Arelia Arbo 1936
Tanggung jawab sering dibicarakan, ditagih, dan dituntut. Tiap orang punya tanggung jawabnya masing-masing, sedikit atau semampu-mampunya. Beberapa orang meyakini tanggung jawab sebagai laku dalam kehidupan sehari-hari, sebagian lain memperlakukan tanggung jawab dengan sewenang-wenang. Barangkali juga ada yang beranggapan tanggung jawab adalah cuma hal biasa, kadang-kadang tanggung jawab ditanggapi sebagai bahan kelakar teater bahwa “gue yang jawab, elu yang nanggung!”
Tanggung jawab sangat dekat di sekitar kita. Saking dekatnya kadang sulit diterapkan, malahan sering luput dari jangkauan. Barangkali karena sedemikian dekatnya sehingga tak perlu perhatian lebih, seolah-olah ia tak perlu dikenali dan dihayati lagi. Biarlah tanggung jawab bermukim di lorong-lorong sunyi. Sendiri menjalani satu jalan panjang sebagai nilai yang terlempar dari mimpi membokongi diri sejatinya.
Situasi dunia sudah berubah. Masalahnya kita terus mempersoalkan hal-hal jauh di luaran sana—yang sebetulnya berakar urat dari dalam diri sendiri. Cobalah amati para pejabat, kurang teladan bagaimana dalam hal tanggung jawab. Kalau ia berhasil menduduki tampuk kekuasaan oleh karena segolongan kaum pemodal, maka sudah sewajarnya pula ketika menjabat ia akan berlaku setia dan konsisten membuktikan tanggung jawabnya, terutama yang terkait dengan mempertahankan kekuasaannya adalah mewajarkan untuk membuka lobi-lobi jalan dan proyek donaturnya. Sehingga para pengusaha yang menyamar jadi pejabat, atau sebaliknya, paling mengerti bagaimana balas budi secara anggun. Dan kita telah menyaksikan bagaimana hutan Kalimantan dibakar demi proyek korporasi sawit. Ini merupakan bentuk tanggung jawab yang diteladani oleh para pejabat.
Berkat mengamati para pejabat yang bertanggung jawab penuh dengan menyepelekan, syukurlah Teater Lonceng “tidak main-main” tanggung jawab. Ia telah melakukan apa yang diucapkan. Dan insyallah, kalau teman-teman terus berteater, menanggapi suatu keadaan, menjalin kegiatan yang konstruktif, menolong orang lain dan mem-“back-up” sesama, terhindar dari segala perilaku destruktif plus vandalistik, atau apapun itu, itu bukan karena kepatuhan atau ketaatan sosial, bukan karena takut dihukum polisi atau negara, melainkan karena sedang menempuh kegembiraan tanggung jawab kepada Allah dan seluruh kehidupan-Nya.
Jadi ketika teman-teman Teater Lonceng, mungkin akibat kelalaian bersama atau tak sengaja, telah merusak properti pertunjukan yang dipinjam dari saya. Ia hendak memberi tahu saya masalah ini dengan hati-hati, lemah lembut, lirih sekali, dan penuh nada perasaan bersalah. Ia seperti sudah menduga ekspresi seperti apa yang bakal saya tampakkan, namun justru tidak saya wujudkan. Karena ia mengetahuinya bahwa saya juga tidak pernah main-main soal artistik beserta disiplinnya. Ini teater! Jangan bodoh! Teater tidak menormalisasi kesalahan akibat pergaulan dengan lalai sekecil apapun!
Ia tahu bahwa marah-marah adalah semacam bahasa kasih sayang dalam proses berteater, tetapi jangan lantas mengartikan kalau tidak marah-marah berarti tidak sayang. Tetapi malam itu setelah gladi resik, saya tidak menyampaikan sesuatu yang seharusnya itu saya sampaikan keras-keras, malahan justru yang keluar sama sekali bukan sesederhana kalimat batin saya berucap: jangan lupakan “tanggung jawab” atas properti ini, tapi juga jangan lupakan tanggung jawab untuk berlaku secara optimal dan bermain sungguh-sungguh menikmati pertunjukan yang sudah mereka siapkan.
Jangan dikira artistik panggung seolah-olah tidak bernyawa, meskipun ia benda mati. Ia merupakan bagian paling vital dari dunia panggung sejauh itu memang dibutuhkan. Ia membantu kita merancang pertunjukan. Ia menemani kita dari awal hingga akhir pementasan. Barangkali dalam dunia teater, wajarlah apabila kita meminta izin dan bilang terima kasih kepada segenap artistik yang telah membersamai dalam pertunjukan. Karena meskipun ia bekerja dengan diam, ia punya bahasa yang hanya dimengerti oleh manusia sebagai tanda, simbol, maupun perlambangan. Ia bukan tempelan yang tak punya motif kehadiran. Ia bukan ornamen yang keindahannya tak berarti apa-apa. Ia bukan hiasan panggung yang panoramanya tak berimplikasi pada kerja-kerja pemanggungan.
