Di Sukajaya dan Puisi Lainnya

Di Sukajaya dan Puisi Lainnya

Ruth M. Barnes (1937)

Mak Nati

Sulit membicarakan tempat semacam ini
hanya dengan bahasa kepemilikan,
Mak Nati tubuhnya pagi itu menggigil
tetapi ia tetap membolak-balik tanah,
menjadi pencerita ulung
untuk sayurannya, ia menciptakan kehidupan
di atas tanah pertiwi meski sang ibu bumi
badannya terampas oleh para centeng.

Mak Nati menyingkap bibir langit;
lihat dan kenangkanlah tahun-tahun saat masih muda
harga dari seseorang adalah sejauh apa
ia bisa memberikan hidupnya pada alam raya
dan melepaskan surga atau neraka
karena tugas telah menjadi keyakinan
meski tanah dan air hancur lebur.
alarm pagi kita tak pernah berbeda
meski bentuknya kini besar dan tajam.
karena tugas telah menjadi keyakinan,
ibadah kita pagi ini adalah menanam,
tersenyum, dan memberi ke sesama.
kenangkanlah juga, bahwa
kita akan selalu menentang pembagian
walau tangis dan pegal-pegal berdatangan.

Bogor, 2026

Bergembiralah Warga dengan Segala Warna

Temannya Mak Nati menangis
ia telah kehilangan istrinya
tanah subur bernyanyi sedih
karena telah kehilangan ibu,
menyebarlah jiwanya yang berani
di lingkup kehidupan senasib-sepenanggungan.

apa mungkin sore masih datang
untuk menyempurnakan hari?
saat itu menjadi sabtu, pesta rakyat
mengubah folk dan puisi menjadi kemarahan.
bergembiralah warga dengan segala warna
pakaian serta tulisan-tulisan yang menyatakan sikap.
di malam itu, tuhanku
berikan kami waktu yang panjang
berikan kami waktu yang p a n j a n g
untuk menentang uang
& memakmurkan suatu surga yang Kau beri
di Sukajaya.

Bogor, 2026

Pak Adoh

ia lelaki tua
berjingkrak di atas bumi
yang telah membesarkan
hidup dan keluarganya

ia lelaki tua
bernyanyi dan kadang berteriak
di barisan depan

ia lelaki tua
memegang petasan
lalu berjoget bersama yang lain

ia lelaki tua
dan ia tetap
mesti dihitung sebagai
suatu sinyal perlawanan.

Bogor, 2026

Tinggalkan komentar