Lalu Lintas Rasa: Trayek Pamulang–Pamijahan

Lalu Lintas Rasa: Trayek Pamulang–Pamijahan

Henri-Charles Guérard (1846-1897)

—sebuah surat sobek

Beberapa waktu terakhir hujan turun cukup sering. Tidak deras terus, tapi rutin. Dari situ saya kepikiran satu hal sederhana: hujan ternyata tidak punya identitas kota. Ia jatuh di Bogor, jatuh juga di Pamulang, jatuh di mana saja tanpa peduli label wilayah. Sama seperti banyak hal dalam hidup yang awalnya kita kira spesifik, tapi ternyata umum dan dialami banyak orang.

Tulisan ini bukan hendak membahas hujan terlalu jauh. Ia lebih merupakan catatan lalu lintas rasa yang pelan-pelan terbentuk sejak 2018—tahun ketika saya mulai sering bolak-balik Pamulang—Tangerang Selatan, ke Pamijahan—Bogor Barat. Jaraknya sekitar 46 kilometer, atau satu jam empat puluh menit perjalanan jika jalanan sedang bersahabat. Itu pun versi Google Maps, belum termasuk berhenti mengisi bensin, kehujanan di tengah jalan, kendaraan bermasalah, atau sekadar menepi karena lelah dan ingin rehat sebentar.

Sewindu berlalu. Kadang saya mencoba mengingat-ingat apa yang membuat hubungan ini bisa sedekat itu. Selain karena sempat bersekolah di tempat yang sama, ada banyak alasan kecil yang jika dikumpulkan menjadi besar. Kami membentuk grup musik, mengerjakan teater, membaca puisi. Namun di balik semua aktivitas itu, ada satu kesamaan yang baru terasa belakangan: kami sama-sama belajar membaca ruang. Kami di Pamulang, mereka di Pamijahan.

Ruang tempat kami bertumbuh memiliki karakter dan persoalannya masing-masing. Bogor (pamijahan), dengan suasana yang relatif santai dan dingin karena dipeluk Gunung Halimun Salak, tetap menyimpan persoalan-persoalan yang dihadapi teman-teman yang berproses di sana. Sementara Pamulang (viktorian) hadir dengan hiruk-pikuknya sendiri—yang pada kenyataannya tidak selalu perlu dipusingkan berlebihan, sebab kami hanya numpang tinggal dan berproses di ruang ini.

Masing-masing dari kami perlu menjaga jarak, memberi ruang agar rindu dapat mengisi di antara dua titik pertemuan. Meski demikian, keresahan kerap berulang—bergulung mengikuti putaran waktu—membawa kami kembali pada realitas kehidupan yang sebisa mungkin dijalani secara wajar dan semampunya.

Mereka, teman kami di Pamijahan itu telah kembali ke rumah ibunya, membangun dan menjaga halaman rumah sebagai ruang tanam: tempat menyemai harap sekaligus merawat pengertian dan makna yang diyakini sejak perjalanan sebelumnya. Sementara kami yang berada di Pamulang mencoba merawat ruang terkecil yang kami miliki, mengupayakannya menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi pertumbuhan makhluk-makhluk yang juga sedang berproses di dalamnya.

Dua ruang ini membentuk cara kami berpikir dan bertahan. Namun keresahan dasarnya sering kali sama. Kami sama-sama ingin hidup yang masuk akal—ingin merasa cukup dengan kesadaran masing-masing.

Sewindu berlalu tanpa perlu meromantisasi perjalanan beserta kenangan yang mengiringinya secara bersedih-senang. Barangkali tulisan ini cukup menjadi pengingat akan anugerah lupa, bahwa bersama lupa ada hal-hal yang memang tidak perlu terus diingat. Tentang esok dan seterusnya, kami memilih percaya pada daya hidup hari ini, dan bersiap berpesta dengan segala kemungkinan yang kelak datang.

#bersambung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *