Film yang menggetarkan hati penonton pada keprihatinan: kapitalisme adalah si biang kerok segala-galanya, termasuk soal penjajahan hati dan cinta kita. Pilihan aksentuasi, penggalian bahan, dinamika karakter, dan ragam dialog sangat menentukan sikap keberpihakan (Celine Song a.k.a sutradara) yang terang-terangan dalam dialektika kaya-miskin.
Semua “melek”, sistem kapitalisme—melalui pengkondisian gaya hidup suatu masyarakat tertentu—telah memengaruhi persepsi kita terhadap cinta, yang bukan dalam pengertian sederhana, melainkan berkesadaran transaksional. Dan suka atau tidak, film Materialists, sebagai karya seni yang paling berkepentingan dalam media komunikasi massa, terlibat intens dalam melawan kapitalisme. Akan tetapi, dalam situasi yang menjunjung tinggi status finansial ini, banyak orang bertanya-tanya: apakah masih ada harga cinta buat yang selalu kalah di hadapan nominal ini?
Setidaknya film yang berlatar belakang budaya kencan yang dibentuk-visual oleh kemewahan di kota New York ini tengah menampilkan sebuah ruang penalaran yang begitu luas dalam mempertimbangkan arti cinta di era gempuran kapitalistik. Film ini mengisahkan tentang seorang mak comblang bernama Lucy (Dakota Johnson) yang mulai meragukan rumusnya sendiri perihal cinta itu ilmu pasti karena terjebak cinta segitiga. Dia bertatap pandang dengan masa silam yang mengunjunginya kembali yang diperankan oleh Chris Evans sebagai John—seorang pelayan cum aktor, dan masa depan yang menawarkan kecemerlangan yang dimainkan oleh Pedro Pascal sebagai Harry—seorang investor tajir melintir sejak lahir.
Pada aras demikian, mengingat judulnya Materialists, agaknya ekspektasi penonton terhadap Lucy cenderung terarah akan bersama orang yang memahami permainan cara dunia bekerja, ketimbang bersama orang yang tak menjanjikan kemegahan apapun padanya selain cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan (Umbu) dan bergaransi seumur hidup. Pendeknya, Lucy diharapkan mau terima lelaki kaya, tapi ternyata dia merasa sirr yang layak baginya adalah lelaki miskin.
Dalam satu bagian dialognya, pertanyaan Lucy masih sama: mau cinta sampai kuburan atau panti jompo?
Pertanyaan itu mengisyaratkan suatu upaya untuk membalikkan keadaan materialisme dalam budaya kencan modern yang transaksional, sekaligus tanpa tedeng aling-aling mematahkan pembayangan para penonton yang kemakan ekspektasi sosial. Ada sebuah permainan nuansa melalui frasa seperti komodifikasi hubungan, pernikahan adalah bisnis, jasa kencan yang biasanya menjadi pakaian kebesaran kapitalisme itu seakan diluruhkan di film ini dan kepuitikan lebih banyak disajikan melalui dialog jujur yang bersahaja karena mengandung daya pukaunya tersendiri.
Rasanya seperti tak pernah terbayangkan bila bertemu seseorang yang pernah mengisi hidup di masa lalu itu ternyata kini telah menjadi wanita sukses. Wanita karir. Mak comblang ciamik dengan naluri yang sangat tajam dan cermat dalam memilah kecocokan kencan yang menghasilkan pernikahan. Pertemuan itu kemudian berlanjut ketika Lucy diantarkan pulang oleh John—yang sepanjang perjalanan saling kikuk dan menatap tanya.
“Kau memikirkan apa, Lucy?”
“Baunya sama.”
“Mobilku?”
“Ya.”
Keduanya terdiam. Lalu scene memperlihatkan suatu konflik saat masih pacaran, dari situ kita tahu bahwa pasangan itu telah melewati sekian banyak kesengsaraan untuk bersama, sebelum pada akhirnya tetap saling meninggalkan, karena:
“Aku tak mau bayar $25 untuk satu jam parkir mobil bobrok ini.”
“Itu yang termurah.”
“Kita akan parkir di blok berikutnya.”
“John, sudah 20 menit. Akan kubayar.”
“Tidak boleh.”
“Kubilang, reservasi batal. Mereka tak tahu cara hidup di kota. Jika kita telat 15 menit dan kita harus bayar biaya pembatalan $25 per orang.”
“Kau serius?”
“Sudah kukatakan sepuluh kali.”
“Itu pemerasan. Kenapa reservasi di sana?”
“Kita sepakat pergi ke restoran untuk hari jadi.”
“Tak ada tempat yang “bagus” di New York yang tidak mendendamu $50 karena telat beberapa menit?”
“Kenapa kita naik mobil?”
“Itu salahku, latihanku berlangsung lama.”
“Aku paham. Kita bisa panggil mobil (maksudnya taksi online).”
“Agar bisa bayar $50 untuk masuk kota ini dan $200 di restoran?”
“Untuk apa punya mobil jika tak mampu membayarnya, John? Lihat, di sana.”
“$20 untuk 40 menit? Perhitungan macam apa ini?”
“Aku tak ingin bertengkar soal uang dengan pacarku di hari jadi. Aku merasa seperti orang tuaku.”
“Maaf. Kita parkir di garasi berikutnya.”
Lucy keluar dari mobil. John berusaha mencegahnya.
“Kau sedang apa? Lucy, kau mau ke mana? Maafkan aku. Aku tak punya uang dan aku lupa.”
“Kau lupa apa? Bahwa kau mencintaiku?”
“Bisa kembali ke mobil?”
“Aku tak membencimu karena kau miskin, tetapi itu yang kurasakan saat ini, dan aku jadi benci diriku.”
“Kau tahu betapa sulitnya membuatmu bahagia? Aku ingin kau bahagia. Aku berusaha. Sungguh.”
“Aku tahu. Itu hampir cukup untuk membuatku bahagia. Andai aku tidak peduli jika kita makan dari kios halal pada hari jadi kelima kita, tetapi aku peduli. Seberapa kau membenciku, aku lebih membenci diriku sendiri.”
“Aku tak membencimu.”
“Kau membenciku bukan karena kita tak saling mencintai. Tapi karena kita miskin.”
Dialog di atas betul-betul pahit dan pedih (karena betapa rapuhnya cinta di tengah gempuran kapitalisme) dan penulisnya merasa perlu menyampaikan dalam bahasa yang lebih relate, lebih klop dengan keadaan sekarang bahwa kemiskinan bukanlah kesalahan orang miskin, melainkan karena memang dimiskinkan oleh sistem yang berlaku dalam masyarakat kapitalis. Dialog tadi mengindikasikan suatu kondisi yang telah sedemikian ditata secara struktural dengan cara pandang kapitalistik: pilih cinta atau uang? Seakan-akan uang dan cinta bisa diadu dan siapa yang menang?
Melalui dialog sengit itu, saya kira, si penulis skenario berusaha menyampaikan gagasan-gagasan dalam cara romantis dan to the point secara tidak langsung. Dan semuanya diimplisitkan, karena memang harus ada sesuatu yang disembunyikan di bawah permukaan, misalnya menyampaikan satu hal melalui hal lain, bahwa film ini bukan kisah tentang memilih cinta atau uang, melainkan tentang melawan cara-cara kapitalisme yang mencoba menjajah hati dan cinta, sambil terus mencari cara bagaimana kita menegosiasikan keduanya di dunia kapitalis. Mau dilihat dari segi kelas sosial, silakan. Mau diteliti dari pandangan cinta yang telah terpapar kapitalisme, monggo. Mau pada kenyataannya kapitalisme telah mengubah cinta menjadi barang mewah, menjadi sesuatu yang seolah-olah bisa “dibeli” atau dinilai berdasarkan keuntungan material (investasi berkedok asmara), dan bukan berasal dari getaran sirr yang tulus bahwa cinta itu kondisi dan mencintai itu aktivitas.
John adalah gambaran kewajaran semua laki-laki harus berpenampilan menarik meskipun tak punya uang. Sudahlah kere ditambah miskin pula. Betapa secara kostum, kita dapat menduga bahwa hampir kebanyakan lelaki miskin seolah-olah lebih cenderung pakai flannel, ketimbang kemeja formal. Yang jelas semua laki-laki kalau mau ketemu perempuan akan selalu tampil beda dari biasanya.
Begitulah yang dilakukan oleh John agar senantiasa lebih memahami hatinya (Lucy), dan tahu perasaannya sedang ada masalah kerjaan. John selalu menguatkan sekaligus menyemangati. Karena baginya, tak sulit melakukan itu jika kita mencintai seseorang. Itu adalah hal yang wajar sesuai tingkat kepekaan tiap pribadi. Tak perlu terburu-buru untuk menghakimi karena dia lelaki miskin. Lagi pula cinta memang bukan soal fisik. Karena bagi mata yang memiliki cinta, setiap fisik masing-masing pasangan adalah bentuk paling sempurna.
Kemudian scene beralih ke keadaan ketika Lucy yang bimbang datang ke apartemen John. Seharusnya hari itu Lucy akan berangkat ke tempat yang ingin dia kunjungi bersama si lelaki kaya, pergi ke Islandia. Bahkan, sejak saat itu, Lucy bisa mendapatkan semua hal yang dia mau, tetapi dia enggan. Karena ada persoalan satu dan lain hal, tiba-tiba saja dia langsung meninggalkan si lelaki kaya. Dia tak tahu akan pergi ke mana selain ke apartemen John, karena apartemennya sendiri sudah terlanjur disewakan ke orang lain. Tapi tak mungkin bagi John membiarkan wanita cantik sepertinya untuk tinggal di kontrakan yang kotor, kumuh, dan jorok. Bagi John, apartemennya tidak nyaman untuknya, maka dari itu ia pakai siasat “akal-akalan si miskin”.
“Mau jalan-jalan ke utara?”
“Ke mana?”
“Entah. Jalan-jalan saja. Menginap di Hotel. Aku baru dapat honor dari pertunjukanku, jadi, sekarang aku kaya.”
Dialog singkat itu sunguh-sungguh menegaskan perekonomian hidup laki-laki yang tangguh tahan secara finansial dibawah rata-rata. Karena kekayaan terbesar yang dia punya adalah ilusi kebahagiaannya sendiri. Kalau duit habis, gampang dicari lagi. Kalau finansial macet, tinggal tancap ekonomi bergerak. Kalau rezeki seret, kerjain apa saja yang penting halal. Tapi kalau hendak mencari kepastian dalam hubungan yang singkat ini, maka John perlu mempertanyakan lebih lanjut kepada Lucy.
“Apa artinya ini?”
“Maksudmu?”
“Apa kita kembali bersama? Lucy, kita kembali bersama?”
“Entah. Aku sungguh tak tahu.”
“Jadi, kau memutuskan muncul di depan pintuku, tidak punya pacar, setuju masuk ke mobilku, menciumku, bercinta denganku sambil melupakan orang lain, lalu meninggalkanku lagi? Begitukah? Menurutmu aku tidak berguna?”
“Tidak.”
“Bisa dibuang begitu saja?”
“Tentu tidak.”
“Kau mengasihaniku? John yang malang hidupnya tidak berhasil?”
“Tak pernah.”
“Lalu kenapa memanfaatkanku?”
“Aku tidak memanfaatkanmu.”
“Biasanya aku cukup putus asa untuk membiarkanmu begitu. Aku adalah pengemis bagimu. Saat kulihat wajahmu, aku melihat kerutan dan uban, dan anak-anak yang mirip denganmu. Aku tak bisa menahannya. Namun, sebagai teman, kusarankan jangan bersama seorang pelayan katering berusia 37 tahun yang masih punya teman sekamar. Akan kukatakan jangan menikahi pria yang punya $2.000 di rekening bank di kota yang terlalu mahal baginya, yang masih ada di situ untuk menjadi aktor teater karena ada yang mengatakan bahwa dia berbakat. Jadi, apa artinya itu untuk kita? Di sini. Di pernikahan orang lain. Aku tak bisa memberimu pernikahan yang kau inginkan. Aku bahkan tak bisa memberimu hubungan yang kau mau. Sudah lama sekali, aku masih belum mampu bersamamu.”
“Kau benar (John), kau tak bisa. Namun, hanya karena tak mampu, bukan berarti tak pantas untuk dimiliki. Kau tak menginginkanku.”
“Tentu aku mau. Apa kau tidak mendengarkan?”
“John, kita belum bersama dengan benar dalam waktu yang lama sehingga kau lupa. Kau tidak ingin bersamaku karena aku orang yang buruk. Aku mengkritik, materialistis, dan kejam. Aku putus denganmu karena kau miskin. Aku telah menyakitimu berulangkali. Kau membenciku.”
“Aku tak membencimu.”
“Kau membenciku. Kau benar untuk membenciku karena aku jahat. Bahkan sekarang, aku berpikir, andai memilih untuk menikahimu, aku akan duduk bersamamu di restoran murah yang jelek seumur hidupku. Aku akan naik mobil jelekmu, dan tinggal di kamarmu yang jelek, dan berkelahi denganmu soal $25. Kutimbang hidup bersamamu dengan segala kemalangan ini. Aku buat perhitungan. Seperti inilah aku.”
“Aku tahu sifatmu.”
“Lalu, kenapa kau masih mencintaiku?”
Dan, sesungguhnya, seluruh dialog dalam film tersebut pada kesimpulannya, barangkali, sama seperti bunyi sajak Aan Mansyur: Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.
Scene bergeser, John setia menunggu Lucy yang sedang memediasi kliennya karena ada masalah kencan. Dia berharap-harap cemas di luar pintu, sampai-sampai tertidur di tangga depan apartemen klien tersebut. Baru kemudian setelah itu Lucy keluar.
“Dia tidur,” kata Lucy.
“Baguslah. Kau baik-baik saja?”
“Ya. Pulanglah.”
“Kuantar kau pulang dulu.”
“Aku mau tidur di sofanya….”
“Kau bertanya kenapa aku bisa mencintaimu? Aku mencintaimu saja. Itu hal termudah.”
“Aku juga mencintaimu lebih dari yang kau tahu. Kau satu-satunya alasan bahwa aku tahu aku mampu mencintai.”
“Aku sudah menghitungnya.”
“Benarkah?”
“Ya. Aku siap memberimu penawaran.”
“Oke.”
“Ini tawaranku: aku mencintaimu sekarang seperti sebelumnya, aku akan mencintaimu sampai mati. Ini garansi seumur hidup. Aku tak akan melupakannya seperti dahulu meski keadaan sulit. Aku akan membuat jadwal tiap hari untuk mengingatkanku bahwa aku mencintaimu. Aku akan menjadi kepastianmu. Itu tawaran terakhirku. Kau tak bisa negosiasi karena tak ada lagi yang bisa kutawarkan.”
“Deal.”
“Aku ragu bisa membuat diriku tidak terlalu miskin.”
“Tak perlu mengkhawatirkan itu. Kau tahu aku bisa mengurus diriku sendiri.”
“Ya, aku tahu. Bukan untukmu. Tapi untukku. Untuk kita. Kau membuatku cukup berani untuk mengakui bahwa aku ingin bahagia. Aku ingin bahagia bersamamu. Aku akan ambil lebih banyak sif katering. Minta naik gaji. Kucari pekerjaan sebagai pelayan restoran. Aku tak akan menolak audisi iklan, meski mereka menyebalkan. Aku akan berusaha mencari manajer. Aku akan keluar dari apartemenku, juga menjual mobilku.”
“Jangan jual mobilmu.”
“Jangan?”
“Jangan, mari…”
Maksudnya mari sudahi dialog semua itu. Lucy sepakat tanpa sepatah kata pun, lalu kemudian hanya ada ciuman sebagai tanda bahwa keduanya telah resmi kembali bersama. Akhir dari peristiwa ini secara tajam mengkritik ekspektasi sosial yang kerap dibebankan ke dalam suatu hubungan. Ini adalah sindiran halus buat kapitalisme dengan memperlihatkan bagaimana cara-cara kapitalis bekerja. Cobalah perhatikan adegan pamungkas di bawah ini.
Ketika Lucy dapat tawaran naik jabatan, dapat gaji tinggi. Tetapi malah dia baru mau mengundurkan diri. Dan saat ditanya mau kerja apa? Dia tak tahu. Mungkin menikahi orang miskin, katanya: entah itu di KUA maupun di nikahan massal.
Dialog mantap semacam itu muncul dari keprihatinan untuk menyampaikan cara kita berbicara tentang orang-orang miskin melalui film-film yang berniat menjadi kritik sosial. Ia bertujuan menggugat realitas dan sekaligus menantang penonton. Dengan kata lain, di balik pesona tiap adegan maupun dialognya, film ini seperti kewaspadaan untuk menyikapi gerak-gerik kapitalisme yang telah bernaung di ruang paling intim dalam hidup kita: tunduk pada kapitalisme atau terus memperjuangkan nilai-nilai cinta yang menyimpan keteguhan hidup—yang tak mengharapkan apapun tatkala bersama orang yang kita cintai selain abadi dan itu adalah segala-galanya bagi pecinta.
07 Januari 2026

