Kalender Pekerja dan Puisi Lainnya

L. Crusius (1897) Kalender Pekerja Kau jumat sore,Semringah menunggu berbuka dengan sepiring Sabtu dan segelas Minggudi rumah sewaan tempat lapar biasa mengintip di celah malamkau duduk, menghitung lembar demi lembar waktu untuk pulangDi hadapan tanggal, bakwan itu pun tanggaldengan nasi yang tak sempat matangkarena magrib keburu datangKau teguk saja sepi itu, sendirianSampai kau bimbang antara […]

Semilir Angin dan Puisi Lainnya

Karl Isakson (1878 – 1922) Semilir Angin aku hanya ingin terbangmelintas luka meditasi waktumencari titik temuwajah bumi dan kaki langit aku juga harus merdekameluncur dari kumpulan sejarahmelukis kisah pertemuanwajahmu yang muram aku sudah bersedihmenemukanmu dalam sepimenyimpan cerita kita rapat-rapatwajah dunia yang terasingkan. Tubuh di tubuhku, hanya adasebelah sayap dari pisauberkarat. la tersembunyidi sebaris tulang iga […]

Ketiadaannya Ada di Mana-mana dan Puisi Lainnya

Georges de Feure (1868-1943) Ketiadaannya Ada di Mana-mana ketiadaannya ada di mana-mana terbaca pada sesumbar siur para leluhur & segulung wajah kusut yang menyingkapkan patahnya duniajuga pada langit bersih dengan sedikit awanatau sepasang bola mata yang menatap ngarai mendung cakrawala gelap-pekat doa terpancar dalam murka keinginanterang sulur-sulur jiwa menyembul dalam iman yang pasang-surutterpancar pula pada […]

Apa Artinya Ini? dan Puisi Lainnya

Walter Gramatté (1897–1929) Apa Artinya Ini? ini malam sudah pagiaku sepenuhnya menangissepenuhnya tak tahu rasa sakit iniberasal dari angin cinta yang suram atauwarna dosa kian menampakkan cahaya ini gelas sudah kosongaku masih merasakan sakit yang samamerasakan liputan kelam tak terkirasebelum menyesap anggur kesendiriankuatau sesaat diri berlumur lumpur seluruhnya ini tarhim sudah memanggilaku bego selalu jauh […]

Separuh Aku Serupa Bayang-bayang

Ernst Ludwig Kirchner (1880-1938) Aku minum bulandari cangkir retak warisan leluhuryang tak pernah benar-benar mati—hanya pindah alamat ke dalam nadi. Gunung kugulung seperti tikar sembahyang,kuselipkan di bawah ketiak kota.Sungai kusuruh berdiri tegak,ia berubah menjadi tiang listrikyang menyetrum doa-doa setengah matang. Angin hari ini tidak sopan—ia menertawakan bambuyang tumbuh miring karena terlalu lama hormat. Burung bangau […]

Malam Tenggelam dan Puisi Lainnya

Pinckney Marcius-Simons (1867-1909) Malam Tenggelam malam hampir tenggelam di sunyi ruang tengahuli itu masih hangat dengan bayang-bayang lamasuaranya masih ada dalam dadapenuh kerak doa ruang tengah masih kosong, hanya ada kesan bergelantunganseperti baru kemarin,bau samping itu merebah di lantai, di kursi, di waktu merindui mungkin cara yang naif bagi pengelanadi antara air mata dan air […]

Pesan dari Kematian dan Puisi Lainnya

Dance of Death; Death Ponders (1919) Pesan dari Kematian Pembukaan,Tanpa emoticon, aku izinkan kepadamu. Sebentar,Sebentar lagi,Tunggu sebentar lagi,Aku,Datang untuk mencintaimu. Dan kau tau.Kau menanam pohon pisang di kepalaku,dan aku kehilangan Jantung hatimu.Dan kau perlu tau, Pelan tapi mati? Atau pelan tapi happy?“apakah kau telah memesan kematian” Gunungputri, 2024-2026 Jika Suatu Hari Nanti Aku Dipanggil Ayah […]

Maharumi dan Puisi Lainnya

(Frank Hector Tompkins 1847-1922) Maharumi kusebut namanya perlahan—nyaris seperti berbisik, sebab aku tahu: Kau Pendengar yang Baik. rindu ini diam-diam tumbuh, di saat jawaban atas doa terasa jauh. berulang kulangitkan, berjuta kali kutasbihkan.waktu, mengajariku satu hal:Kau memberi apa yang aku butuhkan. sebuah penantian barangkali tak ada yang panjang, akulah yang terlalu sering berpikir pendek. harapan […]

1.1 di antara 2.3 dan Puisi Lainnya

Henry John Stock (1853-1930) 1.1 di antara 2.3 dengan terbata-bataAku menjelma iblis yang berdoapada malam ini aku mengingkari janjibenang merah kisah cinta selesai sudah malam ini terasa mencekamgundah gulana seolah menikamtak bisa aku pungkiri lagiperihal hati iniAku adalah iblis yang sombong dan dengki pada akhirnya aku di ambang pilubunga mawar layu, melati berubah menjadi kayu, […]

Petualangan Hujan dan Puisi Lainnya

Gustave Den Duyts (1850 – 1897) Petualangan Hujan Kita bercengkrama dengan hujan tentang daun-daun yang basah di ujung jemarimumenjadi sesutau wangi yang dikejar anginkarena merasa sudah lama kemarau datang di tanah yang merah Setiba tetes merangkai tualang untuk airPada keruh kita berkacaSepasrah itu kita basahMenunjuk puncak pepohon yang berdendang bersama gemuruh Air takkan bekuMeski waktu […]