dokumentasi; HandhykaPermana
Dari luar, kos-kosan dua pintu berdampingan, masing-masing berukuran 3 x 5 meter, dengan halaman depan yang cukup untuk memasukkan sebuah mobil karimun atau 12 motor sekaligus di jalan Ampera Poncol, Kota Tanggerang Selatan, biasa disebut Pamulang itu tampak biasa saja. Nyaris tak ada bedanya dengan rumah lain di samping kiri-kanan atau di depannya. Malah terkesan rumah pengungsian ketimbang rumah lain yang rata-rata desain rumahnya sedemikian modern.
Sejak pagi hingga menjelang sore, pekarangan itu disulap menjadi medan kerja daur ulang limbah kertas atau photo booth segala jenis perbukuan. Ndilalah, siapa sangka kalau alih fungsi lahan malamnya buat latihan musik, olah tubuh teater, nobar film, mengerjakan skripsi, meeting room dadakan, kelas terbuka pengetahuan umum, dan beragam “perkosa ruang” aktivasi lainnya.
Rutum pagi tempat ngantor, malam buat berseni dan bermain-main. Ogah bikin struktur organisasi, katanya sih selain karena tidak memenuhi syarat, juga dapat mengganggu stabilitas produktif berkarya. Maklum, rerata memang disebut pekerja seni, yang sampingannya juga masih kerja-kerja kesenian—yang sampai saat ini ditulis Negara belum bisa dibilang menghargai estetika melebihi curiganya terhadap lintas disiplin seni.
Artinya, kesenian saja tidak, apalagi buku. Yang belakangan ini sempat bermasalah. Buku telah menjadi perkara besar, mungkin bukan oleh karena buku itu saja, tapi karena seorang anak SD bunuh diri lantaran tak mampu beli buku dan pena. Ini sebuah tamparan keras bagi Negara juga tampolan telak kepada pembaca. Seolah-olah tak ingin usai di sini, “buku program” karya MBG yang telah habis dilahap oleh seluruh siswa se-Nasional itu, kini makin banyak memakan korban secara tidak hanya pikiran yang jadi terancam, melainkan juga ribuan korban telah mengalami keracunan massal, dan mungkin sampai merenggut nyawa seseorang seketika.
***
Andaikan Rutum sebuah buku, “Rumah” seperti apa yang mampu menuliskan riwayat itu?
Rumah, yang tak lain ialah nama dari si penulis itu sendiri, barangkali berbeda dengan apa yang kita harapkan. Dan memang akan senantiasa berbeda, karena ia memang suka urakan dan memberontak. Sebagaimana boleh jadi karena kita tahu praktik pelarangan buku sekaligus pembubaran diskusi buku akan selalu terjadi, sehingga ruang pernapasan untuk buku-buku serius—yang melanglang cakrawala berpikir kita—kian hari terasa kian sesak, dan bahkan sampai memerlukan tabung oksigen portable.
Tapi ketika saya mendapat telepati untuk menulis sirup marjan untuk buku yang akan datang ini. Buat saya ini adalah sebuah kehormatan dan kegembiraan. Mengingat ada banyak hal yang sebaiknya dibuka dengan blak-blakan atau dianggap tak perlu disampaikan. Padahal justru itu yang mungkin malah lebih penting disampaikan. Karena kalau tidak, kesaksian itu akan terkubur selamanya. Itu tugas sekaligus kesempatan bagi setiap tukang sirup. Karenanya lega lila, dengan sangat antusias saya siap terjun bebas ke rimba gelap dan langsung pertama-tama menyampaikan selamat. Bukan kepada penulis atau pembaca, tetapi kepada diri saya sendiri.
Rumah ketika saya dan penghuni Rutum lainnya mulai tumbuh daya penyaksian, penalaran dan penyadaran—di dalamnya saya makan, tidur, bermain, berlatih, bergurau, berceloteh, berkelakar, bekerja dan berpikir—yang nyaris setiap hari sejak bersama-sama di Rutum. Dan menurut keyakinan saya, setiap kepribadian adalah sebuah buku. Bedanya ada yang kesorot langsung, sebagian lainnya belum berhasil melahirkan dirinya. Barangkali memang sebagian orang ini takdirnya lebih luhur karena adanya ia tiada, tiadanya ia ada. Kalau pakai ilmu koruptor, makin tak ketangkap, semakin canggih. Sama halnya virus atau Corona (Covid 19), sebelum diketahui akan menjadi ancaman dan momok number one. Tapi sebaliknya kalau sudah terang benderang, jadi gampang.
Setiap tahun beratus-ribu buku mbrojol di seluruh dunia. “Semuanya berebut minta dibaca dicatat dan kemudian diuraikan secara rinci. Tapi apa daya, banyak sekali di antaranya yang begitu menjadi, langsung dilemparkan ke keranjang sampah, dan dikilo seperti kertas bekas. Bukan hanya fisik bukunya, isinya pun ikut diusir kembali keluar dari blantika kehidupan. Ia hanya menumpang lahir dalam sejarah orang lain,” kata Putu Wijaya.
Berapa juta buku yang telah hancur lebur seperti itu. Berapa buku yang sudah terkurasi secara alami seperti itu. Berapa buku dibaca yang tak pernah menjadi buku dalam kehidupan. Berapa buku yang mampu menyehatkan rumah sakit bagi pikiran. Berapa buku yang tiap kali ulang-alik dibaca selalu berdaya pukau. Tapi andaikan “Rutum” sebuah buku, barangkali buku ini berbeda.
Rumah punya ratusan bahkan ribuan koleksi buku. Baginya, menulis gampang, membaca susah. Karena membaca jauh lebih berat ketimbang menulis. Membaca sama dengan bertapa, meminta kita duduk sendirian, menyapa seluk-beluk perenungan, mengelak dari bising ribut, menengok diri kita sendiri sampai ke relung-relungnya yang paling tersembunyi, dan berkonsentrasi secara penuh pada baris-baris kalimat hingga ke halaman-halaman berikutnya. Dan kalau buku bisa ngomong seperti kata sajak Acep Zamzam Noor, tak kujanjikan kemegahan apapun padamu, semenjak mengenal sunyi. Sedangkan, menulis menjanjikan sekian banyak iming-iming ketenaran maupun popularitas. Maka, masuk akal jika banyak orang lebih suka menulis (disebut penulis), meskipun terus-terang kurang suka membaca (disebut pembaca).
Bukankah cuma percuma jika banyak buku ditulis tanpa seorang pun pembaca. Bukankah satu pembaca lebih berarti ketimbang seribu penulis. Bukankah pembaca itu sendiri yang akan lebih menghidupi atau lebih mematikan karya si penulis. Tetapi ini bukan pujian, juga bukan celaan. Hanya sekedar sebagai keseimbangan. Tak mungkin orang tak paham apa yang diungkapkan di sini. Tinggal orang mau jujur atau tidak. Kalau ia jujur, ia akan mengerti bahwa membaca bukan tentang mendengar si penulis bercerita, tetapi juga bercerita tentang pengorbanan, tentang keikhlasan, tentang kesakitan kecil, tentang kepedihan sederhana, yang segala-galanya bagi pembaca. Pada saat inilah, kita dipaksa masuk ke dalam diri yang sejujur-jujurnya sekaligus ke relung-relung yang sebusuk-busuknya sebagai manusia.
Buku adalah sebuah kaca benggala. Sebuah meditasi dari kehidupan yang kita jalani. Sebuah refleksi kita mengamati langkah hidup di mana langkah kita sudah terhenti, berhenti, dan dihentikan. Sebuah gairah untuk meniti langkah kecil di mana langkah kita berkembang, berubah, dan atau bertolak-belakang. Sebuah potret yang paling akurat tentang bukan saja: siapa gue, siapa kita, siapa kamu, siapa dia dan siapa mereka, tetapi juga sebuah pertanyaan yang paling menggelitik tentang apakah apa itu? (Putu Wijaya).
Maka seperti kekasih dalam dekapan malam, saya menyerahkan diri saya terbawa gambling isi buku ini dari halaman yang pertama. Kalau tidak ragu-ragu saya ingin mengatakan, barangkali, kelak ini buku yang membuat penghuni Rutum juga pembaca bisa paham sebelum mengetahui. Bisa mengerti sebelum kejadian. Bisa ketawa sebelum punchline. Bisa klangenan sebelum wawasan. Bisa diterima hanya lewat rasa sebelum sungguh-sungguh membacanya.
