dok. tenupermana
Karena sedang di rumah, selasa sore itu saya lari di stadion Leuwiliang. Dan karena kebetulan stadionnya ngga terlalu jauh dari rumah, jadi saya memutuskan berjalan kaki ke sana. Ngga ada rencana khusus. Ngga sedang ngejar target apa-apa. Cuma pengen gerak. Keluar keringet. Lalu pulang.
Stadion Leuwiliang sore itu sepi, yang olahraga masih bisa diitung dengan jari. Mungkin karena faktor masih dekat-dekat hari lebaran. Tapi sehemat saya, stadion ini memang di hari-hari biasa juga gapernah sok rame seperti Sempur atau Stadion IPB. Di sini lebih biasa. Orang-orang dateng. Lari. Keringetan. Pulang. Semuanya berjalan sederhana. Tubuh bekerja tanpa banyak drama.
Dan saya kira sore itu juga akan berjalan seperti itu. Tapi ternyata dugaan saya keliru. Sebab baru saya masuk stadion, seorang satpam menyapa:
“Sampe setengah 6 ya, A.”
Kalimatnya ringan. Nada suaranya juga ngga galak. Bahkan lebih mirip pengingat daripada larangan. Tapi entah kenapa, kalimat itu nempel.
Iseng, saya tanya: “Kenapa sampe setengah 6, Pak?”
“Aturan dari sananya A. Dari Dispora.”
Selesai. Percakapan ditutup oleh sesuatu yang ngga bisa dibantah. Bukan karena kuat, tapi karena terlalu umum. Kata aturan selalu punya cara untuk menghentikan rasa ingin tahu.
Dan semuanya jadi menarik.
Saya mulai lari. Satu putaran. Dua putaran. Ritme tubuh pelan-pelan ketemu. Napas mulai teratur. Di titik-titik seperti ini, biasanya pikiran jadi lebih longgar. Hal-hal kecil melintas. Lalu sekejap menghilang. Tapi kalimat setengah enam tadi tidak ikut hilang. Ia seperti ikut berlari. Menjaga jarak yang sama.
Sampai jam mendekati setengah enam, stadion mulai terasa bak ruang tunggu. Orang-orang mempercepat putaran terakhirnya. Ada yang pura-pura santai. Tapi matanya sudah melirik jam. Bersamaan dengan itu, satpam mulai bergerak. Cara bicaranya tetap santai. Tapi sekarang punya fungsi: mengingatkan kalo ruang ini punya batas yang ngga bisa dinegosiasi.
Dan kami semua, tanpa perlu komando, berubah jadi penurut.
Ada yang langsung duduk di pinggir. Ada yang jalan pelan ke arah keluar. Ngga ada protes. Ngga ada yang marah. Bahkan ngga ada yang merasa sedang ditindas. Semua seperti sudah paham perannya masing-masing.
Di titik ini, semuanya terlihat normal. Bahkan terlalu normal. Seolah memang begitulah seharusnya ruang publik bekerja. Ada waktu buka. Ada waktu tutup. Ada yang ngejaga. Ada yang diatur. Tentu ngga ada yang terasa ganjil kalau dilihat sepintas.
Tapi justru karena terlalu rapi, pertanyaannya jadi tumbuh.
Kenapa harus setengah enam?
Kenapa harus dengan penjagaan formal. Lengkap dengan berseragam?
Kenapa bukan sekadar pengelola biasa, atau bahkan kepercayaan bahwa warga bisa pakai fasilitas dengan tanggung jawab?
Jawaban administratif tentu tersedia: perawatan fasilitas, keamanan, keterbatasan petugas. Semuanya makesense. Tapi akal sehat administratif seringkali berhenti di permukaan. Ia ngejelasin “how”-nya, tapi jarang nyentuh “why”-nya.
Dan mungkin justru di situ masalahnya. Bukan karena jawabannya ngga ada. Tapi karena pertanyaannya ngga pernah benar-benar dikejar. Kita keburu nerima bentuknya sebagai sesuatu yang wajar dengan tanpa sempat mempertanyakan logika di baliknya.
Dengan tanpa sempat ngebayangin kemungkinan lain. Bahwa ruang publik bisa saja bekerja dengan cara yang berbeda. Lebih longgar. Lebih percaya. Ngga selalu dimulai dari asumsi bahwa semuanya harus dijaga dan dibatasi.
Saya mulai sadar, pengalaman ini bukan kejadian tunggal.
Kita sering berpikir negara itu hadir untuk melayani. Tapi pengalaman-pengalaman kecil seperti ini justru nunjukkin sesuatu yang lain: negara lebih hadir buat ngawasin.
Kenapa ruang publik harus punya batas waktu yang kaku?
Kenapa kehadiran warga selalu dibayangin oleh pengawas yang dipakein seragam?
Jawaban jujurnya mungkin bukan soal gawang hilang atau garis lapangan yang bakal dicolong (meskipun, kalau mau jujur, ya besi gawang emang bisa dikilo sih). Tapi yang lebih dalam dari itu adalah ketakutan struktural. Ketakutan bahwa publik, jika dibiarkan, bakalan kacau.
Ini yang oleh Michel Foucault disebut sebagai logika disiplin dan pengawasan. Dalam masyarakat modern, kekuasaan tidak lagi bekerja dengan cara kasar, tapi lewat pengaturan yang halus: jadwal, batas waktu, sampai ke pengawasan yang tidak selalu terasa sebagai paksaan.
