Frida Kahlo (1907 – 1954)
Lampu kamar sudah padam, namun lampu minyak di kepala seolah enggan padam, justru sumbunya semakin menyala saat kelopak mata kututup rapat. Aku mencoba membujuk kesadaran untuk menyerah, namun di balik gelap itu, sebuah panggung sandiwara justru menaikkan tirainya dengan angkuh. Memejamkan mata dan memaksa diri untuk tidur adalah sebuah kepayahan yang luar biasa, menyerupai usaha mendayung sampan bocor melawan arus sungai yang sedang pasang sedu. Sebuah nyala dalam kegelapan di balik kelopak mata ini gagal membawa tenang; ia justru menjelma layar lebar tempat memori-memori lama diputar ulang dengan resolusi yang terlalu tajam dan memerih mata. Lima menit sebelum lelap adalah waktu yang paling riuh, saat di mana seluruh isi semesta seolah-olah berdesakan, berebut masuk ke dalam satu ruang sempit yang sesak di benakku.
Pikiran pertama yang merayap masuk adalah kekecewaan masa lalu. Ia datang serupa kabut asap yang memerih mata, menyesakkan kerongkongan, dan membuat dada terasa sesak seolah-olah tertindih sebongkah batu granit dari Karimun. Aku melihat kembali rangkaian keputusan yang salah, jalan-jalan buntu yang kupilih dengan penuh keyakinan, dan wajah-wajah yang kini hanya menjadi nisan di dalam ingatan. Kekecewaan ini adalah endapan lumpur hitam di dasar hati yang tak pernah benar-benar disapu bersih oleh waktu. Ia menetap dipinggirannya, menjadi aroma tanah yang lembap dan busuk, mengingatkan aku pada setiap percobaan yang telah gagal, dan setiap harapan yang karam di tengah laut tanpa sempat mencapai dermaga.
Lalu, di sela-sela rasa sesak itu, muncul setitik cahaya yang teduh. Aku teringat pada guru TK favoritku, seorang puan yang perangainya setenang titik air di atas daun keladi. Beliau bukan tipe pendidik yang gemar memekikkan lagu-lagu riang atau mengumbar tawa yang dipaksakan di depan kelas. Beliau adalah sosok yang hemat bicara, seorang perempuan yang mulutnya lebih sering terlihat terkunci namun tangannya senantiasa bergerak lincah serupa tarian ombak kecil di tepian pantai. Aku ingat betul bagaimana jemarinya yang dingin namun mantap merapikan kancing bajuku yang salah masuk lubang, atau bagaimana beliau dengan sigap mengelap keringat di dahi kecilku. Apakah dia masih mengingatku?
Ingatan tentang guru itu menghanyutkanku lebih jauh ke hulu masa, terdampar di sudut kolam renang sekolah yang aromanya senantiasa menyengat, percampuran antara bacin kaporit dan lumut hijau yang menebal. Di sana, di tepian kolam dengan ubin-ubin retak yang warnanya sudah kusam dimakan cuaca, aku sering terpaku menatap seekor kodok yang sesekali diam mematung. Makhluk amfibi itu seringnya berenang dengan gerak-gerik ganjil, menyelinap di antara bayang-bayang air yang statis dan mati. Ia tampak merana, terperangkap di dalam kolam buatan manusia, berjuang menyambung nyawa di tengah air yang mengandung racun pembersih. Aku menghabiskan jam-jam istirahat dalam kesunyian hanya untuk menjumpainya, memandangi matanya yang bulat menonjol itu, dan merasakan adanya ikatan batin antara diriku dan makhluk yang dianggap menjijikkan oleh teman-teman lainnya.
Bentuk wajah kodok itu menyeret ingatanku pada wajah seorang rekan kerja, sebuah lintasan memori yang seketika merusak ketenanganku. Orang ini adalah perwujudan dari duri sembilang yang menyelinap licin di balik tumpukan kain sutra halus. Lidahnya bercabang serupa lidah biawak, senantiasa meluncurkan kata-kata yang nampak manis dan penuh dukungan, padahal di baliknya tersembunyi getah rengas yang mampu melukai kulit hingga melepuh kemerahan. Mengingat perilakunya membuat urat di leherku menegang. Aku melihat kembali bagaimana ia tersenyum lebar di depanku, memuji setiap hasil kerjaku, sementara di balik punggungku, ia sedang menyusun siasat untuk menjatuhkan kredibilitas yang telah kubangun dengan susah payah. Hidup di lingkungan yang penuh dengan manusia-manusia bertopeng ini sungguh menguras energi, membuatku merasa seperti sedang berjalan di atas titian rambut yang dibelah tujuh.
Dan akhirnya, sebagai muara dari segala aliran pikiran yang kacau ini, muncul bayangan tentang kematian. Ia adalah garis pantai yang pasti, sebuah cakrawala yang tak mungkin dihindari oleh pelaut mana pun. Aku membayangkan saat di mana napas ini akan menjadi satu tarikan terakhir yang berat, lalu segalanya menjadi senyap yang absolut. Kematian terasa seperti sebuah kamar gelap yang pintunya telah dikunci dari luar, di mana tak ada lagi kekecewaan, tak ada lagi guru yang baik hati, tak ada kodok di kolam, dan tak ada lagi rekan kerja yang licik. Segalanya akan larut menjadi abu, menyatu kembali dengan tanah yang dingin dan bisu. Aku bertanya-tanya, apakah saat saat itu tiba, semua kerumitan yang kurasakan malam ini masih akan memiliki arti? Atau haruskah aku merasa lega karena akhirnya segala beban ini akan dilepaskan?
Lima menit ini terasa seperti berabad-abad. Kepalaku adalah sebuah pasar tumpah di mana semua pedagang memekikkan barang dagangannya masing-masing—duka, kenangan, kebencian, dan ketakutan. Aku mencoba menarik napas panjang, menghirup aroma malam yang mulai mendingin, berharap oksigen dapat mengusir bayang-bayang ini satu per satu. Namun, pikiran-pikiran ini adalah tamu yang tak tahu diri; mereka masuk tanpa izin dan enggan pergi meskipun tuan rumahnya sudah sangat kelelahan. Di ambang sadar dan tidak, aku masih bisa merasakan detak jantungku sendiri yang berpacu dengan detik jam dinding, menanti saat di mana akhirnya tubuh ini menyerah pada gravitasi tempat tidur dan kesadaran benar-benar padam dalam tidur yang dalam dan tanpa mimpi.
