan, tempat jalur pengembaraan lama bertemu dengan jalur regenerasi budaya masa kini.
Tiga Benang Pelestarian
Bagian paling berani dari FMTI Bogor barangkali bukan panggungnya, melainkan seminarnya. Di banyak festival, forum ilmiah hanya pelengkap yang sepi penonton dan kalah pamor dari pertunjukan. Di sini, seminar “Bambu, Ritus, dan Jejak Musik Tradisi di Bogor dan Tatar Sunda” dijadikan pilar utama. Ia digelar pagi hari di Aula Serbaguna 1 Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor.
Susunannya menyiratkan satu keyakinan: pelestarian tidak bisa berdiri di atas satu kaki. Ilham Nurwansyah dari EFEO Jakarta membaca musik bambu lewat filologi dan naskah kuno. Hudaepah dari ISBI Bandung menyoroti konservasi tradisi melalui pendidikan seni. Dody Satya Ekagustdiman, seniman dan praktisi, membawa suara langsung dari lapangan. Muhamad Alnoza dari EFEO Jakarta dan Bujangga Manik Society memandu ketiganya.
Naskah tanpa bunyi adalah arsip yang mati. Bunyi tanpa naskah kehilangan ingatannya. Keduanya tanpa praktisi hanya menjadi wacana di ruang seminar yang tak pernah turun ke tanah.
“Mempertemukan para peneliti dan praktisi dalam satu ruangan untuk membicarakan apa dan bagaimana musik tradisi di tatar Sunda adalah muara dari upaya mempertimbangkan sekaligus mengeksplorasi kembali kebudayaan itu sendiri,” kata Ketua Pelaksana.
Sikap ini tentu tidak populer secara komersial, tetapi jujur secara kultural. Tanpa memahami mengapa dan bagaimana sebuah bunyi bermakna, pelestarian hanya akan menjadi pengulangan bentuk tanpa jiwa.
Malam di Pakansari
Setelah pengetahuan dibicarakan, bunyi mendapat gilirannya. Malam harinya, pergelaran musik tradisi digelar di VVIP Barat Stadion Pakansari, Cibinong. Panggung diisi Layung Jagat, Bilik Jasinga, Angklung Gubrag, Gamelan/Seni Cibatokan, dan Saung Kalingga dari Bogor, Gamelan Ajeng dari Depok, serta Bajidoran Abot dari Bandung. Penyanyi dan pesinden Rita Tila hadir sebagai bintang tamu. Di sela acara, FMTI mengumumkan para pemenang apresiasi bagi seniman, budayawan, pewaris, dan pelestari musik tradisi.
Urutannya patut dicatat: pagi untuk berpikir, malam untuk mendengar. Pergelaran itu menjadi jawaban sekaligus pertanyaan ulang tentang pelestarian, dan tentang seberapa besar perhatian kita pada mereka yang menjaga bunyi-bunyi ini.
Pulang ke Huma Berhati
Pada akhirnya, Sangitaloka mengajukan pertanyaan yang lebih besar dari sekadar bagaimana menyelamatkan musik bambu: bagaimana sebuah masyarakat bisa terus mendengar dirinya sendiri di tengah bising zaman yang terus berubah?
Ukuran keberhasilannya sederhana. Jika festival ini membuat satu saja anak muda pulang ke kampungnya masing-masing, lalu mulai belajar membuat suling, menabuh calung, memainkan karinding, dan seterusnya, bukan karena tugas sekolah melainkan karena rasa memiliki, maka bambu telah kembali berbunyi. Bukan sebagai gema masa lalu, melainkan sebagai suara yang hidup hari ini.