Tubuh kita—termasuk tubuh yang sedang jogging—pelan-pelan dilatih buat bergerak sesuai ritme yang ditentukan. Kapan mulai. Kapan stop. Berapa lama berada di suatu ruang.
Dari situ kita ngga dipaksa dengan kekerasan. Tapi diarahin lewat kebiasaan. Dan yang menarik, kita jarang merasa itu sebagai tekanan. Sebab kita telah menyebut ini sebagai keteraturan.
Dalam skala kota, pola ini berulang.
Ada asumsi yang diam-diam bekerja di balik kebijakan seperti ini: masyarakat ngga bisa dipercaya.
Tentu asumsi itu ngga pernah diumumkan secara resmi. Ngga pernah ditulis besar-besar di papan pengumuman. Tapi yang harus kita sadar, cara kerjanya presisi dan konsisten. Seolah-olah, kalo ngga dijaga warga akan merusak. Kalo ngga dibatasi warga akan kebablasan. Dan kalo ngga diawasi warga akan melakukan sesuatu yang banal.
Masalahnya, asumsi seperti ini jarang berhenti di batok kepala pembuat kebijakan. Ia pelan-pelan diterjemahin jadi aturan. Lalu berjalan sebagai SOP. Kemudian berubah bentuk, jadi sistem yang terasa wajar. Dari situ, kita akhirnya ngga lagi face to face dengan prasangka, tapi dengan tata kelola yang berstempel resmi negara.
Dan justru lewat bentuk yang rapi dan resmi itulah, ia mulai mengatur hal-hal yang paling sehari-hari. cara kita menggunakan ruang. Cara kita hadir di dalamnya. Bahkan berapa lama kita dianggap pantas untuk tinggal.
Padahal, ritme hidup orang itu ngga tunggal. Ada yang nemuin ketenangan setelah magrib. Ada yang baru punya waktu luang di luar jam-jam resmi. Bahkan ada yang sekadar pengen berada di ruang terbuka di jam-jam sepi. Dan yang terakhir termasuk saya sendiri.
Di titik ini, gagasan David Harvey tentang right to the city jadi relevan. Kota, dalam bayangannya, adalah ruang yang tidak hanya dipake, tapi juga dihidupi—oleh beragam ritme. Kebutuhan. Dan cara mereka sendiri.
Tapi yang sering terjadi, justru sebaliknya. ruang kota sering terasa seperti ruang sewaan dengan banyak syarat dan ketentuan. Kita boleh masuk. Tapi tidak sepenuhnya bebas. Ada jam. Ada fungsi. Ada batas yang jelas. Dan yang paling jahanam, semua ini ditentukan dari atas, bukan dari kebutuhan orang-orang yang tinggal.
Kembali ke soal satpam. Ini juga hal yang menarik.
Ia hadir sebagai perpanjangan dari aturan yang lebih besar. Bukan sekadar individu. Tapi representasi dari sistem yang ingin memastikan bahwa orang-orang pulang tepat waktu. Tidak lebih. Tidak kurang.
Bukan berarti juga pekerjaannya tidak penting. Tapi kalau kita tarik ke analisis David Graeber tentang bullshit jobs, muncul pertanyaan yang cukup mengganggu: apakah pekerjaan ini benar-benar dibutuhin, atau justru ada karena sistem yang nyiptain kebutuhan semu?
Kalau masyarakat dipercaya, mungkin ngga perlu penjagaan seketat itu. Kalau ruang publik dirancang dengan baik, mungkin ngga perlu pengawasan konstan. Tapi karena sistem dibangun di atas ketidakpercayaan, maka lahirlah pekerjaan-pekerjaan yang tugas utamanya bukan sekadar ngejaga. Tapi mastiin kalo kecurigaan itu terus bekerja.
Di titik ini, tugasnya mungkin kelihatan sepele, bahkan terasa nirguna. Tapi dalam logika sistem, justru itu yang bikin peran ini penting. Dari sesosok satpam yang berseragam ini, aturan jadi terasa nyata. Kalau nggak ada dia, aturan mungkin cuma berhenti sebagai tulisan. Tapi dengan kehadirannya, aturan jadi punya bentuk. Punya suara. Dan karena itu ia menjadi genap dan utuh.
Mencari-cari celah di setiap bongkah.
Sore tadi, semua orang patuh. Termasuk saya. Ngga ada yang ngerasa sedang ditekan. Ngga ada yang ngerasa dirugikan secara langsung. Semuanya berjalan halus. Rapi. Nyaris tanpa gesekan.
Tapi beberapa menit setelah itu, ketika suasananya sudah steril dan satpamnya pulang, saya kembali ke stadion yang sama. Tanpa izin. Tanpa pengawasan. Hanya duduk. Meluruskan kaki. Beristirahat.
Dan di situ, entah kenapa, rasanya jadi beda.
Di sana saya duduk cukup lama. Ngga ada yang terjadi. Ngga ada yang datang ngusir. Ngga ada kejadian aneh. Waktu berjalan biasa aja, seperti seharusnya waktu berjalan. Dan justru di situ letak keganjilannya. Ternyata dunia ngga runtuh ketika aturan itu ngga dijalanin dengan patuh.