Teater adalah penampungan segala sesuatu yang tidak berarti menjadi punya arti, punya daya, dan punya peningkatan terhadap makna hidup ini. Teater tangannya selalu terbuka untuk menampung orang-orang yang hidupnya gagal seperti saya, mungkin juga teman-teman Teater Lonceng. Teater selalu membukakan dirinya untuk menerima siapa saja yang dalam hidupnya sering merasa kalah dan ditinggalkan oleh kezaliman kekuasaan. Teater kalau diteruskan dalam pandangan saya akan menjadi sangat primitif, kuno, dan terbelakang. Tetapi teater, barangkali, kumpulan orang-orang biasa yang hidupnya tidak gampang terbuai oleh konversi angka-angka maupun tergoda oleh penaksiran secara nominal.
Bagi orang-orang biasa yang tabah menjaga lilin-lilin kecil agar api pertunjukan tetap menyala, barangkali tanggung jawab teater adalah untuk setia sebagai manusia.
Dari seluruh pertunjukan Teater Lonceng selalu tidak puas. Siapa yang pernah menonton beberapa pertunjukannya, akan tahu mereka selalu keluar dengan usaha-usaha baru. Meskipun pada tiap usaha yang baru itu selain menawarkan percobaan pemanggungan, tampaknya ia belum memberikan harapan, atau barangkali juga belum menunjukkan, bahwa dari seluruh eksperimen pemanggungan itu ternyata belum ada satupun yang dapat dikuasainya. Berulang tanda telah memberi isyarat bahwa ia memang tidak puas, lalu mencari-cari lagi, seolah-olah berkata: “ini bukan mode pemanggungan kami.”
Setidaknya, Teater Lonceng sudah menunjukkan tidak berhenti mencari dan selalu meraba-raba peneraan jiwa (yang khas, klik, plus klop menurut ukurannya sendiri) pada setiap pemanggungan. Ia berusaha menorehkan sesuatu sambil meragukan nilai-nilai yang sudah mapan. Dan kelak kalau ia menempuh gagasan, menjalani visi, melakoni sentrum, menghayati sentra, dan membatini “jiwa pemanggungan” sepenuh hati (kalau belum setajam-segetir-selantip Rendra, misalnya), maka dengan demikian otomatis ia akan tersiksa dan kehilangan kegembiraan apabila kehilangan kepekaan untuk bertanggung jawab kepada isi hati orang-orang kecil dan orang-orang biasa. Karena ia percaya bahwa teater tidaklah nun jauh di sana, melainkan di kedalaman hati manusianya.
Saya menulis ini dengan segenap perasaan apresiasi saya terhadap Teater Lonceng, terutama juga karena ia telah teruji dalam peneraan satu nilai. Ia telah menunaikan tanggung jawabnya kepada saya, itu berarti sebagai kelompok teater, atau sekumpulan orang-orang biasa, ia sedang menempuh kegembiraan tanggung jawab. Tanggung jawab ini merupakan “jurus jalan panjang” dari akhlak, laku manusia. Ini pulalah yang membuat kita kelak bertanggung jawab untuk upgrade diri sendiri, sebab tanggung jawab yang sepenuhnya hanya kepada Tuhan seru sekalian alam.
Saya, bersama teman-teman Teater Lonceng, cuma orang-orang biasa, seperti yang dikatakan Cak Nun, bahwa “Hidupku sangat ringan. Sebab lingkup tanggung jawabku sangat sempit dan sedikit. Aku tidak terikat tanggung jawab hal-hal kenegaraan, pemerintahan, birokrasi, pembangunan, ilmu dan pengetahuan serta kaya miskinnya bangsa Indonesia. Aku tidak mas’ul hal iman, taqwa, moral, karakter, baik-buruknya manusia, bangsa Indonesia dan masyarakat dunia. Aku juga merdeka dari tanggung jawab atas akibat buruk dari teknologi, kebudayaan dan peradaban ummat manusia. Sebab aku manusia biasa, rakyat kecil, dan tidak dimandati apa-apa oleh kehidupan di dunia.”
Teruslah menjelajahi “panggung yang dibuat oleh perut yang kelaparan” sampai rasa lapar akan panggung memanggil bukan dengan nada keharusan, bukan dengan menyerukan main buat-buatan, tapi demi panggilan kehormatan manusia.
Pamulang, 27 Oktober 2026

