Stanisław Wyspiański (1869-1907)

Jika sebelumnya (dalam pengantar) Syahruljud Maulana membayangkan antologi Serial Ramadan Berbuka Puisi Vol.3 yang dihimpun Halimun Salaka ini sebagai mystery box puisi, sesuatu yang bisa saja menghadirkan kejutan bernilai atau bahkan bisa juga berisi zonk, dalam tulisan penutup ini kami mengelaborasinya dengan memakai metafora Kejutan di Setangkai Bunga Puisi.

Bunga dan box tentu merupakan dua cara berbeda untuk menyimpan sebuah kejutan. Box menyembunyikan isinya di dalam dan tak terlihat, sedangkan bunga menyimpan kejutannya di luar dan kasatmata. Sebuah box akan meminta kita membukanya, sedangkan sebuah (setangkai) bunga meminta kita untuk lebih mendekat, memperhatikan, dan berani sabar untuk melihat kelopaknya serta mengurai satu per satu apa saja yang dikandungnya. Puisi dalam Serial Berbuka Puisi ini kami bayangkan serupa setangkai bunga yang menunggu siapa saja pembaca agar tiba pada kesiapan untuk mencium baunya, apa warna batangnya, berbentuk apa kelopaknya, dan seterusnya.

Dengan demikian, sebagaimana dikemukakan Roman Ingarden, seorang filsuf fenomenologi Polandia, bahwa karya sastra (dalam hal ini puisi) bisa dipandang sebagai sebuah objek intensional yang memiliki lapisan-lapisan: seperti lapisan bunyi, lapisan makna, lapisan dunia yang digambarkan, dan lapisan skematik yang membutuhkan pembaca untuk mengisi kekosongan-kekosongannya. Puisi, dalam kerangka Ingarden itu kami pahami sebagai sesuatu yang tidak pernah selesai sampai pembaca hadir dan mengisinya dengan pengalaman batinnya sendiri. Maka, apa yang dimaksud Setangkai Bunga Puisi di sini, dengan demikian kami arahkan bukan pada sesuatu yang telah jadi, ia merupakan sesuatu yang terus-menerus bisa layu-mekar di antara teks dan pembacanya.

Misalnya, Malza Nurzaini dalam puisinya berjudul Berbukalah dengan yang Magis-Magis, tengah menghadirkan kejutan yang bersifat teologis sekaligus sangat personal. Kejutannya bukan terletak pada tema doa yang tak terkabul atau jarak antara hamba dan Tuhan, karena tema serupa itu sudah ribuan tahun digarap para penyair. Kejutannya terletak pada cara Malza menempatkan dirinya bukan sebagai pendosa yang bertobat dengan khidmat, melainkan sebagai seseorang yang pernah mengutuk dan kini mencoba kembali mendekat setelah “jauh terlalu lama dari doa-doa yang dipatahkan cakrawala.”

Di sini kami teringat konsep defamiliarisasi yang dirumuskan Viktor Shklovsky, seorang kritikus Formalisme Rusia. Shklovsky menguraikan fungsi utama tentang seni adalah membuat yang familiar menjadi asing kembali, atau dengan kata lain agar persepsi kita yang sudah tumpul karena kebiasaan akan suatu hal bisa diasah kembali menjadi tajam dan segar dalam memandang sesuatu hal tersebut. Kejutan puisi Malza adalah mencoba men-defamiliarisasi doa dengan cara yang cukup berani, sebab ia masukkan ke dalamnya dimensi pengutukan, kelelahan memohon, dan “dosa-dosa estetis yang nyaris spirituil.” Tiba-tiba doa di puisinya bukan lagi aktivitas khusyuk yang kita bayangkan harus formal, ia menjadi medan pertempuran antara keyakinan dan keraguan, antara kepatuhan dan pemberontakan, sesekali bernada tragis dan komedi.

Yang membuat kami berhenti cukup lama adalah baris “sebab puasa dan puisi / sama-sama memilin-milin / kekosongan.” Malza tidak sekadar membuat paralel antara puasa dan puisi, ia menemukan kesamaan ontologis antara keduanya. Dalam tradisi tasawuf, konsep fana, atau pengosongan diri dari segala atribut ego itu adalah syarat untuk bisa menerima cahaya Ilahi. Puisi seakan bekerja dengan logika yang serupa, ia mengosongkan kata-kata dari maknanya yang sudah usang agar makna yang lebih hidup bisa menghuninya kembali, sebagaimana “silau mata sufi / melihat nur muhammad / begitu pelik ia dicecap indra.”

Selanjutnya Gege Harsyah dalam puisi berjudul Semilir Angin, menghadirkan kejutan yang bekerja dengan cara sebaliknya. Kalau Malza menumpuk fenomena, Gege mengurai suasana. Kalau Malza kompleks dan berlapis, Gege bekerja pada kesan kesederhanaan. Tapi justru di situlah setangkai bunga puisi ini menyimpan kejutannya. Sebagaimana Gaston Bachelard dalam The Poetics of Space, menulis tentang bagaimana imajinasi puitis bekerja melalui apa yang ia sebut resonance dan reverberation sebagai gema dan getaran. Resonansi adalah cara sebuah imaji puitis menyebar ke dalam berbagai lapisan makna, sedangkan getaran adalah cara ia mengguncang batin pembaca sampai ke kedalaman yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar.

Gege bekerja tepat dalam wilayah ini. “Aku hanya ingin terbang / melintas luka meditasi waktu / mencari titik temu / wajah bumi dan kaki langit”, membawa serangkaian imaji yang beresonansi karena mereka menyentuh sesuatu yang sangat arketipe dalam diri manusia: kerinduan untuk melampaui batas, untuk menemukan pertemuan antara yang di bawah dan yang di atas, yang horizontal dan yang vertikal. “Aku sudah bersedih / menemukanmu dalam sepi / menyimpan cerita kita rapat-rapat / wajah dunia yang terasingkan.”

Frasa “wajah dunia yang terasingkan” satu dari sekian kejutan kecil yang bekerja pelan dalam puisi Gege, sebuah lompatan skala yang tidak diumumkan. Kita mulai dengan kesedihan personal yang sangat dekat: sepi, cerita yang disimpan rapat. Lalu tiba-tiba melompat ke skala yang kosmis: wajah dunia. Gege tidak menjelaskan lompatan itu. Ia membiarkannya menggantung. Di sinilah getaran Bachelard itu bekerja: bukan melalui penjelasan, melainkan melalui jarak antara yang personal dan yang universal dibiarkan kosong, dan kekosongan itu justru berbunyi.

Kata “wajah” berulang sepanjang puisinya: wajah bumi, wajahmu yang muram, wajah dunia. Pengulangan “wajah” dalam puisi Gege, kami bayangkan seperti seseorang yang terus-menerus mencari muka yang dikenalnya dalam kerumunan, dan setiap kali yang ia temukan adalah wajah yang lain, wajah yang asing, wajah yang murung. Rindu yang tidak pernah benar-benar menemukan alamatnya, karena mungkin yang dirindukan bukan orang tertentu, melainkan pengakuan itu sendiri.

Lutfhi K. Umam lalu mengejutkan kami dengan cara yang lebih sinis, atau mungkin lebih tepatnya: jujur. Memetik Puisi dimulai seperti sebuah meditasi tentang proses kreatif, bagaimana memilih kata, meraba lekuk, menyusun kalimat, membungkus dengan pita paragraf. Nada awalnya hampir seremonial, penuh perhatian pada detail kecil penciptaan. Ini mengingatkan kami pada apa yang Paul Valéry sebut sebagai la poésie pure, kesadaran penuh penyair terhadap setiap unsur bahasa yang ia pilih, setiap kata yang ia tempatkan dengan penuh pertimbangan dan tanggung jawab estetis. Dan tiba-tiba berbelok. “kukirim surat ini / dengan marah / yang tak tahu ke mana harus ku-alamatkan.”

Dari larik itu Lutfhi melakukan sesuatu gaya ungkap pembalikan yang tiba-tiba mengubah segala arah bahasanya. Puisi yang semula tampak seperti perayaan penciptaan ternyata juga bernuansa surat kemarahan. Dan kemarahan itu ditumpahkan pada hal-hal besar: seperti kata perang, kelaparan, dahaga, darah yang mengalir tanpa lagi mengingat tubuhnya, janji-janji politik yang tak pernah tiba. Lutfhi membangun dunia yang runtuh dalam beberapa baris dengan cara yang mengingatkan kami pada teknik cataloguing Walt Whitman, kerja penumpukan objek dan kondisi yang karena kebersamaannya menciptakan kesan skala yang meremukkan. Namun agaknya Lutfhi lebih sinisme dari Whitman. Ia tidak merayakan kebersamaan, ia menggunakannya untuk mempermalukan. Puncaknya terlihat pada baris yang mungkin paling menghunus dalam seluruh bangunan puisinya: “dan tentang aku / yang hanya mampu / memastikan satu kalimat / tidak salah eja.”

Hal tersebut membawa kami pada nama Theodor Adorno, mengenai persoalan seni yang jujur tidak bisa pura-pura utuh di hadapan dunia yang terfragmentasi. Kami rasa puisi Lutfhi merupakan wujud dari proposisi itu, di hadapan perang dan kelaparan, penyair hanya bisa duduk dan memeriksa ejaan. Baris itu bukan kerendahan diri yang manis, ia semacam kritik paling tajam yang bisa ditujukan seorang penyair kepada dirinya sendiri, dan secara tidak langsung, kepada seluruh tradisi kepenyairan yang kadang terlalu percaya diri bahwa kata-kata bisa mengubah dunia. Lutfhi tidak menolak kepercayaan itu sepenuhnya, ia hanya menunjukkan betapa lebarnya jurang antara ambisi puisi dan kenyataan yang dihadapi. Itulah cara bunga puisi ini mekar, dengan membuat kita tidak nyaman di dalam ketidakberdayaan kita sendiri.

Terakhir, sebagai penutup atas setetes pembacaan kecil ini, kita akan temukan puisi Syahruljud Maulana berjudul Apa Artinya Ini?, yang menulis dengan struktur yang paling ketat di antara ketiga puisi lainnya. Setiap bait dimulai dengan “ini sudah…” yang mengandaikan sesuatu telah selesai, telah tiba pada batasnya: malam sudah pagi, gelas sudah kosong, tarhim sudah memanggil, kebohongan sudah benar, kata sudah bulat. Namun aku masih terus bergerak, masih terus merasakan, masih terus menderita dan mencintai.

Kami bayangkan ini serupa contoh sempurna dari apa yang Gerard Manley Hopkins sebut sebagai sprung rhythm dalam dimensi semantisnya, tentang ketegangan antara pola yang teratur dan isi yang meluber keluar dari pola itu. Struktur “ini sudah…” menciptakan ritme kepastian, seolah-olah waktu bergerak dengan tertib dan setiap sesuatu memiliki ujungnya. Tetapi isi tiap bait menolak kepastian itu: aku sepenuhnya tak tahu rasa sakit ini berasal dari angin cinta yang suram atau / warna dosa kian menampakkan cahaya. Ketidaktahuan, kebingungan, dan ambiguitas moral terus meluber dari bingkai “sudah” yang Syahruljud bangun dengan cermat.

Dalam pandangan lain, Hans Robert Jauss lewat teorinya tentang Rezeptionsästhetik (estetika resepsi), memperkenalkan konsep horizon of expectation, tentang bagaimana cakrawala harapan pembaca yang dibentuk oleh konvensi genre, pengalaman membaca sebelumnya, dan konteks budaya. Kejutan puitis terjadi ketika sebuah karya melanggar cakrawala harapan itu dengan cara yang produktif. Syahruljud melakukan itu dengan sangat halus, kita memasuki puisinya dengan harapan bahwa pertanyaan di judulnya, Apa Artinya Ini?, akan dijawab dan menghimpun jawaban. Setiap bait mempertegas harapan itu, seolah-olah kita sedang menuju suatu resolusi. Lalu bait terakhir tiba dengan pernyataan yang sangat bersih dan tenang: “aku ini milikmu / tugasku meningkatkan kata terhadap makna / segala yang berlebih aku kembalikan / dan yang kurang aku tabalkan: aku cinta padamu.”

Pertanyaan yang terdapat pada judul tidak dijawab secara percuma, tapi dilampaui. Dan itulah kejutan paling matang dalam antologi ini. Syahruljud tidak memberikan kita definisi tentang apa artinya semua ini, tapi ia memberikan kita sesuatu yang lebih kuat dari definisi, ialah sebuah keputusan. Kepada siapa cinta itu ditujukan? Kepada Tuhan? Kepada kekasih? Kepada bahasa itu sendiri? Ambiguitas itu bukan kelemahan, sebab dalam kerangka estetika Paul Ricoeur, ambiguitas adalah tanda teks yang hidup, teks yang membiarkan banyak dunia kemungkinan terbuka di hadapan pembacanya. Itulah nuansa ketika setangkai bunga puisi mampu mengais berbagai wanginya, karena ia tidak mau ditangkap dengan satu bentuk dan jenis harumnya.

Syahdan. Dari sekian banyak puisi yang dihimpun dalam antologi ini, kami memilih keempat puisi ini dengan segala perbedaan karakternya yang mengajarkan satu hal, yang kami rasa cukup sejalan dengan uraian Wolfgang Iser dalam The Act of Reading, bahwa makna sebuah teks sastra bukan milik teks saja, bukan milik pembaca saja, melainkan lahir di antara keduanya, dalam segala medan fenomena peristiwa pembacaan itu sendiri. Setiap pembaca yang berbeda akan membawa pengalaman batin yang berbeda, dan karena itu, setiap pembacaan menghasilkan beragam jenis bunga yang berbeda dari benih puisi yang sama.

Kejutan dalam puisi, dengan demikian, bukan tentang sesuatu yang tersembunyi dan tiba-tiba terungkap. Kejutan dalam puisi adalah tentang pengenalan, tentang mendapati bahwa sesuatu yang sudah kita ketahui, yang sudah kita rasakan, yang sudah kita hidupi selama bertahun-tahun, ternyata bisa diucapkan dengan cara yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Shklovsky menyebutnya sebagai defamiliarisasi; Bachelard menyebutnya resonansi; Iser menyebutnya fenomena pembacaan; dan kami lebih suka menyebutnya kejutan di setangkai bunga puisi.

Sebab, bunga itu tidak jatuh dari langit, ia tumbuh dari tanah yang sama tempat kita hidup. Tapi saat bunga itu mekar, dengan warna yang tepat, di waktu yang tepat, di hadapan mata pembaca yang sabar untuk melihat, ia akan terasa seperti kejutan pertama: seolah-olah dunia baru saja mengembalikan sesuatu yang lama dengan cara baru yang indah-mempesona. Dan kami rasa begitulah puisi bekerja, bukan memberi kita sesuatu yang baru, melainkan mengembalikan kepada kita sesuatu yang lama dengan cara yang berbeda dari biasanya, lebih ajaib dan penuh kejutan.

Bogor, 31 Maret 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *