Saya tidak punya alasan kenapa harus diam terjajah dan termangu. Ketika ribuan juta rakyat Indonesia menjadi korban tenung keadaan. Ketika seorang resi melompat ke dalam kubangan yang kotor pastilah akan berlumur lumpur juga. Ketika Sabrang mengumbar-ngumbar narasi “MBG” yang penting terdengar pantas tanpa mempertimbangkan kejujuran dan kenyataan hidup, maka seluruh kata-kata yang ia ungkapkan cuma topeng yang menyamar sebagai kedok pura-pura baik, dan bukan cermin yang tajam memantulkan satu titik persoalan vital. Ketika Simbah saya (maksudnya Emha Ainun Nadjib atau kerap disapa Cak Nun) diseret-seret namanya ke dalam keributan buatan anaknya tersebut, maka saya ingin secara wajar antara kawan dan lawan bertukar dinamika berpikir. Duduk berdebat menyatakan setuju atau tidak setuju. Yang baik kita junjung, sedangkan yang tak wajar plus jahat nilainya kita bogem.
Kenapa Presiden menuduh pendemo sebagai antek asing. Pemerintahan sekarang tidak menerima saluran kritik yang tidak resmi. Kontrol lewat hukum telah mengekang ekspresi warga. Pelarangan demi pelarangan telah mengubah pergaulan pikiran yang merdeka. Aktivitas sipil semakin dicurigai. Narasi ancaman asing berubah menjadi ancaman sipil yang digaungkan oleh stabilitas nasional. Hasilnya adalah ketakutan menjadi tabir pikiran. Kegamangan telah melanda masyarakat. Kepatuhan telah membuat kita menjadi onggokan sampah. Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Ketegangan telah menyulap kebebasan berpendapat menjadi “daulat tuanku”.
Untuk apa semua ini kalau bukan semata-mata urusan politik, dengan kata lain, apapun programnya tetap proyek yang utama. Jadi bagaimana mungkin kita hanya diam memaklumkan dan menormalisasi pemerintahan yang kebelet untuk menciptakan konsensus politik melalui kebijakan-kebijakan populis yang ekstrem. Sementara pada kenyataannya, apa yang mungkin ideal dalam pandangan Sabrang itu terbukti telah menjadi limbah kehidupan. Disadari atau tidak, ia telah mencederai hati para korban yang keracunan, menggoreskan luka bagi seluruh rakyat Indonesia, membikin malu keluarga besar maiyah seantero dunia, dan mengiris-ngiris hati kami yang mencintai Simbah dengan terenyuh. Maka, sekali lagi saya katakan, ini pemerintahan sakit jiwa dengan segala kompleksitas penyakitnya, jadi apa yang tampak pesona di mata masyarakat, padahal itu menggerogoti Negaranya sendiri. Ironis memang, tapi inilah kenyataannya.
Sebagai orang maiyah, saya merasa malu, merasa muak, merasa geram, merasa jijik kepada diri sendiri. Sedangkan sebagai pembelajar kehidupan, saya merasa seluruh bekal investasi pikiran dan pengetahuan saya selama ini telah tergadaikan, karena sewaktu-waktu bisa dipadatkan dan dibekukan orang dalam. Sementara sebagai orang yang belajar menempuh hidup dan kehidupan, saya merasa patah setelah bertahun-tahun belajar di universitas maiyah, masih juga tidak mengerti di posisi mana harus berdiri dan bersikap. Jikalau sebagai hamba Allah, saya merasa yakin sambil mantapkan diri terus bergairah menjelajah dan tak jemu-jemu berguru kepada Allah.
Tapi sebagai wong cilik, saya merasa perlu menegaskan diri bahwa rakyat kecil tak bisa ngalah melulu, karena jumlah mereka tak bisa Sabrang mistik menjadi nol. Sebagaimana matematika, satu tambah satu sama dengan dua. Ini soal kesucian. Bab kedaulatan. Tak peduli Sabrang tenaga ahli atau bukan. Mau presidennya Prabowo atau bukan. Saat lapar atau kenyang. Satu tambah satu tak bisa diubah menjadi sepuluh atau berapapun, kecuali dua. Sehingga menurut keyakinan saya, jangan kamu bilang “MBG” itu baik, bila tetanggamu masih mengalami keracunan massal, dan orang yang tidak bersalah justru dijadikan tersangka.
Saya tulis rapor merah ini untuk Sabrang. Semacam palu godam buat memecah kebisuan dan kelesuan. Karena saya menolak cara berpikir dan cara-cara hidup seperti yang telah dimaksudkan untuk memperbaiki dari dalam atau supaya kritik yang mau disampaikan mudah tersalurkan. Saya menolak bersekutu dengan Sabrang dalam hal ini, karena apabila kritik hanya boleh lewat mimbar maiyah atau saluran resmi, maka hidup ibarat lagu tanpa irama. Saya tidak percaya kepada uraian pikiran lurus Sabrang mengenai itu, karena enggan diajar filsafat atau logika yang tidak bertumpu pada penghayatan akan persoalan yang nyata. Saya menolak untuk mendewakan gagasan tata rias yang luntur oleh penderitaan rakyat itu, karena sejak dari zaman Bung Karno hingga Prabowo, sebelum ada MBG atau sesudahnya, beribu-ribu kritik dari rakyat tak pernah kedengaran di telinga penguasa, tak pernah sampai di meja-meja rapat pemerintahan, dan seluruh kritikan dari rakyat itu ternyata tak pernah bisa lebih tinggi dari keinginan para politisi. Oleh karena itu, saya menolak mengejar ide-ide mutiara hasil dari menjarah daulat rakyat, karena sementara mereka belum merdeka dan keadilan bagi mereka adalah jalan yang penuh rintangan dan berbahaya bila diseberangi.
Dan sekarang saya menyaksikan zaman berjalan seperti yang Rendra ungkapkan melalui sajaknya: “Kampus telah diserbu mobil berlapis baja. Kata-kata telah dilawan dengan senjata. Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini. Kenapa keamanan justru menciptakan ketakutan dan ketegangan. Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sehat. Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.”
Saya tak tahu apakah Sabrang takut setelah dilantik sebagai tenaga ahli. Takut kehilangan jabatan. Takut karena digertak atau diancam. Takut karena memang dari sononya bangsa ini seolah-olah menjadi penakut dan tidak berani menghukum orang yang bersalah. Takut karena dikuasai oleh ketakutan itu sendiri. Tapi yang jelas, ketakutan selalu meningkatkan segala bentuk penjajahan.
Dan kalau pikiran kita terjajah, pamflet masa darurat Rendra agaknya perlu didengung-dengungkan kembali, karena “apakah artinya kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apakah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.” Saya ingin mengatakan bahwa saya tak tahu cara seketika untuk membela orang-orang yang keracunan MBG itu, tetapi saya memihak kepada seluruh korbannya. Maka melalui tulisan ini, kita akan terus mencari cara bertahan hidup di dalam suatu pengkondisian tatanan nilai masyarakat yang tertekan dan tidak memberi ruang pada kejujuran karena mencontoh penguasa. Tapi kalau apa yang dituliskan ini tidak dianggap sebagai pertukaran pikiran, melainkan dibalas atau ditanggapi dengan kepatuhan, maka bersiap-siaplah untuk memasuki sandaran hati yang menjadi sandaran rezim, lalu otomatis pintu feodalistik telah kamu bukakan kembali.
Padahal, ini bukan saatnya membenar-benarkan sesuatu yang pada kenyataannya keliru besar, tapi ini satu keadaan yang menuntut kritik habis-habisan dan cepat tanggap menyentuh titik persoalan, sambil terus mencari apa yang benar dan apa yang bijak buat masyarakat hari ini.
Rasa-rasanya tidak pantas netral di tengah arus jorok keadaan yang sedemikian butuh keberpihakan sosial. Karena dalam hidup kita mesti belajar memilah apa yang enak dan apa yang baik. Dengan begitu, kita nikmati betul apa saja yang dikasih Allah. Jangan kamu bilang cukup berbuat baik, karena untuk apa berbuat baik tapi kecut, untuk apa berbuat benar tapi nggak enak, maka dari itu kita harus temukan kenikmatan di dalam perbuatan baik sekaligus kenikmatan di dalam perbuatan yang benar.
“Bukan saya berkompromi dengan pemerintah. Saya nggak punya urusan sama pemerintah. Cuma kalau ada masalah, saya bantu. Entah disuruh siapa, pemerintah atau ormas atau apapun saja. Pokoknya, kalau manusia kudu dibantu. Jadi saya tidak berpolitik. Terserah gubernurnya siapa, presidennya siapa, pokoke tak ewangi. Apik tak sorong, rodo nggak tepak tak kaplok!” tegas Simbah tanpa tedeng aling-aling.
Dari situ kita belajar satu hal, Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-hambanya di malam hari. Sebab hidup itu malam, ia gelap, ia tidak kelihatan. Maka kalau Allah Maha Melihat, sedangkan kalau manusia nggolek kawruh (mencari ilmu). Jalan yang ditempuhnya adalah sinau. Bahkan, menurut Simbah, ketika sudah menjadi pejabat tetap harus sinau supaya weruh (memahami). Nanti kalau sudah tahu, pengetahuan itu harus menumbuhkan kasih sayang kepada yang kita ketahui. Sama halnya kalau kita belum tahu mengenai MBG, terus kita mempelajari gerak-gerik politik MBG, lalu kita jadi sayang MBG dengan cara mengkritiknya ataupun menuntut untuk disudahi saja.
Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa syarat pemimpin nomor satu ialah harus mencari ilmu terus, mencari tahu terus semua yang berada dalam pemerintahannya serta kondisi terkini masyarakatnya, kemudian hasilnya harus kasih sayang yang bernama keamanan dan kenyamanan sosial.
Di luar kekuasaan, kehidupan menjadi misteri, menjadi malapetaka, menjadi bencana buatan politik. Karena kita telah dikuasai satu mimpi untuk menjadi orang lain, di mana para penguasa justru memberi teladan dengan sibuk mengejar mimpi dan menghamba kepada asing. Berunding dengan Amerika. Berunding dengan Israel. Menciptakan suasana dusta dan kemunafikan. Akhirnya kita terbiasa mengatakan yang “aman”, bukan yang benar. Mengungkapkan hal yang terdengar elok meskipun cacat. Dan lebih parahnya lagi, kalau pakai bahasa Simbah, kepandaian itu kelicikan yang menyamar. Sedangkan kemunafikan ini sering disamarkan sebagai kesantunan. Dusta dianggap beradab. Mengkritik dianggap kurang ajar. Membela kaum yang papa dianggap tercela. Menyampaikan keberatan dianggap pengacau.
Akibatnya, ketegangan menjadi kewajaran dalam hidup sehari-hari, seluruh permasalahan hanya dipendam dan tak akan menyelesaikan masalah bagi hidup yang terpenjara. Dari sini pulalah lahir masyarakat yang tampak seperti “suasana tegang di dalam rumah meskipun rapi perabotannya” (Rendra). Seolah-olah rukun, padahal rapuh di dalam. Gambar “MBG” yang sudah jelas keliru masih juga diindah-indahkan. Semua tahu ada yang salah, tapi kenapa kejujuran justru dicurigai, dan yang memberontak dianggap radikal.
Hidup macam apa ini, orang-orang diminta kritik ke sana ke mari, dari keadaan ke keadaan yang tanpa perubahan, tanpa pernah ada hasilnya dan tak tahu harus melarikan keluhan ke mana lagi? Di manakah kritik rakyat akan didengar? Di manakah ujung pangkal tuntutan suara rakyat yang kehilangan kesejahteraan? Apakah masih buta dan tuli di dalam hati? Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Bukankah lebih baik kita merancang strategi; di mana kita tidak ingin apa-apa, tapi kita sudah punya semuanya. Punya kartu “AS” senonoh untuk menjatuhkan para pembesar. Punya bahan-bahan tingkah laku para penguasa lendir demi memegang kendali penuh atas situasi. Punya rahasia-rahasia para politisi brengsek yang gemar main serong dan jajan selangkangan. Sehingga kalau semua ini kita pegang, saya yakin beribu yakin saluran kritik akan punya corongnya sendiri, seluruh tuntutan akan tak bisa dibantah, dan apabila omongan rakyat tak mau didengarkan, maka kita siapkan untuknya daftar-daftar hitam sambil merokok dengan santai.
Buktinya, Rendra telah lebih dulu membuat isyarat oposisi dari luar kekuasaan daripada mengumbar-ngumbar kebohongan dari dalam. Suara-suara kaum kritis itu ia sampaikan melalui beberapa nomor sajak di antaranya ada Sajak Potret Keluarga, Sajak Kenalan Lamamu, Orang-Orang Miskin, Sajak Gadis dan Majikan, Pesan Pencopet Kepada Pacarnya, Sajak Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Aku Tulis Pamflet Ini, Sajak Sebatang Lisong, Sajak SLA, Jangan Takut Ibu!, Perempuan Yang Tergusur, Sajak Anak Muda, Sajak Seorang Tua di Bawah Pohon, Sajak Orang Kepanasan, Sajak Seonggok Jagung, Sajak Pertemuan Mahasiswa, dan masih banyak lagi sajak-sajak lainnya.
Cobalah perhatikan sajak-sajak di atas. Semua bahan tersedia dan mengalir dari sajak-sajak Rendra itu. Tetapi dalam kedudukan yang tak berubah, dalam kedudukan kaum terhina, dan di dalam air lumpur kehidupan ini, saya melihat bagai mengaca diri: ternyata daya hidupku menolak untuk tidak berdaya dan tetap menjadi manusia lebih penting daripada sekedar hidup.
17-18 Februari 2026