Dan ajaibnya, selain bisa membuat saya menilai diri ini, juga bisa sebagaimana yang diungkapkan teman saya Hambali, bahwa “buku” bukan lagi sebuah buku, tetapi teman seperjalanan. Setiap kali ia membutuhkan ada dialog, ia akan membuka bab sekian dan membacanya kembali. Setiap kali ia memerlukan ada penanggapan, ia akan mengambil buku tersebut yang seolah-olah penuh dengan jawaban-jawaban terhadap berbagai persoalan. Buat saya, apabila buku sudah mancapai taraf itu, ia bukan lagi hanya lembaran-lembaran kertas yang mengandung huruf-huruf, tetapi adalah hati nurani. Sebagai sebuah hati nurani, buku seperti itu seakan-akan menuruti sajak Rendra bahwa, Hati nurani adalah hakim adil untuk diri kita sendiri. Hati nurani adalah sendi dari kesadaran akan kemerdekaan pribadi. Hati nurani akan selalu berusaha untuk meletakkan keseimbangan di antara hal-ihwal yang menggoyahkan dalam kepribadian kita.
Buku laiknya seorang suhu dalam dunia persilatan akan keluwesan nilai-nilai dan kelenturan rohani. Dalam posisi itulah buku makin lama semakin meresap sekaligus meresapi segala hal yang ada di sekitar kita. Ketika kita diam, ia tak cuma mampu menjawab, tapi juga bertanya dengan gencar, sehingga kita menjadi siap memberi jawaban, bila pertanyaan itu benar-benar datang kepada kita. Ketika kita mulai berpikir sistematis dan analitis, ia tak hanya merepresentasikan rasa pembaca yang sedang menggaulinya, tapi juga membuat kita terlatih untuk menghadapi masalah-masalah yang tak terduga, dan bahkan mulai meragukan apa-apa yang selama ini sudah dianggap mapan.
Jadi kalau ada pertanyaan apakah sebuah buku berguna, jawabannya sudah dibuktikan oleh teman saya itu dengan jelas, terukur dan terarah. Tentu saja semua ini amat sangat tergantung oleh apakah pembaca mau memanfaatkan kegunaan buku itu dengan mempergunakannya atau tidak mau. Jika ia itu berarti juga pembaca harus mempunyai bekal keterampilan serta kompetensi untuk mempergunakannya. Sampai di sini, pembaca bukan sekedar membaca, tetapi juga ikut aktif dengan gairah menjelajahi rangkaian-rangkaian peristiwa di luar maupun di dalam buku. Artinya, pembaca harus berdaya. Karena kalau tidak, yang terjadi justru sebaliknya, bukulah yang akan mengecoh pembacanya.
Tak terhitung berapa banyak jumlah buku-buku bekas—yang senantiasa akan menjadi baru lagi ketika dinilai kembali—yang seharusnya bisa berada di taman baca maupun di ruang-ruang perpustakaan, karena toh boleh jadi ia mempunyai khasiat yang ampuh. Sebaliknya banyak buku-buku yang memang bergincu tapi lebih pantas dihancur-leburkan dikilo ke tukang rongsokan atau didaur ulang ke limbah kertas di Surat Sobek karena hanya menjadi sumber masalah yang membiakkan pikiran-pikiran tembuhuk menetas, justru dierami dalam pustaka orang-orang yang seharusnya mempunyai daya kemampuan memilah dan mengolah.
Hasan Aspahani penyair cum pakar Chairil itu, juga sempat mengeluhkan langsung pada saya, bahwa sejarah puisi Indonesia sangat mengabaikan akar moyangnya yaitu pantun. Ada sekian banyak lembaran-lembaran pantun dari abad lalu yang sama sekali belum atau tidak tersentuh, yang selama bertahun-tahun hanya mendekam di bui Perpustakaan Nasional, tanpa ada perhatian untuk mentransliterasikan agar bisa dibaca dan dijangkau oleh publik yang luas. Kalau Jepang punya Haiku, Italia-Inggris punya Soneta, Persia punya Ghazal, Prancis punya Balada, Yunani punya Ode, Indonesia punya Pantun, dan kesemuanya itu adalah merupakan ragam puisi yang dikenal di seluruh dunia. Betapa dari sini kita tidak sungguh-sungguh menilik jauh ke akar kesejarahan sebelum mengawali puisi modern.
Saya masih ingat bagaimana masa lalu sastra mengajarkan kita dengan kacamata dikotomi bentuk dan isi. Ajaran itu berisi rekaman perbalahan yang tak berkesudahan dari apa yang juga sedang terjadi di Negeri kita ini. Sebagian dari kita jadi saling curiga, meragukan, dan bahkan sewaktu-waktu ada yang mendiktekan bahwa bentuk dan isi akan senantiasa mengalami sekaligus berada dalam tatanan konsep waktu: pengulangan, perkembangan, penyinambungan, perubahan, dan pembaharuan. Terserah kemudian orang lebih mementingkan isi ketimbang bentuk atau mempedulikan bentuk daripada isi. Tapi satu hal yang resmi dalam pandangan kita ialah, barangkali, isi selalu bertolak-belakang dengan bentuk.
Andaikan “Rutum” sebuah buku, kira-kira buku seperti yang bagaimanakah yang akan membuat semuanya itu menjadi lapuk. Di mana kita tidak lagi merasa tersesat dalam menjelajahi labirin isi dan bentuk. Tidak ada lagi batasan antara isi dan bentuk, karena keduanya telah melebur dan luluh dalam kesinambungan yang padu. Di dalam bentuk itulah isi, di dalam isi itulah bentuk. Teori-teori pasti akan kelabakan kalau membedah atau mengulitinya, kecuali telah ditemukan suatu teori yang terbarukan dan tersendiri untuk menelaahnya.
Secanggih-canggihnya teori estetika, tentulah akan dibuat menjadi kadaluwarsa apabila karya seperti itu muncul ke permukaan. Tapi kita segera siuman bahwa karya semacam ikan besar di kedalaman itu biasanya tak berminat untuk dipancing atau diekspose dengan umpan seperti itu.
Jelas buat saya karya semacam ikan besar itu adalah karya yang universal. Apa yang ingin disampaikan olehnya bukan sekedar penyambung lidah penulis, tapi juga penyambung lidah saya, pembacanya, serta para kritikus yang rela jatuh bangun bangkit lagi membedahnya, termasuk penyambung lidah zaman lain yang melampaui nilai-nilai yang mungkin bertentangan dengan zaman ini. Ia tidak ditulis berdasarkan kemauan Arief Budiman yang mengatakan, tidak ada sesuatu yang universal, semuanya kontekstual. Ia tidak mau macet demi tahun ini hanya untuk melayani segala sesuatu yang kontekstual. Ia tidak digunakan untuk sekali pakai kontekstual lalu dibuang, melainkan untuk puluhan tahun yang akan mendatang bisa kita daya gunakan kembali demi kepentingan proyeksi nilai-nilai.
Seketika ingatan saya harus melewati tikungan tajam pada apa yang ditanyakan Lutfy Azhar—yang saat ini sedang melatih badminton di Dongguan China—waktu lewat telponan kami bicara tentang sastra dan ia bertanya: apakah sebuah karya menuntut sejalan moralitas penulisnya?
Saya tak langsung menjawabnya terlalu cepat. Saya membiarkan seluruh perkataan saya meliuk-liuk, bahkan sampai terombang-ambing sebagai dorongan untuk menemukan “apa yang benar” dalam kehidupan. Dan yang mungkin saya temukan ialah berapa banyak buku-buku babon telah sampai di kepala yang kerdil dangkalan, karena keliru interpretasi kemudian menjadi malapetaka sendiri.
Saya teringat bahwa sebagian dari “ikan besar” di kedalaman itu, buat saya, tak ada satupun yang pantas plus wajar untuk ditiru segala tingkah laku hidupnya sekaligus perilaku kreatifnya. Dari sinilah menjadi tajam untuk menguliti pertanyaan apakah karya terpisah atau satu paket dengan penulisnya. Sehingga kalau dia terpisah, barangkali pembaca akan dengan liar membawanya ke mana saja untuk dijadikan alat seperti “palu Thor” buat membasmi lawan-lawannya. Akan tetapi jika buku satu paket dengan penulisnya, bagaimana kalau penulisnya melakukan berbagai tindakan yang bertentangan dengan moralitas umum, sementara itu bukunya sedemikian menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Sudah banyak dalam kenyataan kita baca atau lihat karya-karya masterpiece buah tangan manusia-manusia biasa yang kelakuannya terpaksa dimaklumi demi torehan karyanya yang besar.
***
Maka di zaman kita yang telah berbeda dengan zaman “Kalah dan Menang” Sutan Takdir Alisjahbana ini, niscaya berita akan hadir lebih heboh, lebih manipulatif, lebih mencekam, lebih gedek, lebih horor, dan lebih sukar menentukan mana realitas mana AI. Ini juga sebuah keadaan yang amat jauh berbeda dengan ketika Tjokroaminoto mengayomi Peneleh, Ki Hadjar Dewantara mengasuh Taman Siswa, Mohammad Sjafei mendirikan Kayutanam, Subuh Sumohadiwidjojo menerapkan Subud, hingga Emha Ainun Nadjib menemani Maiyahan.
Sementara, kalau “Rutum” disebut sebagai rumah organisasi atau ruang kolektif belaka, saya kira sudah lama perkumpulan ini bubar karena atau dengan pertimbangan kondisi finansial maupun emosional. Tapi pada kenyataannya, inilah yang membuat saya dan segenap penghuni Rutum senantiasa bersyukur, meskipun dianugerahi kelalaian-kelalaian yang luar biasa lengkap.
Inilah dunia kita sekarang ini. Dunia yang penuh dengan cerita-cerita geger dan mengerikan, dan berita-berita politik yang menjengkelkan. Ditambah lagi menghadapi ancaman perang dunia kesekian dengan nawaitu bombardir yang mungkin tak akan pernah berakhir, meski tak lelah-lelahnya kita terus saja berdoa agar kemanusiaan tak terkoyak-koyak. Meskipun sudah dari sono-sononya, dengan tak capek-capek pula, kita berusaha untuk melengkapkan hidup yang mungkin tak akan pernah lengkap ini.
Di tengah keriuh-ramaian itu pula sayup-sayup terdengar suara lirih: apa masih perlu buku “Rutum” atau lainnya ditulis, dan apa artinya ini semua di antara sekian banyak berita yang berdaya cengang tak karuan itu?
Sebagai perkumpulan orang-orang lalai, “Rutum” tak pernah menjadi apa-apa maupun siapa-siapa. Karena pilar utama rumahnya adalah wacana tempat tumbuhnya sejumlah self (kedirian): berlatih keras kedirian yang berharga, juga senantiasa terus berlatih kedirian yang punya arti. Paradigma yang secara realistis dialami langsung ini memperlihatkan bahwa antara satu self dengan self yang lain itu berbeda, dan karena perbedaan itu pulalah, maka proses mempribadi ini menjadi berharga. Sehingga dalam kebersamaan hidup bersama-sama ini hanya dapat mekar apabila setiap individu bersetia pada kepribadian dirinya dan tidak mengumbar-umbarkan diri agar menjadi jiplakan maupun tiruan dalam sejarah diri orang lain. Karena memang setiap pribadi itu unik.
Dan lagi, yang sedemikian terang repot ialah proses mempribadi itu justru jauh lebih berat dan lebih menyakitkan ketimbang menjadi “orang tak dikenal” di dalam lingkaran gelombang tertentu. Sebagaimana lebih dulu dikatakan oleh Carl Gustav Jung, bahwa proses menjadi diri sendiri itu selalu disertai rasa sakit dan beban psikis, sebab pada permulaan proses itu orang merasa sepi, sunyi, dan terpisah dari orang lain.
Barangkali inilah saatnya bagi kita untuk menarik diri dengan berani memasuki ruang sepi itu. Sebelum mengarungi suara-suara di luar sana, lalu menepi sejenak, menghindar dari lingkungan hidup yang penuh kepalsuan, mengelak dari dunia yang penuh tipu muslihat. Menyepi dan berandai-andaikan “Rutum” sebuah buku: buku apakah itu? Seandainya buku itu berisi tulisan-tulisan macam begini, saya kira tidak akan laku dan sudah lama toko buku akan merugi lalu bangkrut.
6 Februari 2026

