Fernand Léger 1881 – 1955
Sore-sore di sini
terasa seperti dinginnya
gencatan senjata
sore-sore di sini
kita keluar dari markas persegi,
memandangi tembok tembok
yang menjadi kacau dari bentuknya semula
dengan banyaknya bekas luka di punggungnya
sore-sore di sini
informasi dimasak ke berbagai bentuk
sajian yang terhampar di atas meja panjang
dengan alas darah dengan hiasan bunga kering
sore-sore di sini
kita isi dengan berbagai bentuk kewaspadaan
misalnya, bulan besar yang tersembunyi di balik kubah masjid
dan (lagi) kita menyaksikan azan sebagai suatu peristiwa suci
di antara pekik ketakutan dan kematian
sore-sore di sini
kita berlarian
seperti yang terekam dalam memori masa kecil
seorang anak yang dipelototi ibunya untuk keluar
dari permainan
sore-sore di sini
kita lebih sering berpamitan dan memaafkan
karena agaknya hidup dan mati
hanya dibatasi daun pintu kusam
lalu misalkan kita tinggal di kota itu
di dekat laut merah dan laut tengah
kita makin takjub pada kuasaNya.
