Paul Gauguin (1848-1903)
Aku sudah memutuskan untuk berhenti berjudi, mabuk-mabukan, dan tentu juga cimeng. Tidak mudah memang. Kupikir, ini akan membutuhkan waktu yang panjang bahkan sampai ujung hayatku. Aku bukan pengecut yang bisa berhenti dari segalanya sekaligus dalam satu malam seperti orang-orang di film yang tiba-tiba melihat cahaya dan menangis di kamar mandi. Waktu awal-awal menjauh dari hal-hal itu, diriku merasakan siksaan yang dahsyat. Rasa kangen dan candu sempat membakar kepala dan membuat dadaku sesak. Tapi aku tak mau membikin beberapa bulan ini jadi sia-sia. Terutama, aku tak mau membuang-buang waktu pada hal yang tidak serius dan terkesan main-main. Keputusanku ini sudah mutlak dan aku harus mematuhinya.
“Jadi kau mau bertobat?” kata Roni dari balik telepon genggam.
” Ee… mungkin. Entahlah.”
Jawabanku itu dianggap masih memiliki keraguan oleh Roni. Dia sangat mengerti dengan hanya mendengar jawabanku. Dia langsung tahu bahwa masih ada satu hal yang mengganjal di hatiku. Sebagai teman yang sudah bersama hampir dua puluh tahun dari semenjak kuliah, dia sepertinya lebih memahami diriku ketimbang orang tuaku sendiri. Tak heran.
”Satu hal yang belum pernah kau lakukan di dunia malam: tidur dengan perempuan!” kata Roni, sepertinya sambil menghembuskan rokoknya. ”Itu yang membuatmu ragu?” lanjutnya kemudian tertawa keras sekali.
Aku terdiam seperti pengecut yang baru saja ketahuan menguntit seorang perempuan cantik. Roni tanpa ragu meledekku dengan mengatakan bahwa tidur dengan perempuan adalah satu-satunya kenikmatan yang belum pernah kurasakan. Jujur saja, aku bahkan tidak yakin bisa membedakan mana yang lebih nikmat antara itu dan menang withdraw tiga kali beruntun.
Mungkin benar kata Roni bahwa aku terlalu pengecut untuk melakukannya, bahkan dengan perempuan sewaan. Tapi tak mungkin aku katakan hal itu pada Roni. Jadi, kubilang saja kalau aku terlalu takut untuk melakukannya. Berita dan kabar di media tentang penyebaran HIV di kota ini cukup mengurungkan niat dan mengubur hasratku dalam-dalam. Belum lagi komentar-komentar netizen yang mengutuk perbuatan zina dan menyebut HIV sebagai azabnya, seperti merekalah yang mengatur dosa di dunia ini. Sampai akhirnya, belum ada yang bisa meyakinkanku dan memberi jalan untukku ke arah sana.
”Tapi kau harus coba sekali saja sebelum meninggalkan semuanya.” katanya seperti sedang merayu. ”Aku kenal seorang perempuan dari aplikasi. Dia bersih, aman, dan cantik. Cuma…”
”Cuma apa?” kataku.
”Kau penasaran?” Roni tertawa sangat keras seakan dia telah berhasil memecahkan batu yang besar dan sangat keras. Setelah diam beberapa detik tanpa percakapan karena aku cukup kesal padanya, dia akhirnya lanjutkan perkataannya. ”Cuma dia agak ’mahal’”
”Kau meragukan keuanganku? Kau boleh merendahkanku di hal lain, kecuali soal harta.”
”Aku tahu. Sepertinya uang bukan masalah buatmu. Kau tahu, mahal yang kumaksud bukan hanya soal biayanya, tapi juga soal waktu. Orang-orang bilang hanya lelaki dengan keberuntungan tertentu yang bisa bertemu dan bercinta dengan perempuan itu.”
Aku tertawa meski kutahu bahwa itu sama sekali bukan lelucon. Roni melanjutkan bahwa dia bukan jual mahal dengan cara biasa, tapi karena benar-benar misterius, seperti konser band indie yang tiketnya cuma dijual lewat DM Instagram dan kau harus punya orang dalam buat dapat tiketnya. Dia pun bilang bahwa kalau pun berhasil, waktunya cuma satu jam. Titik. Tidak bisa diperpanjang meski kau bayar dua kali lipat, tiga kali lipat, atau puluhan kali lipat. “Satu jam itu aturan mati,” kata Roni. “Konon dia pernah menolak orang yang siap bayar sepuluh juta buat tambah lima belas menit.”
