Pieter Verbruggen the Younger 1648 – 1691

Jika komisaris diminta sambut pesta akhir tahun, dia bawakan kotak penuh kebahagiaan. Jika aktor yang diminta, ia mungkin akan bermonolog. Berbeda halnya saya, meski tidak diminta redaksi Halimun Salaka menulis di penghujung tahun ini susah-susah mudah, tetapi sahabat karib saya yang malang justru mengilhami saya tulisan berjudul “kecoa dan observer”. Saya mesti berpikir keras dan begadang lagi. Kenapa? Karena sahabat karib saya itu sungguh-sungguh mengimplementasikan bahwa seluruh laku hidupnya hanyalah “mengatakan apa yang sudah dilakukan dan melakukan apa yang sudah dikatakan” walaupun itu tidak masuk diakal. Dia sering mewedarkan pengetahuan “akal-akalan si miskin” sebagai suatu cara ganjil dan siasat ajaib bertahan hidup lebih dari yang saya kira dan duga. Dia pulalah yang telah mengambil kepastian hidup bahwa the one and only profesi yang cocok baginya adalah musisi, Gusti. Tidak lebih dan tidak kurang dari itu. Yang terpenting ialah atas nama musik dan hidup yang begini-begini saja, katanya. Ini sudah harga hidup yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Mengapa? Karena saya sama sepertinya orang kecoa, sekaligus observer. Kecoa sulit mati, kecuali satu dan lain hal. Kecoa bagi saya—yang penakut kalau ia sudah terbang—sama halnya menemukan jati dirinya sebagai man of all seasons. Manusia tahan banting dalam segala keadaan, situasi, dan kondisi kayak apapun. Ia tidak tergantung. Ia berdaulat. Ia otonom. Ia mandiri. Ia independen. Ia fleksibel. Ia ulet. Ia adaptif. Dan nama-nama lain yang menegaskan bahwa bergerak adalah melangkah, tak peduli pada berbagai musim dan cuaca kehidupan. Seribu rintangan boleh menghadang, tapi misi rohani ini mesti jalan terus.

Observer buat saya merupakan perbuatan meragukan apa yang ditatap, juga meragukan apa yang sudah dianggap mapan. Karena saya orang kecoa, saya senantiasa observer. Karena saya observasi, perhatian hidup saya terarah senantiasa “mendekatkan diri pada hal-hal dekat di sekitar”—yang karena sedemikian dekatnya itu pada galibnya tidak perlu didekati lagi. Franz Kafka orang Praha yang mengemuka berkat novelnya “The Metamorphosis” itu boleh menelusuri perspektif kecoa sesuka hati dalam metafora: keterasingan diri, aneh, menjijikkan, absurd, dan bahkan sering tidak logis di mata orang lain, namun tetap menemukan kesempatan untuk terus bertahan hidup dan berjuang sekaligus.

Laiknya kecoa, sahabat karib saya itu bukan main tangguh tahannya, bisa ditempatkan di mana saja, dan daya juangnya amat berani, meski seringkali babak belur dihantam kekerean. Walau duit habislah sudah, hidup terus berjalan numpang dari satu tempat ke tempat lain, bagi sahabat karib saya itu. Maklum, dia temannya banyak. Sudah dua universitas dia masuki, tapi keduanya gagal menerbitkan gelar. Sudah sekian fakultas dia jelajahi, tapi semuanya itu belum menghadiahi sarjana. Sudah beberapa organisasi dia huni, tapi tak kunjung genah juntrungan hidupnya. Saking ngeyelnya, kini dia jajal fakultas sastra (yang dengan harap-harap cemas kepengin banget meraih “SS” dibaca suka seni) karena tak ada matematika di sana. Seumur-umur dia selalu mencoba mendekati matematika, tapi kenapa matematika tidak mau mendekatinya. Dengan kata lain, bukan dia yang tidak mau belajar matematika, tapi matematika itu sendiri yang menurutnya tidak mau dipelajarinya.

2025 isinya cuma alhamdulillah belum mati dan bersyukur masih hidup. Dia bilang: makasih, makasih, makasih, Ya Allah. Tiga kali menurutnya belum cukup, rasa-rasanya semua hal yang tersedia akan dia tambahkan dengan makasih. Hidup kere, makasih. Hidup punya uang sedikit, makasih. Hidup kadang lapar, makasih. Hidup menderita pun makasih. Hidup back up-in dong makasih. Tak ada kata yang pantas selain makasih buat hidup 2025. Tapi kalau soal bencana buatan politik, pemerintah akan selalu menerima lebih banyak ucapan brengseknya daripada makasihnya.

Dia selalu bilang banyak tidak tahunya dari banyak hal yang telah sedikit diketahuinya, kecuali soal cewek. Makanya kalau soal politik, soal sosial, soal sastra, itu urusan situlah. Dia lebih akrab membicarakan dan meneliti diri sendiri terus-menerus. Paling tidak dia mengakui dirinya sebagai observer, bukan periset. Dia orang yang mengalami langsung pada banyak waktu dan tempat, tapi sangat gagap kalau diminta untuk menjelaskan kenapa di sana begitu dan di sini begini. Yang tak tertandingi darinya ialah daya adaptifnya menyerupai kecoa, mau hidup di tempat bersih dilayanin, mau di tempat kotor dijabanin, apalagi di tempat di mana bau kemiskinan begitu menyengat seperti di rumah kami kecil papa ini, tapi bergelora hidup dan kehidupan yang kegembiraannya tiada tara. Perihal ketawa dan menertawakan cobaan hidup, dia jagonya. Soal mengatasi seluk-beluk penderitaan, dia pakar gelak tawanya. Perkara enteng-enteng berat, dia ilusionis kebahagiaan.

Sahabat karib saya itu dianugerahi oleh Allah keberlimpahan sense of humor—bukan dengan kepintarannya, melainkan dengan segala kejenakaannya, kepolosannya, kejujurannya, kebersahajaannya, kebodohannya, ketololannya, kebegoannya, serta keberanian untuk bertindak dan berperilaku—tergantung pada kondisi dompetnya. Kalau ada uang meski sedikit, dia mentraktir sampai habis-habisan semuanya. Besok urusan besok, sekarang yang ada nikmati sajalah, katanya pada suatu ketika dapat honor manggung. Tapi kalau nggak ada duit sepeser pun, yang tadinya malas-malasan bisa seketika bergairah melakukan ini-itu asal bisa makan. Dia semangat banget kalau lagi kere, tapi kayak kucing kekenyangan pas berduit, sampai-sampai menurutnya, bermalas-malasan adalah cita-cita seorang jenius.

Jenius ke situnya selalu bikin orang sekitarnya ketawa. Dia memang jenius kalau perkara menggembirakan hati banyak orang, karena saking tinggi nilai humornya itu, meskipun agak terbatas daya komunikasinya. Dia tidak punya kemampuan mumpuni dalam hal utak-atik kata-kata, tapi keterampilannya dalam mengoptimalkan potensi kosa kata yang terbatas dalam dirinya itu, kadang-kadang menyasar ke arah yang sukar diduga dan dikira, sehingga jadinya tanpa surprise sama sekali pun dia berhasil membuat orang tertawa terbahak-bahak. Lagi-lagi, mungkin, dia jenius dalam permainan pikiran. Karena yang sering dibolak-baliknya itu adalah logika, dan bukan hanya sekedar asosiasi kata-kata. Dan akibatnya, hanya orang yang kenal dan dekat dengannyalah yang mampu mengerti bahasa logika dan verbalisme retorika yang akan merasakan humor itu.

Misalnya, sehat-sehatlah orang sehat karena nikmat sehat itu paling sehat.
Misalnya lagi: kalau dia diminta menjelaskan sesuatu yang dia sendiri tampaknya sulit untuk memberikan penjelasan itu, maka yang keluar dari mulutnya spontanitas humor logika dan permainan pikiran dengan sedikit kata-kata. Ini pula kiranya sebabnya mengapa dalam suatu tempat, dia bisa dihormati sebagai abang-abangan, dan di tempat lain, dia bisa dianggap bodoh melalui kata-katanya meski kandungan isi pikiran tersebut cerdas dan tajam. Dia jagoan dalam penguasaan isi humor, kata-katanya menyusul belakangan, hal ini pulalah yang menyebabkan timbul jawaban dia yang aneh-aneh. Karena mulutnya selalu lebih cepat daripada otaknya. Seperti kalau dibilangin, ngejawab mulu. Kalau diingetin, ngebantah mulu. Kalau diarahin, ngeyel mulu. Apapun saja pembicaraannya itu, ajaibnya lho kok ada jawabannya kemudian. Sampai-sampai saya menduga bahwa dia adalah titisan Abu Nawas di era kontemporer di mana zaman telah membuat bahagia menjadi tidak sederhana, kebahagiaan adalah barang mewah, dan inilah masa runtuhnya kegembiraan hidup yang murni, jernih, dan kukuh.

Betapapun dia adalah sahabat karib saya, bahkan lebih, walau hidup telah berulangkali membuatnya menderita, dia tetap sulit kecewa. Dia orang pasrah, sekaligus nrimo ing pandum. Tetapi dia tak jemu-jemu pada segala penderitaan. Dia kelewat berani seperti pasukan berani mati di hadapan kegembiraan, tak peduli walau harus terima nasib pahit ditekan keadaan serta habis napas. Dia orang paling susah untuk dibikin susah apalagi diajak susah. Dia terbiasa susah karena susah itu baginya biasa. Prinsipnya sesederhana kalau ada makanan dimakan, ada minuman diminum, ada rokok dirokok, ada sakit diobatin, lalu mati urusan Allah. Kebutuhan dia menjadi amat sedikit. Rasa-rasanya semua hal yang telah disediakan Allah secara pengasih dan penyayang sudah sedemikian banyak dan berlebih-lebihan.

Misalnya, dia tidak punya harapan-harapan yang aneh menghadapi tahun 2026. Sebab, 2026 tahun kita, katanya seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun kita itu maksudnya sukses dan tercapainya keinginan pada sesuatu. Tapi seperti yang sudah-sudah, kalau ternyata tidak pun tak mengapalah. Dia biasa karena sering gagalnya. Lagipula kegagalan yang dia alami tidak lebih banyak daripada kegagalan pemerintah sekarang dalam banyak hal. Kegagalan mengatasi kemiskinan, misalnya, karena menurut ramalan kaleng rombeng tahun depan kita masih siap hidup terseok-seok. Saya sendiri kemakan percaya kepada omongan rongsokan ini, karena sebagian dari kita dilarang menggunakan akal sebagaimana mestinya. Cobalah lihat yang baik-baik, diskusi buku dibubarin, berpendapat dipenjarain, menyuarakan sesuatu diadili, dan hal-hal berbau aktivisme dipaksa belajar abcd militeristik secara penganiayaan dan penindasan hak asasi manusia. Ini ancaman serius tahun depan bagi demokratisasi. Dialog keterbukaan akan berganti rupa menjadi monolog kekerasan dalam pertunjukan impunitas.

Jelek-jelek begini saya sama seperti sahabat karib saya yang kecoa itu, wajarlah jika saya harus menyelami betul-betul dan dalam-dalam mengalami langsung suatu keadaan apa itu observer. Sampai plong hati saya meninggalkan tahun 2025 tanpa diombang-ambing perasaan yang membikin nelangsa. Hidup tanpa optimisme dan pesimisme, karena itu saya masih dikasih sehat bagas kewarasan. Dan sungguh gembira hati saya menghadapi tahun 2026, karena seperti sahabat karib saya itu harapan saya sederhana saja, tidak neko-neko. Asalkan tahun depan lebih mendingan, mau keadaan kayak apapun tak masalah kalau lebih mendingannya, misalnya, mendingan berpegang teguh pada kewajaran hidup dan hati nurani di tengah tekanan politik dan segala macam godaan duniawi, mendingan saya bisa tidur kalau saya mau, dan mendingan saya tertawa kalau saya mau. Simple saja.

30 Desember 2025

  • Aktif berteater bersama Paseduluran Lidah Daun. Menulis puisi, esai, dan sejumlah drama. Tinggal di Pamulang, di padepokan Rumah Tumbuh Muthmainah.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *