Nu Gumawang di Lintang Wétan: Dén Mas Béhi Lésja, Sunda jeung Sajabana

Nu Gumawang di Lintang Wétan: Dén Mas Béhi Lésja, Sunda jeung Sajabana

Khususon Illaruhi Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka bin Kangjeng Raden Tumenggung Poerbadipura…. Al-Fatihah.

Keur harita keneh, dina kelas epigrafi, kakarak urang ningal buku bari ngawironan tarang. “Bapak Epigrafi Indonesia: Prof. Poerbatjaraka”, kitu sakalebat judul nu kaemutan keneh, kaca sabaraha mah duka teuing. Dina jero hate, “piraku Jawa deui-Jawa deui, geus mah presiden, ayeuna elmu rehe siga epigrafi ge dimonopoli ku Jawa”. Kitu kurang leuwihna, nalika maca tulisan Pak Boechari. Keur rasis-rasis na urang teh!

Deg! Lupa aku memikirkan satu hal, Poerba hidup bukan di alam Jawa-sentris seperti kiwari. Ia hidup dalam kemelut kolonialisme yang semakin menua di awal abad ke-20. Apakah ia tidur nyenyak sebagai akademisi belakang meja di tengah api pergerakan di masanya? Jawabannya, tidak! Sejarawan mungkin tidak banyak mengamati gerak langkahnya, kecuali keikutsertaannya dalam menyumbang pikiran sebagai tukang desain logo Garuda Pancasila bersama Sultan Hamid II dkk. atau kedudukannya sebagai guru besar asli Jawa lulusan Leiden yang namanya kadang diadu dengan P.A.A. Hoesein Djajadiningrat—orang Indonesia pertama yang jadi doktor. Namun sebagai seorang yang mungkin ada dalam sanad keilmuan langsung dengannya, aku mengenal Poerba justru dari kutipan demi kutipan tulisannya yang melegenda. Dan, dari karir kepenulisan ilmiahnya itulah aku paham, bahwa pergerakan nasional bukan cuman “Indonesia Menggugat” ala Bung Kusno, tapi juga dekolonisasi pengetahuan sejarah bangsa.

Bukti akan hal itu adalah keberanian Poerba membantah mentah-mentah para sejarawan dan arkeolog Belanda, yang menyebut kalau Dinasti Sailendra yang mendirikan Candi Borobudur di Jawa Tengah adalah keluarga kerajaan India atau Kamboja yang menjajah tanah Jawa. Sebagai Tiang Jawi tulen, nampaknya Poerba tidak rela harga diri leluhurnya diinjak-injak dengan disebut sebagai orang asing, atau dalam hal ini seakan-akan mustahil orang Jawa mampu membangun monumen-monumen hebat sehingga harus orang asing yang membangun Borobudur atau Prambanan.

Yang tidak kalah hebatnya dari semangat Poerba untuk membantah para orientalis barat adalah argumen bantahannya sendiri. Poerba mengatakan bahwa Sailendra jelas-jelas merupakan orang asli Pulau Jawa, karena Maharaja Sanjaya yang ia sebut sebagai pendiri Kerajaan Mataram Kuno atau leluhur Dinasti Sailendra itu sendiri merupakan seorang Tohaan di Galuh (Yang Dipertuan di Galuh) dan menantu Tohaan di Sunda (Yang Dipertuan di Sunda) yang disebut dalam Carita Parahyangan. Dengan kata lain, Poerba lebih rela mengakui kalau leluhur raja-raja Jawa itu sebagai putra Sunda asli dibandingkan menyebutnya sebagai orang deungeun!

Dari sinilah aku si Sunda Primordial ini mulai luluh hatinya, dan diam-diam kagum dengan sosok Poerba. Puncaknya, ketika aku menemukan satu kutipan menarik dari J. Noorduyn (filolog sekaligus ahli bahasa berkebangsaan Belanda yang menemukan kembali dan membuat edisi teks Bujangga Manik) mengenai Poerba:

Alleen Poerbatjaraka — een der weinige Javanici die niet voorbijgekeken hebben aan wat tussen Djakarta en Jogjakarta ligt — heeft hiervoor meer dan incidenteel werk gedaan.

