Jean-Baptiste-Camille Corot 1796-1875
Kemarau masih mengulur waktu. Ambang bayang harapan telah berguguran detik demi detik. Hari demi hari pun telah merekah. Minggu telah berganti menjadi bulan kemudian menjelma masa lalu. Tak sadar sudah tahunan, waktu telah berlalu begitu cepat.
Saya adalah seorang yang suka menerka-nerka pikiran saya sendiri. Tidak jarang saya menerka-nerka diri saya di masa depan akan seperti apa atau sering kali juga pikiran saya hanya sekadar menyesali masa yang telah saya lalui. Karena bagi saya pikiran tercipta tanpa batasan sampai pada akhirnya saya menemukan aturan-aturan tak tertulis yang tidak menghendaki saya melakukan hal demikian. Jadi, mari lupakanlah saja soal pikiran saya yang barangkali ternyata tidak saya miliki sama sekali.
Kemarau masih belum usai. Tapi bagian langit lain air mengalir mengikuti kerutan di wajah. Di luar rumah saya, seekor kucing betina sedang berusaha mempertahankan banyak nyawa. Ketahuilah beberapa waktu belakangan ini saya tiba-tiba ingin jadi seorang penyair yang tulisannya banyak dikenang orang meski hanya sekali baca. Ingin jadi seorang penulis yang terus terang, nggak jago-jago amat sih, yang sebenarnya lebih suka disebut sebagai pengarang. Sebab seolah-olah semua yang saya katakan semata-mata hanyalah karangan belaka.
Udara panas tertiup angin, menyisakan bayangan hitam di permukaan tanah dan rasa gerah gelisah. Saya disiram terik matahari tanpa ada sebatang pohon yang meneduhi, bangunan di kiri-kanan yang menjulang malah memberikan suasana semakin gerah. Ini sudah tahun ke-5 saya berkepala dua. Dan Pemilu saya yang kedua sudah dimenangkan oleh pasangan yang telah mendapatkan banyak penentangan akibat ulahnya yang ugal-ugalan sejak awal, dan saya pikir, mereka tidak begitu memahami bagaimana pemerintahan semestinya dijalankan.
Cemas selalu menggerayangi, seraya saya selalu berdoa agar mendapatkan pekerjaan yang didamba segera, akan tetapi bila mana saya melangkahkan kaki di tengah dunia kerja, pintu kantor, cerobong asap pabrik, dan jendela-jendela gedung pencakar langit tertutup segera seperti ada serangan malam yang mendesahkan angin ke arahnya. Tetapi kendati demikian, saya tetap masih percaya bahwa saya masih punya kesempatan berharap. Toh, sepotong doa Ibu selalu saya simpan dalam kantong rok hitam saya.
Sore hari itu terik sinar matahari masih menyengat sekujur tubuh saya dengan hangat. Rasanya seperti ada jarum-jarum yang menancapkan cengkeraman yang runcing di permukaan kulit kepala saya. Waktu petang masih belum datang, masih dalam perjalanan saat seutuh matahari itu sungguh nampak carut-marut. Cemberut pun menyemat di permukaan wajah saya di bawah sinar matahari yang saya harap tak lama lagi akan meredup pelan-pelan menjelma jadi senja menyejukkan kemudian.
Tak mau lekas menyerah, saya masih saja berjalan melangkah yakin dalam balutan kardigan lusuh pada tubuh saya di tengah kepadatan kota metropolitan yang selalu nampak buru-buru di setiap penjuru. Di tengah-tengah kota dengan mulutnya yang menganga menunggu mangsa, saya melangkahkan saja kedua kaki saya semaunya sambil membawa surat elektronik yang selalu saya genggam di tangan. Sebuah surat elektronik yang berisi secarik pengalaman yang jarang menarik perhatian. Tidak pernah lupa juga, di dalam tas, saya selalu membawa bedak dan lipstik serta cermin kecil untuk sewaktu-waktu saya membutuhkannya buat merias wajah saya yang berantakan. Tak ketinggalan saya selalu membawa buku catatan kecil dan pena, yang selalu saya simpan di saku kemeja untuk saya gunakan sebagai tempat bercerita sewaktu-waktu pikiran saya berantakan. Saya tulis sesuatu, apapun, sebanyak-banyaknya, boleh jadi di waktu entah kapan bisa mendatangkan kebaikan untuk saya. Atau barangkali bisa menjadi sumber inspirasi untuk saya menulis di kemudian hari.
Waktu selalu berlalu begitu cepat. Senja menetes di waktu petang, saya belum mau terlena. Sebab masih terasa hawa panas matahari tadi siang. Namun langit di setiap penjuru kota itu segera tergulung layaknya layar di sebuah panggung teater yang merubah latar suasana dan waktu. Seiring memutarnya jarum jam, dengan begitu terik matahari itu pun seraya berubah menjadi langit temaram dengan desir angin malam yang genit mencubit-cubit tubuh saya. Saya tidak tergoda.
Tetapi yang tak dapat dimungkiri seutuh badan saya masih saja merasa gerah dan gelisah. Kancing kemeja saya terbuka dua dengan harapan angin dapat masuk dan mendinginkan badan saya segera. Rambut saya yang tadinya teurai nyaris menyentuh punggung, kini saya kuncir cepol lebih tinggi. Hanya menyisakan sedikit poni di dahi dan pipi sebelah kanan dan kiri supaya keringat tak lagi merangkul leher saya. Kemeja saya yang tadinya rapi, kini nampak berkerut-kerut, lengannya tergelung nyaris sampai sikut. Di bagian punggung terdapat tanda basah akibat keringat. Sebelah bagian kemeja saya menyembul keluar dengan sisi lainnya masih masuk ke dalam rok.
Di tengah lelah, di dalam pasrah, saya akhirnya melangkah saja menuju rumah. Akan tetapi suasana malam itu malah membawa saya memasuki sebuah lorong menuju ke dunia yang lain, seperti dunia mimpi. Kendati demikian, saya tetap melangkah. Saya melangkah untuk memenuhi rasa penasaran, akan ada apa di dalam sana. Karena barangkali, bisa jadi saya temukan pekerjaan di balik tirai itu, yang lagi bergoyang-goyang ditiup desah malam kota metropolitan yang belum juga ingin terlelap di balik kesenduan mega-mega yang keliatannya sudah kelelahan dikeroyok komplotan sinar senja.
Langkah demi langkah saya lalui, sampai kemudian saya tertegun karena di kejauhan saya melihat ada dua Malaikat yang nampak sedang sibuk. Yang satu di sisi sebelah kiri sedang sibuk dengan buku catatannya yang besar, satunya lagi sedang mondar-mandir nampak kebingungan di sisi sebelah kanan. Saya berdiam diri sejenak sambil berpikir. Setelah itu, akhirnya saya memberanikan diri saja untuk menghampiri.
Perlahan saya menilik, kemudian saya menerka-nerka. Setelah menerawang dari kejauhan ternyata dua Malaikat itu sedang dalam menunaikan tugas dari-Nya untuk mencatat amalan manusia yang jumlahnya bejibun di atas bumi. Malaikat yang satu sedang sibuk mencatat amal buruk manusia, dan satunya lagi sedang mondar-mandir karena kebingungan hendak mengisi apa pada kolom kebaikan di buku tugas catatannya. Kemudian naluri job hunter saya menyembul begitu saja, meskipun sial, selalu saja timbul rasa deg-degan saat saya telah berhadapan dengan kesempatan di depan mata. Persis seperti apa yang sedang saya alami saat ini. Kini mulut saya kelu membisu tak mau berkata-kata. Namun ini bukan waktu yang tepat untuk merasa takut, pikir saya. Saya coba kuasai rasa takut. Kemudian, setelah saya bisa mengatasi rasa deg-degan, perlahan saya dekati saja dua malaikat itu yang sedang beriringan menunaikan perintah dari-Nya untuk mengawasi umat manusia sekaligus mencatat amal baik dan buruknya.
“Permisi”, kata saya memberanikan diri. Saya agak kaget ketika yang keluar dari mulut saya kata ‘permisi’ bukan ucapan ‘salam’. “Boleh saya tanya, apa ada lowongan pekerjaan untuk saya?”, kata saya meneruskan dengan berusaha terlihat sopan. Malaikat itu hanya tersenyum dan seolah-olah saya sudah memiliki hubungan sejak lama dengan malaikat itu. Tetapi, entah senyumnya bermakna apa. Mungkin tersenyum karena melihat gerakan saya yang kikuk dan malu-malu atau karena mereka juga kaget sebab ada orang seperti saya menanyakan lowongan kerja mengenai apa yang sedang mereka lakukan. Tapi menurut saya, mereka nampaknya sih, baik-baik sekali, terlihat ketika dalam kesibukannya menunaikan tugas, mereka masih menyempatkan melontar senyum kepada saya. Senyumnya benar-benar meneduhkan. Tetapi saya tetap tidak bisa menerka senyumnya mengarah ke mana. Tetapi yang pasti, jelas malaikat itu tahu siapa saya. Mereka tahu kebaikan dan keburukan yang saya lakukan kemarin-kemarin. Ah, ketahuan deh. Tapi tak apalah saya memberanikan diri saja, saya bersungguh-sungguh. Pikir saya waktu itu: Emang gue pikirin?
Salah satu Malaikat menjawab dengan ramah, “Boleh saja kalau kamu mau coba.” Suasana jadi hening. Hanya ada suara desir angin dan bunyi degup jantung saya yang masih agak deg-degan. Kemudian sebelum saya sempat menjawab, Malaikat satunya lagi menambahkan, “Besok kalau mau bisa temui kami di manapun tempatmu berada. Kita akan lakukan interview.” Medengar hal itu, degup jantung saya jadi kencang lagi sekaligus senang. Senang karena besok saya akan melakukan interview di manapun tempat saya berada, katanya. Ya, itu jelas, karena mereka memang akan selalu berada di dekat saya selagi saya masih mengehembuskan nafas di sini di atas bumi ini. Malaikat itu berkata kepada saya sambil jarinya berhenti sibuk mencatat lalu menatap saya sambil tersenyum. Senyumnya sekali lagi masih tak dapat saya mengerti, tapi yang pasti, senyum itu meneduhkan sekaligus bisa meredam rasa deg-degan saya meski hanya sebagian.
Ternyata Malaikat itu memang betulan baik. Keesokan harinya di atas ranjang yang selalu berdenyit ketika saya banyak bergerak saya terbangun, lalu menguap sambil mengusap mata. Perlahan saya menolehkan wajah saya yang pucat, melirik dengan mata saya yang kurang tidur dan seakan memendam banyak persoalan. Saya melihat kedua Malaikat itu telah berada di rumah saya. Mereka sedang sengit mengawasi, tepatnya di sudut kamar saya di depan layar komputer jinjing butut yang sudah menyala semalam suntuk. Saya jelas mendadak jadi kikuk, masih ngantuk. Saya canggung dan bingung. Kembali hati saya berdegup deg-degan. Tetapi Malaikat itu memang baik. Tersenyum mereka kepada saya sambil tetap mengawasi saya dengan saksama dari sudut kamar.
“Gimana?”, Suara ramah dari salah satu Malaikat memecah keheningan saat matahari masih malu-malu menampakkan dirinya di bagian timur. Tapi Saya malah celingak-celinguk. Nampak konyol. Terlihat tolol. “Bisa kita mulai sesi wawancaranya?”, kata Malaikat yang satunya. Mereka bertanya kepada saya dengan ramah ketika saya masih duduk di atas tempat tidur saya. Tapi saya refleks menjawab “bisa” sambil bergantian menatap kedua Malaikat yang sedang tersenyum berdiri bersebelahan di hadapan saya.
Sebelum para Malaikat itu memulai sesi tanya jawab, saya membetulkan posisi duduk saya sambil menguncir cepol rambut saya yang berantakan. “Baiklah, untuk memulai, anda bisa memperkenalkan diri anda?” Kata Malaikat yang berdiri di sebelah kanan. Setiap kalimat yang mereka katakan selalu diakhiri dengan senyum yang meneduhkan. Sebelum menjawab, saya menarik napas panjang dengan hati-hati agar tidak terlihat oleh mereka kalau saya sedang gugup. Saya berupaya menyembunyikan rasa deg-degan saya, kemudian baru saya mulai memperkenalkan diri. “Perkenalkan, nama saya Aruna Tsa…..” perkenalan diri saya terhenti oleh kehendak diri untuk menanyakan: “apa tidak sebaiknya saya mengganti pakaian terlebih dahulu?” Tidak ada jawaban dari para Malaikat, mereka hanya melontar senyum kepada saya tanda tak ada masalah. Lantas saya lanjutkan saja perkenalan yang terhenti tadi.
“Baiklah. Nama saya Aruna Tsabina Larasati, orang-orang biasa memanggil saya Aruna.” Mendengar nama saya, mereka masih hanya tersenyum ramah. Para Malaikat itu hanya tersenyum memberi makna bahwa mereka sudah mengenal saya jauh sebelum pertemuan kemarin lalu. “Saya lahir di sebuah rumah bersalin di dalam gang di suatu perkampungan di Bogor. Saya menghabiskan masa kanak-kanak hingga remaja saya di sana. Dan saya adalah seorang sarjana. Selama empat setengah tahun saya menyelesaikan gelar sarjana saya. Di perguruan tinggi, saya belajar ilmu menulis fakta lewat warta.” Dengan lantang dan percaya diri saya katakan: “dengan begitu, kendati saya tidak memiliki banyak pengalaman, saya rasa, saya memiliki kemampuan yang sesuai untuk menempati posisi sebagai staff, untuk membantu kalian dalam mencatat amalan manusia semasa hidupnya.” Mereka hanya tersenyum, masih tanpa jawaban.
Saya juga terdiam sejenak untuk ambil napas sebelum kemudian saya melanjutkan, “Setelah lulus saya kemudian menulis setiap hal yang saya pikirkan. Saya telah punya banyak tulisan yang saya buat namun sepertinya hanya akan melumut di dalam komputer jinjing saya yang sudah butut. Terus terang, tidak banyak pengalaman yang saya miliki, akan tetapi saya percaya pada kemampuan diri saya. Jika saya dapat berkesempatan menempati posisi tersebut, saya akan berusaha mengerjakan dengan maksimal setiap tugas yang kalian berikan. Saya akan dengan cepat beradaptasi dengan pekerjaan tersebut, apalagi dengan segala bimbingan dan arahan dari kalian. Demikian yang hendak saya katakan.” Saya akhiri dengan senyum kepada dua Malaikat itu.
Lalu kembali saya berpikir sejenak, agak kaget ketika semua itu keluar dari mulut saya begitu saja. Entah dari mana kepercayaan diri itu datang. Terus terang saja sebenarnya saya tidak memiliki kerpercayaan pada kemampuan diri saya apalagi kemampuan adaptif seperti yang barusan saya katakan kepada para Malaikat itu. Namun, itu semua telah keluar begitu saja dari mulut saya yang masih bau naga.
Kedua Malaikat itu hanya tersenyum, kemudian berkata nyaris berbarengan, “Apakah sebelumnya, Nak Aruna sudah mencari tahu mengenai pekerjaan yang sedang Nak Aruna lamar?”. Mereka kembali tersenyum. Ramah. Dan sabar menunggu jawaban dari saya yang lagi-lagi nampak agak sedikit kaget. Ya, saya agak kaget ketika para Malaikat itu memanggil saya dengan panggilan Nak.
“Sedikit banyaknya saya tahu.” Kata saya. “Apakah Nak Aruna sudah mencari tahu detail pekerjaan yang kami lakukan?”. Kemudian saya jawab seadanya, “Ya, sudah tahu. Sedikit banyaknya saya mengetahui sejak kecil dari buku-buku pelajaran dan guru-guru saya di sekolah mengenai pekerjan kalian berdua.” Kedua Malaikat itu lagi-lagi tersenyum, seraya saling tatap sebelum kembali melanjutkan. Kemudian, berbarengan menoleh ke arah saya, lantas salah satunya berkata, “Baiklah. Itu tidak salah. Tetapi yang perlu kamu tahu Nak, bahwa pekerjaan ini bukan pekerjaan yang sembarang. Tetapi kami percaya kamu memiliki potensi yang luar biasa. Tetapi pekerjaan ini tidak seperti imajinasi yang kamu banyangkan dari pengetahuan yang kamu dapatkan di sekolah dan buku-buku bacaan.” Malaikat itu dengan hati-hati menjelaskan kepada saya. “Lalu, apakah, Nak Aruna bersedia bekerja siang dan malam tanpa tidur dan tanpa ada hari libur?” Malaikat yang satunya melanjutkan tanya dengan ramah dan hati-hati.
Saya terdiam cukup lama. Saya menimbang-nimbang dalam pikiran saya mengenai apa yang para Malaikat katakan. Sebelum kemudian saya berkata, “Saya sudah terbiasa tidak tidur kok, Pak.” Kini para malaikat yang merasa kaget meski tetap tersenyum. Mereka kaget sebab saya memanggil mereka ‘Pak’ begitu pula dengan saya. Namun mereka tidak keberatan sebab mereka baik-baik sekali hanya sedikit kaget saja ketika mendengarnya keluar dari mulut saya. Lagi pula kiranya apa mereka punya secercah amarah dalam dirinya?
Mereka hanya menjawab dengan senyum. Lalu salah satu Malaikat kembali bertanya, “Jika Nak Aruna, syukur dapat kesempatan, berapa angka bayaran yang kamu inginkan nantinya?” Saya terlebih dahulu berpikir sebelum menjawab, “Ehhmm. Mengingat saya tidak memiliki banyak pengalaman, mungkin untuk itu, saya berharap mendapatkan bayaran yang sesuai dengan apa yang saya kerjakan nanti. Barangkali hanya itu yang bisa saya tawarkan sebagai angka yang pas bagi saya.” Mendengar jawaban saya, para Malaikat mengangguk-ngangguk kecil sambil tersenyum. “Pertanyaan selanjutnya, kenapa Nak Aruna ingin melamar pekerjaan kepada kami dan bersedia membantu kami?”. Saya menjawab dengan jujur, “Ehmm,” meskipun saya berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab dengan kepala agak tertunduk. “Ketika saya melihat kalian kemarin sedang dalam menunaikan tugas, saya hanya berpikir untuk menanyakan pekerjaan kepada kalian, dan ternyata kalian ramah dan baik-baik sekali. Saya bersyukur meski sedikit deg-degan. Kalian langsung mengundang saya untuk interview, padahal kalian melihat CV saya saja belum.” (Meskipun saya yakin mereka sudah mengetahui banyak hal mengenai saya) saya menambahkan bagian ini di dalam hati.
“Lalu apa tujuan kamu bekerja, Nak?” Kata Malaikat yang berdiri di sisi sebelah kiri. Sebelum saya menjawab, Malaikat di sisi satunya menambahkan, “Dan hal apa yang bisa membuat kamu bahagia di dalam hidup?” Saya kembali menghela napas panjang sebelum menjawab untuk mengusir rasa deg-degan dan mencari kalimat yang tepat. “Saya ingin bekerja karena seseorang yang bekerja itu mulia. Menurut saya seseorang memang harus bekerja untuk sebuah kemuliaan. Meskipun pekerjaan yang tidak begitu banyak menghasilkan angka, tetapi setidaknya saya dapat berguna untuk diri saya sendiri dan lingkungan sekitar saya, dengan begitu saya sudah merasa hidup.” Saya menghela napas.
“Dan untuk menjawab pertanyaan kedua, bagi saya tentu uang hanya menjadi salah satu faktor kebahagiaan, itu tak dapat saya mungkiri. Yang ingin saya garis bawahi di sini, bahwa itu bukanlah hal utama untuk mencapai kebahagiaan. Kendati tak dapat juga dimungkiri seperti yang saya katakan tadi. Saat uang bukan segalanya namun segalanya membutuhkan uang, bukan? Sebenarnya, yang ingin saya katakan sekali lagi, bahwa saya pun hingga saat ini saya masih sering keliru ketika berbicara soal kebahagiaan, terkadang saya menyadari satu hal bahwa saya belum pernah atau mungkin nyaris mustahil mencapai hal demikian, yaitu kebahagiaan di dalam kehidupan. Maka dari itu saya hanya perlu dapat berguna untuk diri saya dan lingkungan sekitar saya.”
Kedua Malaikat itu nampak semakin bersemangat, “Lalu untuk siapa Nak Aruna bekerja? Untuk siapa semua usaha-usaha ini?” Kata Malaikat yang berdiri di sebelah kiri sambil memegang buku catatannya yang besar. Mereka ternyata sedang melakukan berbagai macam tugas sekaligus, termasuk meng-interview saya. Kemudian saya tegas menjawab, “Untuk saya sendiri,” Mata saya melirik sebentar ke sudut kanan atas dan saya kembali menghela napas sebelum melanjutkan, “karena bagi saya ketika saya menjawabnya untuk keluarga saya atau untuk orang-orang di sekitar saya, sesungguhnya itu hanya untuk memuaskan saya atas pemenuhan kewajiban yang menurut saya menjadi tanggung jawab saya tersebut. Ketika saya bisa melihat keluarga saya senang, saya pun akan merasa demikian. Ketika saya berhasil memenuhi kebutuhan keluarga saya dan dapat menyenangkan mereka, saya akan merasa puas. Jadi artinya bagi saya itu semua hanya tentang saya dan untuk saya pada akhirnya.” Untuk sementara waktu, kebisuan mengambang di antara saya dan dua Malaikat di hadapan saya.
“Baiklah,” kata kedua Malaikat itu berbarengan. Kemudian salah satu Malaikat bertanya untuk menutup sesi interview ini, “Sebelum menutup sesi interview ini, apakah ada hal yang ingin Nak Aruna sampaikan?” Tiba-tiba saya bingung, jadi saya jawab seadanya, “Tidak” sambil tersenyum. Tetapi sebenarnya dalam hati saya katakan “Eh” lalu para Malaikat itu serentak menoleh kepada saya. Ternyata tanpa disadari saya bergumam “Eh” yang kemudian terdengar oleh kedua Malaikat itu. “Ya, Nak, masih ada yang ingin ditanyakan?” Kata Malaikat dengan ramah. Sebab terlanjur gumaman saya terdengar lantas saya katakan saja, “Ehhm, mungkin sebelum menutup, saya hanya ingin menyampaikan banyak terima kasih, sebab kalian telah memberikan kesempatan kepada saya untuk melakukan sesi interview ini. Terima kasih sudah mau menerima saya dan memperlakukan saya dengan ramah.” Sambil berkata-kata di depan para Malaikat sekaligus saya bicara dalam hati (Jika saya diterima, bisakah dan mampukah saya…)
Para Malaikat itu masih memperhatikan saya yang telah selesai menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka. “Ada yang ingin disampaikan lagi atau ada yang hendak ditanyakan lagi, Nak?” Kata Malaikat bertanya sekali lagi. Saya terdiam sejenak, lalu mengatakan tidak kepada para Malaikat yang nampaknya masih bisa meladeni saya sampai kapanpun asalkan napas masih keluar dari kedua lubang hidung saya. “Baiklah, Nak Aruna, jika tidak ada lagi yang hendak disampaikan, kami akan mengakhiri sesi tanya jawab kali ini. Kami akan mempertimbangakan semuannya terlebih dahulu. Dan jika nanti kamu dinyatakan layak, kami akan segera menghubungimu. Terima kasih dan selalu semangat untuk kemuliaan, Nak.” Kata Malaikat menutup sesi tanya jawab dengan diakhiri oleh senyum yang meneduhkan.
Di dalam pikiran, saya kembali melihat-lihat lagi. Saya perhatikan dengan saksama. Saya menimbang-nimbang kembali dengan hati-hati, apakah mampu diri ini mengemban tugas yang berat ini? Tentu benar kata kedua Malaikat itu. Sungguh berat adanya tugas Malaikat itu nantinya, meski terlihat hanya catat-mencatat amalan manusia bernyawa yang waras di seantero dunia. Tugas mencatat amal manusia itu bukanlah tugas yang mudah dikerjakan oleh saya sebagai manusia biasa, pikir saya kemudian. Apalagi dengan jumlah manusia yang bejibun di dunia ini. Saya mesti mencatat satu persatu tindak tanduk mereka selama hidup di dunia. Mesti ada berapa jumlah saya untuk bisa mengawasi sepak terjang seluruh manusia di seluruh belahan dunia ini? tanya saya dalam hati. Belum lagi saya mesti membedakan orang waras atau tidak. Itu akan menjadi tantangan, pikir saya menimbang-nimbang. Tapi apa boleh buat? Mungkin akan tetap saya coba. Boleh jadi punya atasan dua sosok Malaikat memang rezeki saya yang bisa membuat saya jadi mulia dan hidup bahagia. Lagipula saya masih harus menunggu hasil pertimbangan para Malaikat sebelum saya menerima panggilan berikutnya. Yang jelas saya belum tentu juga diterima, kan? Jadi tak perlu saya risau dan begitu mencemaskannya. Lantas saat ini saya masih saja menaruh masa depan di permukaan ambang bayang harapan, toh berharap tidak pernah ada habisnya, bukan?
Pikiran saya penuh dengan beragam rupa hal setelah sesi tanya jawab itu, kemudian keheningan malam terpecahkan oleh riuh suara klakson bis yang memanggil-manggil di depan halte tempat saya berdiri terpaku. Lantas saya tersadarkan, masih dengan rambut cepol yang sudah agak turun dan kemeja putih yang kancingnya terbuka dua, serta rok hitam yang bergoyang-goyang tertiup angin malam. Gerayang angin membuat hati saya semakin merana. Kardigan lusuh yang tadi saya kenakan, telah saya genggam di tangan kanan. Saya berdiri dengan gemetar, sekali lagi memandang ke arah bis yang masih menunggu itu, yang seolah menertawakan saya yang masih termenung bingung. Saya pun balas tertawa meski ketakutan, saya celingak-celinguk dengan lirih ketika hati saya serasa meledak oleh kesadaran: Sejak kapan saya berdiri di sini? tanya saya kemudian di dalam hati dengan napas yang memburu.
