Penelusuran Esensi Ketubuhan & Serpihan Fenomena Lewat Gamelan Ajeng Secara Sek(s)ama

Penelusuran Esensi Ketubuhan & Serpihan Fenomena Lewat Gamelan Ajeng Secara Sek(s)ama

dok. Handhyka Permana

Perjalanan penelusuran sudah dapat dialami sejak pertunjukkan utama belum dimulai. Nuansa sub-urban yang kontemporer dapat dirasakan lewat nongkrong di ruang tunggu Gudskul Ekosistem. Proses diskusi kreatif pada sore hari yang ngalor ngidul dengan sang internal observer, Lawe Samagaha, menjadi semacam suatu narasi pembuka pada awal pertunjukkan. Narasi yang dilisankan tersebut menjadi asupan apriori, dengan lugas menceritakan perjuangan Kumpulan Bunyi Sunya dalam mengeksplorasi bunyi dan konsep pertunjukkan yang merepresentasikan kebudayaan kawasan sub-urban, yaitu Citayam melalui sintesis dari berbagai serpihan fenomena dan sudut pandang. Keutuhan narasi dan kegiatan ngalor ngidul semakin utuh dengan datangnya rekan-rekan seniman lain yang menambah intensitas hiruk-pikuk, seakan membentuk kelompok-kelompok sub-urban yang terdiferensiasi pada ruang kolektif seni kontemporer pada waktu itu.

Pertunjukan Sek(s)ama Vol.2|Dok. Handhyka Permana

Menjelang waktu pertunjukan, serpihan fenomena selanjutnya disuguhkan melalui suatu perpaduan instalasi seni di area registrasi. “Ini Citayam banget”, ucap seorang teman yang akrab dengan apa yang sedang divisualisasikan oleh instalasi tersebut sambil menatap serokan ikan. Makna tersirat seolah menjadi tersurat di kepala para calon audiens yang masih menunggu registrasi untuk diperbolehkan masuk: gong, kromong, dan instrumen lainnya beserta partitur yang disusun menyerupai tubuh manusia yang sedang rebahan dan ditaburi bunga kembang, ditemani dengan audio yang memutarkan percakapan khas masyarakat Betawi pinggiran: serokan ikan yang menampung duit receh, serta sepatu roda buluk yang biasa dipakai bermain di daerah pinggiran.

Instalasi tersebut “memaksa & mengaduk-aduk” pemahaman aposteriori para calon audiens terhadap serpihan fenomena di Citayam. Kesadaran dan panca-indera mereka “ditendang” untuk menerima kecamuk dan peleburan dari serpihan yang kuat mengisyaratkan tentang isu kebertubuhan, sosial, kultur, moral, religi, bahkan kematian.

Pengalaman menikmati instalasi statis itu tidak sebentar, tetapi juga tidak terlalu lama. Pintu ruang pertunjukan sudah dibuka, calon audiens mulai bergerak masuk untuk menjadi audiens seutuhnya dan menempati posisi sesuai kehendak bokong masing-masing. Panca indera mereka langsung dibenturkan lagi dengan proyeksi visual joged tiktok & musik jedag-jedug, serta gerak tubuh performer secara bersamaan.

Gerak tubuh disajikan secara berurutan; raga, irama, serta rasa-nya sangat terobjektifikasi dengan kegemaran beberapa masyarakat pinggiran yang secara sukarela melacurkan “persepsi tubuh” & mengadaptasi berbagai kebiasaan & tren yang dianggap sebagai “wajah kemajuan zaman”, mengisyaratkan serpihan yang sangat edgy.

Rangkaian tersebut semakin lama semakin membludak dan mendistorsi kesadaran (conciousness) & “persepsi tubuh” para audiens secara perlahan, seolah menghipnotis mereka. Alur rangkaian musik jedag-jedug tersebut di arahkan kepada klimaks sampai mencapai titik jenuh. Setelah mencapai titik jenuh, semuanya perlahan memudar, hingga masuk ke titik hening; gelap, menuju ke serpihan selanjutnya yang dibuka dengan satu cahaya secara perlahan dan narasi pembuka yang digaungkan.

Kesadaran para audiens kembali diajak bergerak menuju serpihan yang baru. Kostum-kostum tradisi yang tadinya hanya sebagai properti panggung yang digantung di jemuran, sudah dilucuti dan berada bersama dengan tubuh para pembunyi Gamelan Ajeng. Kostum tersebut menjadi saksi bisu bagaimana para pembunyi membaca notasi, mengontraskan bunyi dan laras Gamelan Ajeng dalam bentuk bebas, serta mengeksplorasi getaran, resonansi, dan timbre sesuai persepsi tubuh mereka masing-masing.

Penabuh dan peniup begitu lihai dan melebur menjadi satu dengan tabuhan dan tiupannya, merespon bunyi-bunyian satu sama lain. Alat-alat elektronik penangkap bunyi juga tak luput menjadi medium untuk menghasilkan bunyi yang sesuai kehendak si pengguna untuk memperkeruh pusat pengalaman audiens.

Proses empiris ini disertai oleh perubahan posisi para pemain yang bergerak dinamis menuju arah tertentu. Kedinamisan ini seakan mengantarkan pengalaman auditori dan visual audiens menuju proses pemaknaan; entah itu menggambarkan pergerakan dinamis untuk bertahan hidup dari eksistensi Gamelan Ajeng di tengah-tengah masyarakat sub-urban ataupun pergerakan dinamis dan kondisi masyarakat sub-urban secara fisik dan kulturnya di daerah pinggiran. Siapapun memiliki hak bebas dalam penggalian dan penginterpretasian makna ini.

Proses penggalian makna dilanjutkan oleh cahaya yang meredup dan menampilkan narasi melalui video monolog oleh seorang pelaku kesenian Betawi yang masih bertahan di pinggiran Jakarta. Ungkapan mengenai budaya warisan leluhurnya, perjuangan masyarakat dan pelaku kesenian Betawi di daerah pinggiran beserta dokumenternya, serta konteks sosial mewarnai narasi tersebut. Kesan pilu lara dan energi untuk pengupayaan ditekankan sebagai serpihan yang menegaskan usaha negosiasi pelaku seni tradisi dalam melawan status quo.

Narasi tersebut dilanjutkan dengan perkawinan antara eksplorasi bunyi electro-acoustic dan gerak tubuh oleh dua orang performer. Konsep yang dicanangkan oleh komposer, dramaturg, dan penyaji dilukiskan melalui liuk gerak bunyi dan gerak tubuh yang abstrak, membentuk suatu simpul atau ikatan. Perpaduan dan liukan itu semakin ganas dan berusaha mencumbu satu sama lain, seolah meromantisasi fenomena sosial-budaya yang semakin chaos tetapi merangkak untuk meleburkan diri.

Perkawinan bebunyian dan liukan tersebut dilanjutkan oleh serpihan akhir di mana instalasi seni yang bercokok di area registrasi bergerak masuk. Instalasi tersebut “mengusir” audiens untuk menyingkir sedikit, menyisakan ruang untuk jalur masuk, semakin menegaskan sikap mereka untuk mendobrak kondisi status quo yang ada pada masyarakat, tetapi kemudian ditutup lagi dengan rapi oleh barisan audiens yang menyiratkan tentang penjara status quo pada realita masyarakat. Estetika kematian di tengah-tengah kebisingan dan keramaian dilantunkan secara bersama-sama pada kromong Gamelan Ajeng yang berbaring di ranjang besi. Kemudian, “tubuh” Kromong Gamelan Ajeng dipisahkan, dipadukan dengan tiupan, lantunan Adzan melalui pengeras suara, serta gema suara elektronik untuk disuguhkan kepada audiens secara personal (lewat instrumen Kromong yang dibawa memutar dan menyebar oleh para pembunyi) dan kolektif.

Ketika semuanya memudar dan berhenti sejenak, disambut tepuk tangan para audiens dan sikap hormat dari para penyaji, serpihan-serpihan itu telah genap menjadi suatu puzzle utuh yang berpigurakan kesenian dan kebudayaan, mengakhiri ironi yang terjadi kurang lebih satu jam.

Pertunjukan Sek(s)ama Vol.2|Dok. Off Stage

Pertunjukkan “Sek(s)ama Vol.2: Gamelan Ajeng dalam Pembacaan Transformasi Budaya Kawasan Suburban” seolah merupakan “celoteh” yang memantik perenungan dan pertanyaan mendalam untuk kita.

Apa yang sebenarnya tereduksi pada kesadaran (conciousness) dan persepsi tubuh serta pikiran kita saat menerima serpihan-serpihan fenomena yang terbagi antara sisi yang semakin mengecil dan sisi yang semakin berkembang? Apa yang tereduksi pada pengalaman inderawi masyarakat Citayam, khususnya etnis Betawi, di kawasan sub-urban yang dihimpit oleh keheningan pedesaan dan hiruk pikuk perkotaan? Apakah akan muncul empati pada kesadaran individu maupun kolektif yang terdiferensiasi? Atau mungkin peleburan, bahkan pemaksaan persepsi kebertubuhan yang dikalibrasi oleh modernisasi dan diperkosa kapitalisme?

Boleh jadi bunyi-bunyian tersebut menjadi semacam peringatan untuk kita, atau justru malah kita dipaksa menjadi “kutu loncat” yang hinggap dari serpihan satu ke serpihan lainnya, dipaksa untuk menerima dan memahami “luka” akibat serpihan-serpihan tersebut? Boleh jadi kita maupun masyarakat Citayam yang eksistensi dan esensinya malah tereduksi di tengah-tengah kumpulan fenomena yang berlalu-lalang begitu cepat dalam ruang dan waktu. Apakah masyarakat Citayam dan kita justru secara tidak sadar sukarela “melacurkan” kesadaran dan persepsi tubuh serta pikiran kita pada degradasi konteks yang terjadi di sekitar kita?

Perlu kita tinjau esensinya dengan teliti: perpaduan bebunyian dan gerak tubuh yang bergerak dinamis tersebut apakah hanya menjadi “letupan temporer” yang memanjakan persepsi inderawi dengan dalil kreativitas semu, atau benar-benar menjadi upaya negosiasi para seniman untuk mengangkat dan memberikan kritik fenomena yang tajam pada kesadaran dan persepsi tubuh maupun akal budi masyarakat. Jelasnya, biarkan “pigura keutuhan” pertunjukkan Gamelan Ajeng itu menjadi semu, pecahkan kembali pada esensinya sebagai serpihan untuk ditelusuri dan dimaknai secara bebas dan kritis lewat ruang-ruang individu dan kolektif secara sek(s)ama.

Pengalaman dan perjuangan masyarakat Citayam biarlah menjadi hak dan harta eksklusif mereka yang bisa kita rasakan bersama. Apresiasi besar untuk para seniman yang terlibat dalam pertunjukan Sek(s)ama Vol.2 oleh Kumpulan Bunyi Sunya.

Tinggalkan komentar