“Hanya Poerbatjaraka—salah satu dari sedikit orang Jawa yang tidak mengabaikan apa yang terletak di antara Jakarta dan Yogyakarta—yang telah melakukan lebih dari sekadar pekerjaan sampingan mengenai subjek ini.”

Nyatanya Poerbatjaraka adalah salah satu pionir orang Indonesia dalam pengkajian teks Sunda Kuno, jauh sebelum Pak Atja—yang kalau kata Ajip Rosidi adalah orang Sunda pertama yang melek aksara bangsanya sendiri. Berikut aku coba runut serta uraikan sedikit beberapa tulisan-tulisan Poerba yang berkaitan dengan dunia Sunda Kuno:

Een pseudo-Padjadjaransche kroniek: derde bijdrage tot de kennis van het oud-Soenda (1914; menulis bersama C.M. Pleyte)

Tulisan ini walaupun digawangi oleh Pleyte, merupakan kontribusi pertama Poerba dalam sejarah penulisan sejarah Sunda Kuno. Di dalam tulisan ini, Pleyte dan Poerba untuk pertama kali menerbitkan edisi teks yang di kemudian hari oleh Atja dan S. Danasasmita disebut “Amanat Galunggung”. Di dalam naskah ini, muncul salah satu idiom paling ikonik sohib-sohib budayawan Sunda: tan hana nguni, tan hana mangke (tidak ada dulu, tidak ada sekarang).

De Batoe-toelis bij Buitenzorg (1919-21; penulis tunggal)

Bisa dikatakan inilah tulisan Poerba yang paling berpengaruh di dunia studi Sundanologi, karena untuk pertama kalinya Prasasti Batu Tulis dibaca lengkap atau dalam hal ini paling minim kesalahan baca dibanding para pembaca lain di masa kolonial. Tulisan ini pulalah yang paling lama penulisannya, karena Poerba memakan waktu kurang lebih 2 tahun. Satu hal yang menarik, atau bahkan mungkin lucu, adalah Poerba mengartikan “ngabalay” pada Prasasti Batu Tulis sebagai “membuat balai”. Padahal, maksud ngabalay di sini lebih tepat untuk diterjemahkan sebagai “memperkeras jalan atau struktur dengan batu”, sebagaimana masih dikenal orang Sunda sampai sekarang. Mungkin, inilah secuil “a priori” Poerba sebagai seorang Jawa dalam menafsirkan kata “balai” sesuai dengan pemahaman bahasanya.

Çrivijaya, de Çailendra- en de Sanjayavamça (1958)

Di tulisan inilah secara gamblang Poerba menggunakan Carita Parahyangan sebagai letak dasar sejarah leluhur raja-raja Jawa, yang sebenarnya ia sendiri telah menulis sedikit edisi teks Carita Parahyangan di tulisan mengenai Batu Tulis. Teori Poerba ini begitu fenomenal, karena mementahkan teori dua dinasti dalam Kerajaan Mataram Kuno (Sanjaya dan Sailendra) dan berikutnya diteruskan oleh muridnya Boechari. Adapun edisi teksnya soal Carita Parahyangan memang tidak seluruhnya berhasil dilakukan, namun kemudian upayanya untuk menyusun lempir-lempir lontar naskah inilah (susunan halaman lontar Carita Parahyangan waktu ditemukan acak-acakan) yang membuatnya begitu terkenang. Noorduyn sendiri yang melanjutkan pekerjaan Poerba akan Carita Parahyangan masih begitu mengaguminya, bahkan sampai ke periode Atja dan Danasasmita yang menyempurnakan pekerjaan Poerba di tahun 1981.

Demikianlah Poerba, ia yang lahir dengan nama yang sungguh indah—Lesja, menjadi bintang timur bagi orang Sunda. Dari warisannya itulah, selamanya kami berhutang padamu.***

  • penulis sekaligus peneliti yang menggeluti dunia arkeologi dan sejarah kebudayaan. Karirnya sebagai penulis di mulai sejak 2019 sewaktu masih duduk di bangku kuliah di Program Studi Arkeologi UI, yang mana Ia aktif menulis di beberapa jurnal ilmiah arkeologi dan sejarah. Sejak lulus dari Program Magister Antropologi UGM di penghujung tahun 2022, Alnoza bekerja sebagai peneliti untuk Intellectual Property (IP) dari perusahaan Anantarupa Studios. Dan kini aktif mengasuh Bujangga Manik Society.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *