Etienne Parrocel 1696-1776
Elegi Pagi Seekor Burung
Di pucuk pohon kesukaan kita, rindu adalah sepasang burung musim semi, bersuara saban pagi. Paruh bertaut pada hari yang selalu basah oleh embun dan hujan. Angin menjadi saksi janji yang dirajut antara awan juga langit gelap. Dua sayap mengepak dalam irama yang sama. Tak pernah terbayang langit sanggup memisahkan cinta.
Namun senja datang membawa pemburu dan takdir. Langit terbelah oleh letusan yang merobek sunyi.
Dan satu sayapku kehilangan bayangmu di cakrawala, bersama tangis.
Kini pulangku tinggal anyaman kenangan yang rapuh. Aku terbang sendiri mengitari hari yang tak lagi ramah. Mencarimu pada tiap angin, berharap kita tak benar-benar dipisahkan, bahkan oleh mimpi buruk sekali pun.
Bayang Layang Sore Hari
Di halaman rumah yang dulu luas seperti cakrawala
Seorang bocah berlari mengejar layang-layang warna-warni, tertawa tanpa takut hari esok mencuri senyumnya
Tangannya kecil, namun mimpinya setinggi awan
Ia tak tahu waktu diam-diam menajamkan perpisahan.
Kini benang itu terlepas dari genggaman dewasaku
Aku menyesal tak menjaga arah angin masa kecil itu
Tak menyadari tawa adalah harta yang tak kembali.
Di sudut ingatan, bocah itu masih memanggil namaku
Namun kakiku telah berat oleh pilihan yang salah
Dan layang-layang itu hilang, membawa pulang masa yang tak bisa kuulang.

