Di Halte Stasiun Bogor
Mama, kota ini selalu basah
gigil tak berkesudahan
sedang aku duduk menunggu
menyerupai sejarah yang tak tertulis
oleh kabut dan hujan
melewati waktu ke zaman
kata-kataku kini kerontang, Mama
ketika hujan tak mampu mengobati
dahaga batin merelung-jiwa
melihat wanita separuh baya
mengemis di atas rindu-dendam
bersimpuh di antara genangan
dan lalu-lalang orang dan kendaraan
Aku melihatmu, Mama, di kelopak
mata wanita separuh baya itu
dan aku tiba-tiba terlempar jauh
seperti terjebak di gurun lapang
tanpa hutan – tanpa kasih sayang
tanpa pelukan anak-anak sungai
hanya peta fatamorgana datang
berulang-ulang
lalu bersama rintik-derai kesekian
kesadaranku menerobos aspal kemacetan
melewati gorong-gorong kemungkinan
dengan harapan sampai ke hulu muara
kenangan atas segala kelahiran
dan awal mula pertemuan kita:
Mama, aku pulang.
Bogor, 2025
Di Kedai Saparemaja
Aku memesan hujan
dengan gigil–rindu-dendam
berkepanjangan
Silakan menikmati hujan
di secangkir kopi masa silam
yang akan menikam perutmu
bagai sebilah kujang
Terima kasih atas hidangannya
yang tak berkesudahan.
Bogor, 2025
Di Rumah, Suatu Pagi
Mama membuatkan kopi dari mata air terakhir
dan meletakkannya di samping buku catatan hidupku:
Agraria, Agraria, Agraria! Bagaimana lumbung hidupku nanti?
Di rumah, suatu pagi, sambil menyesap kopi
cakrawala membuka gerbang untuk matahari
muncul di balik pegunungan halimun
yang mulai gundul, perlahan-lahan sekali
mata air surut dan aliran sungai keruh
menjadi reaksi dari segala rimbaan alam puisi
datang menikam diriku – merobek hatiku.
Pamijahan, 2025