Bogor. Mendengar namanya saja, ingatan kita melayang pada rintik hujan yang syahdu, hawa sejuk yang membelai kulit, dan tentu saja, hamparan hijau Kebun Raya yang legendaris. Namun, bagi sebagian besar warga dan para perindu setianya, Bogor punya satu ikon lain yang tak kalah magis: pohon kenari. Pohon dengan batang kokoh, tajuk rindang, dan buah keras yang khas ini telah menemani langkah kaki masyarakat Bogor lintas generasi, menjadi saksi bisu perkembangan kota dari masa ke masa.
Dari Buitenzorg hingga Kota Kenari
Sejarah pohon kenari di Bogor bermula jauh sebelum Indonesia merdeka. Sejak era kolonial Belanda, ketika Bogor masih bernama Buitenzorg, pohon kenari (Canarium commune) telah menjadi pilihan utama dalam proyek penghijauan kota. Tujuan utamanya jelas: menciptakan suasana yang asri, teduh, dan cantik layaknya taman raksasa. Tak heran jika Bogor pernah dijuluki “Kota Kenari” pada tahun 1970-an, sebuah julukan yang mencerminkan dominasi dan keistimewaan pohon ini di lanskap kota.
Di dalam jantung kota, Kebun Raya Bogor (KRB), yang didirikan tahun 1817, menjadi rumah bagi banyak spesimen kenari tertua. Jalan Kenari (Kanarielaan) di dalam KRB, dengan deretan pohon kenari yang masif dan percabangan membentuk lorong indah, telah menjadi spot ikonik yang sering diabadikan dalam foto-foto jadul tahun 1900-an hingga 1920-an. Banyak dari pohon-pohon ini diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun, bahkan ada yang mendekati 150 hingga 200 tahun, bak “kapsul waktu biologis” yang menyimpan memori panjang sejarah.
Koridor Hijau Penyejuk Kota
Tak hanya di dalam Kebun Raya, deretan pohon kenari juga menghiasi jalan-jalan penting lainnya. Jalan Kenari II, yang bersebelahan dengan Taman Astrid, misalnya, telah ditanami kenari sejak tahun 1834. Jalan ini menjadi contoh sempurna bagaimana pohon kenari menciptakan suasana teduh dan sejuk yang khas Bogor. Kemudian, ada Jalan Ahmad Yani (dulu Bataviasche Weg) dan Jalan Pemuda, yang kedua sisinya dipenuhi pohon kenari berukuran besar, sebagian besar merupakan peninggalan masa kolonial yang ditanam untuk memisahkan jalan dengan perkebunan.
Bagi warga yang lebih muda, pengalaman serupa juga bisa ditemui di Jalan Ring Road Yasmin. Dari lampu merah Pertigaan Yasmin hingga Perempatan Semplak, deretan pohon kenari di sana menawarkan suasana yang sama menyenangkannya. Banyak yang masih merasakan sensasi nostalgia saat menyusuri trotoar sambil memungut buah kenari yang bertebaran di musimnya, sebuah tradisi kecil yang mengingatkan pada masa lalu Bogor yang lebih sederhana.
Berteduh di Bawah Kenari, Mengabadikan Momen Bogor
Di tengah segala hiruk pikuk dan perkembangan kota, pohon kenari tetap setia menjadi penanda, bahkan menjadi penyelamat. Siapa yang tak punya kenangan berteduh di bawah rindangnya pohon kenari saat hujan tiba-tiba mengguyur Kota Bogor? Dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, kanopi tebal dan lebar dari pohon kenari bagaikan payung raksasa alami yang selalu siap menyambut. Berdiri sejenak di bawah dahan-dahan yang kokoh, menunggu hujan reda sambil menghirup aroma khas tanah basah dan dedaunan, adalah pengalaman yang begitu ikonik dan melekat kuat di hati setiap warga atau pelancong. Momen-momen inilah yang membentuk koneksi emosional yang mendalam antara pohon kenari dan identitas Bogor, menciptakan kedamaian dan rasa ‘rumah’ yang sulit tergantikan.
Kenangan Masyarakat dan Buah yang Melegenda
Memungut biji kenari bukan sekadar aktivitas biasa. Bagi anak-anak Bogor tahun 1970-an hingga 1980-an, ini adalah bagian dari petualangan sehari-hari. Tanpa gadget, mereka bermain sambil mengumpulkan buah-buah keras itu, memukulnya dengan batu hingga cangkangnya terkelupas, lalu menikmati isinya yang gurih. Biji kenari ini juga tak jarang diolah menjadi pernak-pernik atau gantungan kunci yang menjadi cendera mata khas Bogor. Bahkan, isi buah kenari ini dikenal kaya nutrisi, mengandung omega-3, protein, serat, magnesium, dan antioksidan yang baik untuk kesehatan jantung dan otak.
Melestarikan Warisan Hijau
Pemerintah Kota Bogor menunjukkan komitmennya terhadap pohon kenari dengan menetapkan SK Walikota No. 520/SK 219-EKON/1995 tentang Pelestarian Flora dan Fauna Khas Bogor. Namun, usia pohon kenari yang mayoritas sudah tua, bahkan ada yang keropos, menimbulkan tantangan. Hujan deras dan angin kencang yang kerap melanda Bogor membuat beberapa pohon tumbang, seperti insiden di Jalan Kapten Muslihat pada 27 Oktober 2025, menuntut pemangkasan atau penebangan demi keselamatan warga. Meski beberapa pohon kenari harus digantikan dengan spesies lain seperti palem raja atau angsana, upaya penanaman kembali terus dilakukan. Harapannya, generasi mendatang juga dapat menikmati kerimbunan pohon kenari, bukan hanya sebagai peneduh, melainkan sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas dan kenangan manis tentang Kota Bogor yang sejuk dan asri.

