Maurice Lalau (1881-1961)
Bahasa Waktu
Usia terus menggali lubang di pemukiman padat nasib
Hendak mengubur masa kanak-kanak di samping pohon-pohon harapan
Apa yang sesungguhnya terjadi pada hidup?
Waktu seperti mengendarai mobil masa depan
dan kau hanya berjalan di trotoar penuh pertanyaan
Hingga tahun berganti pakaian tergesa-gesa;
menampilkan tubuh derita penuh bekas sayatan pisau
mimpi yang tinggal karatan
Betapa jauh kau hilang oleh dunia modern saat ini?
Ambil segenap heningmu di atas meja makan itu
Lalu biarkan ingatan menari seperti rerumputan
didendang angin malam seraya matahari pulang
dari rantau angkasa
Waktu adalah bahasa Tuhan
jika kau tak terampil mendengarkan
Celakalah jiwamu tertawan.
Padang, 2025
Hidup dan Menghidupkan
Sebelum lahir, garis nasib telah ditanam di pundak pria
memetakan sengkarut hidup yang tak bisa diganggu gugat
Umur hanya kontrak yang panjang
Jiwa bagai kuburan masal atas segala kematian
Dua belas pohon beringin tumbuh
tiga ratus enam puluh lima tahunnya
duka gugur adalah daun-daun;
mimpi yang kering perihal rahasia Tuhan
Meski kerap di hadapan cermin
selalu melihat dirinya sendiri terbakar
hingga menjadi abu yang tak pernah dikenali
Tapi mau bagaimana
Bara api harus nyala untuk patah kaki pikiran
agar sungai bahagia tetap mengalir
Unggun harapan harus hangat untuk retakan dada
agar laut cinta tetap bergelombang
Dan sungguh pria melewati ranjau yang dera
Sebab perjalanan ini ledakan nyawa.
Padang, 2025
Pelan-Pelan Pulih
Barangkali matahari tak cukup menghapus jejak kering di halaman
Tapi waktu akan membersihkannya dengan pel takdir
Tidak perlu takut kupu-kupu tersesat
Meski bunga mekar tanpa aba-aba
Alir sungai tahu ke mana harus bermuara baru.
Padang, 2025

