dokumentasi; HandhykaPermana

Malam minggu sepulang dari Rutum, hampir menjelang tengah malam, gerimis masih bercucuran, lalu tiba-tiba motor saya mogok di jalan, dan semua bengkel tidur pulas. Mau dikata apalagi jika kejadian seperti ini ternyata biasa kami jalani dan rasakan sesering mungkin. 

Sebutlah dari mulai motor mogok, sepeda bermasalah, mobil mati total, vespa angot-angotan, ekonomi seret, dompet macet, dan hal-hal lain yang memang tak bisa dipungkiri—yang terkadang potensial untuk “dihikmahi-dramatisasikan” maupun “dikaromah-karomahkan”.  Sebab dalam kondisi seperti itu, asal kami buka handphone lalu menuliskan pesan: “backup”-in, dong. Saya yakin beribu yakin, siapapun yang masih melek, tentu akan segera mengambil tindakan evakuasi. 

Alhamdulillah, malam itu ada Brata yang menemani saya karena minta nebeng pergi nongkrong, maka kami tidak buka hp dan tidak mengabari siapapun. Ajaibnya, baru beberapa meter kami dorong motor, muncul orang baik yang rela dan bersedia nyetut motor sampai warung Madura terdekat buat isi bensin. Tetapi ternyata bukan ini masalahnya.

Belum sampai sepuluh meter dorong motor, nongol lagi gojek yang luar biasa solidaritas salam satu aspalnya. Tak banyak cincong, ia langsung setutin motor kami bergegas mencari bengkel yang kira-kira masih buka. Tapi sudah kepalang jauh, tak satupun bengkel tersedia. Akhirnya kami menepi pasrah sambil berusaha membetulkan sendiri permasalahan motornya. Masalahnya ketemu, namun langsung menyadari bahwa satu-satunya kunci hanya obeng. Dan itu tak bisa berbuat banyak, meski terbilang sedikit membantu. 

Selanjutnya adalah kami mengambil keputusan taktis untuk ikut ke rumah Abang gojek. Karena kemurah-hatianlah, beliau sudi menangani servis sendiri dengan perlengkapan bengkel yang ia punya. Selama beliau otak-atik atau ngoprak-ngoprek motor, tersadar saya bahwa dalam kesulitan seperti ini, seluruh pengetahuan dan segala macam omongan di Rutum yang menjadi pembelajaran buat kehidupan sehari-hari ternyata belum apa-apa. Seakan-akan tidak ada artinya di hadapan motor yang mogok. Hanya pepesan kosong belaka.

Paling pol cuma bisa mengucap sepasang kata ampuh: “masih bersyukur”. Dan kalimat pendek seperti ini bisa dituding sebagai ejekan kepada Tuhan. Maksudnya adalah tanda bahwa kita masih manusia kalau diberi kesulitan seharusnya dongkol, mengeluh, terharu, atau setidak-tidaknya sedih dikit. Tapi bersama Brata, kesulitan menjadi bahan humor yang layak kami tertawakan, menjadi tenaga syukur yang pantas kami ungkapkan, menjadi mode kegembiraan yang timbul secara otomatis. Kesulitan kapan saja boleh membersamai kami, tapi ingat dengan sangat aturan mainnya wajib mengikuti kami.

Setelah lepas dari kesulitan motor mogok itu saya bertanya pada Brata: “Ta, kenapa kita selalu berhadapan dengan kesulitan? Apa karena itu yang membuat kita tak henti-henti bersyukur? Bukankah masih bersyukur problem-problem kita itu cuma urusan kecil, masalah yang biasa-biasa saja, tapi…”

“Tapi kan rutin, bang,” sergahnya kemudian.

Sepanjang perjalanan kami puas menertawakan kesulitan itu. Lega karena dianugerahi masalah-masalah kecil yang rutin bersamaan “kelakone nganti ngece”.

Asal tahu saja, kesulitan adalah cara Tuhan berdialog dengan kami. Kesulitan merupakan salah satu pesan dari Tuhan untuk berkomunikasi dengan seluruh hamba-hambaNya. Hal ini mungkin terjadi kalau kita online terus kepada Yang Maha Memberi Hidup. Minimal terhubung atau terkoneksi dengan jaringan ilahiah, meskipun jenis sinyal kami masih GPRS, sedangkan yang lain sudah mencapai 5G transendental.

Saya dan kami semua penghuni Rutum memang lemot dalam memahami kesulitan. Kami baru bisa belajar ngomong bahwa kesulitan adalah karma nyata hidup kami. Kesulitan hadir sebagai konsekuensi langsung dari akumulasi perbuatan, kesalahan, dosa dan kelalaian pada kami sendiri. Saya kira, salah satu keunikan Tuhan menegur kami dengan cepat adalah dengan ditimpa masalah-masalah kecil yang rutin. Supaya kami memilih sadar atau bersikap putus asa.

Terang-terangan hidup kami memang urakan, meski suram tanggung-jawab dan tata-krama. Kami siap menerima segala bentuk ujian apapun. Kami pasang perangkap buat mengatasi kesulitan dengan silih backup. Kami pasang perangkap supaya putus asa dengan keadaan bisa kami olah menjadi tidak putus asa terhadap pertolongan Allah. Kami pasang perangkap di tiap masalah agar kami menyadari segala tingkah laku sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, perkara seperti tempo hari, sepulang ziarah ke makam Iib pemain yang diandalkan itu, tiba-tiba salah satu punggawa “mulut brengsek” keluar perkataan: “Oyy, bagaimana jika kita ambil induk kambing itu masukin ke mobil.” Entahlah, saya tidak paham maksudnya itu untuk dijual atau dipelihara, tapi yang jelas itu bahan humor yang biasa kami ucapkan seketika kalau menemukan sesuatu. Tak berselang lama kemudian, Umam si sopir yang nyeletuk soal kambing, mendadak menabrak induk ayam di jalan dan mati di tempat seperti ayam geprek mentah. Seketika itu mobil kami tepikan. Tak peduli yang salah ayamnya atau sopirnya. Ia keluar dengan rasa bersalah penuh tanggung-jawab, memindahkan ayam tersebut dari jalanan, lalu memberi uang ganti rugi kepada si pemilik ayamnya.

Dari situ kami ngeh, sudah tidak jadi makan ayam, malahan suruh bayarin ayam yang mati. Inilah paket makanan yang tidak dijual di restoran manapun: belum makan ayam, tapi sudah harus bayar terlebih dahulu. 

Betapa indah (kalau dalam pandangan kami) karma itu nyata. Kesulitan adalah buah dari karma kita sendiri, sebagaimana rumusnya jelas berlaku dharma-karma.

Sedangkan beberapa jam sebelum saya mengalami motor mogok, seperti biasa di Rutum saya bicara panjang kali lebar bersama Beben pemain paling semangat sendiri, energinya selalu penuh buat nyemangatin orang-orang. Kami omong besar soal kelangsungan hidup di Rutum: bukan kita yang menghidupi penghuni Rutum, tapi seharusnya juga Rutum bisa menghidupi hidup kita bersama-sama ini. Bab ekonomi arahnya. Syaratnya gampang kalau pakai cara Jawa, ora obah ora mamah. Kalau tidak bergerak, tidak makan. Itulah sebabnya pergerakan ekonomi kami adalah ekonomi bergerak. Siapa berani, atau mau bergerak terlebih dahulu, selebihnya tergantung pada insyaallah. Nggak perlu repot dan nggak ribet. Allah kita Maha Pemurah. Yakini itu saja.

Beben tahu banyak soal proses berkesenian kami di Pamulang hingga ke Rutum, malam itu kami mengenangnya secara bersama-sama, tapi atas pertimbangan “aurat sejarah” ia bukan materi yang ingin saya tuliskan. Sebab kami amat sangat menyadari posisi dan kerendahan wilayah kami bahwa kami bukan saja tidak penting, bahkan tidak layak pakai buat pembelajaran kehidupan manusia, masyarakat, dan bangsa. Tak ada yang bisa dipelajari dari cara-cara hidup survive kami, yang unik sekaligus beragam neko-neko dan aneh-aneh. Sebagian dari kami masih merasa diri sebagai tuan yang perlu diperlakukan seperti anak kecil: mau makan dipakanin, mau rokok dicariin, mau ngopi diadain. Sama sekali belum pantas dibilang mandiri, otonom, apalagi berdaulat atas dirinya sendiri. Tapi ini tidak pernah menjadi permasalahan antar diri, karena memang begitulah konsekuensi hidup bersama-sama mesti dijaga.

Yang tersulit adalah di tengah lingkungan “mulut-mulut brengsek” itu ternyata masih ada yang tersentuh hatinya dan kebawa perasaannya. Itulah sebabnya kami khawatir kalau omong perbaikan sana-sini soal kelangsungan hidup Rutum, takutnya disalah-pahami dengan hati karena kurang memahami dengan akal. Mau bicara manajemen supaya hidup lebih tertata meski tampak urakan, nanti disangka ngatur. Mau bicara akuntansi supaya hidup lebih waspada meski tampak berantakan, nanti dikira nyuruh. Paling enak memang bicara puisi dengan segala keganjilan-keganjilannya, orang bebas menafsir dan menginterpretasikan suatu sajak menurut keyakinan hati nuraninya sendiri.

Biarlah urusan kebersihan menjadi tugas piket sendiri atau bersama-sama. Begitupun perkara perawatan perangkat kerja menjadi tanggung jawab siapa punya. Andaikan ada supervisor suatu divisi yang paham betul mengawasi, mengkoordinasikan, lalu memastikan semua hal dilakukan sehari-hari sebagaimana mestinya dan sewajarnya. Ini baru teamwork namanya dalam mengolah dan mengelola perjuangan panjang nilai-nilai—yang selama ini diproses menurut khas kami sendiri. Itulah mengapa dalam tulisan ini kami bukan apa yang dengan sengaja atau terpaksa telah kalian baca: tentang dan untuk kami selingkaran kecil sendiri.

Senakal-nakalnya seluruh personil Slank tetap lebih nakal dan tajam perkataan kasih sayang Bunda Iffet alm. Yang sewaktu-waktu kalau Bimbim ngaco, Kaka ngawur, mesti beliau cintai dengan segala rangkaian “kata purba” sepenuh hati. Kalau ada di antara mereka yang ribut, beliau meleraikan dengan kesejukan. Kalau ada di antara mereka yang sempat keliru, beliau mengingatkan dengan lembut agar senantiasa perhatikan rambu-rambu jalan dan arah ke mana semua ini akan dituju. Kalau salah satu di antara mereka berani melanggar tanggung-jawab, beliau tidak lantas menghukumnya melainkan pelan-pelan dibekali bismillah untuk menempuh hidup perhatian.

Saya kira itu gambaran terindah dari hati keluarga yang telah meresapi tetesan kelembutan Kanjeng Nabi Muhammad. Segala yang mengeras pada anak-anak muda yang bersama saya itu akan terus berlatih keras kewelasasihan. 

Robbana atina qothrota luthfi Muhammadin fi qalbi

(Ya Allah, berilah kami tetes kelembutan Muhammad di hatiku)

Robbana atina qothrota luthfi Muhammadin fi jasadi

(Ya Allah, berilah kami tetes kelembutan Muhammad di badanku)

Robbana atina qothrota luthfi Muhammadin fi ruhi

(Ya Allah, berilah kami tetes kelembutan Muhammad di ruhku)

Robbana atina qothrota luthfi Muhammadin fi hayati

(Ya Allah, berilah kami tetes kelembutan Muhammad di hidupku)

Tunggu sabar sampai Rutum sungguh-sungguh memproses seluruh hal yang kurang lebih sulit, tidak enak, pahit, sengsara, menderita, dan atau apapun saja asalkan itu masih terkandung dan memuat segala penyerapan kelembutan Muhammad. Karena saya dan kami semua penghuni Rutum masih dalam tahapan proses hati yang berjiwa, karena itulah kami menyadari betapa pentingnya “badan” dalam jiwa atau hati Rutum. Rasakanlah sendiri jika hati tanpa badan bagaimana? Jika badan tanpa hati bagaimana jadinya?

Rasa-rasanya kami nantikan, kami rindukan, seseorang seperti Bunda Iffet—yang kalau beliau bicara siapa saja mau mendengarkan, yang kalau beliau ngomong selalu menentramkan. Beliaulah hati yang mengerti, hati yang memahami sekumpulan orang-orang lalai, serumah orang-orang urakan. Entah kapan ataukah memang itu tak dilahirkan oleh Tuhan?

Saya tak bisa menjawabnya, tanyakan saja pada Rutum yang kalau perkembangan diamati akan menjadi perubahan tiba-tiba: tidak kelihatan. Ning!

Pekarangan Rutum #2, 1 Februari 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *