Manusia Jakarta Tidak Pernah Melamun

Manusia Jakarta Tidak Pernah Melamun

dok. handhyka Permana | jakarta biennale 2026

Belakangan ini saya curiga jalanan Jakarta bukan lagi sekadar ruang perpindahan, melainkan ruang konsumsi: tempat orang menghabiskan hal-hal lain selain jarak, terutama perhatian dan waktunya sendiri. 

Kecurigaan itu muncul bukan dari kemacetan atau bunyi klakson, melainkan dari satu peristiwa kecil di jalur Jakarta-Bogor yang saya lalui. Dalam beberapa kesempatan yang berbeda, saya mendapati pengendara di depan saya menaruh ponselnya di phone holder roda duanya, lalu menonton podcast. Bukan sekadar mendengar, tetapi benar-benar menonton. Matanya turun sesekali mencuri pandang ke layar handphone, memastikan keseruan siniar itu tidak terlewat. 

Pertanyaan saya cukup sederhana: kenapa harus menonton sambil berkendara? Kalau hanya untuk “merasa ditemani”, lewat suara harusnya sudah jadi opsi paling ideal. Lagi pula, ya, ini kan jalanan. Banyak hal buruk bisa terjadi yang sekaligus dapat membahayakan orang lain maupun diri sendiri.

Di sisi lain, yang lebih mengganggu daripada perilaku menonton itu adalah sikap pengendara lain. Tidak ada klakson, tidak ada tatapan heran. Seolah menonton di atas motor sudah jadi kebiasaan yang wajar, bahkan mungkin dianggap cerdik karena berhasil “memanfaatkan waktu”. Pemakluman inilah yang membuat saya sulit berhenti memikirkannya, sampai akhirnya saya melamunkan kejadian itu cukup lama. 

Dalam pengalaman saya mengendarai motor dari Bogor ke Jakarta atau sebaliknya, perjalanan itu menjadi salah satu ruang yang paling tenang secara batin. Saya menemukan jeda kecil yang memungkinkan memikirkan hal-hal yang belum selesai atau bahkan tidak memikirkan apa-apa sama sekali. 

Melamun di sini bukan berarti lepas dari jalan. Fokus pada keselamatan tetap nomor satu, sementara yang saya maksud dengan jeda adalah momen ketika seseorang tidak sedang dikejar target, tidak dituntut produktif, dan tidak diminta merespons apa pun di luar dirinya.  

dok. handhyka Permana

Berbulan-bulan saya mendiami jakarta, sepertinya jeda-jeda yang saya maksud itu tampak makin sulit ditemukan, karena di kota besar ini setiap celah harus diisi dan setiap detik harus dimanfaatkan. Bahkan dalam aktivitas yang secara alami sudah menyita perhatian dan fokus, orang-orang masih merasa perlu menambahkan rutinitas tambahan agar waktunya tidak terasa kosong, seolah-olah kekosongan merupakan sesuatu yang harus dihindari dan bukan sesuatu yang bisa dibiarkan terjadi begitu saja.

Saya sendiri tidak sepenuhnya dibentuk oleh kota ini. Saya datang dari pelosok Kabupaten Bogor yang irama kehidupan sosialnya tidak selalu menuntut untuk diisi. Di kampung saya, diam tidak pernah terasa sebagai suatu masalah dan waktu bisa lewat tanpa harus dipenuhi sesuatu yang dianggap berguna. Orang bisa duduk di pinggir jalan dalam waktu yang lama sekadar melihat lalu-lalang kendaraan atau orang lewat di teras rumah, atau membiarkan pikirannya berjalan tanpa arah dan tanpa merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa. Saya sendiri terbiasa melamun panjang di teras rumah pada sore hari dengan ditemani playlist Tiga Pagi, Kopi, dan kacamata hitam untuk memandang langit. 

Karena itu, yang saya tangkap dari peristiwa di jalanan Jakarta ini bukan hanya soal membahayakan bagi diri sendiri dan orang lain, tetapi soal perubahan cara manusia berhubungan dengan waktu dan kekosongan. Momen dalam sebuah perjalanan tidak dimanfaatkan sebagai jeda, melainkan sebagai extra time untuk menyelesaikan persoalan hidup yang sama-sama kita tahu bahwa itu tidak akan selesai.

Perubahan ini tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh cara kota mengatur ritme warganya. Di Jakarta (terutama bagi kelas pekerja), waktu jarang hadir sebagai sesuatu yang terasa longgar ia selalu sempit, terdesak, dan tidak pernah cukup. Saya sendiri mengalami itu. Berangkat jam 6 pagi, berkendara selama 3 jam, bekerja – makan siang – pulang jam 5 sore, berkendara pulang, dan tidur. Dalam pembagian waktu itu, sebuah perjalanan menjadi satu-satunya waktu yang bisa saya klaim sebagai milik sendiri.

Waktu dan jalanan yang sama ternyata dimaknai berbeda. Bagi saya, perjalanan adalah ruang untuk melamun tetapi bagi yang lain digunakan untuk menonton podcast, mungkin itu satu-satunya celah bagi mereka untuk menikmati sesuatu di tengah hari yang padat. Saya tidak sedang menyalahkan, karena kita sama-sama memperebutkan kehidupan di waktu yang sempit. Hanya saja aktivitas itu, berpengaruh pada kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam satu aktivitas perlahan akan menghilang dan digantikan dengan kebiasaan baru yakni membagi perhatian ke banyak hal sekaligus. 

Melamun atau berdiam diri kemudian dianggap menjadi satu aktivitas yang tidak berguna karena tidak menghasilkan apa-apa, tidak bisa diukur, tidak bisa dimonetisasi, dan tidak bisa dijadikan alat untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, secara dogmatis dalam logika kota yang menuntut efisiensi dan produktivitas, kondisi seperti itu menjadi tidak relevan dan perlahan disingkirkan dari kebiasaan sehari-hari. Dampaknya, orang tidak lagi mencari pengalaman untuk merasa lebih hidup, melainkan mencari distraksi agar hidup tidak terasa terlalu berat. Menonton podcast atau berselancar di sosmed menjadi cara bertahan yang paling mudah diakses, karena ia cukup untuk meninabobokan kelelahan tanpa harus benar-benar menyelesaikannya. 

Tentu saja, yang saya lihat hanyalah beberapa kejadian di satu jalur. Saya tidak bisa mengklaim itu mewakili semua orang. Tapi kejadian kecil itu terasa seperti gejala dari sesuatu yang lebih besar, yang sudah lama dibicarakan orang. Byung-Chul Han dalam Masyarakat Kelelahan menggambarkan masyarakat yang menuntut orang terus berprestasi sampai mereka mengeksploitasi dirinya sendiri, selain itu ia menyampaikan bahwa kebosanan yang dalam justru penting bagi pikiran untuk pulih. 

Padahal cara itu hanya menunda dan mengalihkan kelelahan ke tempat lain. Dalam jangka panjang, kita makin jauh dari kemampuan memahami diri sendiri, sebab tidak pernah ada ruang cukup untuk benar-benar diam dan memproses apa yang sedang dialami. Semua berjalan terus tanpa jeda yang memadai untuk kita memberi makna pada apa yang telah dilalui.

dok. handhyka Permana

Di titik ini, gagasan bahwa manusia Jakarta perlu diajari cara melamun bukanlah sesuatu yang berlebihan, melainkan cukup fundamental. Lalu bagaimana cara belajarnya? Terima dan nikmati rasa gelisah yang datang, biarkan hal tersebut muncul tanpa dikejar, dicatat, dan dikontenkan. Bagi yang sedang berkendara, latihannya lebih sederhana, yaitu menyimpan ponsel dan membiarkan pikiran tenang selagi mata tetap fokus di jalan.

Melamun atau berdiam diri tidak sama dengan membuang waktu secara cuma-cuma. Ia adalah kesempatan ketika pikiran tidak diarahkan oleh algoritma dan target pekerjaan. Kita bisa memikirkan seseorang yang sudah lama tidak ditemui, mengingat percakapan-percakapan yang belum selesai, atau membiarkan pikiran bergerak tanpa tujuan. Sebagai manusia, agaknya kita jangan sampai lupa bahwa ada waktu yang nilainya justru terletak pada kenyataan bahwa ia tidak digunakan untuk apa-apa. 

Tentu ini bukan soal kemauan individu semata. Orang yang menghabiskan enam jam sehari di jalan, dengan gaji yang pas-pasan dan jam kerja yang kaku, tidak bisa disalahkan karena memeras setiap menitnya. Bayangan akan kota yang membuat perjalanan tiga jam terasa normal, transportasi yang lebih layak, dan jam kerja yang lebih manusiawi adalah jawaban utama dari yang saya resahkan. Tapi sambil menunggu itu terjadi (entah kapan), kemampuan untuk diam sebentar masih bisa dilatih dan itu salah satu hal kecil yang masih bisa kita rebut dan menangkan. 

Jika bahkan di perjalanan kita tidak lagi bisa melamun, maka yang hilang bukan sekadar kebiasaan kecil, melainkan kemampuan dasar untuk memiliki jeda yang benar-benar bebas dari tuntutan. Tanpa kemampuan itu, waktu tidak lagi menjadi sesuatu yang bisa dimiliki, melainkan sesuatu yang harus terus dikejar dan diisi tanpa pernah benar-benar kita capai.

Tinggalkan komentar