Letterio Calapai (Amerika, 1902–1993)
Di hadapanku, layar berpendar biru fajar─warna yang hakikatnya sudah lama punah dari cakrawala kota ini, terkubur di bawah jelaga industri dan iklan holografik yang meneriakkan keabadian. Aku duduk di depan konsol Adicitra, sebuah mesin yang lebih menyerupai altar ketimbang alat medis. Di dalam perut mesin itu, dalam tabung kaca berisi cairan amnion sintesis beraroma melati, sesosok eksistensi sedang menunggu untuk “diterjemahkan.”
Namaku Elazar-Madu. Sebuah nama yang kurakit dari rongsokan silsilah keluarga yang hampir karam. Aku manusia urban yang percaya: ketidakpastian adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan algoritme.
“Pilih pigmen iris mata,” suara mesin itu berbisik, halus seperti gesekan sutra pada kulit mayat.
Aku terdiam. Jemariku menggantung di atas papan kontrol yang sensitif terhadap panas tubuh. Aku bisa memberikan anak ini mata berwarna abu-abu badai, atau hijau zamrud yang hanya ada dalam lukisan-lukisan kuno di museum bawah tanah. Aku bisa menentukan pada usia sepuluh tahun ia akan menguasai kalkulus kuantum, dan pada usia dua puluh ia akan memiliki struktur tulang pipi yang membuat para penyair jatuh cinta sekaligus patah hati.
***
Di dunia ini, di kota yang tak pernah tidur karena lampu-lampu neon telah menggantikan matahari, melahirkan adalah tindakan artistik. Kami tidak lagi “menerima” anak; kami “menyunting” mereka. Kami adalah editor atas naskah takdir kami sendiri.
Namun, di sela-sela desis pendingin mesin, aku mendengar suara ibuku dari masa lalu─seorang perempuan yang masih percaya pada kekuatan lutut yang bersentuhan dengan lantai tanah. “Elazar,” katanya suatu hari, saat aku masih kecil dengan luka di lutut, “manusia itu adalah tanah yang diberi napas oleh Gusti. Kita adalah kejutan yang dibungkus daging.”
Kini, aku hendak menghapus “kejutan” itu. Aku menginginkan kepastian. Aku menginginkan kesempurnaan yang bisa kubayar dengan kredit bank dari sepuluh tahun bekerja sebagai arsitek memori.
Aku menggeser kursor. IQ: 185. EQ: Stabil. Ketahanan Fisik: Maksimal.
“Apakah Anda ingin menambahkan bakat spiritualitas?” mesin itu bertanya.
Aku tertawa, sebuah tawa yang kering dan hampa seperti bunyi kaleng kosong yang ditendang di gang sempit. Spiritualitas? Di zaman saat kita bisa memprogram neurotransmiter untuk merasa bahagia tanpa alasan, untuk apa kita membutuhkan Tuhan? Jika aku bisa menciptakan manusia yang tidak bisa sakit hati, yang tidak akan pernah meragukan keberadaannya karena seluruh selnya telah dirancang untuk efisiensi, bukankah aku telah merebut hak prerogatif Sang Pencipta?
Tuhan, menurut pemahamanku yang modern dan angkuh, hanyalah sebuah variabel yang belum terpecahkan karena keterbatasan teknologi di masa lalu. Kini, variabel itu telah kami temukan rumusnya dalam untaian DNA.
Namun, saat aku hendak menekan tombol Finalisasi, sebuah keraguan melintas seperti bayangan burung gagak di atas ladang gandum. Aku menatap janin di dalam tabung itu. Ia belum memiliki wajah, hanya gumpalan cahaya dan kemungkinan. Jika ia lahir tanpa cacat, tanpa celah sedikit pun bagi kegagalan, apakah ia masih bisa disebut manusia? Ataukah ia hanya sebuah produk? Perabot mewah yang bisa berjalan dan berbicara?
***
Aku teringat akan seorang kawan bernama Jibril-Lazuardi. Ia membeli seorang putra dengan spesifikasi “Pahlawan”. Anaknya tumbuh menjadi pemuda yang sangat perkasa dan cerdas, namun pada usia lima belas tahun, pemuda itu berdiri di atas gedung pencakar langit dan bertanya, “Ayah, jika setiap langkahku sudah diprediksi oleh mesin sebelum aku lahir, di mana letak kehendakku?” Lalu, ia melompat. Bukan karena sedih, melainkan karena bosan dengan kesempurnaan yang statis.
Aku memandang telapak tanganku. Gemetar. “Kenapa engkau ragu, Elazar-Madu?” aku bertanya pada diri sendiri dalam solilokui yang hanya dapat didengar oleh dinding-dinding laboratorium yang dingin. “Bukankah ini impian setiap orang tua? Menghindarkan anak mereka dari penderitaan? Menjamin bahwa mereka tidak akan pernah merasa rendah diri di tengah masyarakat urban yang kejam ini?”
Ya, masyarakat urban adalah pemangsa. Kami hidup dalam kompetisi yang tak berujung. Memiliki anak yang “biasa-biasa saja” adalah sebuah dosa sosial. Anak yang lahir secara alami─yang kami sebut sebagai “Liar” atau “Debu”─hanya akan menjadi kelas pekerja di gorong-gorong kota, melayani mereka yang lahir dari rahim besi yang terkalibrasi.
Egoku berteriak: Buatlah dia menjadi dewa! Biar dia bisa memerintah kota ini!
Imanku berbisik: Biarkan dia memiliki sedikit ruang untuk rapuh, agar dia tahu cara berdoa.
Tetapi berdoa kepada siapa? Kepada server pusat yang mengendalikan cuaca buatan? Kepada satelit yang memantau setiap detak jantung kami?
Aku teringat sebuah teks kuno yang pernah kubaca secara sembunyi-sembunyi di perpustakaan terlarang. Di sana tertulis bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Jika sekarang aku menciptakan manusia menurut rupa egoku, apakah aku sedang menciptakan tuhan-tuhan kecil yang kelak akan saling memangsa?
Sains telah memberi kita kunci untuk membuka gerbang surga, tapi sepertinya kita lupa bahwa di dalam surga itu, tidak ada lagi tempat bagi manusia yang butuh diampuni. Jika tidak ada dosa, tidak ada air mata, tidak ada perjuangan, maka tidak ada seni. Tidak ada puisi. Semua akan menjadi barisan angka yang membosankan.
“Data hampir kedaluwarsa. Mohon konfirmasi pesanan Anda,” mesin itu mendesak. Lampu merah berkedip, memantul di bola mataku.
Aku melihat ke arah luar jendela transparan. Di bawah sana, kota tampak seperti sirkuit raksasa yang menyala. Manusia-mansuia bergerak seperti elektron. Mereka semua serupa. Tampan, cantik, tegak, dan kosong. Keberadaan Tuhan di sini terasa seperti sebuah mitos tentang cara kerja mesin uap di zaman fusi nuklir. Relevansi-Nya telah digantikan oleh kartu garansi produk.
Namun, ada sesuatu yang menyentak kesadaranku. Sebuah memori tentang bau tanah basah setelah hujan─sesuatu yang tak bisa diproduksi oleh pendingin ruangan mana pun. Sesuatu yang acak. Sesuatu yang “salah” namun terasa “benar”.
***
Aku teringat bagaimana ayahku, seorang pria dengan nama kuno yang tak lagi dikenal, menangis saat melihat matahari terbit. Ia tidak memilih warna matahari itu, ia tidak membayar untuk kehangatannya. Ia hanya menerima. Dan dalam penerimaan itu, ada sebuah getaran yang disebut syukur.
Dapatkah produk dari mesin Adicitra merasakan syukur? Atau ia hanya akan merasakan “berhak”?
“Elazar-Madu,” bisikku pada bayanganku di kaca tabung.” Jika engkau menghilangkan semua kemungkinan buruk dari anak ini, engkau juga membunuh kemungkinannya untuk menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri. Kemenangan tanpa risiko kalah hanyalah sebuah sandiwara yang hambar.”
Tangan-tanganku bergerak. Bukan untuk menekan tombol Setuju, melainkan meretas masuk ke dalam sub-menu terenkripsi yang dilabeli peringatan merah: Randomization of Fate (Pengacakan Takdir).
Ini adalah fitur terlarang bagi pelanggan elit. Sebuah “lubang cacing” genetika yang disediakan pengembang sebagai eksperimen gelap. Jika aku menekannya, garansi kesempurnaan anak ini akan hangus. Aku bisa dituntut atas sabotase genetik. Kredit bankku bisa disita.
Aku tak peduli. Aku memasukkan variabel kecil. Sebuah kecacatan ringan pada pita suara agar ia sedikit gagap saat bicara. Aku menambahkan sebuah gen yang membuatnya rentan terhadap melankoli di sore hari. Aku memberinya celah untuk menjadi pemimpi yang sering melamun, bukan sekadar mesin penghitung yang efisien.
Aku sedang menyisipkan kembali “Tuhan” ke dalam rahim besi itu. Bukan Tuhan yang agung dalam singgasana, melainkan Tuhan yang bersembunyi dalam ketidaksempurnaan dan misteri.
“Peringatan: Tindakan ini akan menurunkan indeks kesuksesan subjek sebesar 12 persen dan membatalkan status Kewarganegaraan Kelas Satu,” mesin itu memperingatkan dengan nada dingin. “Apakah Anda yakin?”
“Aku yakin,” jawabku mantap. Suaraku menggema di ruangan sunyi itu. “Aku tidak sedang memesan komputer. Aku sedang mengundang seorang tamu ke dalam hidupku.”
Aku menekan tombol eksekusi. Mesin itu mulai menderu. Cairan amnion di dalam tabung bergolak. Cahaya keemasan menyelimuti janin yang kini mulai membelah diri dalam kekacauan yang kusengaja. Aku terduduk di lantai pualam yang dingin. Di luar, fajar palsu mulai menyala di cakrawala kota. Aku merasa lelah, namun untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku merasa hidup. Ada sebuah debar yang tidak bisa dijelaskan oleh bio-sensor di pergelangan tanganku.
Apa Tuhan masih relevan?. Mungkin Tuhan bukan lagi tentang siapa yang menciptakan kita, tapi tentang ruang kosong yang kita tinggalkan untuk sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Tuhan adalah nama yang kita berikan pada ketidaktahuan kita yang paling indah.
Sembilan bulan lagi, seorang anak akan lahir. Ia tidak akan menjadi yang tercepat atau terkuat. Ia mungkin akan menangis tanpa alasan yang jelas di bawah lampu neon, dan ia mungkin akan bertanya-tanya mengapa dunianya terasa begitu sempit. Namun, saat ia menggenggam jariku dengan tangannya yang kecil dan tidak sempurna, aku tahu: di dalam kerapuhan itu, aku telah menemukan kembali apa artinya menjadi manusia.
Aku telah berhenti menjadi editor takdir. Aku memilih menjadi saksi atas sebuah misteri. Di atas meja pualam ini, sains telah selesai bekerja. Kini, giliran iman yang akan memulai solilokuinya di dalam sunyi yang panjang.