”Menurutmu, setelah melakukannya, aku akan tobat dengan tenang dan perasaan puas?”
“Iya, habis itu kau tobat.” Roni menirukan nada pendakwah kondang yang sering muncul di youtube dan televisi. Entah serius entah mengejek, aku tidak pernah bisa membedakan itu darinya.
Aku jadi teringat Ustaz Rojali. Dulu dia sering datang ke rumah, waktu bapak-ibuku masih hidup, mengajari mereka soal tobat sambil minum teh yang selalu diseduh terlalu manis. Bapak-ibuku juga berencana tobat. Sungguh rencana yang, seperti kebanyakan rencana orang kaya, selalu ditunda dengan kata-kata “setelah proyek ini selesai” atau “aku akan bersungguh-sungguh besok”. Mereka akhirnya tobat dengan cara paling final: meninggal berdua dalam kecelakaan mobil, tiga tahun lalu, bahkan sebelum sempat menyelesaikan hapalan solat.
Aku sendiri, sejak kecil, tidak pernah benar-benar diajari agama dengan serius. Yang kuingat cuma potongan-potongan ayat yang dihafal setengah-setengah untuk tugas pelajaran agama. Ketika dewasa, yang kuingat hanya bau teh manis Ustaz Rojali yang entah kenapa masih menempel di ingatanku lebih kuat daripada isi ceramahnya.
***
Tak lama, keberuntungan itu datang. Roni pun tak menduganya. Aku bertemu perempuan itu di sebuah hotel yang lobinya terlalu remang untuk tengah malam. Nama perempuan itu, ah, sudahlah, tidak penting. Dia sendiri bilang nama itu bukan nama aslinya dan kadang menggantinya setiap bertemu dengan lelaki yang berbeda.
Kami duduk di tepi ranjang, dan alih-alih langsung ke intinya, kami malah mengobrol. Tentang hidupnya yang, katanya, jauh lebih teratur dari yang orang kira. Aku baru tahu bahwa dia bahkan punya jadwal olahraga, selalu bangun pagi, dan makanan sehat agar tidak terkena diabetes saat tua nanti, katanya. Kami membicarakan tentang persoalan politik, dan yang cukup mengagetkan, dia begitu paham kondisi perekonomian negara.
”Itu berpengaruh pada konsumenku. Aku harus memutuskan tarifku akan tetap, naik, atau bahkan turun, sesuai dengan daya beli masyarakat.” dia tersenyum sambil meminum segelas whiskey yang sedari tadi dipegangnya.
”Kau menganggap hal ini, tubuhmu ini, sebagai bisnis?”
Dia menyodorkan segelas kepadaku. Aku ragu, akankah aku bilang bahwa aku sudah berhenti minum alkohol. Tapi aku akan terlihat makin pengecut dan payah. Kupikir, malam inilah klimaksnya. Mungkin ini yang dinamakan orang-orang sebagai malam terakhir sebelum seberkas cahaya muncul dan membias di antara embun-embun pagi, walau aku kadang tak percaya.
”Kalau bukan karena uang, apa lagi? Bukankah orang-orang bilang tak ada yang namanya pembayaran menggunakan kata ’terima kasih’”?
Akhirnya kuminum segelas whiskey itu. Kami mulai mengobrol kesana kemari. Setelah kuperhatikan beberapa menit ini, sebelum dia meminum whiskey itu, dia selalu berkomat-kamit. Entah apa yang dikatakannya, aku tak berani tanya. Hingga dia sendiri bilang bahwa dia percaya kalau whiskey itu berarti “kunci harapan”. Makanya, sebelum meminumnya, dia berusaha mengucapkan berbagai keinginan dan harapannya.
“Cobalah,” katanya cukup memaksa. Aku ingin sekali mengatakan bahwa setelah malam ini, aku ingin bertobat. Aku tak tahu hukumnya berdoa sambil minum alkohol, tapi aku tahu bahwa itu sepertinya tak pantas.“Ayo. Katakan apa yang kau inginkan sebelum meminumnya.”
Aku menatap wajahnya yang benar-benar cantik. Apakah aku menyukainya atau tidak, itu tak kukhawatirkan. Hanya saja aku sangat menyayangkan. Dengan kecantikannya dia pasti bisa dengan mudah menggaet lelaki kaya, tampan, dan menikahinya. Hidupnya mungkin akan lebih baik dari ini. Ketika dia balik menatapku, ada yang aneh dalam dadaku.
