sumber: romadecade.org
Bogor, yang kini kita kenal sebagai “Kota Hujan” dengan hiruk-pikuk kehidupan modernnya, sesungguhnya menyimpan kisah sebuah kota raja yang luar biasa: Pakuan Pajajaran. Inilah ibu kota Kerajaan Sunda yang pernah berjaya dari sekitar abad ke-10 hingga ke-16 Masehi, dengan puncak keemasannya di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi). Sebuah kota yang dirancang dengan kearifan dan strategi cerdas, yang kini jejak-jejaknya perlahan mulai terungkap dari balik kabut sejarah, pemukiman padat, dan sungai-sungai yang masih mengalir.
Para ahli sejarah dan arkeolog meyakini, Pakuan Pajajaran bukanlah kota yang tumbuh secara kebetulan atau organik semata. Berdasarkan penelitian mendalam, kota ini didirikan sekitar awal abad ke-8 Masehi oleh Bujangga Sedamanah, hasil dari perencanaan yang matang dan pemilihan lokasi yang sangat strategis, memanfaatkan topografi pegunungan dan sungai untuk pertahanan alami. Konsep Pakuan bahkan dianggap sebagai “kota yang melampaui zamannya”, sejalan dengan teori pertumbuhan kota modern seperti yang dikemukakan Lewis Mumford, di mana pola ruang kota mencerminkan nilai-nilai lokal dan historiografi tradisional Sunda.
Jantung Kota yang Tersimpan
Menurut telaah mendalam dari Saleh Danasasmita dan Budimansyah, lokasi pusat kekuasaan, yaitu “keraton Pakuan Pajajaran”, diperkirakan berada di kawasan Batutulis, khususnya di sekitar Gang Amil, Kelurahan Batutulis, Bogor Selatan hari ini. Wilayah yang kini berupa gang sempit, padat penduduk, dan jalan menurun menuju sungai ini, diyakini sebagai inti dari “kota dalam” (dalem kitha), pusat pemerintahan, ritual kenegaraan, dan kehidupan elit. Danasasmita, melalui analisis naskah kuno dan catatan historis, merekonstruksi batasnya secara rinci: Jalan Batutulis di sisi barat sebagai akses utama, Gang Amil di sisi selatan sebagai zona pendukung, bekas parit di timur (kini berubah menjadi pemukiman), serta “benteng batu” di utara yang berfungsi sebagai pertahanan tambahan. Budimansyah memperkuat hipotesis ini melalui analisis morfologi kota, dengan menunjukkan bahwa area ini dirancang untuk melindungi inti kekuasaan dari ancaman luar.
Sedangkan Prof. Agus Aris Munandar, seorang arkeolog terkemuka dari Universitas Indonesia, semakin memperkaya pemahaman ini. Dalam penelitiannya tentang struktur perwilayahan Kerajaan Sunda (1994), ia mengidentifikasi bahwa keraton Pakuan memiliki kompleks seperti ‘Kadatuan Sri Bima Punta’ sebagai pusat utama, tempat kediaman raja dan administrasi, yang dikelilingi keraton-keraton pendukung seperti Bima (untuk pasukan tentara) dan Punta (untuk pertemuan pejabat tinggi). Menurut Munandar, struktur spasial ini adalah sistem wilayah yang hierarkis, memadukan pengaruh Hindu-Buddha dengan adaptasi lokal Sunda, menciptakan keseimbangan antara fungsi politik, sosial, dan spiritual. Kawasan Batutulis dan sekitarnya menjadi pusat religius-politik yang terhubung strategis hingga ke pelabuhan Sunda Kalapa, memfasilitasi perdagangan dan komunikasi kerajaan.
Penelitian morfologi kota modern, sebagaimana dilakukan Budimansyah, tentu sangat memperkaya bagaimana pemetaan jaringan jalan sejarah ini, yang lalu memberikan gambaran lebih presisi tentang struktur kota yang telah dihipotesiskan Danasasmita. Jalan-jalan ini bukan hanya penghubung fisik, tapi juga arteri yang mendukung mobilitas sosial dan ekonomi, menjadikan Pakuan sebagai kota yang dinamis dan terintegrasi.
Sistem Pertahanan yang Terencana: Benteng dan Parit
Salah satu ciri paling menonjol dari perencanaan kota Pakuan Pajajaran adalah sistem pertahanannya yang canggih dan multifungsi. Saleh Danasasmita mengemukakan bahwa kota ini dilindungi tidak hanya oleh benteng alam berupa tebing sungai, yang memanfaatkan kontur alam untuk menghalangi penyusup, tetapi juga oleh benteng buatan dan parit yang konon dibangun pada masa Sri Baduga Maharaja (Prabu Siliwangi), membentang hingga empat kilometer mengelilingi wilayah inti. Tesis Budimansyah menguatkan hal ini melalui analisis spasial, menunjukkan parit sebagai benteng pertahanan yang tangguh dan sulit ditembus, terintegrasi dengan benteng batu di sekitar keraton untuk melindungi pusat kekuasaan dari serangan darat atau sungai.
Prof. Munandar juga menegaskan bahwa parit-parit ini adalah bagian dari penataan wilayah yang lebih luas, termasuk kawasan Lawang Gintung (dekat Batutulis), di mana situs-situs seperti makam Embah Dalem, memperlihatkan integrasi antara pertahanan dan elemen religius, serta menciptakan lapisan keamanan yang holistik. Jika kita coba menelusuri jejaknya di Bogor masa kini adalah sebagai berikut;
- Benteng Alam: Sungai Ciliwung dan Cipakancilan yang mengalir di sekitar Batutulis dan Gang Amil, dengan tebing-tebingnya yang curam, menjadi penghalang alami yang strategis dan masih terlihat hingga hari ini.
- Benteng Buatan dan Parit: Parit-parit ini kemungkinan mengelilingi area keraton di Gang Amil. Jejaknya mungkin dapat ditemukan dari Jalan Batutulis ke arah timur (kini area pemukiman Cipakancilan) dan utara (dekat “benteng batu” yang pernah dicatat oleh penjelajah Belanda, Scipio, pada tahun 1687). Saluran air kecil dan genangan di sekitar Gang Amil bisa jadi merupakan sisa-sisa adaptasi dari parit kuno tersebut, meskipun banyak yang telah tertutup oleh pembangunan modern.
Maka, sistem pertahanan ini menunjukkan tingkat perencanaan urban yang tinggi, memadukan elemen geografis alami dengan konstruksi manusia untuk menciptakan kota yang aman, tertata, dan berkelanjutan.
Catatan Penjelajah Asing dan Eksplorasi Belanda
Informasi penting tentang Pakuan Pajajaran juga datang dari catatan pihak luar, yang memberikan perspektif eksternal yang berharga. Tomé Pires, seorang penjelajah Portugis, dalam karyanya Suma Oriental (awal abad ke-16), mencatat keberadaan ‘ibu kota Kerajaan Sunda yang terletak di pedalaman, terhubung dengan pelabuhan Sunda Kalapa. Catatan Pires ini mengkonfirmasi letak ibu kota yang sekitar 60 km di pedalaman dari pelabuhan, di sepanjang aliran Sungai Ciliwung—sebuah deskripsi yang sangat cocok dengan lokasi Bogor saat ini. Pires juga menggambarkan Kerajaan Sunda sebagai wilayah yang kaya dan terorganisir, mengisyaratkan betapa pentingnya Pakuan sebagai pusat administrasi dan ekonomi, dengan jaringan perdagangan yang menghubungkan pedalaman ke laut.
Abad-abad berikutnya, ketika Pakuan Pajajaran telah meredup atau ditinggalkan setelah serangan Banten pada 1579, ekspedisi Belanda pada abad ke-17 dan awal abad ke-18 turut memberikan petunjuk dalam menyibak Kota Pakuan Pajajaran. Laporan-laporan dari Abraham van Riebeeck (sekitar 1687-1709) sering menyebutkan adanya reruntuhan kuno di daerah yang kemudian menjadi Bogor, termasuk puing-puing dekat sungai. Saleh Danasasmita menggunakan catatan-catatan tersebut untuk merekonstruksi batas-batas Kota Pakuan, mencoba membuktikan adanya peradaban besar yang telah lenyap, dan menghubungkannya dengan temuan seperti “benteng batu” yang dicatat oleh ekspedisi Scipio pada 1687.
Tempat Pemujaan & Naskah Kuno
Masyarakat Pakuan Pajajaran dikenal religius, menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual dan adat istiadat, seperti yang tertulis dalam ‘Naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian’ (1518 M). Naskah ini adalah panduan moral yang mencerminkan bagaimana filosofi hidup mereka membentuk tata ruang, menekankan harmoni antara manusia, alam, dan kosmos. Oleh karena itu, ‘tempat-tempat pemujaan’ seperti kabuyutan atau arca-arca sakral sudah pasti menjadi bagian integral dari kota, ditempatkan strategis untuk mendukung keseimbangan spiritual.
“Arca Purwakalih” di dekat Batutulis, misalnya, dipercaya sebagai kabuyutan, sebuah tempat sakral untuk ritual dan meditasi. Keberadaannya mengindikasikan penataan spiritual dekat keraton, menjaga keseimbangan antara dunia fisik dan rohani. Demikian pula situs Embah Dalem Batutulis, yang diperkirakan berasal dari era Pakuan, dengan adanya “batu tegak” megalitik di sekitarnya, menunjukkan adaptasi praktik religius dan kosmologi lokal dalam struktur kota, bahkan saat terjadi transisi ke pengaruh Islam. Prof. Munandar menginterpretasikan situs ini sebagai bukti perpaduan budaya Hindu-Buddha dengan tradisi lokal yang membentuk identitas religius kawasan Batutulis, di mana spiritualitas menjadi pondasi tata ruang kota.
Prasasti Batutulis & Batu Tjiongkrang
Di ujung jalan, kita menemukan Prasasti Batutulis yang ikonik. Prasasti aksara Sunda Kuno ini adalah “akta kelahiran” dan “silsilah keluarga” Kerajaan Sunda, mencatat upacara sraddha penting untuk Prabu Siliwangi. Lokasinya yang strategis, di kawasan sempadan atau pinggiran kota dalam, menunjukkan perannya sebagai penanda batas spiritual dan politik kota, seperti yang diungkap Saleh Danasasmita, dan menjadi bukti legitimasi kekuasaan raja.
Tidak jauh dari sana, ada Batu Tjiongkrang, sebuah batu monolit megalitik yang mungkin berfungsi sebagai pos jaga atau penanda batas wilayah “kota luar”. Keberadaan batu ini menguatkan gambaran jaringan jalan yang tak hanya untuk akses, tetapi juga untuk pengawasan dan pertahanan, melindungi wilayah luas kerajaan dari ancaman eksternal.
Kisah Perjalanan dan Tuntunan Hidup: Bujangga Manik & Carita Parahyangan
Dua naskah kuno lainnya turut memperkaya gambaran kehidupan di Pakuan:
- Naskah Bujangga Manik (abad ke-15) adalah catatan perjalanan spiritual seorang bangsawan dari Pakuan yang melintasi Jawa dan Bali. Deskripsi geografis dalam naskah ini menyiratkan adanya jaringan jalan dan tempat-tempat suci di sekitar Pakuan, menunjukkan kota ini sebagai pusat spiritual yang terhubung luas dengan wilayah kerajaan.
- Naskah Carita Parahyangan (akhir abad ke-16) melengkapi dengan narasi sejarah Sunda, termasuk deskripsi istana dengan parit dan jalan yang terencana. Naskah ini mengkonfirmasi keberhasilan kepemimpinan Sri Baduga Maharaja dalam menciptakan pola ruang kota yang harmonis, di mana setiap elemen saling mendukung untuk kestabilan kerajaan.
Merangkai Masa Lalu untuk Memahami Masa Kini

sumber: Peta Tata Ruang Panca Prasadha: Budimasnyah (2019)
Dari kepingan-kepingan sejarah ini, kita bisa melihat bahwa Pakuan Pajajaran adalah kota yang visioner dan terencana, dengan tata ruang yang mencerminkan kearifan lokal. Kontribusi Saleh Danasasmita, Budimansyah, dan Prof. Agus Aris Munandar—yang melalui analisis naskah, rekonstruksi spasial, dan kajian arkeologis menempatkan keraton di Batutulis Gang Amil serta menggambarkan penataan wilayah yang kompleks—kini diperkuat oleh penelitian modern. Catatan dari Suma Oriental dan ekspedisi Belanda melengkapi potret ini dengan perspektif eksternal yang sangat berharga, menegaskan Pakuan sebagai pusat peradaban yang terhubung secara regional.
Meskipun banyak detail masih menjadi misteri, tinggalan seperti Prasasti Batutulis, Arca Purwakalih, situs Embah Dalem, Batu Tjiongkrang, “serta potensi jejak benteng dan parit di sekitar Gang Amil yang tersebar di Bogor saat ini”, bersama dengan naskah-naskah kuno, menjadi “saksi bisu” yang terus berbicara tentang kejayaan urbanisme di Tanah Sunda. Memahami tata ruang Pakuan Pajajaran bukan hanya menggali sejarah, tetapi juga memberikan inspirasi bagi pengembangan kota Bogor saat ini, agar warisan kearifan lokal terus hidup dan dihormati, misalnya melalui revitalisasi kawasan historis yang berkelanjutan.
Catatan: Berdasarkan kajian filologis & epigrafis, dasar vokal masyarakat Sunda pada masa lampau belum mengenal huruf U, mereka memakai huruf W jadi mereka menuliskan: Pakwan, bukan Pakuan.

