Edvard Munch (1863-1944)
Keranjang Nikah
pundi terisi, harga cincin naik
restu orang tua mahal
undangan terasa seperti kredit
aku menghitung lagi:
bukan takut terikat,
aku cuma tak mau berutang
pada bahagia yang tergesa
kalau jadi rumah
biarlah fondasinya jujur:
bukan dari gengsi,
tapi dari keringat
yang tak mengemis.
(2026)
Dua Musim
ibu ayah: dua musim
yang menghangatkan
dan mendinginkan beranda
aku baru sadar:
musim pun punya jam pulang
maka kupelajari kompor sendiri
cara menanak padi dari kebingungan
kutarik garis pada pengeluaran
kutempa punggung agar berdiri tegak
karena cinta mereka bukan tongkat
melainkan peta
sisanya: kakiku yang harus
membaca arah
(2026)
