Obituari Syamsul “Iib” Maarif
Seorang mahasiswa hukum yang ceria datang menemui saya di Rumah Tumbuh Muthmainah (Rutum) hanya untuk belajar (cara membaca puisi) deklamasi sajak. Betapa inkompetensinya orang ini, jika dilihat dari jurusan secara fakultatif. Sudah berapa banyak biaya yang ia keluarkan untuk mengongkosi pertanyaan krusial yang tak seorang dosen hukum pun mampu memberi jawaban memuaskan: apa arti puisi dalam kacamata hukum?
Jelas, hukum tak mengenal keindahan. Hukum hanya tahu salah dan benar. Itupun seringkali terjadi dakwaan keliru: yang salah bisa jadi benar, yang benar boleh jadi salah, dan masih banyak lagi faktor beserta variabel salah-benar lainnya. Memang beginilah kacamata kuda pendidikan hukum kita, yang sepanjang perjalanan kuliah selalu saja ia enggan memakainya.
“22 Januari”-nya Iwan Fals, lagu terakhir yang ia putar adalah jalan berdampingan tak pernah ada tujuan. Hukum dan puisi dalam dirinya senantiasa ia ikut sertakan untuk membelah malam. Tapi di sepertiga malam itu, ia baru saja pergi ke ruang antara: rentang-hidup dan rentang-nyawa. Pergi bukan untuk mencari ke mana arah hukum dan puisi ini akan dituju, karena ia telah menembus tujuan itu sendiri sampai menemukan keabadian, dan di sanalah *hukum dan puisi dengan bangga ia kenakan sebagai pakaian kebesaran selama-lamanya laiknya seorang pembelajar sejati.
Ia pergi tapi tak pernah mati. Syamsul Maarif (dengan nama panggilan kesayangan Iib) tinggal nama, saya membaca goresan namanya seperti kebaikan pengetahuan adalah pengetahuan kebaikan. Kesungguhan hidupnya telah ia jalani sepenuh ceria, meski seringkali penderitaan lebih banyak menemuinya di mana saja. Semuanya itu tak gentar ia dekap erat-erat. Ia pandang senyum hidup ini dengan sorot mata yang jalang berbinar puisi, karena menolak pakai kacamata kuda hukum. Ia berjalan melintasi malam dengan seberkas cahaya namanya sebagai perbuatan memahami sebaik-baiknya pengetahuan adalah pengetahuan yang berisi laku perbuatan baik sehari-hari. Ini tidak diungkapkan, tapi dilakukan. Ia telah melakukan apa yang tidak diungkapkan, dan tidak pernah mengungkapkan apa yang pernah dilakukan.
Ia bersinar tidak dengan mengungkapkan bahwa dirinya bercahaya, melainkan namanya sendirilah yang telah menerangi sekitarnya dengan pengetahuan sebagai perbuatan. Ini teruji karena saya telah mengalami hidup bersama-sama di Rutum, kedekatan inilah yang membuat saya agak susah untuk berjarak dan mengungkapkan kenangan penting perlu dicatat dari pamit kepergian Iib itu. Hal ini pulalah yang, saya kira, ketika kebanyakan warga “medsos” Indonesia terlalu sibuk membicarakan (seorang influencer yang juga baru saja meninggal kemarin) hendak mencari tahu apa penyebab kematiannya, tetapi kalau Iib berbeda dari yang lain, karena pada kenyataannya, banyak orang menyayangkan kepergiannya, sebab Iib semasa hidupnya memang dikenal sebagai salah satu jenis “manusia wajib” di semua kalangan yang menyertainya. Kebaikan yang menjadi laku hidupnya terbukti telah menggoreskan luka di hati kembali bagi setiap orang yang pernah bersamanya. Ia membekas, terasa, dan kehadirannya seterang namanya, meski warna-warni kusam dan nuansa suram selalu menyelimuti hidupnya.
Iib adalah “manusia wajib”, artinya orang akan jauh lebih senang kalau ia hadir, karena kehadirannya selalu dinanti-nanti. Barangkali karena ia berbekal penuh keceriaan, sehingga tak pernah bisa kita temukan di mana atau ke mana wilayah-wilayah keluhannya itu tersampaikan. Ia gemar membalikkan keadaan dengan humoris. Inisiatifnya tak tertandingi. Semangat belajarnya menggebu-gebu. Rasa ingin tahunya meluap-luap. Karena sejatinya universitas manusia adalah problem-problemnya, dan Iib paling beres di antara kami kalau urusan menekuni terang repot, paling bisa diandalkan untuk melakukan hal-hal yang saya sendiri justru tidak sanggup menanganinya, paling mampu menerapkan “silih asah, silih asih, silih asuh, silih back-up” sebagai filosofi hidup mendasar di Rutum secara romantik. Seakan-akan Iib selalu saja lebih dulu menggerakkan apa-apa yang sudah saya ucapkan: di mana saya baru sampai menelan ludah sendiri, tetapi Iib sudah merasakan dengan mengalami pahit-manisnya sendiri.
Tahun lalu, ketika ia diminta menangani artistik suatu pertunjukan, yang mana pertunjukan tersebut membutuhkan seratus karung berisi rumputan. Banyak dari tim artistik kewalahan menggarap itu, kecuali Iib. Ketika yang lain mulai kelelahan dan hampir pasrah dalam mengatasi persiapan artistik menjelang pertunjukan, justru Iib-lah yang paling siap sedia dan rela habis-habisan tenaga demi mencapai kebutuhan artistik tersebut. Bukan sekali duakali ia sregep dalam urusan artistik, tapi kalau ia sudah bergerak, pergerakannya itulah yang menjadi cambuk kesegaran bagi teman-teman lain yang mulai meredup. Ia melecut dengan segala tindakannya sendiri. Ia bergerak di luar arus yang masih membutuhkan komando untuk melakukan sesuatu. Ia terus saja begitu sampai kemudian segala tindak-tanduknya ternyata telah menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Ia seperti orang yang tak pernah mau dibantu, meski sangat butuh bantuan. Tapi ketika ada suatu keadaan memanggilnya dengan panggilan tersayang yaitu respon, tak pernah sekalipun ia membiarkan telepon darurat itu tak terangkat.
Iib adalah salah satu penghuni Rutum, keluarga besar sejagat raya, yang memenuhi rasa cinta saya kepadanya meski ternyata jauh lebih besar rasa cinta ia kepada saya. Ia seolah-olah lebih menyayangi diri saya ketimbang saya sendiri. Ia seolah-olah penuh cinta buat orang lain karena memang seluruh hidupnya adalah kesanggupan untuk mencintai tanpa mengharap belas kasihan dicintai. Ia hanya tahu mencintai dengan sopan. Mencintai dengan tata krama. Mencintai bagaimana rasanya hidup bersama-sama di Rutum dengan kecantikan akhlaknya serta kewajaran kenakalan-kenakalan hidupnya.
Ada satu waktu di mana penyakit yang paling setia menemani hidup saya adalah masuk angin, seringkali Iib yang menawar kepada angin untuk kembali laginya besok-besok saja (maksudnya ke badan saya) dengan menariki sejumlah tulang belikat saya. Urusan angin-anginan, Iib masih menjadi salah satu dari keajaiban Allah yang diberi kemampuan ihwal pengobatan tanpa obat-obatan.
Sebagai pemain utama “Surat Sobek” (workshop daur ulang kertas), rasa-rasanya Iib pulalah yang paling sregep kalau nyetak. Ia nyetak kertas karena mau nyetak, bukan karena disuruh atau ada komando. Ia selalu bangun lebih pagi daripada saya sebelum jam kerja saya mulai, padahal jam tidur kami seringnya sama, cuma bedanya ia memilih tidur nikmat, sedangkan saya tidur cukup sehingga sampai kesiangan maupun kesorean. Ia tidak butuh apa-apa untuk melakukan sesuatu, karena seluruh anatomi tubuhnya telah mengalami sinkronisasi untuk semua tindakan. Sedangkan saya harus mengalami ritual remeh-temeh seperti bikin kopi, sarapan, dan rokok-an. Menjadi jelaslah mengapa ia sebegitu diandalkan. Ia satu-satunya pemain dengan tingkat mobilitas yang tinggi di segala lini, daya inisiatif dan kesregepan dalam mengolah hidup sudah amat sangat ia nikmati.
Selama hidup bersama-sama di Rutum, tak pernah saya menjumpai seorang mahasiswa hukum yang sebegitu ingin belajar puisi selain Iib. Ia ingin bisa tampil baca puisi, ikut lomba baca puisi, dan sewaktu-waktu kalau dibutuhkan bisa siap jadi aktor. Jelas dan terarah. Sejak itu kami berlatih bersama-sama, ia membacakan puisi dan saya mendengarkan. Ia menginterpretasikan sajak, saya menemani gairah menjelajahnya. Kemudian pertemuan-pertemuan berikutnya selalu dimulai dengan perkataan yang sama: “Bang, Iib mau setoran baca sajak.” Artinya, ia sungguh-sungguh mau berlatih sendiri. Ia tampaknya rajin mengerjakan “PR” yang bukan berasal dari pemberian tugas kampus. Dari situ saya tertarik dengan apa yang membuat ia tertarik kepada puisi?
Apakah keindahannya? Apakah kewajarannya? Apakah kebijaksanaannya? Untuk apa ini semua di mata hukum? Kenapa ia lebih memilih kacamata puisi ketimbang kacamata kuda buatan hukum? Atau jangan-jangan ia sedang mengamalkan apa yang selama ini tidak dikenal dalam ilmu hukum. Jadi kemungkinan hukum yang bakal ia terapkan tidak bisa tidak menghindari keindahan karena sudah terlanjur kecemplung puisi. Artinya, hukum harus bisa terbuka terhadap kewajaran dan kebijaksanaan hidup dalam setiap pengambilan keputusannya. Hukum orang yang mencuri karena lapar tak boleh lebih lama masa hukumannya daripada orang yang korupsi demi memperkaya diri. Hukum orang yang membela kedaulatan rakyat tak boleh lebih tajam daripada orang yang menyelewengkan undang-undang dasar Negara.
Kalau ada orang salah dihukum itu adalah tindakan yang benar, tapi kalau koruptor dibiarkan itu adalah kesalahan yang fatal. Di sini, benar dan salah tergantung pada konteks ruang dan waktunya. Terlebih lagi benar dan salah, menurut Iib, juga harus mempertimbangkan kewajaran dan kebijaksanaan hidup. Percuma benar kalau tak wajar. Cuma percuma benar kalau tak mengerti kebijaksanaan. Dengan mempelajari puisi-puisi itu, Iib tidak sedang berupaya meluruskan hukum yang kian bengkok, tetapi ingin menyusun suatu formula hukum yang asyik secara proporsional antara hukum dan puisi. Barangkali ini tujuan yang selama ini disembunyikan oleh Iib melalui nyanyian jalan berdampingan tak pernah ada tujuan dengan segala kemuliaan hidupnya.
Ib, andaikan kelak saya lulus masuk surga dan dikasih jatah rumah yang sedikit berbeda ukurannya dari Rutum—dengan halaman depan dan samping yang cukup lega serta belakang rumah yang jembar—insya Allah akan saya bikin studio di sisi rumah agar kita latihan bersama lagi. Tunggu sabar sampai pembangunannya dapat izin dari Allah SWT, Ib.
26 Januari 2026

