Paul Cézanne 1839-1906
Berbukalah dengan yang Magis-Magis
aku coba mendekat
setelah jauh terlalu lama
dari doa-doa
yang dipatahkan cakrawala
& tuhan yang berjanji
mengelus ubun-ubun
di sepertiga malam yang berembun
aku pernah mengutuk
perihal doa-doa yang tidak dikabul
sebab dunia fasih betul
mempuasai jawaban
& mempuisikan kebungkaman—
enggan menoleh
pada hamba yang lungkrah
lalu lutut begitu lama mempuasai sujud
lelap lena dalam buaian
dosa-dosa estetis
yang nyaris spirituil
sebab puasa dan puisi
sama-sama memilin-milin
kekosongan
kubaca-terjemahkan ulang
masa-masa silam
buncah oleh itu yang nihilis-nihilis
serupa silau mata sufi
melihat nur muhammad—
begitu pelik ia dicecap indra.
Cara Lain
kutemukan cara lain
menikmati padamnya lampu
kota & jalan-jalan
yang menyisakan bau
besi rel kereta
di jaket-jaket oren
hijau & kuning
ditiup sayup sayup angin subuh—
sahur di warung Bu Fat
tanpa sempat
membawa upah.
kutemukan cara lain
mendengarkan lantunan dzikir
sore. tahu bulat. kue rangi.
& sari roti
yang melintas di gang sempit
jalan bangka—
membikin rewel
balita
dari ibu & bapak
anak lima.
biarkan itu
biarkan.