Kuletakkan gelas berisi whiskey itu. Kulihat ada segurat kecewa di wajahnya. Aku tak peduli, dan segera menuju arah jendela yang terbuka. Belum sempat kunyalakan sebatang rokok, dia kembali berbicara.
”Ah, aku tahu. Kau pasti takkan menolak ini.” dia menyodorkan bungkus rokok berisi beberapa batang cimeng. ”Kata temanmu, kau paling doyan ini. Sengaja, kumasukkan ini sebagai hospitality-mu karena kau tak mungkin mengeluh soal biayanya, apalagi menawarnya.”
Aku benar-benar tergoda dengan berbekal bahwa ini adalah malam terakhirku, dan besok akan kumulai kehidupan baru yang bersih. Kami mulai menghisap cimeng itu dan melayang menuju tak terhingga. Dunia ini berasa seperti hanya berisi kebahagiaan. Kami tertawa bercerita hal-hal kecil dan remeh. Kamar itu seketika menjadi lapangan yang luas yang bisa membuat kami berlari-lari, berguling-guling, dan berteriak-teriak. Kau tahu, yang bisa menghentikan kami hanya kelelahan.
Di ranjang, kami sudah seperti suami dan istri. Kupikir waktunya telah tiba. Tapi dipelukan pertama itu, langsung aku bilang kalau aku tidak bisa. “Anu”-ku, kataku, tidak pernah mau berdiri. Mungkin karena tanggung jawab pekerjaannya, dia berusaha melakukan segala cara untuk membuatnya ”bangun”. Dia mulai menggerayangi tubuhku, melucuti satu persatu pakaianku, dan juga ”mengeksplor anu”-ku. Semuanya nihil, tapi dia tak menyerah. Malah, jika dilihat-lihat sepertinya mukaku-lah yang menunjukkan wajah kecewa, atau kasihan. Entah kasihan pada usahanya, atau pada nasibku sendiri.
Setelah usaha pertamanya gagal, dia mulai melakukan hal-hal lain. Dia mulai membuka bajunya perlahan-lahan di hadapanku. Dengan lembut, dia menempelkan tubuhnya ke tubuhku, menciumi bibirku sambil duduk memeluk di pangkuanku. Aku tahu ini percuma karena hasilnya di antara kami hanya akan ada rasa kecewa.
”Tidak usah murung. Aku akan tetap membayarmu sesuai perjanjian.” kataku sambil mulai mengenakan kembali pakaianku yang tanggal.
Aku memintanya untuk merahasiakan ini dari siapa pun, termasuk dari Roni, karena pasti dia akan menceritakannya ke semua orang dengan bumbu tambahan setiap kali dia mengulanginya. Dia diam sebentar, lalu bertanya ada apa denganku, dengan nada yang aneh tapi tidak menghakimi. Jadi kubilang bahwa setiap orang selalu memiliki kelebihan dan kekurangan.
”Aku pernah berada di titik bisa, sanggup, dan kuat melakukan apa pun, kecuali ini. Tapi yang membuatku bersyukur adalah bahwa perasaanku dan hasratku, tetap ada. Aku masih lelaki.”
Dia tidak tertawa. Tapi dia juga tidak pergi sebelum satu jam itu habis, yang entah kenapa terasa seperti kebaikan paling besar yang pernah kuterima dari orang asing.
***
Beberapa hari kemudian, aku datang menemui Roni di kafe seberang apartemenku. kali ini aku ingin minta bantuannya untuk mencarikan ustaz yang bisa membimbingku karena Ustaz Rojali sudah wafat. Dihidupku, aku kenal banyak orang tapi aku tidak kenal siapa-siapa lagi yang bisa diajak bicara soal tobat tanpa membuatku merasa sedang diceramahi.
“Bagaimana perempuan itu?” Dia benar-benar seperti orang yang dipenuhi perasaan penasaran. Lalu kubilang saja bahwa perempuan itu menyenangkan, malam itu seru, dan kami sangat menikmatinya.
“Eh, ngomong-ngomong, perempuan yang satu jam itu, bagaimana kalau aku ketemu dia lagi?” kataku.
Roni menatapku lama, seperti sedang menghitung sesuatu yang tidak akan pernah pas jumlahnya.
Untuk: Etgar Keret

