Jibun melangkah pelan di ruang panjang dan licin, ingatan terakhir yang dimilikinya adalah tertidur di kapal setelah memakan pil ajaib yang ditemukannya di pesisir. Pil yang jumlahnya ribuan itu disimpannya di tempat rahasia, tak ada yang tahu.
Tangannya memegang sisi ruang karet ini, ruang yang dapat memasukkan ribuan ikan sarden. Tetapi ruang ini habis disemprot tinta hitam, membuat ruang ini lebih mirip sebuah kondom raksasa yang habis dipakai. Di setiap sisi ruang karet ini kembang kempis, lendir hitam menempel sana-sini. Setelah seekor cumi sebesar kapal jukung memuntahkan tinta hitam di tubuhnya, yang menyita banyak waktu Jibun untuk melewatinya.
Di ujung ruang panjang yang terbuat dari karet ini, terlihat cahaya putih dan biru menyeruak, Jibun seakan tersedot ke arahnya. Langkahnya menjadi cepat tapi sangat hati-hati, ia seakan berselancar di permukaan lantai yang licin. Tubuhnya yang kekar dan tinggi sudah penuh dengan tinta cumi, membuat ia seperti seekor bayi cumi raksasa yang baru saja keluar dari tubuh induk.
Ia tersembur ke lepas pantai, surut dan sepi sekali. Setelah cumi raksasa menelannya bulat-bulat di atas perahu. Sekitar 200 meter darinya, perahu fiber yang digunakannya untuk menangkap ikan itu mengapung putih bersih. Bahkan tidak ada tanda-tanda bahwa di perahu itulah Jibun ditelan oleh seekor cumi, cerita yang akan dianggap khayalan nelayan tua.
Bagaimana mungkin seekor cumi-cumi menelan bulat-bulat manusia, ukuran cumi dari masa dinosaurus pun belum pernah dicatat oleh sejarah sebesar yang menelan Jibun. Ini akan menjadi cerita bohong, jika Jibun ngotot menceritakannya ke warung kopi andalannya.
Ia menggapai perahunya yang putih bersih, tubuhnya membersih setelah air laut membasuhnya—membuat ia harus berenang 200 meter. Pasir pantai putih memanjang, karang-karang besar membeku di sana. Jibun hanya ingat, saat itu ia sedang tertidur di atas perahu setelah angin laut meniup-niup di pantai. Setelah memindahkan puluhan sarden dan satu ikan marlin setengah tubuhnya, menjadikan ia lekas bersantai. Mendengar lagu Bin Idris, “Di atas Perahu” ia merasa terapung dan berayun-ayun, membuat matanya tak dapat mengelak dari kantuk. Desir angin ke air laut, membuat gelombang dan suara debur menghantam karang menjadi instrumen menjelang ditelannya ia bulat-bulat.
Setelah bibir perahu menyentuh pantai, Jibun berlarian dengan tubuh kuyup menuju rumah. Tubuhnya penuh kerutan dan ruam merah, berlari secepat mungkin untuk mengabarkan apa yang telah dialaminya. Jibun seorang pencerita yang selalu ditunggu di warung kopi, tetapi sejak ia bercerita bohong tempo hari tentang seekor burung bangau sebesar kapal pesiar. Orang-orang mulai tak hirau, sebab Jibun merekayasa cerita. Orang-orang tak hirau burung bangau sebesar kapal pesiar itu. Tetapi cerita ia, bahwa burung bangau raksasa itu membawa ia terbang keliling Pesisir Lampung Barat hingga ke Danau Ranau yang tak dapat diterima orang-orang.
Sejak dahulu, orang-orang mempercayai bahwa ketika seekor burung raksasa membawa manusia terbang—itu bakal ada musibah yang datang. Tetapi, ceritanya kali ini dianggap sebagai cerita bohong. Peristiwa yang dialaminya bukan metafora, bukan puisi, apa lagi sebuah cerpen. Ini telah mempermainkan mitos yang telah dipercayai masyarakat Liwa sejak lama.
Tetapi, kisah cumi raksasa ini adalah peristiwa hidupnya, sudah mirip kisah Nabi Yunus AS yang ditelan oleh paus seperti dikisahkan di masjid dan pesantren kilat waktu Jibun sekolah. Sesampainya di rumah, ia langsung mencari istri dan anak-anaknya. Langkahnya yang tergesah, membuat seiisi rumah berhamburan ke tengah rumah.
“Bu, Bu, sini sebentar.”
“Ya Tuhan Pak, setahun belakang ini kamu jadi suka bercerita.”
“Sabar sebentar, Bapak ingin cerita.”
“Ada apa Pak, badan basah kuyup seperti itu, merah dan ruam.” Istrinya menarik nafas, “Nanti saja, mandilah dahulu.”
“Tidak.”
“Pasti cerita seperti yang sudah-sudah kan Pak.”
“Bapak dapat sebuah cerita fakta.”
Kedua anaknya mendekat ke arah percakapan mereka.
“Ahh sudah, paling cerita bangau seukuran kapal pesiar itu lagi Pak.” Anak sulungnya yang perempuan menyahut.
“Tunggu dulu,” Ia mengambil nafas, seisi rumah seakan biasa saja. Sebab cerita yang saban hari diulang terus menerus.
“Apa bapak, cerita fakta apa?” Anak bungsunya laki-laki, sambil memegang kakinya bertanya.”
Lalu, Jibun berjongkok. Matanya menatap anak bungsunya, sesekali menatap seluruh pasang mata di tengah rumah.
“Jadi, Bapak habis ditelan oleh cumi-cumi raksasa. Ukurannya seperti perahu Bapak.”
“Tuh mulai kan, dongeng lagi.” Istrinya Jibun seakan kesal, mendengar fiksi dari suaminya.
“Tidak,” Jibun menggeleng. “Bapak memang benar ditelan cumi raksasa.”
Seisi rumah dengan muka kesal bertanya, Jibun perlahan berdiri dan ke sana ke mari.
“Apa buktinya?”
“Iya Pak, apa buktinya kalau Bapak ditelan cumi raksasa?”
“Ini, badan Bapak. Kalian lihat sendiri, penuh ruam merah dan mengkerut.”
“Ah, bapak itu kelamaan berendam di laut, melepas ikan di pukat.” Ucap Istrinya.
“Tidak. Bapak melepas pukat di tengah hari tadi. Lalu, tertidur setelah mendengar lagu. Tiba-tiba bapak terbangun di tubuh cumi. Baunya amis, berwarna putih dengan setiap sisi penuh lendir hitam.”
“Terus mana tintanya, kok tidak ada di badan Bapak.” Anak sulungnya, memegang baju Jibun.
Lalu, Jibun berjalan ke sana ke mari. Seakan hendak melanjutkan sebuah gerakan teaterikal.
“Bapak disemburkannya sejauh 200 meter dari perahu, semburannya itu mengandung air laut membuat Bapak terlempar ke laut lepas. Lalu, bapak berenang menuju perahu.”
“Terus bagaimana perahu?” Anak bungsunya bertanya, kali ini ia tersenyum. Menganggap ini sebuah hiburan dari Bapaknya.
“Perahu tidak ada bekas tinta, apa lagi sampai harus hancur. Semuanya utuh seperti sediakala, ia hanya melumat tubuh Bapak dan ratusan ikan sarden di perahu.”
Semua diam, tak merespon. Seperti biasa, Jibun hanya dianggap sebagai pendongeng. Bahkan oleh keluarganya sendiri. Ekspresi mereka datar, lalu pergi ke kamar masing-masing.
“Sudah Pak, mandi sana.”
Istrinya meninggalkan Jibun sendirian, yang masih saja berusaha menjelaskan. Jibun mengusap muka, seperti biasa ia hanya excited sendirian.
Jibun merenung dan memikirkan, ia masih terus yakin bahwa yang dialaminya memang benar terjadi. Bukan ilusi, atau imajinasi belaka. Ia mengalami itu, berkali-kali dan menceritakannya. Berbagai cerita telah diperoleh sejak ia tiduran di perahu miliknya.
Setelah merenung, ia tak lekas mandi apa lagi mengganti baju. Ia menuju warung kopi, tempat di mana kisahnya terasa heroik. Dengan cepat, tanpa sandal, ia menyusuri jalanan tanah di kampungnya. Rumah-rumah di kampungnya berjarak cukup jauh, lampu-lampu hanya berwarna kuning di bagian luar. Tidak ada lampu jalan, yang dilalui Jibun turut diterangi dari remang pencahayaan rumah.
Dari kejauhan, lampu bergantungan di setiap susunan kursi. Tepat di mana Jibun akan menggunakan keahliannya bercerita. Meski orang-orang telah memberi jarak padanya, karena telah membawa mitos tentang burung raksasa yang membawa nelayan. Ia membuang jauh-jauh pikiran tentang itu, bahkan tidak akan terpikir itu dibenak Jibun untuk memikirkan orang-orang yang menganggap ia membual.
Pelanggan yang biasa memenuhi warung kopi melihat ke arah Jibun. Orang-orang yang biasa berdiri ketika kehadirannya, kini hanya terduduk dan melanjutkan aktivitas masing-masing. Jibun duduk ke meja kosong, di samping dapur.
“Seperti biasa Bi,” Jibun mengacungkan tangan ke arah dapur.
“Kopi, atau extra joss susu ini?” Seorang perempuan menyaut.
“Kopi lah, ini kan malam.”
“Iya, berarti bakal panjang cerita kalau ngopi.” Perempuan tadi, seakan-akan telah menerjemahkan apa yang akan dilakukan Jibun.
Jibun menghela napas. Ia melirik seisi warung kopi. Orang-orang membuang muka, tetapi Jibun mengenali seseorang di meja sudut dekat pintu. Ia berdiri dari kursi, melangkah ke arah seseorang yang dikenalinya.
“Hoi, sudah lama?” Jibun menegur, menjulurkan tangannya berniat menyalam.
Pria itu diam saja, menjulurkan tangan. Ia hanya menunjukkan sedikit cengirnya, Jibun menyalam erat.
“Ayo gabung, aku ada cerita.” Jibun menarik tangan pria itu.
“Tapi, Bun, aku sedang bersama kawanku.” Ia menepis, tapi Jibun terlalu kuat untuk ditahan. Badannya berotot, tinggi, dan terkenal nelayan paling kuat.
“Ajak saja, cerita ini seru.”
Pria itu hanya bisa berpasrah, seisi warkop mendekati Jibun.
Lalu, dengan gerakan teaterikal Jibun berdiri di kursi plastik.
“Jibun, pada itu kursi tubuhmu besar seperti kuda nil naik di atas situ, cepat turun.”
Jibun bahkan tidak menghiraukan, ia mulai menceritakan ulang kisahnya.
“Kopi mu, Jibun ini.”
Ia menunjuk ke arah meja, lalu kembali menceritakan.
Semua orang berbisik, Jibun memeragakan gerakan ia di dalam perut cumi raksasa. Kerumunan tertawa, dari kejauhan terdengar suara sirine. Ia makin menjadi, tak hirau. Kerumunan mulai pecah, Jibun makin memeragakan gerakan ia disemburkan ke laut. Kerumunan yang ramai, tiba-tiba menyusut pecah. Seseorang dari rombongan yang baru datang, memegang tubuh Jibun, lalu disusul oleh rombongan.
Seorang perempuan di balik dapur mengedip ke arah rombongan yang baru datang, kelompok yang menggunakan pakaian hitam dan sebagian berseragam abu-abu.
“Semua beri jalan, pria ini habis menelan narkotika seludupan yang mengambang sejak setahun belakang di pesisir pantai.”
Jibun memberontak, orang-orang di dalam warkop menyaksikan penangkapan Jibun. Ia adalah sosok pencerita sejak setahun belakang, sebelumnya ia hanyalah nelayan yang kerja keras dan pendiam. Semenjak setahun belakang perubahan ia teramat jelas, menjadi pencerita dan tubuhnya selalu penuh ruam merah.

