Pencarian saya mengenai “Rutum” (Rumah Tumbuh Muthmainah) tempat seperti apa, akhirnya, menemukan satu titik celah di antara berbagai fungsinya yaitu sebagai tempat minum segala jenis khamr yang memabukkan. Di sinilah tempat yang membuat “orang-orang baik” mengorek kata sampai kabarnya hanya ketemu celaan. Tempat yang bergelimang para pemabuk atau para miras, di mana anggur dan arak lebih terkenal daripada Golda dan Teh Pucuk. Atau carilah kata yang barangkali lebih familiar dari mabuk. Sebab kita makin berada di dalam satu iklim di mana hanya para pemimpin dengan semangat kemabukan kuasa teriak-teriak menuding para pemabuk. Dan orang yang teler biasanya tak berani jujur untuk mengungkapkan bahwa dirinya sedang atau habis mabuk.

Disclaimer dulu, tidak semua penghuni Rutum doyan mabuk, meski sebagian besar memang pemabuk. Tapi itu dulu, sekarang belum tentu. Buktinya, lebaran sudah kelewat banget tapi belum ada seorangpun yang saya lihat buka miras. Apa jangan-jangan ilmu puasa kemarin sedang bertransformasi ke dalam dirinya menjadi sebentuk laku pengendalian diri. Sehingga mereka jadi lebih bisa menimbang, mengelola, dan menahan diri untuk tidak mengambil miras yang ada di depan mata. Inipun tidak gampang buat mereka, kelihatannya mulus tapi ternyata mengandung kerepotan 1001 akal bulus demi menolak minuman yang mereka suka. Terkadang ketika penolakan itu berhasil mereka lakukan, yang terjadi kemudian perilaku dan permintaan mereka dalam rangka sober menjadi aneh bin saklek. Tak elok bila dituliskan, lebih indah menatap langsung. Karena sober aja lucu, apalagi high-tanked.

Aslinya, mereka bukan pemabuk kelas berat seperti “Quincas Si Miras Meringkik” yang kita kenal sebagai seorang raja miras, karena ketika ia menenggak miras dalam sekali tegukan akan terdengar semacam “ringkikan seekor hewan yang terluka parah” di dalam novel Jorge Amado. Ini kisah pemabuk yang tidak disukai oleh keluarga, tapi disayangi pertemanan. Quincas telah memberi arti “ketulusan” dengan lebih berbobot daripada menghias “hubungan” yang retak. Walaupun yang ia tahu hanya ingin mabuk, apa mabuk untuk tujuan ketulusan? I don’t know but do you understand.

Bicara mabuk memang Quincas jagonya, tapi kalau soal kekonyolan dan kekocakan dalam mabuk mereka berani diadu. Sebab mereka mabuk kadang-kadang, bukan yang getol saban malam. Mereka lebih suka dianggap para peminum ketimbang para pemabuk. Mereka minum bukan untuk mabuk, meski minuman itu sangat memabukkan. Sehingga untuk mengatasi kemabukan itu biasanya mereka pakai jurus alasan yang amat beragam, kadang untuk chill,  kadang biar tipsy, dan terkadang kena jebakan high-tanked, mabuk semabuk-mabuknya. Dan kalau sudah sampai fase ini, bermacam-macam kelucuan selalu terjadi, mereka menyebutnya sebagai peristiwa pelengkap kegembiraan.

Tiap kali ada yang berseru: “kapok nggak?” Mereka yang lagi tinggi-tingginya akan serempak menjawab: “kapok! Ini terakhir!” Namun, keesokan harinya pas sadar malah minta buka botol lagi. Ketika direka ulang kejadian semalam begini, wajah mereka berubah menjadi putri malu. Karena puncak mabuk mereka adalah bergelimang rasa malunya sendiri pada diri sendiri sambil bertanya heran: ”lho, kok bisa, gitu?” Mana saya tahu, itukan situ sendiri yang ngelakuin.

Agaknya perlu diketahui bahwa mekanisme permabukan di Rutum telah menemukan pola dan modifikasi yang trendi, dari syarat sampai ketentuan yang dilisankan. Boleh minum asalkan tidak dalam keadaan sedih hati. Tidak boleh tidak minum kalau sedang gembira, kecuali yang bersangkutan tidak mau. Secara tradisi juga kudu menuruti anjuran Ali Khamenei, “jika engkau mabuk di dapur, janganlah mabuk itu engkau bawa ke pasar. Sebab di pasar banyak orang yang belum tentu mengerti, dan itu bisa menimbulkan fitnah.” Artinya, mabuk di tempat, tidak dibawa ke mana-mana. Upaya menghabiskan malam ini harus dengan kegembiraan, bukan kerusuhan. Isi gelas sepenuhnya dengan kisah-kisah kebajikan, dan jangan kosongkan ke dalam keonaran. Peluk dan jelajah mabuk yang bukan sembarang mabuk di sini, tinggalkan kalau merayu tindakan destruktif.

Masih ingatkan kisah Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar? Kedua tokoh ini adalah pelajaran utama bagi para pemabuk agar tidak membawa sakar (mabuk spiritualnya) ke pasar. Sebab dalam kemabukan seringkali bisa nyerocos kalimat-kalimat ganjil yang mungkin untuk tidak dipahami oleh banyak orang. Karena “mabuk” dan mabuk ada bedanya. Cobalah selidiki Abu Nawas si penyair mabuk kalau sedang mabuk, orang awam akan menganggapnya mabuk minum, tapi kalau tiap yang berhati mau jujur, sebenarnya ia sedang mabuk Allah. Ketiga tokoh ini menjadi isyarat yang sama-sama tidak peduli citra diri, karena telah merdeka dalam menertawakan dunia. Hal ini juga seia-sekata Umbu, wahai dunia, rayulah yang selain aku saja, sebab kamu sudah kutalak-tiga. Maka, penempuhan ke jalan kemabukan itu mungkin berarti agar tidak dipuji manusia demi menghindari segala penyakit hati bangga diri dan suka pamer.

Abu Nawas adalah sebuah hipnotis paling mutakhir. Orang dibuatnya salah sangka, dan ia senang dengan itu. Kalau ia bilang memuja anggur dan kenikmatan dunia, berarti ia mengkritik keduanya. Kalau ia mengatakan tidak peduli, artinya ia sangat peduli pada hal itu. Kalau ia bersajak dirinya sebagai ahli maksiat, maka sesungguhnya ia pakai topeng dan tidak mau diganggu karena sedang bermesraan dengan Tuhan. Lucunya, ia tidak mengurusi dirinya, melainkan kitalah yang justru sangat mengurusi kepribadian hidupnya—yang seolah-olah buruk dan keliru—sehingga kita kurang, atau bahkan tidak pernah sungguh-sungguh di dalam menyelami diri sendiri. Kita tahu cacatnya orang itu, tapi lupa cacatnya diri sendiri.

Jujur, mereka mabuk karena seringkali hatinya hancur. Bukan oleh patah hati, sakit hati, dan kekecewaan-kekecewaan yang remeh, melainkan oleh sesuatu yang terlibat dalam hajat hidup orang banyak. Hancur karena sudah terlanjur melihat cacatnya pemerintahan ini, juga betapa jahat dan kejamnya para penguasa dunia—yang dengan segala adigang-adigung-adiguna—seolah-olah berhak memulai perang di mana-mana karena ia merasa dirinya penting dan ingin dianggap penting.

Kadar kemabukan mereka tidak seberapa dibandingkan pemerintahan yang alkoholik. Seharusnya seorang penguasa yang terus-menerus menenggak “khamr” (dalam arti luas) tidak boleh melarang orang lain untuk minum. Mereka cuma mabuk minum, setelah itu mabuk tidur. Berbeda dengan mabuknya para penguasa: sudah mabuk kuasa, kepengin mabuk hutan, kepengin mabuk tambang, kepengin mabuk minyak, dan segala jenis kemabukan lainnya—yang terlalu tinggi kadar alkoholnya sampai-sampai merusak tatanan nilai-nilai dan kewajaran kemanusiaan.

Bahkan, sedemikian samarnya sehingga ia tampak tidak sedang mabuk: ia jauh lebih terpandang meskipun tindak-tanduknya melebihi orang mabuk. Ia melarang para pemabuk untuk minum, sedangkan ia mencontohkan diri layaknya seorang raja miras sambil nyiram air keras ke orang lain. Ia bikin peraturan tentang pelarangan miras, lalu diam-diam meresmikan peredaran “air keras” secara luas tak terduga dan tak terkira. Kita perlahan-lahan makin menghidupi suatu pertumbuhan peradaban di mana batas antara yang mabuk dan yang sadar menjadi makin terkikis dan samar. Kita hidup dalam suatu gelagat zaman di mana pergumulan antara kebenaran dan ketidakbenaran bisa dibekukan dengan berbagai kecerdasan AI demi stabilitas Nasional. Kita berada dalam suatu sistem yang amat terkontaminasi permabukan, sehingga ketika ia melakukan sesuatu yang buruk secara sadar bisa berdalih, seolah-olah itu di luar kesadarannya atas alam bawah sadar keenakan hidup untuk segolongan atau tiap pribadi. Intinya, ia ingin mabuk secara terhormat. Sebab dalam mabuk seperti itu untuk tujuan kemanusiaan, katanye.

Apakah kita sanggup merayakan kematian seperti Menteri keamanan Israel yang baru-baru ini mengesahkan undang-undang terkait hukuman mati untuk warga Palestina? Apakah orang yang membela harga diri terhadap sesuatu hal kemudian di hadapan hukum kemungkinannya cuma dua: kalau tidak dijadikan tersangka, ya, dihukum mati? Apakah kita mampu angkat gelas tinggi-tinggi sambil terus menormalisasi pembunuhan dan penganiayaan terhadap manusia? Apakah kita akan terus mabuk tanpa minum sedikitpun, sementara dunia telah mencapai titik terendahnya dalam dehumanisasi warga Palestina dan dekadensi rakyat Indonesia? Apakah suatu kejahatan perang dan perlakuan kejam di muka bumi ini belum cukup memicu kemarahan dunia yang gontai akibat kemabukan luar biasa karena terus-menerus ditimpa kebingungan sikap dan keberpihakan pada yang terjajah?

Hancur! Alangkah hancurnya hati mereka, mungkin juga kita, melihat orang bersulang demi membunuh! Kemabukan macam apa ini; terkadang ketika semuanya terbuka lebar dan semua ini menjadi kaku dalam ketidaksadaran. Segalanya terasa kabur karena tidak diajarkan kesadaran kritis dan ilmu tentang hati yang hancur. Apakah di dalam kabut yang memabukkan ini kita tidak dimaksudkan untuk mengerti itu semua?

Dulu, Jim Morisson minum agar bisa menulis puisi. Edgar Allan Poe mabuk sambil menulis cerpen hingga akhir hayatnya yang tragis dan mengenaskan. Sutardji Calzoum Bachri meminta berkrat bir sebelum baca sajak. Li Tai Po yang punya banyak nama pena penyair itu penggemar arak berat yang dibesarkan puisi liris. Rumi cuma bisa tersenyum dalam kemabukan illahiah. Dan semua yang mabuk minum pada lari ke kata-kata, apa mabuk untuk menyuarakan sesuatu? Lantas, mengapa mereka minum? Karena hati mereka hancur. Cukup.

Sebentar lagi, kita akan memasuki era di mana bias “mabuk secara sadar” atau “sadar secara mabuk” makin kentara, bahkan ada sekian banyak faktor dan variabel lainnya yang di lembaran sejarah merupakan lawan kata dari esensi mabuk yang sesungguhnya. Jadi jangan hilang keseimbangan.

6 April 2026

  • Aktif berteater bersama Paseduluran Lidah Daun. Menulis puisi, esai, dan sejumlah drama. Tinggal di Pamulang, di padepokan Rumah Tumbuh Muthmainah.

    Lihat semua pos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *