Ketika Leluhur Bicara tentang Longsor: Hikmah Warugan Lemah untuk Bogor Modern

Ketika Leluhur Bicara tentang Longsor: Hikmah Warugan Lemah untuk Bogor Modern

dok. Bisma Pranacaraka


Di balik kesejukan dan keasriannya, Bogor menyimpan risiko tersembunyi: *longsor. Setiap kali hujan deras mengguyur, kekhawatiran itu muncul. Namun, tahukah kita, ratusan tahun lalu leluhur kita di Pakuan Pajajaran—cikal bakal Bogor hari ini—sudah punya ‘ramalan’ dan ‘peta’ canggih untuk menghindari bencana demikian? Sebuah naskah kuno bernama Warugan Lemah, merupakan kunci dari kearifan yang tak lekang dimakan zaman.

Bayangkan kembali Bogor di abad ke-15 dan ke-16. Di sinilah berdiri megah Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Bukan sekadar kerajaan biasa, tapi sebuah peradaban yang cerdas dalam memahami dan beradaptasi dengan alamnya. Mereka tahu persis, tanah yang mereka pijak, dengan topografi berbukit, tanah vulkanik, dan curah hujan tinggi, adalah pedang bermata dua: subur tapi juga rawan bencana. Di tengah tantangan ini, lahirlah sebuah kearifan lokal yang terangkum dalam Naskah Warugan Lemah—sebuah jembatan antara masa lalu yang bijak dan masa kini yang penuh tantangan.

Arsitektur dan Kosmologi: Ketika Rumah Bukan Sekadar Bangunan

Leluhur kita di Pakuan Pajajaran tidak membangun permukiman secara sembarangan. Setiap rumah, setiap tata kota, adalah manifestasi dari pemahaman mendalam tentang alam dan kosmos. Tengoklah *Imah Panggung khas Sunda misalnya, hal itu bukan cuma soal arsitektur; ia merupakan filosofi hidup yang kini dikenal sebagai *Tritangtu. Konsep ini membagi rumah menjadi tiga bagian utama, masing-masing merepresentasikan tingkatan alam semesta dan bagian tubuh manusia.

Pertama Suhunan (atap), melambangkan Buana Luhur (dunia atas, langit) dan hulu (kepala) manusia, menunjukkan penghormatan terhadap entitas spiritual dan intelektual. Kedua Awak Imah (Badan Rumah, mewakili Buana Tengah (dunia tengah, tempat manusia hidup) dan awak (tubuh) manusia, sebagai pusat aktivitas sehari-hari. Dan ketiga adalah Kolong (Fondasi Panggung), mengasosiasikan dengan Buana Handap (dunia bawah, bumi) dan suku (kaki) manusia, berfungsi sebagai penghubung dengan bumi dan memiliki fungsi praktis sekaligus vital seperti ventilasi, perlindungan dari kelembaban, serta antisipasi banjir. Ini adalah bukti nyata bagaimana mereka mendesain rumah tanggap bencana yang dibarengi nilai filosofis.

Tak hanya rumah, tata kota Pakuan Pajajaran pun cerdas. Mereka menerapkan *Sistem Parit Multiguna yang tak hanya mengairi sawah tetapi juga mengendalikan air hujan, menjadi batas wilayah, dan bahkan elemen pertahanan. Selain itu ada *Hutan Samida, kawasan hutan yang dilindungi atau dikeramatkan, berfungsi sebagai daerah resapan air raksasa, penstabil tanah, dan penjaga keanekaragaman hayati—pencegah erosi dan longsor alami. Bahkan *Ngabalay Jalan, jalur penghubung kota, dirancang ramah lingkungan, menciptakan koridor hijau yang menjaga keseimbangan alam. Ini semua merupakan bentuk “smart city” versi kuno, di mana harmoni alam adalah fondasi utamanya.

Naskah Warugan Lemah: Peta Geologi Kuno yang Terlupakan?

Di antara warisan tak ternilai itu, tersimpanlah Naskah Warugan Lemah. Ini bukan sekadar cerita dongeng, melainkan sebuah *pedoman geomansi—ilmu tentang bagaimana memilih lahan yang baik untuk permukiman. Naskah ini berisi 18 pola deskripsi topografi lahan, masing-masing dengan interpretasi keberuntungan atau kesialan untuk permukiman. Ini mengindikasikan kearifan lokal yang telah mengembangkan sistem klasifikasi lahan berdasarkan observasi empiris terkait stabilitas dan produktivitas.

Berikut saya sajikan beberapa contoh menarik yang terdapat dalam Naskah Waarugan Lemah:

-Talaga Hangsa (Condong ke Kiri/Utara): Lahan ini dianggap *baik, “dikasihi semua orang.”

-Sumara Dadaya (Datar): Lahan datar juga dianggap *baik, “senantiasa kedatangan Rama.”

Namun, ada pola lahan yang dianggap *buruk:

-Banyu Metu (Condong ke Belakang): Dianggap buruk, “tak akan menjadi apa yang disayangi.”

-Purba Tapa (Condong ke Depan): Dianggap buruk, “selalu kehilangan rasa suka.”

-Ambek Pataka (Condong ke Kanan/Selatan): Dianggap buruk, “banyak yang menyakiti hati kita.”

-Luak Maturun (Lembah di Tengah): Dianggap buruk, “mendapat penderitaan besar.”

Sekilas, ini mungkin terdengar mistis. Tapi, bagaimana jika di balik frasa puitis itu tersimpan pengamatan empiris yang sangat akurat tentang stabilitas tanah?

Ujian Sains Modern: Membongkar Kebenaran di Balik Naskah Kuno

Inilah bagian paling mendebarkan: menguji Naskah Warugan Lemah dengan kacamata sains modern. Saya akan mencoba menganalisis interpretatif 18 pola pemilihan lahan dalam Naskah Warugan Lemah dan deskripsi lahan Pakuan Pajajaran, lalu membandingkannya dengan peta kerentanan tanah longsor Bogor yang dibuat oleh Silalahi dkk. (2019). Penelitian Silalahi ini sangat akurat, menggunakan GIS dan model Frequency Ratio (FR) untuk memetakan kerentanan longsor berdasarkan faktor-faktor geologis modern seperti litologi, gradien lereng, tutupan lahan, aspek lereng, dan curah hujan, dengan tingkat akurasi tinggi.

Bisakah sebuah naskah kuno, yang ditulis jauh sebelum GPS dan peta digital, benar-benar sejalan dengan temuan ilmiah abad ke-21? Dalam pengamatan saya, hasilnya sungguh mengejutkan dan membanggakan: ada korelasi yang sangat kuat antara prinsip Naskah Warugan Lemah dan temuan dalam penelitian Silalahi dkk. (2019).

Pertama, pola Warugan Lemah yang mengindikasikan risiko longsor TINGGI:

*Ambek Pataka (Condong ke Kanan/Selatan): Warugan Lemah mengategorikan ini sebagai pola buruk. Sains modern setuju! Penelitian Silalahi dkk. secara empiris menunjukkan bahwa lereng dengan aspek Selatan memiliki frekuensi kejadian longsor tertinggi (18 kejadian) di Bogor. Ini adalah korelasi yang sangat kuat dan langsung.

*Banyu Metu (Condong ke Belakang): Warugan Lemah menilai pola ini buruk. Secara ilmiah, kemiringan ke belakang menciptakan cekungan drainase yang menghambat aliran air, mengakibatkan akumulasi dan kejenuhan tanah. Kondisi ini meningkatkan tekanan pori dan sangat rentan longsor, terutama di Bogor dengan curah hujan tinggi.

*Luak Maturun (Lembah di Tengah): Pola ini dikategorikan buruk oleh Warugan Lemah. Secara geologis, lembah seringkali merupakan area akumulasi sedimen tidak stabil dan konsentrasi aliran air, yang sangat rentan terhadap erosi dan longsor.

*Wilayah Membelakangi Bukit/Gunung: Warugan Lemah menganggapnya buruk. Penelitian Silalahi dkk. menyoroti bahwa bagian selatan Bogor (area dataran tinggi dekat gunung), dengan litologi vulkanik yang tidak stabil dan gradien lereng curam, merupakan zona kerentanan longsor moderat hingga tinggi.

Kedua, pola Warugan Lemah yang mengindikasikan risiko longsor RENDAH:

*Talaga Hangsa (Condong ke Kiri/Utara): Warugan Lemah mengategorikan pola ini sebagai baik. Secara ilmiah, kemiringan moderat ke arah Utara umumnya memiliki drainase yang lebih baik, vegetasi lebih lebat, dan paparan sinar matahari yang lebih rendah (mempertahankan kelembaban tanah), menjadikannya lebih stabil dibandingkan lereng Selatan.

*Sumara Dadaya (Datar): Warugan Lemah menganggap lahan datar sebagai pola baik. Secara geologis, lahan datar memiliki gradien lereng yang rendah, yang merupakan salah satu faktor paling signifikan dalam mengurangi kerentanan longsor.

Ketiga, faktor lain yang TERKORELASI:

-Gradien Lereng: Meskipun Warugan Lemah tidak secara eksplisit menyebut ‘gradien lereng’, pola ‘menukik’ atau ‘miring’ secara inheren berhubungan dengan tingkat kemiringan. Pemilihan lahan datar atau ‘miring moderat’ secara langsung berkorelasi dengan temuan Silalahi dkk. bahwa gradien lereng adalah faktor pemicu utama longsor.

-Litologi Vulkanik: Pemahaman Warugan Lemah mengenai ‘tanah yang baik’ kemungkinan secara intuitif menghindari area dengan litologi yang secara empiris terbukti kurang stabil, seperti batuan vulkanik yang banyak terdapat di selatan Bogor.  

Diskusi: Warugan Lemah sebagai Ilmu Geospasial Kuno dan Implikasinya untuk Bogor

Hasil komparasi ini secara kuat mendukung hipotesis bahwa Naskah Warugan Lemah merupakan manifestasi dari ilmu geospasial dan geomorfologi empiris yang dikembangkan oleh masyarakat Sunda kuno. Prinsip-prinsip geomansi yang tertuang di dalamnya bukan sekadar kepercayaan mistis, melainkan didasarkan pada observasi jangka panjang dan pemahaman mendalam tentang interaksi antara topografi, hidrologi, dan stabilitas lahan.

Masyarakat Pakuan Pajajaran, dengan panduan Warugan Lemah, kemungkinan besar telah mampu:

-Mengidentifikasi dan Menghindari Zona Berisiko Tinggi: Permukiman utama dihindari dari lereng curam, cekungan air, dan daerah yang secara intrinsik tidak stabil.

-Mengoptimalkan Pembangunan di Zona Aman: Lahan datar atau dengan kemiringan yang menguntungkan dipilih untuk permukiman, memastikan stabilitas dan drainase yang baik.

-Mengintegrasikan Mitigasi Bencana: Dengan membangun parit multiguna dan melestarikan hutan samida, mereka secara aktif mengurangi risiko longsor dan banjir, bahkan di area yang mungkin memiliki potensi risiko rendah sekalipun.

Maka dari itu, ini adalah (dan seharusnya memang harus menjadi) pelajaran berharga bagi Bogor modern hari ini. Di tengah pembangunan yang pesat, kita sering melupakan kearifan lokal yang di dalamnya tersimpan nilai-nilai dan telah terbukti kegunaannya.

Kesimpulan: Pelajaran Berharga dan Rekomendasi Aksi Nyata

Dengan penerokaan kajian serta pembacaan di atas, kearifan lokal Sunda khussunya yang terkandung dalam Naskah Warugan Lemah bukan hanya warisan budaya, melainkan sebuah bentuk ilmu geospasial kuno yang telah terbukti valid secara ilmiah. Pola-pola pemilihan lahan yang diuraikan dalam naskah ini secara akurat mencerminkan zona kerentanan tanah longsor di Bogor, sebagaimana diidentifikasi oleh penelitian modern Silalahi dkk. (2019). Korelasi yang kuat antara “pola buruk” Warugan Lemah dengan zona kerentanan longsor tinggi dan “pola baik” dengan zona kerentanan rendah sangat menegaskan relevansi pengetahuan tradisional.

Pelajaran dari Pakuan Pajajaran dan Warugan Lemah tentu sangat relevan bagi perencanaan tata ruang di Bogor saat ini. Integrasi kearifan lokal dengan sains modern dapat menghasilkan strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan, adaptif terhadap bencana, dan menghargai harmoni antara manusia dan alam.

Lalu, apa dan bagaimana cara kita (baca: Bogor) mengadopsi kembali pelajaran, tata nilai, dalam aksi kehidupan nyata hari ini?

Pertama, integrasi pengetahuan. Kearifan lokal seperti Warugan Lemah harus diintegrasikan dalam perencanaan tata ruang kota dan kebijakan mitigasi bencana di Bogor. Peta risiko modern dapat diperkaya dengan perspektif historis dan empiris yang termuat dalam naskah ini.

Kedua, Pendidikan dan Pelestarian. Penting untuk mendidik masyarakat tentang nilai-nilai kearifan lokal ini dan melestarikan naskah-naskah sejenis sebagai aset pengetahuan yang tak ternilai.

Ketiga, Pembangunan Berkelanjutan. Mendorong pembangunan yang mengadopsi prinsip-prinsip adaptif ala Pakuan Pajajaran, seperti pengembangan infrastruktur hijau dan pemilihan lokasi yang mempertimbangkan kondisi geologis, untuk menciptakan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Dengan demikian, kini giliran kita untuk terus menggali, memahami, dan menerapkan warisan berharga tentang betapa cerdasnya nenek moyang kita (dalam naskah Warugan Lemah), dan kita revivalisasi tata nilainya demi masa depan Bogor yang lebih aman dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *